BAB III. HASIL PENELITIAN SITUASI KAUM MUDA
A. Latar Belakang Penelitian dan Gambaran Situasi Kaum Muda
St. Paulus Sambeng Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor
Berdasarkan Buku Kenangan Peresmian Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor 2 Agustus 2006 (Tim Penyusun Buku Kenangan, 2006: 39-40), penulis memperoleh data-data mengenai Wilayah St. Paulus Sambeng yang merupakan bagian dari Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor. Wilayah ini merupakan bagian dari Paroki yang terletak ± 26 Km dari Kota Wonosari. Bagian selatan Wilayah St. Paulus Sambeng berbatasan dengan Desa Logantung Kecamatan Semin. Bagian timurnya berbatasan dengan Desa Candirejo dan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebagai daerah paling utara di Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor, daerah
78
ini berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah, tepatnya berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Klaten.
Wilayah St. Paulus Sambeng terbagi menjadi 4 lingkungan. Lingkungan tersebut adalah Lingkungan St. Yohanes yang terletak di Dusun Mangir, Lingkungan St. Petrus yang terletak di Dusun Sambi, Lingkungan St. Yusuf yang terletak di Dusun Sambeng Kidul, dan Lingkungan St. Agustinus yang terletak di Dusun Tobong. Untuk lebih jelasnya penulis menyajikan gambaran tersebut dalam bagan koordinasi berikut (Tim Penyusun Buku Kenangan, 2006: 39-40).
Akibat keterbatasan jumlah pastor di Paroki Kelor ekaristi di wilayah ini hanya dilaksanakan 2 kali sebulan, yakni Minggu kedua dan keempat pukul 15.00
Paroki St. Petrus dan Paulus Wilayah St. Fransiskus Xaverius Jaranmati Wilayah St. Petrus dan Paulus Kelor
Wilayah Sang Timur Ngawen Wilayah St. Paulus Sambeng Wilayah St. Michael Semin Wilayah St. Aloysius Jurangjero Terbagi menjadi 6 lingkungan Terbagi menjadi 11 lingkungan Terbagi menjadi 3 lingkungan Terbagi menjadi 4 lingkungan Terbagi menjadi 7 lingkungan Terbagi menjadi 4 lingkungan
79
WIB. Pada Minggu pertama dan ketiga umat Wilayah Sambeng mengikuti ekaristi di gereja St. Mikael Wilayah Semin (Tim Penyusun Buku Kenangan, 2006: 39). Kegiatan menggereja di Wilayah St. Paulus Sambeng berjalan secara rutin. Kegiatan yang dilaksanakan bersifat kategorial dan teritorial. Kegiatan kategorial berupa pertemuan Mudika setiap malam Minggu bertempat di Gereja St. Paulus Sambeng, pertemuan ibu-ibu Wanita Katolik (WK) setiap satu bulan sekali yakni setiap tanggal 17, PIA (Pendampingan Iman Anak) dan putra-putri altar setiap hari Minggu, serta BIL (Bina Iman Lanjut atau mistagogi) setiap hari Minggu pagi. Sedangkan kegiatan teritorial yang dilaksanakan adalah pendalaman iman di masing-masing lingkungan, yakni setiap malam Senin di Lingkungan St. Yusuf, malam Kamis di Lingkungan St. Yohanes, setiap malam Jumat di Lingkungan St. Petrus dan di Lingkungan St. Agustinus (Tim Penyusun Buku Kenangan, 2006: 40).
Adapun data warga katolik penulis sampaikan dalam tabel berikut (Tim Penyusun Buku Kenangan, 2006: 39-40):
Tabel 1. Jumlah Warga Katolik Wilayah St. Paulus Sambeng Lingkungan Jml KK Jml Jiwa L P Jml Mdk Jml PIA Jml. Misdr St. Yohanes 23 85 46 39 10 8 8 St. Petrus 21 79 43 36 8 7 3 St. Yusuf 23 75 40 35 13 - - St. Agustinus 37 142 66 76 30 20 - Jumlah 104 381 195 186 61 35 11
80
1. Jumlah Kaum Muda Katolik di Wilayah St. Paulus Sambeng
Informasi mengenai jumlah dan kegiatan Mudika St. Paulus Sambeng diperoleh penulis dari observasi partisipatif, yakni penulis mengamati dan terlibat langsung dengan kegiatan Mudika. Selain itu penulis juga mendapatkan informasi dari buku kegiatan Mudika.
