WANUWA HINGGA TERBENTUKNYA KERAJAAN SOPPENG
2. Asal-Usul Wanuwa-Wanuwa Soppeng
Dalam naskah Lontara Soppeng disebutkan bahwa masyarakat Soppeng berasal dari dua tempat utama yaitu Sewo dan Gattareng. Orang-orang yang berasal dari Sewo menempati daerah Soppeng Riaja yang meliputi Pesse, Seppang, Pising, Launga, Mattabulu, Ara, Lisu, Lawo, Madello Rilau, dan Tinco. Sedangkan orang-orang yang berasal dari Gattareng menempati daerah Soppeng Rilau yang meliputi Salotungo, Lompoe, Kubba, Panincong, Talagae, Riatassalo, Mangkutu, Maccile, Watuwatu dan Akkampeng. Walaupun disebutkan jumlah wanuwa di Soppeng sebanyak enampuluh dengan pimpinan seorang matoa, namun hanya sebagian kecil yang dicatatkan namanya di dalam naskah lontara.
Asal muasal masyarakat Soppeng yang diceritakan dalam naskah
Lontara Attoriolong Soppeng menyebutkan nama wanuwa Sewo dan
di bukit Sewo sekarang. Bukti secara arkeologis menunjukkan adanya jejak pemukiman masyarakat pada masa lampau. Di puncak bukit Sewo terdapat lokasi yang merupakan bekas istana yang disebutkan dahulu ditempati oleh Petta Langkanange. Pada area di sekitaran istana, terdapat susunan punden-berundak yang terdiri dari empat teras bersusun dengan bahan dari batu gamping. Kuat dugaan bahwa area ini merupakan tempat upacara pemujaan oleh karena terdapatnya altar, batu tempat ritus, dolem dan dakon. Lokasi ini masih difungsikan oleh masyarakat sebagai tempat pemujaan (living monument) yang ditandai terdapatnya beberapa sesajian (pattoana), potongan-potongan daun pandan, sirih dan buah pinang yang diletakkan di depan batu pemujaan dan di atas batu altar. Pada lereng hingga kaki bukit Sewo tersebut menjadi area pemukiman masa lampau yang ditandai adanya temuan beberapa palungengpatu (lumpang batu), dan fragmen gerabah serta keramik asing yang sebarannya cukup padat.
Pesatnya pertumbuhan penduduk yang seiring dengan perluasan wilayah pemukiman dan perkembangan teknologi pertanian, akhirnya mendorong penduduk yang bermukim di perbukitan Sewo bergeser untuk mencari tanah datar dan lebih subur. Pemilihan wilayah baru sangat mempertimbangan faktor sumber daya lingkungan seperti kelandaian permukaan tanah, kesuburan tanah, ketersedian air dan berbagai faktor lainnya yang memberikan kemudahan tertentu bagi masyarakat (Mudarjito, 1993).
Perluasan wilayah pemukiman yang dilakukan penduduk Sewo pada masa lampau, hingga kini masih dapat dijumpai jejaknya pada situs Pising yang terletak di Desa Pising Kecamatan Donri-Donri. Topografi situs berupa perbukitan kecil yang luasnya sekitar 6 h, ketinggian puncak bukit sekitar 117 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau lebih rendah sekitar 100 mdpl daripada bukit Sewo. Masyarakat setempat menamakannya bukit
Aggalacenge oleh karena terdapat dakon yang sangat besar (Bugis: aggalecenge). Bahannya terbuat dari bongkahan batu yang panjangnya
sekitar 2,5 meter dan lebar sekitar 1 meter, diameter lubangnya ±16 cm dan kedalaman lubang 7,5 cm dan merupakan dakon terbesar yang pernah ditemukan di Sulawesi Selatan. Selain dakon, di lokasi itu juga ditemukan susunan batu temu gelang, lumpang batu, keramik dari abad ke-14 hingga ke-18, gerabah, tulang, gigi binatang dan kerang. Berdasarkan temuan-temuan arkeologis tersebut memberikan indikasi bahwa situs Pising telah dihuni cukup lama dan disertai aktivitas kehidupan yang intens. Kehidupan masyarakat di situs Pising tersebut ditopang oleh sumber daya lingkungan yang memadai dengan aktivitas pertanian dan pengolahan bahan makanan menggunakan lumpang batu.
