• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HUKUM ATAS AKTA SEWA MENYEWA

C. Memori Kasasi Dan Putusan MANo. 798 K/PDT/2014

Terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut, SHL melalui kuasa hukumnya mengajukan kasasi pada Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan alasan-alasan yang disebutkan dalam memori kasasinya ialah:

1. Putusan Judex Facti tingkat banding dan tingkat pertama telah salah menerapkan atau melanggar hukum ic. Pasal 833 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Jo. Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata; Bahwa pertimbangan Putusan Pengadilan Tinggi Medan tanggal 9 Agustus 2012 Nomor 179/PDT/2012/PT MDN, yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Medan tanggal 22 Agustus 2011 Nomor 160/Pdt.G/2011/PN Mdn, adalah pertimbangan pada halaman 6 pragraf ke-2 Putusan tingkat banding tersebut yang menyatakan, bahwa memori banding dari kuasa hukum CV IT H, CV IT D dan CV IT AP dan memori banding dari kuasa hukum SHL maupun kontra memori banding dari kuasa hukum MCS tidak ada hal-hal yang baru yang dapat membatalkan putusan Pengadilan, karena telah

dipertimbangkan oleh Majelis Hakim tingkat pertama, sehingga Pengadilan Tinggi dapat menyetujui dan membenarkan putusan Majelis Hakim tingkat pertama, oleh karena pertimbangan-pertimbangan hukumnya telah memuat dan menguraikan dengan tepat dan benar semua keadaan serta alasan-alasan yang menjadi dasar dalam putusannya;

2. Sementara pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama sebagai dasar untuk menyatakan tidak menerima eksepsi SHL mengenai gugatan Penggugat kurang pihak adalah pertimbangan pada halaman 53 pragaraf ke-2 yang menyatakan bahwa sesuai dengan azas hukum acara perdata yang berlaku, hanya Penggugatlah yang berhak untuk menempatkan dan/ menentukan siapa-siapa orang yang harus digugatnya;

3. Memori banding SHL/Pemohon Kasasi telah memuat keberatan atas pertimbangan Putusan tingkat pertama yang tidak menerima eksepsi mengenai gugatan Penggugat kurang pihak karena Majelis Hakim tingkat pertama tidak mempertimbangkan bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, telah di nazagelen, di beri materai secukupnya dilegalisir sesuai dengan surat aslinya dan fotocopi surat keterangan ahli waris tanggal 21 desember 2005, dikuatkan Camat Medan Maimun No. 470/42/SKAWA/MM/2005, serta bukti fotocopi satu berkas Perjanjian sewa menyewa No.120 tertanggal 19 Juli 2010 antara SHL dengan CV IT H, CV IT D dan CV IT AP, padahal bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, telah di nazagelen, di beri

materai secukupnya dilegalisir sesuai dengan surat aslinya dan fotocopi surat keterangan ahli waris tanggal 21 Desember 2005 membuktikan bahwa bukan hanya Tergugat I ahli waris almarhum DP dan almarhum RME yang secara fakta menguasai objek perkara. Begitu juga bukti fotocopi satu berkas Perjanjian sewa menyewa No.120 tertanggal 19 Juli 2010 antara SHL dengan CV IT H, CV IT D dan CV IT AP menyebutkan dan membuktikan bukan SHL saja yang menyewakan objek perkara kepada CV IT AP melainkan ada 5 (lima) orang ahli waris yang lainnya yang turut menyewakan objek perkara kepada CV IT AP tersebut;

4. Sudah menjadi praktek dalam peradilan bahwa setiap gugatan yang kurang pihaknya adalah menjadi alasan untuk menyatakan gugatan tersebut tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard), dan juga menjadi alasan bagi putusan tingkat banding untuk membatalkan putusan tingkat pertama yang tidak menyatakan tidak dapat diterima gugatan yang kurang pihak tersebut.

