-hatikan, membran sel adalah bagian luar, nukleus adalah bagian dalam, sitoplasma adalah bagian tengah. Di
mana
coba salah*nya?"
Seli mengangguk. Itu benarjuga.
Aku menepuk
dahi.Aku
tidak akan pernahmenang
berdebat dengan Ali. Dia selalu punya jawaban atas kalimatku.Dua
kapsul oval di depan kami memperlambat laju terbang.Ah
menarik tuas kemudi 1LY. ikut memperlambat kapsul kami.Alat komunikasi kapsul Miss Selena rusak, jadi dia tidak bisa
membentahu
seperti biasa jika kami sudah dekat dengan titik tujuan. lapi peta di layar memberitahu jika kami sudah dekat dengan mulut lorong.Ali tahu apa yang harus dia lakukan. Dia menekan tombol.
Dua
bola pingpong meluncur keluar."Apakah
mangan
di depan adalah pasak tersebut. Alir” Selibertanya pelan.
Ali menggeleng. "Aku tidak tahu."
Layar ILY masih menunjukkan dinding-dinding lorong.
Suasana di dalam kapsul tegang. Setiap kali kami tiba di titik tujuan, situasinya jadi berubah serius sekali.
Aku menahan
napas. Indikator suhu di kamera terbang naikdrastis,
menembus
600 derajat Celsius. Benda terbang itu jelasberada di dekat aliran superplumc. Jaraknya masih jauh, tapi
suhunya sudah terasa. Lima menit, bola-bola pingpong akhirnya melintasi mulut lorong.
Itu ruangan apa?" Seli bertanya lagi.
Di depan kami adalah jurang terjal. Aliran
magma
terlihat dibawah sana, tapi ditutupi gumpalan-gumpalan tanah tebal yang merah menyala. Saru -dua gumpalan tanah itu berbenruk ke-rucut. menjulang ke atas. Di atas tanah menyala itu. ribuan laba-laba betina sedang bertelur. Pintalan benang sutra
mem-bungkus telur-telur mereka. Laba-laba yang kami hadapi di
ruangan sebelumnya ternyata berkembang biak di sini. Mereka
memang
menyukai suhu tinggi.Ali menggeleng. “Ini bukan pasak
bumi
yang kita cari."Seli
mengembuskan
napas, separuh lega, separuh lagi ke-cewa."Aku tahu kenapa titik ini
masuk
dalam peta." Ali mengusap rambut berantakannya. "Suptrplume-nyimemang
disumbatsesuatu, hingga terdeteksi dalam
enam
titik anomali peta. Lapisumbatannya termasuk jenis alamiah. Ribuan hewan ini bertelur di sini. Mereka tidak mengganggu aliran
magma,
hanyame-numpang
bertelur. Siiperj'lume bisa mencari jalan lain dan terus melepaskan energi secara bertahap."Ada
sekitar saru-dua menit lagi bola-bola pingpongmeme-riksa ruangan. Ali
memutuskan membawanya
kembali sebelum kamera terbang itu melepuh berada di ruangan suhu tinggi."Ada ribuan laba-laba bertelur di sini, Ali. Bagaimana jika
mereka semua bisa pergi ke ruangan-ruangan berpenghuni lain?
Menyerang warga Klan Bintang?" Seli mencemaskan hal lain.
Ali menggeleng. "Mereka tidak akan pergi jauh ke mana-mana. Mereka
membutuhkan
suhu nnggi. Satu-dua mungkin185
bisa pergi jauh,
memangsa
ternak, tapi biarkan iru menjadi pekerjaanrumah
Pasukan Bintang. Seharusnya laba-laba inilahyang mereka urus, bukan justru menangkapi para pemilik kekuatan."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ra?" tanya Seli.
"Aku akan memberitahu kapsul Miss Selena. Tolong buka pintu kapsul. Ali."
