KELAS VIII MENGGUNAKAN METODE
MELALUI STRATEGI INKUIRI JURISPRUDENSIAL Sri Yoana
Guru PKN SMA Negeri 5 Balikpapan Abstrak
Pada kondisi awal pelaksanaan pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan di kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan, ditemukan bahwa kemampuan mengemukakan pendapat siswa masih rendah. Tema / topik sebagai sumber informasipun sangat tidak menarik dan tidak sesuai dengan kondisi siswa. Penerapan strategi inkuiri jurisprudensial pada penelitian ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan menyatakan pendapat siswa. Prosentase skor rata-rata kemampuan menyatakan pendapat siswa pada siklus I masih sebesar 72.63 dan pada siklus II menjadi 84.87 atau meningkat sebesar 12.24 poin. Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 73.68 dan pada siklus II menjadi 81.18 atau meningkat sebesar 7.5 poin apabila dibandingkan dengan siklus I. Ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 71.05% dan pada siklus II mencapai 97.37% atau meningkat kembali sebesar 26.32%.
Diharapkan guru dapat menggunakan teknik-teknik lain yang lebih variatif dan menyenangkan untuk memecahkan masalah siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuan - kemampuan yang dimilikinya.
Kata Kunci: kemampuan mengemukakan pendapat, strategi belajar, inkuiri jurisprudensial.
PENDAHULUAN
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 68
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan Kewarganegaraan (selanjutnya disingkat PKn) dijadikan sebagai wadah dan instrumen untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional di atas.Di samping itu, PKn juga berfungsi sebagai instrumen pelaksana pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pkn adalah salah satu mata pelajaran wajib bagi pelajar di Indonesia dalam setiap jenjang pendidikan. Sesuai namanya, PKn diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana langkah-langkah penerapan strategi inkuiri jurisprudensial untuk meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 dalam pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan dan apakah penerapan strategi inkuiri jurisprudensial dapat meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 dalam pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan strategi inkuiri jurisprudensial untuk meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 dalam pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 dalam pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan setelah penerapan strategi inkuiri jurisprudensial.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kajian hasil belajar dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Hasil penelitian ini juga diharapkan
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 69 dapat bermanfaat bagi berbagai pihak terutama: bagi Guru dalam hal meningkatkan keterampilan pengembangan Strategi dalam proses pembelajaran, bagi Siswa dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan selama proses pembelajaran, bagi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PKn dengan menerapkan stratedi pembelajaran secara tepat.
KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran PKn di SMA
Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan otoriter yang memasung hak-hak warga negara untuk menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non-pemerintahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi.
Materi sistem pemerintahan merupakan materi pembelajaran PKn SMA kelas XII semester 1. Materi ini termasuk dalam standar kompetensi: 2. Mengevaluasi berbagai sistem pemerintahan, dengan kompetensi dasar: 2.1 Menganalisis sistem pemerintahan di berbagai negara; 2.2 Menganalisis pelaksanaan sistem pemerintahan Negara Indonesia; dan 2.3 Membandingkan pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia dengan negara lain.
Kemampuan Mengemukakan Pendapat
Kemampuan identik dengan kesanggupan dalam mengaplikasikan keahlian.Badudu (2001:854) mengemukakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, menguji seseorang atau otaknya untuk berfikir luar biasa.Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia kemampuan berarti keahlian yang dimiliki. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1995:1105) mengungkapkan berarti: melahirkan perasaan hati, menunjukkan, membuktikan, penyikapan, mengungkapkan, menyatakan, memaparkan, kesimpulan (sesudah mempertimbangkan, menyelidiki, dan sebagainya).
Menurut Ahmadi dan Umar (1992:131) proses pembentukan pendapat meliputi: 1) Menyadari adanya tanggapan atau pengertian, karena tidak mungkin kita membentuk pendapat tanpa menggunakan
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 70
pengertian atau tanggapan. 2) Menguraikan tanggapan atau pengertian.
