• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELALUI PENDEKATAN TERPADU BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA

KELAS VIII MENGGUNAKAN METODE

MELALUI PENDEKATAN TERPADU BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA

Supiyati

Guru SD Negeri 006 Balikpapan Selatan Abstrak

Ketrampilan berbicara bahasa Indonesia sangat penting untuk dikuasai oleh peserta didik. Peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia harus ditingkatkan.

Meskipun demikian masih banyak peserta didik yang menemui kesulitan dalam pembelajaran berbicara Indonesia. Penelitian ini menggunakan data pengamatan aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dianalisis dengan menggunakan persentase (%) yaitu jumlah kemunculan aktivitas siswa dibagi jumlah seluruh siswa dikalikan seratus persen (100%). Hasil penelitian menunjukkan mulai dari siklus I, II, III pada pembelajaran berbicara bahasa Indonesia melalui pendekatan terpadu bidang studi bahasa Indonesia mengalami peningkatan dilihat dari rata-rata nilai siswa berurutan 69.41, 71.5 dan 71,91. Kemudian dilihat dari aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran ini semakin meningkat dilihat dari semakin berkurangnya aktivitas-aktivitas negatif yang dilakukan oleh siswa pada setiap pembelajaran, selain itu tingkat respon siswa menyenangkan yang selalu meningkat terhadap pembelajaran berbicara melalui pendekatan terpadu bidang studi bahasa Indonesia. Dari penelitian ini disimpulkan terdapat hubungan yang erat antara peningkatan pembelajaran berbicara dengan pendekatan terpadu pada bidang studi bahasa Indonesia dan terjadi peningkatan hasil belajar ketrampilan berbicara melalui pendekatan terpadu.

Kata kunci : Pembelajaran berbicara, pendekatan terpadu, kemampuan berbicara

PENDAHULUAN

Bahasa adalah alat komunikasi yang paling penting bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama. Bagi peserta didik, bahasa menjadi aspek terpenting dalam membutuhkan kreativitas, dan sebagai jembatan

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 150

untuk memperkaya imajinasi mereka. Sehingga penting bagi peserta didik untuk memahami, menguasai, dan bisa menggunakan bahasa secara efektif dan komunikatif. Sering kita jumpai di dunia pendidikan, bahwa tidak semua peserta didik bisa menggunakan bahasa Indonesia secara efektif dan komunikatif. Bahkan peserta didik yang pandai sekalipun, ada yang tidak bisa bahasa Indonesia atau tidak bisa berbicara bahasa Indonesia secara efektif dan komunikatif. Mereka menemukan kesulitan dalam mentransfer ide, atau gagasan yang ada dalam otaknya ke dalam sebuah kata atau kalimat-kalimat yang mewakili ide atau pendapat yang mereka miliki. Hal ini bisa menjadi penghambat bagi para peserta didik dalam mengembangkan potensi dalam dirinya untuk berinteraksi aktif dengan lingkungan, karena rasa percaya diri mereka kurang, agar peserta didik mampu berbahasa Indonesia dengan baik, maka fokus pelajaran adalah aspek ketrampilan berbahasa Indonesia.

Terdapat 4 keterampilan berbahasa Indonesia yang harus dikuasai peserta didik, keterampilan berbicara, keterampilan menyimak, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa Indonesia ini, keterampilan berbicara adalah keterampilan yang penting sekali untuk dikuasai oleh peserta didik.

Peserta didik akan dapat menyampaikan ide atau pendapatnya kepada peserta didik lainnya, dengan baik dan lancar, selain itu pendapat yang disampaikan dapat dimengerti dan dipahami sehingga dapat menciptakan interaksi yang komunikatif dan efektif dengan peserta didik lainnya. Keterampilan berbicara bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek dari keterampilan berbahasa Indonesia tidak bisa berdiri sendiri.