Bahwa apabila kurang pihak tersebut dapat dibuktikan dengan adanya hubungan hukum antara objek perkara dengan pihak yang tidak dilibatkan tersebut maka eksepsi tentang gugatan kurang pihak tersebut patut dan harus diterima menurut hukum;

5. Para ahli waris dari HS yang disebut dalam fotocopi satu berkas Perjanjian sewa menyewa No.120 tertanggal 19 Juli 2010 antara SHL dengan CV IT H, CV IT D dan CV IT AP yang juga merupakan ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME berdasarkan bukti Fotocopi surat keterangan

No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 juli 2005, telah di nazagelen, diberi materai secukupnya dilegalisir sesuai dengan surat aslinya menurut Pasal 833 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi: "sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang si yang meninggal”; menunjukan para ahli waris tersebut mempunyai hubungan hukum dengan objek perkara selaku harta warisan dari almarhum DP dan almarhum RME;

6. Karena semua para ahli waris tersebut mempunyai hubungan hukum dengan objek perkara maka sangat cukup alasan hukum untuk mengharuskan semua para ahli waris tersebut dilibatkan sebagai pihak dalam gugatan MCS, akan tetapi oleh karena gugatan MCS hanya menggugat SHL maka terbukti secara hukum gugatan MCS kurang pihak, fakta hukum inilah yang ditiadakan pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama dan juga yang dikuatkan Majelis Hakim tingkat banding, oleh karena itu putusan tingkat banding dan tingkat pertama yang tidak menerima eksepsi gugatan MCS kurang pihak tersebut adalah Putusan yang telah salah menerapkan atau melanggar Pasal 833 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

7. Begitu juga bukti sewa menyewa yang dilakukan para ahli waris HS yang juga merupakan ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME kepada CV IT AP, menurut Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi: ”Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatanya”;

8. membuktikan bahwa ada hubungan hukum antara para ahii waris yang menyewakan beserta CV IT AP dengan objek perkara, oleh karena itu semua para ahli waris yang menyewakan tersebut harus dilibatkan sebagai pihak tidak cukup hanya SHL saja, apalagi ada petitum gugatan yang ke-10 yang meminta surat-surat yang berkaitan dengan objek perkara dinyatakan batal maka sudah seharusnya dilibatkan semua para ahli waris tersebut karena tidak mungkin surat sewa menyewa tersebut dibatalkan tanpa keterlibatan semua pihak-pihak dalam perjanjian sewa menyewa tersebut, akan tetapi putusan Judex Facti tingkat banding dan tingkat pertama tidak menerima eksepsi gugatan kurang pihak tersebut meskipun mengenai fakta sewa menyewa ini sudah disampaikan dalam jawaban, duplik dan memori banding, hal mana berarti putusan kedua tingkat Judex Facti tersebut telah salah menerapkan atau melanggar Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

9. Pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama yang menyatakan bahwa sesuai dengan azas hukum acara perdata yang berlaku, hanya MCS yang berhak untuk menempatkan dan/menetukan siapa-siapa orang yang harus digugatnya, bukanlah pertimbangan tepat dan tidak berlandaskan alasan hukum untuk menjawab dalil eksepsi yang menyatakan hubungan hukumlah yang menjadi patokan dalam melibatkan pihak-pihak dalam gugatan, bukan sekehendak MCS tanpa alasan hukum, memang tidak ada yang bisa melarang kehendak MCS untuk menentukan siapa-siapa yang digugatnya, meskipun ada atau tidak ada kaitan hukumnya, akan tetapi Pengadilan/Majelis Hakim harus

mempertimbangkannya secara hukum, Pengadilan tidak boleh mengikuti selera MCS tanpa ada alasan hukum;

10. Kesalahan pertimbangan yang demikian inilah yang dimuat dalam memori banding, oleh karena itu jelas ada hal-hal yang baru yang dikemukakan dalam memori banding SHL yang dapat membatalkan putusan tingkat pertama, akan tetapi Majelis Hakim tingkat banding mengambil alih pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama tersebut, hal ini menjadikan Majelis Hakim tingkat banding pun sesungguhnya tidak mempertimbangkan alasan memori banding SHL tersebut;