Misalnya: kepada seseorang anak-anak kita memberikan sepotong karton kuning berbentuk persegi empat. Dari tanggapan yang majemuk itu sepotong, karton, kuning, persegi, empat dianalisis.Kalau anak tersebut ditanya apakah yang kau terima.Mungkin jawabanya hanya “karton kuning“.Karton kuning adalah suatu pendapat. Sujanto (2008 : 60) menyatakan “pendapat“ dibentuk dari pengertian-pengertian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang kurang mampu dalam mengungkapkan pendapatnya adalah:
a. Berpikir bahwa mengemukakan pendapat di depan umum merupakan hal yang menegangkan.
b. Berusaha menyampaikan terlalu banyak informasi dalam waktu yang singkat.
c. Pikiran kosong sehingga tidak tahu apa yang harus diungkapkan.
d. Takut tidak bisa berbicara.
e. Memiliki tujuan yang keliru.
f. Takut mendapat kesan negatif dari orang lain.
g. Berusaha mengontrol perilaku.
h. Mengetahui terdapat teman yang lebih tahu/lebih dari pembicara (Sharbinie & Suryana 2006).
Sedangkan Natalie (2003) menyebutkan bahwa seseorang yang mampu mengungkapkan pendapat adalah seseorang yang mempunyai keberanian untuk berbicara di depan umum serta dapat mengelola emosi dengan baik saat menyatakan suatu pendapat.
Strategi Pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial
Strategi pembelajaran menurut J.R. David (dalam Sanjaya, 2006:126) diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to acchievas a pactikular educational goal, yaitu strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengertian diatas menunjukkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Jadi, penyusunan strategi merupakan suatu proses penyusunan rencana kerja dan belum sampai pada tindakan.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 71 Strategi Pembelajaran Inkuiri
Teori belajar yang dikembangkan oleh Piaget yang mendasari strategi pembelajaran inkuiri adalah teori konstruktivistik (Sanjaya, 2006: 196).Ia berpendapat bahwa pengetahuan akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa, sehingga mereka mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalan struktur kognitifnya. Dengan demikian tugas guru hanya memberikan dorongan kepada siswa untuk mengembangkan skema yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan (action research) untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.Oleh karena itu, penelitian ini dinamakan penelitian tindakan kelas.Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Menurut Sukidin dkk. (2002:54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan, yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif, dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan tersebut, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, (dalam Sukidin, dkk. 2002:55), ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada: (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya, (2) tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar, (3) proses yang digunakan dalam melakukan penelitian, dan (4) hubungan antara proyek dengan sekolah.
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan, yang beralamat di Jl Jl. Abdi Praja No.119 Balikpapan.
Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan semester 1 tahun pelajaran 2013-2014 yang berjumlah 38 siswa.Subyek dipilih berdasarkan rendahnya kemampuan mengemukakan pendapat siswa sehingga memerlukan upaya perbaikan melalui metode dan media pembelajaran yang tepat. Penelitian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2013-2014, mulai bulan September 2013 sampai dengan bulan Desember 2013. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan September.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 72
Sukardi (2003:75) menyatakan bahwa instrumen adalah merupakan alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian.Instrumen adalah alat untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti menginjak pada hubungan informasi di lapangan.Instrumen penelitian tersebut digunakan untuk menggali seluruh data yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah dalam kegiatan penelitian dengan menggunakan berbagai metode penelitian.Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah lembar observasikinerja guru dalam mengimplementasikan penerapan strategi inkuiri jurisprudensial dan lembar observasi siswa untuk mengukur kemampuan mengemukakan pendapatnya.
Analisa data dilakukan untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan yang dicapai anak, respon anak terhadap kegiatan pembelajaran, dan aktivitas anak selama proses pembelajaran. Teknik analisis mengacu pada model analisis Miles dan Huberman (1992: 91-93) yang dilakukan dalam 3 komponen yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Kriteria Keberhasilan Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini perlu menetapkan kriteria keberhasilan untuk mengamati hasil penelitian yang dilaksanakan, apakah telah berhasil ataukah belum dalam mencapai tujuannya. Kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah Skor rata-rata kelas kemampuan mengemukakan pendapat siswa mencapai 80%, dihitung dari pembagian total skor seluruh aspek observasi siswa secara klasikal dibagi jumlah siswa dan Prosentase ketuntasan belajar siswa mencapai 85%, dihitung dari prosentase jumlah siswa yang mendapatkan skor tes ≥75 pada tiap siklus.
