BAB I: PENDAHULUAN
2.3. Perdebatan Seputar Credit Union (CU): Antara Gerakan Ekonomi atau
Salah satu lembaga keuangan mikro non bank atau non koperasi yang cukup berkembang di Indonesia adalah Credit Union (CU). Tetapi, diantara para pegiat CU itu sendiri tampaknya terdapat pandangan yang berbeda dalam memahami keberadaan CU. Pada satu pihak ada yang memahami bahwa CU merupakan sebentuk lembaga keuangan mikro pada pihak yang lain ada yang memahami bahwa CU tidak tepat disebut sebagai lembaga keuangan mikro sebab di dalam CU, aktivitas simpan-pinjam hanya merupakan salah satu dari beragam aktivitas CU. Mereka yang tidak setuju mengasosiasikan CU sebagai suatu LKM, lebih memahami CU sebagai bagian dari gerakan sosial.
Istilah credit union berasal dari bahasa Latin, credere, atau credo yang artinya percaya dan unus berarti kumpulan atau persatuan(union). Jadi, “credit union” dapat diartikan sebagai kumpulan orang yang saling percaya dalam suatu ikatan pemersatu dan sepakat menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama untuk
dipinjamkan kepada anggota dengan tujuan produktif dan kesejahteraan”.115 Dalam kenyataan aktualnya di Indonesia, CU dianggap merupakan bagian dari koperasi apalagi asosiasinya disebut sebagai Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit). Meskipun begitu, harus dicatat bahwa ada perbedaan yang sangat fundamental antara CU dan Koperasi pada umumnya bahkan dengan lembaga keuangan mikro yang lain seperti bank. Manfaat CU bagi anggota adalah mengubah pola pikir dari yang terbiasa instan - langsung memanfaatkan uang saat mendapat pinjaman - menjadi menciptakan modal dahulu dengan menabung secara rutin – baru kemudian meminjam. Di dalam CU, modal atau tabungan diciptakan terlebih dahulu baru kemudian anggota dapat memanfaatkannya atau meminjam. Hal seperti inilah yang tidak ditemukan dalam praktik perkoperasian pada umumnya.
CU dapat mengubah kebiasaan seseorang dari tidak biasa menabung menjadi biasa menabung. Di dalam CU, setiap anggota selalu mempunyai uang dalam bentuk tabungan yang terus meningkat, dan selalu bisa memanfaatkan tabungan untuk meningkatkan jumlah aset. Di dalam CU, seorang anggota mesti menabung untuk meningkatkan modal. Menabung dalam sistem CU berbeda dengan menabung secara ‘tradisional’ di lembaga lain, misalnya bank,di mana setelah menabung, uang kemudian ditarik untuk dipergunakan. Tetapi di dalam CU ada yang khas, karena anggota yang meminjam tetap memiliki dana yang tersimpan”.116 Artinya, kalaupun seorang anggota meminjam dari CU dan ia memiliki kewajiban membayar jasa (bunga) pinjamannya, namun ia sendiri juga mendapatkan hasil dari jasa (bunga) pinjaman ia berikan lewat pembagian deviden atau keuntungan. Besarnya jumlah deviden yang akan diterima
115
T.Handono Eko Prabowo (2010)Pengembangan Kekuatan-Kekuatan Tranformasi Untuk Kedaulatan Sosial Ekonomi “Sebuah Refleksi Sosial Ekonomi”, Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, hlm, 55
116
http://widodo07.blogspot.com/2012/11/apa-perbedaan-dan-persamaan-koperasi.html, (diakses tgl, 31 Juli 2014)
masing-masing anggota disesuaikan dengan besarnya jumlah dana (saham) yang dimiliki (dana yang tersimpan) di CU tersebut.