Kegiatan Mudika di Wilayah St. Paulus Sambeng hanya diikuti oleh 3 lingkungan, yakni Mudika Lingkungan St. Yohanes, Lingkungan St. Petrus, dan Lingkungan St. Yusuf, sedangkan Lingkungan Agustinus selama ini vacuum karena anggotanya banyak yang bekerja dan sekolah di luar daerah. Kegiatan Mudika dilaksanakan rutin setiap malam Minggu [Lampiran 1: (1)].
Setelah diadakan pendataan pada 12 November 2006 oleh pengurus Mudika, jumlah Mudika mengalami perubahan menjadi: Lingkungan St. Yohanes yang semula 10 orang menjadi 17 orang, Lingkungan St. Petrus dari 8 orang menjadi 9 orang, sedangkan Lingkungan St. Yusuf dari 13 orang justru berkurang menjadi 12 orang. Perubahan ini berasal dari perekrutan anggota putra altar menjadi anggota Mudika dan beberapa pendatang dari luar kota. Jumlah keseluruhan anggota Mudika sampai dengan saat ini ada 38 orang [Lampiran 1: (1)-(3)].
2. Situasi Kaum Muda dan Permasalahannya
Untuk memperoleh informasi mengenai situasi dan masalah yang dihadapi Mudika St. Paulus Sambeng penulis mengadakan wawancara non formal dengan beberapa anggota Mudika. Selain itu penulis juga mengadakan observasi partisipasi.
81
Keanggotaan Mudika di Wilayah St. Paulus Sambeng sangat bervariasi dari segi usianya. Rata-rata berusia SMP, SMA, perguruan tinggi sampai pekerja [Lampiran 1: (1)-(3)]. Berdasarkan hasil wawancara dengan Robertus Setyapranata seorang anggota Mudika pada 1 Juni 2006, belakangan sering terdengar keluhan dari berbagai pihak entah itu pengurus wilayah maupun dari umat secara umum bahwa semangat dan kepekaan Mudika angkatan ini sangatlah menurun dibandingkan kepekaan anggota di tahun-tahun sebelumnya. Akibat perbedaan usia antaranggota Mudika, kebanyakan dari mereka yang masih muda mempunyai budaya “njagake” Mudika yang sudah tua. Rasa malu, minder, tidak percaya diri menjadi sebuah budaya yang melekat pada Mudika yang masih berusia muda ini. Situasi tersebut membutuhkan proses untuk diolah. Menurut Cicilia Widiastuti, mantan ketua Mudika St. Paulus Sambeng, dalam wawancara 1 Juni 2006, sebenarnya mereka (mudika usia muda) mempunyai potensi yang besar, namun belum berani untuk tampil. Jika diberi tanggung jawab dalam kegiatan tertentu, mereka belum bisa diandalkan. Misalnya untuk koor atau dekorasi dalam acara tertentu, kalau tidak ada yang mengingatkan dan mengajak, mereka belum bergerak. Situasi ini disadari bukan semata-mata sebagai kesalahan kaum muda. Bapak Mateus Supriyadi seorang katekis sekaligus prodiakon di Sambeng dalam wawancara tanggal 10 Desember 2006 memberikan pendapat yang kurang lebih sama dengan pendapat Cicilia Widiastuti. Mudika angkatan sekarang memang mengalami penurunan semangat, namun permasalahannya bukan hanya terletak pada kaum muda itu sendiri. Beliau berpendapat bahwa situasi tersebut terjadi karena kurangnya pembinaan bagi kaum muda dan tidak adanya orang-orang yang mau turun langsung membina mereka. Kurangnya kegiatan-kegiatan yang
82
mengembangkan kepekaan iman kaum muda juga menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas kaum muda Gereja St. Paulus Sambeng [Lampiran 2: (4)-(5)].
Menurut Yohanes Nugraha Ike Santoso ketua Mudika St. Paulus Sambeng periode ini dalam perbincangan pada 2 September 2006, setelah Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor resmi menjadi paroki mandiri pada 2 Agustus 2006 yang lalu, kegiatan Mudika mulai semarak dan mendapatkan perhatian yang lebih. Perkembangan tersebut juga dirasakan oleh Mudika St. Paulus Sambeng. Mereka mulai berani untuk tampil keluar wilayah dan menjadi bagian dari kaum muda paroki [Lampiran 2: (4)].