11. Putusan Judex Facti tingkat banding dan tingkat pertama telah salah menerapkan atau melangar ketentuan Pasal 833 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka putusan kasasi dalam perkara a quo harus membatalkan putusan kedua tingkat Judex Facti tersebut;

12. Putusan Judex Facti tingkat banding dan tingkat pertama telah salah menerapkan hukum ic. Pasal 285 Rbg: Bahwa atas bantahan SHL mengenai MCS bukan ahli waris satu-satunya dari almarhum RME dan almarhum DP maka pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama pada halaman 60 paragraf ke-3 telah menyatakan bahwa bukti-bukti tertulis yang diajukan Para Tergugat tidak dapat melemahkan dalil-dalil MCS yang mendalilkan bahwa MCS adalah satu-satunya ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME. Bahwa

pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama ini telah diambil alih dan dikuatkan Majelis Hakim tingkat banding;

13. Pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama yang hanya menggunakan perkataan tidak dapat melemahkan pada kalimat pertimbangannya yang berbunyi bukti-bukti tertulis yang diajukan Para Tergugat tidak dapat melemahkan dalil-dalil MCS yang mendalilkan bahwa MCS adalah satu-satunya ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME, tanpa menguaraikan kenapa lemah dan dimana lemahnya bukanlah pertimbangan yang jelas, tajam dan kongkrit terhadap bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 juli 2005, telah di nazagelen, di beri materai secukupnya dilegalisir sesuai dengan surat aslinya, melainkan pertimbangan tersebut dibuat bersifat umum yang terkesan untuk menutupi kebenaran dalil-dalil bantahan yang diajukan SHL apabila pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim dibuat bersifat jelas, tajam dan kongkrit;

14. Bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, adalah merupakan bukti otentik yang isinya ada menyebutkan pembuatan butki Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, tersebut adalah berdsarkan adanya Akta Kelahiran Nomor 590/1998, tanggal 6 Februari 1998, dimana berdasarkan Pasal 285 Rbg/165 HIR yang menentukan bahwa akta otentik memberikan bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya dan sekalian orang yang mendapat hak dari padanya, maka bukti Fotocopi surat keterangan

No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, tersebut harus diterima Majelis Hakim untuk menjadi fakta bahwa para ahli waris HS adalah juga ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME, dan karena HS meninggal lebih dahulu dari DP maka sesuai azas penggantian kedudukan, maka ahli waris HS adalah juga merupakan ahli waris dari almarhum DP;

15. Karena ada akta otentik membuktikan HS adalah anak dan ahli waris dari almarhum RME dan almarhum DP maka Petitum gugatan yang meminta dinyatakan MCS sebagai ahli waris satu-satunya dari almarhum RME dan almarhum DP adalah tidak benar dan tidak dapat dipertahankan secara hukum;

16. Pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama yang hanya menggunakan perkataaan ”tidak dapat melemahkan,” pada kalimat pertimbangannya yang berbunyi bukti-bukti tertulis yang diajukan Para Tergugat tidak dapat melemahkan dalil-dalil MCS yang mendalilkan, bahwa MCS adalah satu-satunya ahli waris dari almarhum DP dan almarhum RME, bukanlah pertimbangan yang kongkrit terhadap bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 Juli 2005, melainkan pertimbangan tersebut dibuat bersifat umum yang terkesan untuk menutupi pertimbangan-pertimbangan yang bersifat kongkrit karena Majelis Hakim terkesan khawaitr akan kebenaran dalil-dalil bantahan SHL;

17. Bunyi pertimbangan yang demikian, maka Majelis Hakim tingkat pertama sesungguhnya tidak ada mempertimbangkan bantahan SHL tersebut, oleh karena itu jelas ada hal-hal yang baru yang dikemukakan dalam memori

banding SHL yang dapat membatalkan putusan tingkat pertama, akan tetapi dengan pertimbangan Majelis Hakim tingkat banding yang menambil alih pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama tersebut, maka Majelis Hakim tingkat bandingpun sesungguhnya tidak mempertimbangkan memori banding SHL tersebut, oleh karena itu Majelis Hakim kedua tingkat Judex Facti telah salah menerapkan atau melangar Pasal 285 Rbg/165 HIR karena Majelis Hakim kedua tingkat Judex Facti tidak menerima HS dan ahli warisnya sebagai ahli waris dari almarhum RME dan almarhum DP;

