BAB IV: Identitas P olitik “ Gereja S uku” : Dari Gerakan Ekonomi Ke Gerakan Politik
4.3. Artikulasi Identitas Politik “G ereja S uku” (GKPS) dan Representasinya Oleh
4.3.3. Logika Persamaan Dan Logika Perbedaan Dalam Formasi Hegemonik
Sejak formasi sosial komunitas CUM “Talenta” mengidentifikasi rejim rentenir (baik yang individual maupun yang institusional) sebagai “musuh bersama” maka logika persamaan tampak dijalankandengan mengidentifikasi semua identitas orang-orang yang tidak berprofesi sebagai rentenir sebagai orang-orang yang memiliki kesamaan dengan komunitas CUM “Talenta”. Artinya, kekhususan identitas orang-orang baik identitas denominasi gereja, identitas agama, etnis, gender, dan lain sebagainya dimasukkan ke dalam satu kategori yakni “ekonomi berbagi”. Dengan kata lain,
“ekonomi rentenir” dipertentangkan dengan “ekonomi yang tidak rentenir”. Dengan cara seperti itu, kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” tampak membagi ruang sosial menjadi dua kutub yang bertentangan yakni kutub “ekonomi berbagi” dan kutub
“ekonomi rentenir” (penghisapan). Kategori identitas keanggotaan komunitas CUM
“Talenta” terlihat cukup jamak di mana warga gereja dari denominasi gereja yang berbeda dengan GKPS juga dapat diterima sebagai anggota dan memiliki kebebasan dan kesetaraan yang sama dengan warga GKPS. Tidak hanya itu, pluralitas identitas keanggotaan komunitas CUM “Talenta” juga ditandai dengan keterlibatan warga masyarakat dengan identitas agama yang berbeda dengan kristen. Seorang anggota komunitas CUM “Talenta” yang beragama Islam.Bapak Sutrisno misalnya menceritakan pengalamannya selama menjadi anggota komunitas CUM “Talenta”:
Saya sudah dua kali merasakan pertolongan di komunitas ini.Pertama, ketika menikahkan anak. Ketika itu saya mendapat pinjaman konsumtif sebesar Rp. 4jt. Pinjaman kedua adalah untuk kebutuhan membangun (renovasi) rumah dengan pinjaman sebesar Rp. 10jt dan semua pinjaman tersebut sudah saya kembalikan
dengan tepat waktu. Hal yang sangat menggembirakan hati saya adalah ketika pencairan pinjaman, di mana sesuai mekanisme penyerahan pinjaman selalu disertai dengan doa. Biasanya kalau peminjam adalah orang kristen maka Pendeta (manajer) secara langsung mendoakan uang yang akan diserahkan. Tetapi, karena saya adalah seorang muslim maka saya sendiri diminta oleh Pendeta untuk mendoakan uang yang dipinjam tersebut sesuai dengan keyakinan agama saya. Dan sebelum berdoa manajer (Pendeta) mengatakan kurang lebih seperti:uang ini adalah uang milik Allah/Tuhan yang bapak sembah dan yakini, oleh karena itu, kembalikanlah uang itu kepada Tuhan tepat pada waktu sebagaimana bapak menjanjikannya di hadapan Tuhan agar bisa digunakan oleh umatnya yang lain, yang juga adalah sesama kita. Itu adalah pengalaman pertama saya mendapat pinjaman dari komunitas CUM “Talenta” yang tak akan pernah mungkin saya lupakan”. Pinjaman pun dapat saya kembalikan melalui hasil penjualan kopi dan cabai yang saya tanam”.233