3. Kegiatan Pembinaan Iman yang Sudah Dilaksanakan
Informasi mengenai kegiatan Mudika St. Paulus Sambeng diperoleh penulis melalui buku induk Mudika, observasi partisipasi, dan dari obrolan bersama teman-teman Mudika. Mereka mempunyai kegiatan rutin yang menjadi budaya dari generasi ke generasi. Kegiatan tersebut berupa pertemuan rutin yang disebut “malam Mingguan”. Sesuai dengan namanya kegiatan ini dilaksanakan setiap Sabtu malam di Gereja St. Paulus Sambeng. Dalam pertemuan ini kaum muda St. Paulus Sambeng berkumpul, berbagi cerita, tertawa bersama, merencanakan sebuah kegiatan dan berbagi tugas bersama. Tradisi ini yang menjadi pengikat persaudaraan Mudika secara turun temurun. Bentuk acara dalam “malam Mingguan” bisa bermacam-macam mulai dari game, latihan koor, rapat, ibadat sabda sampai dengan acara rekreasi, makan-makan dan bakar jagung bersama [Lampiran 1: (1)].
83
Ada beberapa tugas dan kegiatan yang telah dilaksanakan Mudika St. Paulus Sambeng, antara lain:
a. Bidang Liturgi
Kegiatan bidang ini meliputi latihan koor untuk tugas ekaristi Minggu ke empat. Secara khusus Mudika bertugas untuk ekaristi berbahasa Indonesia yang dilaksanakan setiap Minggu ke empat. Tugas ini dilaksanakan berbagi dengan Asrama St. Thomas Ngawen yang dikelola oleh suster-suster Abdi Kristus. Kegiatan bidang liturgi lainnya adalah Putra-Putri Altar, koor pernikahan, petugas lektor dan dekorasi altar untuk mempersiapkan ekaristi [Lampiran 1: (1)].
b. Bidang Rohani
Kegiatan rohani yang telah dilaksanakan antara lain doa rosario setiap malam Minggu pada Bulan Mei dan Oktober. Selain itu mereka juga mengikuti kegiatan rekoleksi dan week end bersama dengan Mudika Paroki St. Petrus dan Paulus Kelor. Kegiatan yang baru saja diikuti adalah outbond yang dilaksanakan tanggal 4-5 September 2006. Mudika juga terlibat dalam ekaristi kaum muda (EKM) yang dilaksanakan secara bergilir di daerah Gunungkidul [Lampiran 1: (1)].
c. Bidang Pewartaan
Meskipun Mudika St. Paulus Sambeng mempunyai keterbatasan dalam hal sarana dan pengetahuan, mereka tetap melaksanakan tugas yang telah menjadi tanggungjawab dan agenda bersama. Kegiatan bidang pewartaan tersebut antara lain membina adik-adik Sekolah Minggu (PIA/Pendampingan Iman Anak) setiap
84
hari Minggu pagi di Gereja St. Paulus Sambeng, Ibadat Sabda sebagai salah satu bentuk kegiatan “malam Mingguan”, sarasehan bulan Kitab Suci, sarasehan bulan Adven, dan sarasehan APP (Aksi Puasa Pembangunan). Kegiatan tersebut lebih banyak diikuti di lingkungan-lingkungan daripada dalam kegiatan Mudika [Lampiran 1: (1)].
d. Kegiatan Devosional
Mudika St. Paulus Sambeng mempunyai tradisi ziarah ke gua Maria atau sendang rosario seperti ke Sendangsono, Sriningsih, dan Ratu Kenyo. Dalam acara tersebut dilaksanakan jalan salib dan doa rosario bersama selain doa rosario yang diadakan di Gereja. Pada 28-29 Oktober 2006 yang lalu Mudika St. Paulus Sambeng bersama dengan Mudika seluruh Paroki Kelor mengikuti ziarah jalan salib dari Wonosari sampai Sendang Sriningsih, Klaten [Lampiran 1: (1)].
4. Penanggung jawab Kaum Muda
Kegiatan Mudika dalam susunan organisasi wilayah berada dalam tanggung jawab bidang pewartaan wilayah. Secara khusus Mudika St. Paulus Sambeng berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab seksi kepemudaan wilayah [Lampiran 1: (2)].
85