18. Majelis Hakim tidak salah menerapkan atau melanggar Pasal 285 RBG/165 HIR terhadap bukti Fotocopi surat keterangan No.05/SK-KL/KLA/2005, tanggal 2 juli 2005 dan fotocopi satu berkas Perjanjian sewa menyewa No.120 tertanggal 19 Juli 2010 antara SHL dengan CV IT H, CV IT D dan CV IT AP tersebut, maka petitum MCS sebagai satu-satunya ahli waris almarhum RME dan almarhum DP tidak mungkin dapat dikabulkan menurut hukum;

19. Begitu juga kesalahan penerapan dan pelanggaran Majelis Hakim terhadap Pasal 285 RBG/165 HIR telah mengkibatkan kesalahan pertimbangan Majelis Hakim atas petitum ke-3 gugatan MCS yang meminta MCS baik sebagai pribadi maupun sebagai ahli waris satu-satunya dari almarhum DP dan almarhum RME, adalah pemilik atas 2 (dua) bidang tanah masing-masing seluas 97 m2 dan 89 m2 berikut rumah toko yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 20 dan 20 A, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, sebagaiman yang dimaksud dalam Sertipikat Tanah HGB Nomor 409

dan 410 keduanya atas nama DP dan MCS, dimana petitum ke-3 tersebut sebenarnya tidak pantas untuk dikabulkan kalau Majelis Hakim tidak salah menerapkan atau melanggar hukum;

20. Pertimbangan tingkat Judex Facti tersebut telah terbukti salah menerapakan dan melanggar hukum maka Putusan tingkat pertama dan tingkat banding tersebut patut dan harus dibatalkan dalam Putusan Kasasi perkara a quo;

Namun pada akhirnya, Putusan Mahkamah Agung RI No.1507K/PDT/2010 menolak permohonan yang diajukan pemohon kasasi I dan II (R dan F) dan para pemohon kasasi dihukum membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini, Mahkamah Agung memberikan pendapat mengenai alasan-alasan tersebut :

Mengenai alasan ke-1, alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena judex facti tidak salah menerapkan hukum, karena telah mempertimbangkan hal-hal yang relevan secara yuridis dengan benar, yaitu:

Bahwa MCS adalah pemilik dari objek sengketa berupa 2 (dua) bidang tanah yang masing-masing seluas 97 m2 dan 89 m2 berikut 2 (dua) buah toko yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 20 dan 20 A Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, sebagaimana dimaksud dalam Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor 409 dan Nomor 410, yang kedua-duanya atas nama MCS, yang telah diterbitkan oleh Kantor Badan Pertanahan Kota Medan pada tanggal 7 dan 10 November 1988;

Bahwa SHL telah menyewakan kedua ruko, sebagaimana yang dimaksud dalam Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor 409 dan Nomor 410 kepada pihak ke

III, yaitu CV IT H, CV IT D dan CV IT AP tanpa seijin dan sepengetahuan dari pemiliknya, yaitu MCS;

Bahwa perbuatan SHL yang tanpa sepengetahuan dan seijin MCS telah menduduki dan menempati ruko yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 20 dan 20 A Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan dengan jalan merusak kedua pintu ruko tersebut adalah merupakan perbuatan melawan hukum;

Bahwa selain itu alasan-alasan kasasi tersebut mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan dengan adanya kesalahan penerapan hukum, adanya pelanggaran hukum yang berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan atau bila Pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenangnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 Jo. Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009.

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata bahwa Putusan Judex Facti (Pengadilan Tinggi/Pengadilan Negeri) dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi SHL tersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak dan Pemohon Kasasi ada dipihak yang kalah, maka Pemohon Kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;

Memperhatikan Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundangan lain yang bersangkutan;