BERDASARKAN MANUSKRIP Muhlis Hadrawi1
3. Masyarakat Wanuwa
Individu-individu sebagai komunitas dalam wanuwa Soppeng secara tradisional memiliki hubungan kekeluargaan (passeajingeng) antara satu dengan lainnya, baik yang terpaut sebagai kerabat dekat, maupun sudah menjadi kerabat jauh. Itulah sebabnya wanuwa-wanuwa tradisional lebih berciri sebagai satuan-satuan pemukiman di mana silsilah penduduknya relatif berasal dari nenek moyang yang sama. Penduduk di dalam wanuwa antara satu dengan lainnya terjalin hubungan kekeluargaan yang didasari hubungan perkawinan yang terus-menerus berlanjut antarklan keluarga dari generasi ke generasi. Orang Bugis mengenal istilah passeajingeng sebagai wujud adanya hubungan kekerabatan sosial di antara mereka.
Secara khusus, isitilah passseajingeng dalam masyarakat Bugis Soppeng adalah hubungan kekeluargaan yang tercipta karena faktor perkawinan. Konsep passeajingeng mencakup dua aspek yaitu ‘seajing sompunglolo’dan
‘seajing siteppangeng’. Seajing sompunglolo yaitu hubungan perkerabatan
yang timbul atas dasar ikatan kelahiran atau keturunan; sementara itu
seajingsiteppangeng adalah hubungan kekeluargaan yang tercipta atas
dasar terjadinya perkawiman dengan salah satu anggota keluarga dengan pihak klan keluarga lain. Seseorang yang dapat dikategorikan sebagai
seajing sompullolo dalam kelompok masyarakat adalah seseorang yang
terhitung masih memiliki hubungan darah kekerabatan. Bagi masyarakat Bugis Soppeng, kedudukan atau status seajing sompullolo memiliki makna penting dari segi sosial, sebab menjadi pertimbangan penting dalam terjadinya perkawinan. Perkawinan bagi orang Soppeng senantiasa cenderung memilih orang-orang yang masih terhitung anggota kerabat; walaupun di sisi lain mereka mengenal pula perkawinan eksogami. Hanya saja, pencarian jodoh yang dianggap paling utama adalah perkawinan dengan pasangan dari dalam lingkup keluarga sompullolo sendiri.
Bagi orang Soppeng, perkawinan antarkerabat di dalam rumpun keluarga senantiasa berpatokan pada norma-norma hukum yang sangat ketat. Sebab, hubungan perkawinan di dalam kerabat keluarga harus memiliki batas normatif yang jelas, sehingga antar individu yang memiliki hubungan kekerabatan dapat diketahui boleh kawin atau tidak boleh kawin. Oleh karena itu, fungsi sistem perjodohan yang dipraktikkan masyarakatnya bertujuan untuk memagari kemungkinan terjadinya perkawinan terlarang (incest). Itulah sebabnya perkawinan dan segala aspek sosialnya bagi orang Bugis Soppeng telah menyelaraskan aturannya berdasarkan hukum
pangedereng agar tidak terjadi perkawinan menyimpang atau malaweng.
Perkawinan menjadi media untuk merekatkan hubungan keluarga antara pihak laki-laki (suami) dan perempuan (istri), sehingga kedua pihak bertanggung jawab atas`berhasilnya hubungan perkawinan dan kelanggengannya. Kedua pihak selalu akan mencoba dengan segala daya dan upaya untuk menghindarkan perceraian, sebab apabila terjadi perceraian, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan kerengganan hubungan kekerabatan yang sudah terjalin dengan baik sebelumnya. Perihal asal-usul kekerabatan telah didasarkan pada dua macam hubungan keluarga antara orang-orang sekerabat dalam arti yang luas.