Kini wacana Credit Union (CU) tidak dipahami hanya sebagai lembaga keuangan mikro tetapi gerakan CU telah menjelma menjadi sebentuk model gerakan sosial ekonomi yang berdampak besar dan luas. Berdasarkan data dari Induk Koperasi Kredit jumlah anggota secara keseluruhan dari tahun 1970 sampai 2011 mengalami peningkatan yaitu tahun 1970 sebanyak 733 anggota dan pada tahun 2011 sebanyak 1.808.329 anggota dengan total jumlah kekayaan sebesar Rp12,823 triliun. Saat ini Induk Koperasi Kredit (Inkopdit memiliki jaringan 30 Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit)/ Pra Puskopdit/ BK3D yang tersebar di beberapa Propinsi di seluruh
Indonesia (Inkopdit, 2012)”.117
Sejarah kemunculan gagasan tentang CU bermula pada tahun 1848 di Jerman”, 118
yang mana Jerman ketika itu sedang mengalami krisis sosial ekonomi yang hebat. Turunnya badai salju yang melanda seluruh negeri telah mengakibatkan para petani menjadi gagal panen. Akibatnya, kelaparan terjadi di mana-mana. Dalam keadaan seperti itu, para rentenir justru memanfaatkan keadaan dengan semakin merajalela meminjamkan uangnya kepada kaum miskin dan mematok bunga yang sangat tinggi. Akibatnya, masyarakat miskin terpaksa menjual harta bendanya. Urbanisasi besar- besaran menjadi tak terhindarkan. Persoalan ini kemudian diperumit lagi oleh kenyataan di mana tenaga manusia mulai digantikan oleh tenaga teknologi (mesin) sebab tidak lama berselang terjadi revolusi industri. Perubahan tersebut telah memantik perubahan manajemen pabrik dengan mengadopsi manajemen efisiensi. Akibatnya, pemutusan
117
Monica Carollina, Ag. Edi Sutarta, “Peranan Credit Union Sebagai lembaga pembiayaan Mikro” : “Studi Kasus: Pada Usaha UMKM Di Desa Tumbang Manggo Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2013” (dalam) Jurnal CU, 2013
118
hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana yang kemudian membuat terjadi pengangguran besar-besaran.
Dalam kondisi krisis seperti itu, Walikota Flammersfield, Frederich Wilhelm Raiffeisen, mencoba mengatasinya dengan cara menghimpun dana dari dermawan dan membagikannya kepada kaum miskin sebagai modal usaha(mirip dengan program Bantuan Langsung Tunai –BLT-nya Indonesia). Cara seperti itu ternyata tidak berhasil untuk mengatasi kondisi krisis yang sedang terjadi sebab orang-orang miskin merasa apa yang diberikan Pemerintah tersebut selalu kurang atau tidak cukup. Belajar dari kenyataan tersebut Wilhelm Raiffeisen kemudian mengubah pendekatannya. Kali ini Raiffeissen tidak lagi memberikan uang tetapi membeli roti dari pabrik-pabrik, lalu membagikannya kepada kaum miskin.Malangnya, upaya tersebut juga tidak dapat mengatasi kondisi krisis yang sedang terjadi.
Dari pengalaman itu, Wilhelm Raiffeisen akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kesulitan kaum miskin hanya dapat diatasi oleh kaum miskin itu sendiri. Ia kemudian mencoba mengorganisasi masyarakat dan mengumpulkan modal (uang) yang ada pada mereka untuk dijadikan sebagai modal bersama. Uang yang terkumpul tersebut, kemudian dipinjamkan kepada orang-orang miskin dengan jumlah tertentu untuk dapat digunakan sebagai modal usaha untuk mengatasi kondisi krisis yang sedang terjadi. Pendekatan ini ternyata cukup berhasil mengatasi kondisi krisis sosial ekonomi yang sedang terjadi. Dari keberhasilan itulah, filosofi CU dikenal dengan “People helping, people help themselves”.119
119
Sejak saat itulah, konsep CU dikenal sebagai sebuah sistem ekonomi informal
yang kemudian menyebar dan berkembang ke seantero dunia”.120 Gerakan CU mula- mula menyebar ke Kanada dan Amerika Serikat. Lalu, pada tahun 1934, ketika Amerika Serikat dipimpin oleh Rossevelt, dibentuklah Biro pengembangan Credit Union se dunia dengan namaWorld Council of Credit Union(WOCCU) dan di Asia dibentuk “The Asia Confederation of Credit Union” (ACCU). Pada tahun 1963, sebuah seminar mengenai
“Social Economic Life in Asia” dan “Social Action Leadership Course” diselenggarakan di Bangkok yang juga diikuti oleh delegasi dari Indonesia. Di situ, gagasan mengenai CU juga mulai diperkenalkan kepada peserta seminar.