Jika dua indikator keberhasilan di atas belum tercapai secara kumulatif, maka penelitian tindakan kelas akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.Jika indikator keberhasilan di atas telah tercapai secara kumulatif, maka penelitian tindakan kelas ini dinyatakan berhasil dan dihentikan.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 73 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan pembahasan antara peneliti dengan kolaborator mengenai masalah yang dihadapi guru dan siswa selama proses pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan berlangsung. Berdasarkan pengamatan awal dalam proses pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan di SMA Negeri 5 Balikpapan, masalah yang dihadapi kelas XII-A3 diantaranya adalah kurangnya siswa yang mampu mengemukakan pendapat dengan baik dan benar. Sebagian besar siswa juga enggan untuk bertanya apabila tidak mengerti atau kurang paham tentang materi yang diajarkan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.Jika ada, itu pun setelah diminta berkali-kali oleh guru. Tidak ada inisiatif dari siswa itu sendiri atau dapat dikatakan siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Siklus I
Perencanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus I
2) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung, meliputi ruang kelas, LCD untuk presentasi, dan laptop untuk proses pembuatan slide power point hasil diskusi.
3) Menyusun soal LKS dan soal tes siklus I.
4) Mempersiapkan lembar observasi, untuk mengetahui semua kegiatan selama pelaksanaan pembelajaran untuk presentasi, antara lain (1) lembar penilaian kinerja siswa selama melakukan proses pembelajaran, dan (2) lembar pengamatan guru yang digunakan untuk mengetahui kegiatan guru selama proses pelaksanaan pembelajaran.
Pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan hari Selasa, tanggal 3 September 2013 dimulai jam 07.00. Tindakan diawali dengan dialog antara guru dan siswa yang mengarah pada ulasan pelaksanaan kegiatan pembelajaran pra penelitian. Pada tahap pra penelitian, siswa kurang dapat menganalisis kasus dengan baik dan berargumen sesuai dengan kasus yang dibahas. Guru menyampaikan apersepsi dengan mengaitkan materi pembelajaran sistem pemerintahan dengan pengetahuan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa untuk berusaha meningkatkan pengetahuannya mengenai isu-isu tentang
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 74
sistem pemerintahan yang berkembang saat ini di Indonesia dan negara-negara lainnya.
Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 4 September 2013 mulai jam 07.00. Pada pertemuan kedua ini diawali salam, apersepsi, motivasi, dan memberikan sedikit pengarahan terkait dengan kelanjutan pelaksanaan presentasi dan pemanfaatan waktu yang lebih efektif lagi, karena pada pertemuan kedua ini semua harus sudah melakukan unjuk kerja presentasi. Setiap siswa hanya diberikan waktu 7 menit dalam melakukan unjuk kerja. Siswa mempersiapkan tempat, media yang digunakan, dan mulai melakukan presentasi secara bergantian hingga semua kelompok selesai melakukannya. Presentasi dilakukan siswa seperti pada pertemuan sebelumnya.