Lokasi situs Lawo berada di pinggir Sungai Lawo yang berdekatan dengan situs Tinco. Batas kedua situs tersebut hanya dipisahkan jalan dan sungai. Secara administratif, situs Lawo berada di Kelurahan Ompo Kecamatan Lalabata. Diprediksi bahwa masyarakat yang bermukim di Lawo pada masa lalu memanfaatkan sumber daya alam dengan baik. Pusat pemukimannya berada di kaki bukti dan di sela-sela batu besar, sementara batuan andesit yang tersebar di sekitar lingkungannya dipergunakan masyarakat sebagai peralatan kehidupan sehari-hari. Peralatannya dijumpai seperti singkapan
batu besar yang dipergunakan sebagai bahan lumpang. Selain itu, pada situs Lawo juga ditemukan dakon, gambar geometrik pada media batu yang mengindikasikan kalau tradisi megalitik pernah hidup dalam masyarakat yang bermukim di Lawo. Tradisi megalitik berlangsung dalam masa yang panjang dan terbina secara turun-temurun pada masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya berberapa pecahan keramik asing dari abad ke-14 hingga abad ke-20.
Topografi situs Tinco tampaknya sangat sesuai menjadi pemukiman karena tanahnya cukup datar dan landai serta terdapat sumber air dari Sungai Lawo. Pada sisi selatan dan timur situs Tinco terdapat hamparan persawahan yang luas sangat subur yang dapat menunjang aktivitas pertanian masyarakat. Oleh karena itu, sangat wajar daerah ini dipilih sebagai lokasi penting untuk pendirian istana sejak pemerintahan Datu Soppeng Tomanurunge ri Sekkanyili bernama La Temamamala. Di dalam
Lontara Soppeng juga mencatatkan, setelah Tomanurung ri Sekkanyili
didaulat menjadi Datu Soppeng, serta-merta ia dibuatkan istana dan sawah kerajaan di Tinco. Keutamaan lokasi situs Tinco tersebut didukung pula oleh sumber daya alam berupa bebatuan andesit dan singkapan batu vulkanik yang cukup banyak. Bebatuan andesit maupun vulkanik menjadi bahan yang dipergunakan untuk pembuatan lumpang, dakon, menhir, dan temu gelang untuk menunjang kehidupan sehari-hari termasuk kepentingan upacara dan ritual.
Indikator kejayaan situs Tinco dapat terlihat pada frekuensi temuan keramik asing. Keramik asing yang paling tua selama ini bertarikh abad ke-12 dan ke-13 yang diprediksi sebagai awal terjadinya kontak antara masyarakat Tinco dengan dunia luar. Data fragmen keramik tersebut, menandakan intensitas kontak dengan masyarakat luar, karena keramik bukan merupakan produksi lokal tetapi produk yang dibawa dari negeri luar. Temuan keramik asing yang bertarikh lebih muda adalah abad ke-15 dan ke-16 dengan intensitas sebaran yang semakin menunjukkan peningkatan. Diprediksi bahwa pada abad ke-17 dan ke-18 merupakan puncak kejayaan situs Tinco, kemudian mengalami penurunan pada abad ke-19 yang menandakan adanya kemuduran. Penyebab kemunduran tersebut kemungkinan besar oleh pengaruh hegemoni Belanda terhadap
kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan puncaknya ketika kebijakan Belanda mengubah dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Bugis Bone dan Kerajaan Makassar Gowa. Kerajaan Bone telah diubah oleh Belanda dari kerajaan menjadi distrik pada 1905 dan Kerajaan Gowa diubah menjadi distrik pada 1910, keduanya dibawah pemerintahan langsung resedien Belanda (Gibson, 2012).
Selain toponim Sewo, sebagai asal-muasal penduduk Soppeng, disebutkan pula dari Gattareng. Jika dilihat jejak-jejak arkeologis yang ditemukan di Umpungeng berupa struktur berundak, batu pemujaan, temu gelang, possi tana, menhir, dan lumpang batu, maka Umpungeng yang merupakan wilayah penting Gattareng seperti yang dicatatkan dalam lontara juga menjadi sumber asal-muasal orang Soppeng. Hal tersebut didukung oleh temuan situs yang bercirikan pemujaan dan tradisi megalitik sama dengan yang terdapat pada situs Sewo.
Salah satu bagian dari wilayah Gattareng yang menjadi wilayah persekutuan Soppeng Rilau yang masih dapat dijumpai hingga sekarang ini ialah situs Salotungo. Situs Salotungo terletak di Kelurahan Lalabata Rilau Kecamatan Lalabata dengan topografinya pada ketinggian sekitar 63 mdpl. Penelusuran jejak arkeologis yang telah dilakukan pada 2016, menemukan temu gelang yang berbentuk melingkar yang disusun dari batuan andesit dengan ketingian 50 cm dari permukaan tanah. Selain temu gelang, terdapat juga dakon di Daerah Aliran Sungai Maccope, serta beberapa fragmen gerabah yang dijumpai di sekitar temua gelang. Minimnya temuan arekologis di situs Salotungo boleh jadi diakibatkan pesatnya pembangunan pemukiman masyakarat.