Di Indonesia, wacana CU sebagai sebuah sistem ekonomi mikro mulai diperkenalkan secara formal ketika perwakilan dari WOCCI diundang secara resmi ke Indonesia untuk memperkenalkan detail konsep CU tersebut:
Pada tahun 1967, Mr.A.A.Baily, perwakilan WOCCU diundang ke Indonesia untuk memperkenalkan CU. Sejak saat itulah beberapa tokoh seperti, Pater Albretch Karim Arbi, SJ, Ir.Ibnoe Soedjono, Margono Djojohadikusumo, Mokhtar Lubis, Prof. Dr. Fuad Hasan, Prof.Dr. A.M. Kadarman, SJ dan Roby Tulus mulai memperkenalkan gagasan tentang CU kepada masyarakat Indonesia. Gerakan Credit Union mulai dirintis melalui Konpernas PSE/Delsos di Bandung pada tahun 1968 dan Konpernas PSE (Pelayanan Sosial Ekonomi)/ Delsos (Delegatus sosial) di Sukabumi pada tahun 1969, yang diselenggarakan oleh gereja Katolik”.121
Dari situlah, gerakan CU mulai bertumbuh di Indonesia bahkan mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat yang ditandai dengan banyaknya CU primer yang berdiri. Karena perkembangannya yang begitu pesat dan untuk
120 http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg105221.html. (Diakses, tgl, 27 Okt 2011) 121 http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg105221.html. ( Diakses, tgl, 27 Okt 2011)
memperkenalkan gagasan tentang CU secara lebih meluas, pada tahun 1970,122 Pater Albretch dan kawan-kawan, membentuk sebuah asosiasi untuk mewadahi CU yang sudah ada dengan mendirikan Credit Union Counseling Office (CUCO). CUCO inilah
kemudian yang menjadi cikal bakal dari “Badan Kordinasi Koperasi Kredit Indonesia” (BK3I) atau yang saat ini dikenal dengan “Induk Koperasi Kredit” (Inkopdit). Sejak saat itulah CUCO semakin gencar memasyarakatkan CU kepada masyarakat Indonesia khususnya kepada masyarakat lokal di pedesaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai inovasi untuk mengembangkan gerakan pelayanan CU di Indonesiasemakin banyak dilakukan. Sistem CU pada dasarnya bukanlah perkumpulan uang melainkan perkumpulan orang-orang yang saling percaya. Dalam status ontologisnya sebagao perkumpulan orang atau perkumpulan sosial, CU dapat dimaknai dengan berbagai cara dan bentuk yang berbeda-beda. Harus diingat bahwa aktivitas generik simpan-pinjam di dalam suatu perkumpulan CU hanyalah salah satu dari beragam bentuk kegiatan yang dapat dilakukan. Sebagai sebuah diskursus sosial ekonomi, CU menjadi terbuka (contingent) untuk segala kemungkinan pemaknaan dan reartikulasi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang berniat menggunakannya. Karena sifatnya yang terbuka seperti itu maka bentuk atau model CU yang dikembangkan masyarakat di Indonesia juga menjadi beragam. Di berbagai tempat, gerakan CU tidak selalu memfokuskan aktivitasnya semata-mata pada
“uang” tetapi telah menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan, penyadaran sosial, ekonomi politik, dan kebudayaan masyarakat (adat) lokal. Sebutlah misalnya, CU model Kalimantan, yang tidak dapat lagi dipandang sebagai gerakan “ekonomi uang” saja tetapi sudah menjelma menjadi sebentuk gerakan sosial. Bahkan, CU model Kalimantan
122