Kelompok VI dengan moderator Ery Pradhita dan Nabilla Maisarah sebagai operator mempresentasikan tentang isu sistem legislatif di Indonesia adalah sistem legislatif 'abstrak-samar', bukan bikameral, trikameral, maupun unikameral sehingga tidak mampu menjalankan fungsi kontrol yang efektif, kritis-tajam. Kelompok VII dengan moderator Erina Safitri dan Indar Megawati sebagai operator mempresentasikan tentang isu pelaksanaan sistem Presidensial Indonesia yang dirancang membenarkan Presiden bisa di “impeach” (politik) dan juga bisa dicopot ditengah jalan dengan alasan politik, begitu pula untuk anggota DPR bisa di PAW (Pergantian Antar Waktu) ditengah jalan dengan alasan politik (yang hanya lazim terjadi dalam sistem parlementer) sehingga menjadikan sistem kenegaraan Indonesia menjadi rentan. Kelompok VIII dengan moderator Ahmad Islam Myzaki dan Aldhita Erviana Nasution sebagai operator mempresentasikan tentang pengabulan gugatan konstitusi MA yang tidak ingin menjadi subyek pengawasan KY oleh MK, menjadikan wacana check and balances terkesan dipahami dan diterapkan setengah hati berkaitan dengan jalannya kekuasaan kehakiman di Indonesia.
Dalam berbicara, siswa masih kurang memperhatikan struktur kata dan kalimat yang baik.Secara keseluruhan siswa terlihat lebih aktif dari sebelumnya, dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan rencana yang telah dibuat, dan guru sudah menjelaskan tentang jalannya proses pembelajaran dengan strategi inkuiri jurisprudensial. Kesempatan siswa untuk tanya jawab juga dilakukan guru dengan baik. Pembelajaran pada
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 75 siklus I masih banyak dikendalikan oleh guru dengan memberikan bimbingan. Hasil tes siklus I selengkapnya disajikan dalam Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1dapat diketahui bahwa prosentase skor rata-rata kemampuan siswa siklus I pada aspek:
1) Nilai menyatakan, memaparkan, menguraikan hasil buah pikiran dengan benar sebesar 72.37
2) Nilai menghubungkan antara tanggapan pernyataan/pengertian yang satu dengan yang lain dan menyatakannya dalam kalimat atau kata-kata yang runtut sebesar 71.71
3) Nilai menarik kesimpulan melalui pertimbangan dan penyelidikan yang akurat sebesar 73.03
4) Nilai mengelola emosi dengan baik saat menyatakan pendapat sebesar 73.68 dan berbicara didepan umum sebesar 72.37
PEMBAHASAN
Pada kondisi awal pelaksanaan pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan di kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan, ditemukan bahwa kemampuan mengemukakan pendapat siswa masih rendah. Pada pembelajaran dengan metode ceramah dan pemberian tugas ini, Guru lebih banyak menjelaskan materi pada buku modul yang dijadikan sumber belajar siswa. Tema dan topik yang digunakan sebagai sumber informasipun sangat tidak menarik dan tidak sesuai dengan kondisi siswa. Saat guru memberikan ceramah, kegiatan siswa hanyalah mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan guru.
Guru lebih mendominasi dalam pembelajaran dan siswa cenderung pasif. Siswa terkesan sebagai obyek bukan subyek pembelajaran. Siswa belum mendiskusikan atau merefleksikan materi pembelajaran yang telah diterima dari penjelasan guru, sehingga pembelajaran belum bermakna bagi siswa. Pembelajaran pada siklus I, ditekankan pada upaya memperbaiki kelemahan tahap pra penelitian.
Tindakan yang dilakukan meliputi, (1) siswa diajak untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti pembelajaran, (2) guru menjelaskan langkah-kangkah kerja strategi pembelajaran yang digunakan disertai dengan contoh yang jelas, (3) guru menghadirkan media pendukung yang sesuai, (4) guru menyampaikan aspek penilaian yang harus dikuasai siswa, (5) pemanfaatan waktu yang lebih efektif, dan (6) guru memberikan motivasi kepada siswa akan pentingnya mampu mengemukakan pendapat.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 76
Tabel 1. Data Hasil Observasi Siswa Siklus I
No Nama Siswa Aspek Penilaian
Skor
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 77 Tindakan di atas mulai mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, terutama kemampuan mengemukakan pendapatnya.Siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Alokasi waktu yang tersedia telah dimanfaatkan dengan baik.Siswa dalam mengikuti pembelajaran tampak senang.Siswa sudah mulai aktif dan cukup lancar dalam melakukan unjuk kerja presentasi.Penerapan strategi pembelajaran ini sudah dimengerti siswa dan cukup dikuasai oleh guru.