Keterampilan ini berkaitan dengan tiga keterampilan berbahasa Indonesia lainnya, dan tidak dapat dipisahkan. Empat keterampilan berbahasa Indonesia ini bisa berkembang dengan baik, pada diri peserta didik bergantung pada cara belajar yang dilakukan oleh peserta. Peserta didik belajar berbahasa Indonesia melalui berbagai macam cara yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang hakikat perkembangan bahasa anak baik lisan maupun tertulis, serta perbedaan individual dalam pemerolehan bahasa sangat mendukung bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dan guru SD perlu menguasai konsep yang terkait dengan pembelajaran bahasa. Namun, ketrampilan berbahasa terutama ketrampilan berbicara bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui teori dan penjelasan saja.

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015)151 Siswa tidak akan memiliki ketrampilan berbahasa Indonesia dengan baik jika siswa hanya datang, duduk, mendengarkan dan mencatat penjelasan guru. Akan tetapi siswa akan terampil berbahasa Indonesia terutama dalam berbicara dengan banyak berlatih di sekolah maupun di rumah. Perencanaan kegiatan dalam pembelajaran berbicara dalam bidang studi bahasa Indonesia merupakan tugas guru, yaitu bagaimana guru mengelola kurikulum ini menjadi bahan pembelajaran berbicara yang membuat siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbicara. Winkel (2001:115) mempunyai pendapat sebagai berikut.

“Keberhasilan dalam belajar ditentukan kualitas pembelajaran yang dikelola oleh guru, selanjutnya kualitas pembelajaran bergantung pada cara guru mendesain pembelajaran tersebut dalam praktik kegiatan belajar misalnya; 1) penyajian materi, 2) pemberian penguatan, 3) keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar, 4) penghargaan keberhasilan siswa, yang semuanya itu berada dalam satu sistem pembelajaran”. Kegiatan pembelajaran berbicara dalam bidang studi bahasa Indonesia, daya kreatif siswa perlu dikembangkan, maka dari itu peserta didik dilatih untuk dapat memilih kata-kata yang tepat dan mudah mentransfer pendapat atau gagasan yang dimilikinya ke dalam kalimat-kalimat yang mudah dimengerti oleh peserta didik lainnya. Daya kreatif siswa akan tumbuh apabila siswa diberi kesempatan untuk berani melakukan sesuatu hal yang berbeda serta menghargai perbedaan dan keragaman. Dalam pokok-pokok pengajaran bahasa dan kurikulum 2006 dinyatakan bahwa guru dapat mengajar bahasa dengan tiga cara yaitu a) menjelaskan sesuatu kepada siswa, b) melatih sesuatu kepada siswa, c) melibatkan siswa di dalam suatu kegiatan berbahasa (Purwo, 1997:19).

Mengajar keterampilan berbahasa Indonesia dalam bidang studi bahasa Indonesia, terutama ketrampilan berbicara, penyajian uraian atau penjelasan saja belum mencukupi. Siswa perlu melakukan kegiatan berbahasa Indonesia dalam konteks yang sesungguhnya. Untuk mempertajam ketrampilan menggunakan dan memahami bahasa Indonesia peserta didik perlu diberi peluang menyusun dan merangkaikan kalimat dalam berbagai keperluan komunikasi baik lisan maupun tertulis.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah peneliaian ini adalah bagaimanakah hubungan antara ketrampilan berbicara bahasa Indonesia dengan pendekatan terpadu dalam bidang studi bahasa Indonesia dan

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 152

bagaimanakah peningkatan hasil belajar peserta didik dalam ketrampilan berbicara bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan terpadu pada bidang studi bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan dan ingin dicapai adalah sebagai berikut, memperoleh deskripsi tentang ada tidaknya hubungan antara ketrampilan berbicara bahasa Indonesia dengan pendekatan terpadu;, memperoleh deskripsi tentang peningkatan hasil belajar peserta didik dalam ketrampilan berbicara bahasa Indonesia setelah menggunakan pendekatan terpadu pada bidang studi bahasa Indonesia.