Terkait dengan hal tersebut, perkawinan bagi orang Bugis Soppeng menjadi dasar penting untuk menggambarkan jaringan hubungan kekeluargaan, baik dari pihak keluarga ibu atau pun dari keluarga ayah. Perkawinan menjadi peristiwa sosial yang paling penting bagi orang Soppeng. Selain bermaksud menunjukkan gengsi atau kedudukan klan keluarga di dalam lingkungan masyarakat, juga menjadi perintis wujudnya hubungan antara kelompok-kelompok kekerabatan, kedudukan sosial, kekusaan politik, kedudukan ekonomi dengan pihak lain.
Sejak awal orang Soppeng memosisikan hubungan kekerabatannya sebagai unsur yang penting dalam sistem kemasyarakatan dalam kerangka sosial passeajingeng. Kelompok kekerabatan yang masih terpaut dalam
passeajingeng memiliki ciri bilateral yang terjalin melalui perkawinan,
dimana perkerabatannya menyebar di seluruh wanuwa. Hubungan itu kemudian lambat laun menyebar ke berbagai wilayah atau melewati perbatasan wanuwa. Ciri pola perkawinan bilateral orang Soppeng
kemudian membentuk ikatan kekeluargaan lebih meluas melalui dua garis, yaitu dari pihak ayah dan pihak ibu. Namun, dalam kepentingan tertentu seperti urusan kepemimpinan, pewarisan jabatan sosial, seperti Matowa atau ketua kaum atau Anang, biasanya lebih dominan ditentukan prinsip uranewe mappabbati yakni kepewarisan berdasarkan garis darah dari pihak ayah atau laki-laki. Paling tidak, pihak keturunan ayah lebih menjadi pertimbangan utama dalam mengukur strata sosial seorang anak yang lahir dari hubungan perkawinan. Meskipun demikian, kekerabatan yang terbentuk dari pihak garis ibu juga turut menjadi penentu pewarisan hak-hak politik seseorang di dalam lingkungan sosialnya, tidak terkecuali strata sosialnya.
Ikatan paseajingeng atau kelompok kekerabatan yang bersifat luas lambat laun membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami sebuah wanuwa dan beberapa wanuwa Soppeng. Frekuensi perkawinan yang bersifat eksogam antara keluarga dalam kelompok passeajingeng yang bilateral itu memperbesar perasaan kesatuan antara kelompok-kelompok kekerabatan. Lazimnya ikatan kekerabatan seperti itu kemudian semakin dipererat lagi melalui upacara-upacara yang sering dilakukan. Upacara yang dilakukan itu semakin menguatkan simpul kekerabatan melalui konsep asal-usul nenek moyang (patturiolo) yang sama. Namun, pada kenyataannya selalu ada perjuangan kekuasaan dan martabat di dalam klan keluarga tertentu untuk meraih dominasi ekonomi, sosial dan politik.
Konsep patturiolo akan lebih mengukuhkan lagi ikatan kelompok masyarakat paseajingeng yang kemudian membentuk ikatan perkauman yang disebut Anang. Hubungan kekerabatan yang didasari sumber satu nenek moyang yang sama, maka konsep anang merupakan bentuk hubungan kekerabatan orang Bugis yang paling penting bagi setiap wanuwa. Untuk itulah persekutuan masyarakat anang sebagai bentuk komunitas tradisional Bugis merupakan wujud perkauman asli yang dari segi sejarahnya telah lahir jauh sebelum terbentuknya Kerajaan Soppeng.
Persekutuan anang yang wujud di setiap wanuwa Soppeng, pada awalnya berawal dari kelompok kekerabatan inti yang lambat-laun membentuk jaringan kelompok kekerabatan yang meluas oleh faktor perkawinan. Dasar perkawinan itulah yang kemudian mempertautkan
hubungan kekeluargaan antara satu keluarga anang dengan keluarga
anang yang lain pada wanuwa lain. Hubungan kekerabatan dan pertatuatan
keluarga yang melebar itu kemudian melahirkan hubungan jaringan kekeluargaan yang sangat luas yang melintasi batas-batas wanuwa. Itulah sebabnya antara wanuwa satu dengan wanuwa lainnya sering dijumpai memiliki hubungan kekerabatan atau passseajingeng.