yang berada dibawah naungan Badan Kordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan ini telah diakui bahkan digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai salah satu model alternatif bagi pemberdayaan masyarakat adat (lokal) di dunia”.123
Rahasia sukses CU model Kalimantan ini, menurut AR.Mecer, karena BKCU Kalimantan berhasil memformulasikan empat filosofi (nilai-nilai) kehidupan masyarakat adat Dayak ke dalam pelayanan dan produk-produk CU. Filosofi itu disebut dengan "Empat Jalan Keselamatan" yakni konsumsi, benih, sosial, ritual.Ke empat filosofi tersebut mewujud sebagai produk CU model Kalimantan dalam bentuknya sebagai: produksimpanan bunga harian (konsumsi); simpanan jangka panjang, deposito(benih); ada solidaritas sosial--seperti kesehatan, pendidikan (sosial); adasolidaritas kematian, tabungan hari raya (ritual): agar dapat dilihat secara lebih terperinci, berikut ini dikutipkan saja “Empat Jalan Keselamatan” yang menjadi filosofi mayarakat adat Dayak Kalimantan:
1) Konsumsi: penting sekali memenuhi kebutuhan makan-minum, meliputi kebutuhanpokok manusia yaitu makan-minum sehari-hari, sandang, papan, pendidikan,kesehatan, air bersih, dan lain sebagainya agar memenuhi karya penciptaanTuhan di bumi ini dari generasi ke generasi.
2) Benih: menyisihkan hasil sebagai benih untuk ditanam kembali, yang eratkaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam/hayati dankonsep menghemat dari hasil kerja agar ekologi dan kehidupan ini dapatlestari.
3) Sosial: pentingnya kebutuhan sosial-budaya untuk menyokong kualitas hiduppribadi yakni kesadaran untuk partisipasi dan emansipasi dalam bentuksumbangan materi maupundoa dan restuuntuk membangun dan mempertahankankeutuhan relasi sosial di antara sesama manusia. Di sini terdapat nilai danspirit kebersamaan dan sosial.
4) Ritual: pentingnya kebutuhan ritual untuk menyeimbangkan hubungan denganTuhan (vertikal) dan hubungan dengan sesama dan lingkungan alamnya(horizontal). Konsep ritual ini memberikan partisipasi horizontal yangmenekankan keseimbangan hubungan antara alam-sesama-Tuhan.
123
Tidak mengherankan kalau ada yang menyatakan ketidaksetujuannya jika CU digolongkan hanya semata-mata sebentuk lembaga keuangan. Yohanes Agus Setyono CM, misalnya mengatakan pandangan yang menyebut Credit Union hanya merupakan sebentuk lembaga keuangan bukan saja merupakan pandangan yang fatal dan keliru tetapi terlalu menyempitkan gerakan credit union. Di banyak tempat, gerakan Credit Union mengalami kegagalan dan kekacauan, justru karena gerakan dan perikatan kesatuan sosialnyahanya didasarkan pada ekonomi-uang”.124
Lalu, kalau tidak bisa disebut hanya semata-mata sebagai lembaga keuangan, lantas apa sebenarnya yang menjadi identitas credit union? Yohanes menambahkan bahwa credit union pertama-tama adalah alat gerakan sosial. Logika gerakannya pertama-tama dimaksudkan sebagai wadah atau forum pendidikan dan pemberdayaan berbagai aspek kehidupan manusia. Uang merupakan instrumen atau sarana sehingga bukan menjadi tujuan utama dalam gerakan CU. Dengan kata lain, CU bukanlah sebuah perkumpulan uang tetapi merupakan perkumpulan orang (sosial) sehingga tidak tepat untuk menggolongkan CU sebagai lembaga keuangan mikro formal.