KAJIAN PUSTAKA

Pendekatan Terpadu dalam Bidang Studi Bahasa Indonesia

Pendekatan terpadu dalam bidang studi bahasa Indonesia adalah pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa aspek-aspek bahasa Indonesia selalu digunakan secara terpadu dan tidak pernah bahasa digunakan secara terpisah antara aspek satu dengan aspek yang lain.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, ketrampilan-ketrampilan berbahasa Indonesia dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan misalnya, ketika guru mengajarkan membaca kata-kata, sekaligus guru mengajarkan siswa dalam mengucapkan dengan benar, ada juga guru juga mengajarkan ketrampilan berbicara bahasa Indonesia, sekaligus mengajarkan menjadi penyimak yang baik. Guru meminta siswa menyimak sebuah cerita kemudian siswa diminta untuk menceritakan kembali cerita yang telah disimaknya atau siswa diminta untuk mengungkapkan isi cerita itu secara singkat dan siswa yang lain diminta untuk menanggapinya.

Pendekatan terpadu sering kali disebut sebagai pendekatan integratif. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya mengenai 4 ketrampilan berbahasa Indonesia, pendekatan ini mendasarkan pada satu pemahaman bahwa pada hakekatnya tidak ada ketrampilan-ketrampilan dalam berbahasa atau aspek-aspek yang terdapat dalam berbahasa yang terpisah, dilihat dari cara belajar peserta didik usia SD yang bersifat spontan, segera meminta respon, dan holistik. Oleh karena itu guru harus dengan cermat, teliti dan hati-hati dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan terpadu, sehingga interaksi belajar mengajar akan menjadi lebih bermakna bagi para peserta didik.

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015)153 Selain itu guru juga harus bisa mengajak siswa untuk menciptakan kelas yang komunikatif dan aktif dalam belajar.

Menurut Yeage, kelas-kelas yang menganut filsafat bahasa terpadu memiliki kondisi-kondisi antara lain siswa banyak bergaul dengan literatur (bacaan), siswa merasakan peningkatan dalam belajarnya dan mereka memperhatikan kesanggupan belajar yang tinggi, guru-guru berinteraksi dengan siswa baik sebagai pembaca maupun penulis, guru memperlihatkan perhatian mereka terhadap bacaan dan penulisan pada umumnya. Kondisi-kondisi kelas seperti inilah yang akan menghasilkan siswa-siswa yang berpotensi, berbakat baik dalam bidang akademik maupun bidang non-akademik. Siswa akan sangat semangat dalam menggali informasi, ingin menambah wawasan, pengetahuan, selain itu siswa selalu ingin bertukar pikiran, melakukan interaksi dengan lingkungannya dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperolehnya untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.

Keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat terjadi lewat tiga macam cara dalam satu ketrampilan berbahasa Indonesia antara ketrampilan berbahasa Indonesia dan lintas kurikulum (Busching dan Schwartz, 2003:16-24). Keterpaduan ini dapat diwujudkan dalam bentuk ketrampilan menyimak dan berbicara, ketrampilan membaca, menulis dan berbicara, ketrampilan menyimak, menulis dan membaca.

Terdapat dua model pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu model kegiatan tunggal rancangan guru dan model lokakarya. Dalam model model kegiatan tunggal rancangan guru, guru mengajak siswa untuk melakukan percakapan secara spontan dengan saling memberikan informasi. Misalnya, guru mengajak siswa untuk menciptakan situasi di luar sekolah, seperti pasar, siswa dengan sendirinya akan melakukan interaksi-interaksi dalam pasar. Siswa dengan sendirinya akan melakukan pertukaran komunikasi berupa menawarkan, menawar, mempengaruhi dan menyetujui. Dapat juga siswa diajak untuk bermain peran atau drama.

Dalam model lokakarya, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan materi / bahan yang digunakan dan KBM sedangkan guru hanya menentukan jadwal waktu dan jenis kegiatan yang mewakili bahan ajar. Siswa diberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mengatasi sendiri masalah yang terdapat dalam KBM yang dilaksanakannya. Siswa juga akan bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 154

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri individu yangbelajar. Bukan saja perubahan yang mengenai pengetahuan, tetapijuga kemampuan untuk membentuk kecakapan dalam bersikap.

Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai siswa setelah proses pembelajaran dalam waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan alat evaluasi tertentu.

Hasil belajar, tidak terlepas dari kata belajar itu sendiri. Moh Surya (dalam A Sudrajat (2011; 41) ”belajar dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.Pengertian dan pandangan tentang belajar memiliki cakupan yang sangat kompleks, meliputi berbagai aspek kehidupan, belajar dilakukan secara terus menerus, baik dalam suasana formal maupun informal dengan setting yang berbeda, dilingkungan keluarga, organisasi, mengisi waktu senggang, melalui kegiatan kemasyarakatan, dan setiap aktivitas yang bersifat praktis lainnya. Lebih lanjutASudrajat (2011; 42) mengatakan kata kunci dari belajar adalah: “perubahan perilaku sebagai hasil belajar atau prestasi belajar”. Seseorang atau individu dikatakan mengalami proses belajar ditandai dengan munculnya perubahan-perubahan yang positif dalam dirinya, suatu keberhasilan atau kegagalan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar yang dilakukan dan dialami oleh siswa baik ketika berada di sekolah maupun ketika berada dalam lingkungan keluarga, masyarakat.

Keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum pendidikan yang dikelompokkan pada empat jenis belajar, Tukiran dkk (2011; 9) menyatakan empat pilar tersebut adalah:

1). Belajar mengetahui (learning to know) yakni mendapatkan instrumen atau pemahaman

2). Belajar berbuat (learning to do) yakni mampu bertindak kreatif di lingkungannya dengan belajar mengetahui dan berbuat sampai batas yang luas

3). Belajar hidup bersama (learning to live together) yakni mampu berperan serta dan kerja sama dengan orang lain dalam semua kegiatan manuasia,

4). Belajar menjadi seseorang (learning to be) yakni kemajuan dari kelanjutan tiga sendi diatas sehingga pendidikan akan memberi

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015)155 sumbangsih nyata pada perkembangan seutuhnya dari setiap jiwa, raga, inteligensia, kepekaan, tanggung jawab.

Terkait dengan teori tentang belajar di atas, maka proses dari belajar itu akan menghasilkan suatu hasil belajar. Tentang hasil belajar ini, S Arikunto (dalam Ekawarna 2009; 41) mengemukakan bahwa ”hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh siswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa, hasil belajar ini biasanya dinyatakan dalam angka huruf atau kata-kata, baik sedang ataupun kurang. Penilaian hasil belajar oleh guru adalah untuk mengetahui sejauhmana efektivitas proses belajar, ketepatan proses pengajaran dan strategi belajar yang digunakan serta tingkat kemampuan kesiapan siswa”.Makna dasar yang terkandung dalam teori di atas bahwa hasil belajar adalah pencapaian hasil oleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan salah satu bentuk penelitian yang bersifat praktis dengan melakukan tindakan-tindakan yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran yang ada (Kasmani, 1998:1).

Sedangkan menurut Kemmis (dalam Ardiana 2001:1), Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebagai bentuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan itu dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi tempat praktik pembelajaran itu dilakukan.

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang berusaha memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran yang ada sebelumnya.

Dalam suatu penelitian, metodologi merupakan hal yang penting karena dalam metode pengembangan penelitian memberikan panduan kepada peneliti tentang bagaimana melakukan penelitian dengan urutan, atau teknik yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Berhasil tidaknya suatu penelitian sebagian besar tergantung pada metode penelitian yang digunakan. Namun tidak ada metode yang bisa dilakukan mutlak baik setiap metode tentu mengandung kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu, di dalam memilih suatu metode penelitian yang nantinya digunakan hendaknya harus disesuaikan dengan objek yang akan diteliti. Metode