Hasil tes pada pembelajaran siklus I yang dilakukan guru masih belum mencapai batas tuntas atau indikator keberhasilan penelitian yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada siklus I sudah mengalami peningkatan, walaupun belum semua menunjukkan keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
KESIMPULAN
Penerapan strategi inkuiri jurisprudensial untuk meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa kelas XII-A3 SMA Negeri 5 Balikpapan dalam pembelajaran pkn materi sistem pemerintahan dilaksanakan berdasarkan langkah-langkah berikut ini.
a. Guru menyampaikan apersepsi dengan mengaitkan materi pembelajaran sistem pemerintahan dengan pengetahuan siswa.
b. Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk berupaya meningkatkan pengetahuannya mengenai informasi atau isu-isu tentang sistem pemerintahan yang berkembang saat ini di Indonesia dan negara-negara lainnya.
c. Guru bersama siswa bertanya jawab mengenai informasi-informasi terhangat tentang sistem pemerintahan yang sedang berkembang dan ramai dibicarakan di media sosial saat ini secara spontan.
d. Guru membagikan LKS berisi wacana kasus sistem pemerintahan terbaru sebagai sumber dan media belajar siswa.
e. Siswa berdiskusi kelompok untuk menindaklanjuti wacana kasus yang diberikan, mengorientasi kasus, mengidentifikasi isu atau permasalahan, dan mencoba merespon dengan berargumen terhadap informasi yang telah dibacanya.
f. Siswa bersama dengan kelompoknya memecahkan permasalahan tersebut secara aktual, faktual, dan mengkualifikasikan pendapatnya.
Guru mengamati dan membimbing kerja kelompok yang sedang berlangsung.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 78
g. Siswa melakukan presentasi hasil diskusinya, sedangkan Guru dan teman dari kelompok lainnnya memberikan tanggapannya dalam diskusi kelas.
h. Siswa bersama guru menyimpulkan dan mengevaluasi hasil diskusi kelas yang telah dilaksanakan.
Penerapan strategi inkuiri jurisprudensial pada penelitian ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan menyatakan pendapat siswa.
Prosentase skor rata-rata kemampuan menyatakan pendapat siswa pada siklus I masih sebesar 72.63 dan pada siklus II menjadi 84.87 atau meningkat sebesar 12.24 poin.Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 73.68 dan pada siklus II menjadi 81.18 atau meningkat sebesar 7.5 poin apabila dibandingkan dengan siklus I.Ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 71.05% dan pada siklus II mencapai 97.37% atau meningkat kembali sebesar 26.32%.
SARAN
Beberapa saran yang dapat diajukan sebagai bentuk rekomendasi hasil penelitian ini antara lain:
1. Diharapkan guru dapat menggunakan teknik-teknik lain yang lebih variatif dan menyenangkan untuk memecahkan masalah siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.
2. Siswa hendaknya berusaha menumbuhkan kemampuannya dalam mengemukakan pendapat sehingga memudahkan siswa memahami materi yang dijelaskan oleh guru. Caranya adalah siswa berani bertanya jika siswa belum memahami materi dan menyampaikan gagasannya.
3. Siswa hendaknya lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat.
Hal ini dikarenakan mengemukakan pendapat dapat memotivasi diri untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Umar, M. 1992. Psikologi Umum (Edisi Revisi).Surabaya : P.T Bina Ilmu.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 79 Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Badudu.2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia.Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Rogers, Natalie. 1997. Berani Berbicara Di Depan Umum. Lala Herawati D. Penerjemah. Bandung : Nusa Cendekia.
Sujanto, Agus. 1988. Psikologi Perkembangan. Surabaya : Aksara Baru.
Sujanto, Agus. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : P.T Bumi Aksara.
Sukidin, Basrowi dan Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.
Surakhmad.1994. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar Dasar &
Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung: Tarsito.
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 80
(BORNEO, EDISI KHUSUS, Nomor 2, Juli 2015) 81 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SHALAT