Terdapat sejumlah perbedaan prinsip yang cukup mencolok antara CU dengan lembaga keuangan seperti Bank komersial termasuk dengan Bank Perkreditan Rakyat. Berikut ini dikutipkan perbedaan antara Credit Union dengan Bank komersial dan juga BPR:125 124 http://solidaritasburuh.blogspot.com/.(Diakses, tgl, 24 Mei 2011) 125 http://idabangeet-hidayati.blogspot.com/2010/12/perbedaan-koperasi-simpan-pinjam-dan. html (Diakses, 31 Juli 2014)
Tabel 3:
Perbedaan CU dengan Bank Komersial dan BPR
Unsur Credit Union Bank Komersial Lembaga Keuangan
Mikro a.l. BPR Susunan Bukan untuk mencari keuntungan,
dimilikioleh para Anggotanya, didanai dari simpanan-simpanan Anggota bersifat sukarela
Lembaga (keuangan) yang dimiliki oleh para pemegang saham, bertujuan mencari keuntungan.
Lembaga (keuangan) yang pada umumnya didanai oleh/dari sumber luar lembaga yakni para pemberi-pinjaman, hibah dan atau para investor Nasabah/Anggota
(Credit Union)
Anggota (“nasabah”) punya kesamaan ikatan; seperti tempat tinggal, tempat kerja atau tempat beribadah. Pelayanan kepada yang miskin dicampurkan kepada kelompok masyarakat lebih luas, hingga tingkat balas jasa dan biaya menjadi kompetitif.
Pada umumnya melayani nasabah kelas menengah ke atas. Tidak ada batasan untuk nasabah khusus.
Pada umumnya melayani nasabah / anggota kelas bawah (biasa) khususnya perempuan dari sebuah komunitas yang sama.
Tata Kelola Anggota Credit Union memilih Badan Pengurus (bersifat relawan)
dengan prinsip
satu orang satu suara, tanpa memperhitungkan jumlah simpanan atau sahamnya.
Para pemegang saham memilih Dewan Direksi yang digaji, yang bisa bukan berasal dari masyarakat
atau dari nasabah. Suara di- tentukan oleh besar kecilnya saham yang dipunyai.
Lembaga dikendalikan dan dikuasai oleh Dewan Direksi yang ditunjuk atau staf yang digaji.
Pendapatan Pendapatan bersih (SHU) dipakai untuk menciptakan balas jasa simpanan lebih tinggi daripada balas jasa pinjaman, atau memperkenalkan produk layanan baru, atau pengembangan pelayanan lain-lain yang bermanfaat bagi Anggota.
Pemegang saham menerima dividen atau pembagian imbal balik dari saham (bagian keuntungan)
Pendapatan bersih dipergunakan untuk memupuk modal atau dibagi di antara para investor.
Produk dan pelayanan. Berbagai macam
bentuk pelayanan keuangan sesuai kebutuhan Anggota, utamanya simpanan, kredit, pengembalian jasa dan asuransi
Berbagai macam bentuk pelayanan keuangan termasuk peluang-peluang investasi
Berkonsentrasi pada produk kredit kecil. Beberapa lembaga keuangan mikro menawarkan produk simpanan dan balas jasa pelayanan. Sarana Pelayanan Punya kantor pusat, punya
cabang atau tempat pelayanan, punya ATM, jasa pengiriman
uang lewat perangkat elektronik, akun debet kredit antar CU di satu Pusat CU sekunder tingkat daerah, nasional maupun regional.
Punya kantor pusat, juga cabang, ATM,
pelayanan transfer elektronik,
akun debet credit antar tingkat daerah, nasional, internasional
Punya kantor, layanan simpan pinjam, dan layanan keuangan lain serta kunjungan reguler pada komunitas nasabah.