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 156

pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian antara lain wawancara, observasi dan tes.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif karena penelitian ini menggambarkan atau mendiskripsikan hasil penelitian apa adanya dan belajar siswa berupa angka. Penelitian ini juga merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) karena tujuan utama PTK ialah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran. Dalam hal ini penelitian, bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran berbicara melalui penggunaan pendekatan terpadu.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, peneliti mewawancarai siswa-siswa kelas III-C tentang kegiatan belajar mengajar yang telah dilalui pada bidang studi bahasa Indonesia. Wawancara mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang diberikan oleh guru kelas kepada siswa dalam bidang studi bahasa Indonesia khususnya yang berhubungan dengan ketrampilan berbicara bahasa Indonesia. Observasi (pengamatan), peneliti mengikuti KBM di kelas III-C pada bidang studi bahasa Indonesia sebelum peneliti akan mengajar di kelas III-C ini dan menerapkan pendekatan terpadu untuk ketrampilan berbicara bahasa Indonesia pada bidang studi bahasa Indonesia. Tes hasil belajar siswa menghasilkan nilai-nilai tes yang diambil pada setiap akhir siklus pembelajaran pada bidang studi bahasa Indonesia untuk meningkatkan ketrampilan berbicara bahasa Indonesia yang menerapkan pendekatan terpadu.

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebanyak III siklus pengajaran yang mana, pada siklus I guru belum menerapkan / merencanakan pendekatan terpadu pada pembelajaran secara terperinci dan sistematis, dan siklus II dan III. Guru mulai menerapkan pendekatan terpadu secara terperinci dan sistematis dengan 4 tahapan yaitu perencanaan, penerapan dan observasi, refleksi dan revisi. Aktivitas negatif akan direvisi atau disempurnakan pada siklus berikutnya yaitu siklus II dan siklus III. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi SDN 006 Balikpapan Selatan yang terdiri dari 18 kelas. Cara pengambilan sampel menggunakan sampel random yaitu dari seluruh kelas pada SDN 006 Balikpapan Selatan, diambil hanya satu kelas III-C yang terdiri atas 22 siswa.

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015)157 Populasi penelitian yang sesuai dengan judul penelitian akan memudahkan di dalam menentukan sampel penelitian dan memudahkan dalam menentukan teknis analisa data yang sesuai dengan permasalahan penelitian. Populasi adalah sekelompok subjek dalam daerah atau lingkungan tertentu yang menjadi objek penelitian. Menurut Sutrisno Hadi (1984:220) yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diteliti atau diselidiki. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud populasi adalah “Seluruh objek yang akan dijadikan penelitian yang memiliki karakter sebagian atau keseluruhan”, yang dijadikan dalam penelitian ini adalah siswa siswi SDN 006 Balikpapan Selatan yang terdiri dari 18 kelas.

Menurut Suharsimi Arikunto (2001:104) yang dimaksud sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti atau yang menjadi subjek penelitian dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk mengangkat kesimpulan penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi yang ada. Terdapat beberapa cara dalam pengambilan sampel menurut Suharsimi Arikunto (1992:107) sebagai berikut :

o Sampel random, acak, campuran o Sampel berstrata

o Sampel wilayah o Sampel proposal o Sampel bertujuan

dalam penelitian ini, menggunakan sampel random dari seluruh kelas pada SDN 006 Balikpapan Selatan, diambil hanya satu kelas III-C yang terdiri atas 22 siswa.

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, instrumen atau alat pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

o Lembar observasi aktivitas guru dan mahasiswa dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia melalui pendekatan terpadu bidang studi bahasa Indonesia, misalnya pada lembar aktivitas siswa yang meliputi,

- memperhatikan penjelasan guru.

- keaktifan siswa dalam bertanya jawab dengan guru.

- keberanian siswa dalam mengemukakan pikiran, ide.

- keberanian siswa saat menceritakan pengalaman.

- keaktifan siswa berdiskusi dengan siswa lain.

o Tes hasil belajar siswa setelah mendapat pengajaran bahasa Indonesia dengan pembelajaran terpadu diukur dengan instrumen

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 158

berupa latihan-latihan keterampilan berbicara bahasa Indonesia kepada siswa.

- Bentuk tes pada siklus pertama, siswa mendeskripsikan sebuah gambar yang diberikan oleh guru berdasarkan ciri-cirinya.