Dengan menjalankan logika persamaan sebagaimana diceritakan di atas, kita bisa melihat grafik pertumbuhan dan pertambahan jumlah keanggotaan kesatuan komunitas CUM “Talenta” yang sangat signifikan sejak didirikan. Tidak hanya itu, wilayah pelayanannya juga semakin meluas yang ditandai dengan bertambahnya jumlah calon unit, unit dan juga kantor cabangnya. Meskipun, begitu harus juga dicatat bahwa ada juga anggota komunitas CUM “Talenta” yang menyatakan diri keluar. Meskipun jumlah anggota yang keluar tidak terlalu signifikan tetapi data menunjukkan jumlah anggota yang keluar dari tahun ke tahun justru memperlihatkan grafik yang menaik”.234 Alasan menyatakan diri keluar tampaknya bervariasi seperti: pencairan pinjaman terlalu lama, terjadi konflik dengan komisaris, tidak mampu mengembalikan pinjaman, pindah domisili dan lain sebagainya”.235
Bervariasinya alasan anggota komunitas CUM “Talenta” yang menyatakan diri keluar tersebut mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan LM bahwa dalam
233
Wawancara dengan bapak Sutrisno dilakukan pada tanggal o3 Maret 2010, di Kantor Induk Komunitas CUM”Talenta”di Saribudolok. No.Anggota: 638. Bapak Sutrisno memiliki lahan seluas 2 ha (1 ha sudah ditanami kopi dan padi sedangkan selebihnya baru ditanami dengan kopi).
234
Lihat:Bab III (Tabel 5)
235
Diolah berdasarkan data jumlah anggota komunitas CUM “Talenta” yang keluar dan alasannya (tahun 2007-2011)
setiap pembentukan suatu formasi hegemoni selalu ada momen-momen yang menjadi unsur-unsur baru yang kemudian perlumenjadi reartikulasi hegemonik baru”.236Artinya, terbentuknya kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”, masih merupakan awal dari dimulainya perjuangan pembentukan formasi hegemonik yang hendak diwujudkan. Dengan kata lain, tapal batas politik (political frontiers) yang muncul sebagai akibat dari terciptanya rantai ekuivalensi dari beragam kekuatan sosial yang membentuk kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” itu sebenarnya tidak bersifat stabil sebab seperti kata LM, pada saat yang sama rejim opresif juga melakukan praktik hegemoni dan mencoba menyerap transformasi (menggunakan istilah Gramsci) beberapa dari tuntuan oposisi”.237Harapannya tentu saja agar rantai ekuivalensi yang sudah terbentuk itu bubar sehingga rejim rentenir baik yang individual maupun yang institusional kembali menjadi leluasa mengembangkan proyek hegemoninya. Maka, satu-satunya cara untuk menjaga agar rantai ekuivalensi yang sudah terbentuk itu tidak terputus adalah dengan cara mengaktualisasikan kebebasan (freedom) dan kesetaraan (equality) secara terus menerus untuk mengeliminasi hubungan-hubungan yang bersifat subordinatif, eksploitatif dan opresif dalam kehidupan komunitas CUM “Talenta” sehari-hari.
Analisis pada bagian berikut ini akan menyoroti bagaimana logika demokrasi radikal-plural itu bekerja dalam formasi hegemonik komunitas CUM “Talenta”. Apa yang akan dilihat adalah perjuangan-perjuangan demokratik baru yang seperti apa yang dilakukan komunitas CUM “Talenta” untuk mengatasi hubungan-hubungan subordinatif, eksploitatif dan opresif yang dialami oleh anggotanya. Perjuangan-
236
St.Sunardi, (2012)Op.cit, hlm, 18
237
Daniel Hutagalung,” Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau-Mouffe”, (dalam) Ernesto Laclau-Chantal Mouffe (2008) Hegemoni dan Strategi Sosialis: PosMarxisme dan Gerakan Sosial Baru, terj, Yogyakarta, Resist Book, hlm, xxxix
perjuangan demokratik baru yang dilakukan komunitas CUM “Talenta” itulah yang akan dilihat sebagai representasi ataupun ekspresi diakonia gereja. Dalam perspektif seperti itulah identitas politik “gereja suku” (GKPS) itu dibicarakan.