- Pada siklus kedua, siswa menceritakan kebiasaannya di rumah.

- Pada siklus ketiga, siswa menceritakan kembali cerita yang telah dibacakan oleh guru (mengemukakan isi cerita).

o Lembar respon siswa perangkat pembelajaran berbicara bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan terpadu pada bidang studi bahasa Indonesia meliputi senang atau tidaknya siswa terhadap pendekatan yang diterapkan dalam pembelajaran berbicara pada bidang studi bahasa Indonesia, baru atau tidaknya bentuk atau model pendekatan yang diberikan kepada siswa, sulit atau tidaknya mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan pendekatan terpadu.

Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan teknik peneliti sekaligus sebagai pengajar dan pengamat dengan guru pamong masuk ke dalam ruang kelas yang diberikan tindakan kelas. Selama kegiatan belajar mengajar, peneliti selain mengajar juga mengamati dan mengisi lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam pelajaran berbicara bidang studi bahasa Indonesia. Data hasil belajar dijaring dengan dua cara, yaitu melalui prestasi belajar dan keaktifan dalam berbicara bahasa Indonesia melalui perpaduan keterampilan, menyimak dan keterampilan membaca dengan kepandaian / kelancaranya dalam menyusun kata-kata sebagai transfer dari pikirannya. Setelah KBM berakhir siswa diberi lembar respon siswa tehadap kegiatan belajar mengajar yang baru saja dilaksanakan oleh guru peneliti, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan mereka terhadap pembelajaran berbicara bahasa Indonesia melalui pendekatan terpadu pada bidang studi bahasa Indonesia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada siklus I, berdasarkan hasil observasi diperoleh bahwa sebagian siswa masih menunjukkan perilaku – perilaku negatif dalam kegiatan belajar mengajar antara lain siswa lebih banyak ramai / ngobrol dengan teman sebangku, siswa sering berjalan – jalan, siswa masih ada yang takut dalam mengemukakan pikirannya dan siswa masih kesulitan dalam berbicara lancar. Sedangkan dari data hasil belajar pada siklus

(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015)159 pertama ini yang diperoleh dari evaluasi akhir yang berlangsung selama 30 menit, siswa diminta mendeskripsikan gambar yang telah disediakan oleh guru (peneliti) dengan memilih salah satu gambar kemudian mendeskripsikan gambar yang dipilih berdasarkan ciri–ciri yang dimiliki, siswa diberi waktu 5 menit untuk menuliskan ciri–ciri gambar yang diamati, setelah itu guru menunjuk siswa untuk menyebutkan ciri–

ciri gambar seperti apa yang dituliskannya.

Sedangkan siswa yang lain menyimak kemudian memberikan tanggapan baik berupa kritikan atau tambahan kepada temannya.

Ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia sebesar 40,09%. Guru perlu melakukan pemahaman ulang atau evaluasi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dalam evaluasi ini guru diharapkan menciptakan suasana belajar mengajar induktif dengan suasana ceria belum tampak, digharapkan siswa senang saat menyimak temannya yang bercerita dan juga diharapkan ada yang memberikan tanggapan.

Pada siklus II, guru memperbaiki rencana tindakan berdasarkan hasil Refleksi pada siklus I yang menunjukkan sebagian siswa masih menunjukkan perilaku – perilaku negatif dalam kegiatan belajar mengajar antara lain siswa lebih banyak ramai / ngobrol dengan teman sebangku, siswa sering berjalan – jalan, siswa masih ada yang takut dalam mengemukakan pikirannya dan siswa masih kesulitan dalam berbicara lancar. Berdasarkan hasil pengamatan, refleksi, masih muncul aktivitas negatif yaitu siswa kurang berani mengemukakan pendapatnya, siswa masih kurang lancar dalam berbicara, siswa kurang berdiskusi dengan teman, guru belum secara optimal memadukan keterampilan – keterampilan dalam berbahasa

Berdasarkan aktivitas negatif yang muncul tersebut, guru akan

Berdasarkan aktivitas negatif yang muncul tersebut, guru akan