Ali
menekan
tombol. Alat komunikasi kami mari.Aku
akan menyampaikan informasi ke Miss Selena secara manual.Lima
menit berada di kapsul Miss Selena, aku kembali ke ILY. Miss Selena
menyuruhku membuka
portal ke Ruangan Padang Sampah.Aku
segera mengeluarkan Buku Kehidupan. Portal menuju Ruangan PadangSampah
terbuka.Tiga kapsul bergerak melintasinya.
"Eh. bagaimana dengan jaring perak
Ruangan
Padang Sampah?" Seli teringat sesuatu. Wajahnya pucat.Ali
menepuk
dahi. Dia juga lupa soal itu.Aku
tersenyum lebar. Penang saja.Aku
tidakmembuka
portal di langit-langit ruangan.'
"Kamu membukanya
ke mana?"Belum sempat aku menjawab, kami tersentak ke belakang.
ILY telah melesat di dalam pusaran gelap.
*»*
"Astaga!" Baar berseru tertahan.
Dia sedang sarapan bersama rekan-rekan pengawas Ruangan Padang
Sampah
saat portal lorong berpindahmembuka
di ha-dapan mereka.Snr loncat dari kursinya, berseru terperanjat, juga Aap, Koor.
dan Bhaar.
Belum genap kaget mereka, tiga kapsul kami keluar dari
dalam portal, menabrak meja-meja dan kursi,
membuat
ruangan makanan itu berantakan.Ah
tertawa. Dia bisa menyaksikan keributan dan jendela kaca ILY. Tiga kapsul akhirnya berhenti,mengambang
tiga puluhsenti di atas lantai ruang makan. Ali menekan tombol,
membuka
pintu.
"Ini brilian. Ra. Tidak akan ada jaring perak yang menangkap
kita.”
Aku
ikut tertawa.Aku memang membuka
portal menuju ruangmakan
bangunan pengawas. Awalnya aku hendakmem-buka di area terbuka lainnya di dalam bangunan, tapi khawarir ekskavator raksasa itu tetap menangkap kami, menyemprotkan
aerosol. Satu-satunya ruangan besar yang paling
aman
adalah ruangmakan
ini.Kami
berlompatan turun dari kapsul."Apa yang kalian lakukan, heh?" Baar berseru jengkel.
"Maaf. Baar.
Kami
tidakmau
pingsan lagi. Jadi kamimem-buka portal ke sini."
"Jika demikian, kenapa kalian tidak
memakai
PortalSampah
kembali ke sinir Baar tetap terlihat sebal. Wajah, tangan, dan seragamnya terkena bubur putih lengket.
“Ada cara lebih cepat. Baar.
Maaf"
Siir yang berdiri di sebelah Baar tertawa
—
melihat temannyayang centang. " Tapi ini seru. Baar. Tadi aku kira ada raksasa dari
Ruangan Padang Cielap menuju kemari. Zaad sudah berkali-kali bilang tentang itu, kan? Para raksasa punya cara tersendiri ber-pindah tempat."
Aap
juga tertawa."Ya ampun. Ali. Raib, kalian benar-benar menyebalkan.
Aku
187
ridak marah karena kalian merusak sarapan kami." Baar menyeka bubur lengket dan rambutnya. 'Tapi tadi aku hampirjantungan.
Aku
kiraKelompok Re
bel yang mendadak datang menyerang Padang Sampah. Mereka dikenal amat kejam saat menyeranginstalasi milik
Dewan
Kota.""Maaf, Baar."
"Dia sudah minta maaf tiga kali, Baar. Tidakkah kita bisa
moir on?" Bhaar maju,
membawa
piring bubur putih miliknya yang berhasil dia selamatkan sebelum meja terpelanting. 'Kalianmau
ikut sarapan?"Tujuh anggota Pasukan Bayangan dan Pasukan Matahari yang juga telah turun berdiri di belakangku, serempak menggeleng. Itu
bukan ide bagus. Mereka bisa menyiapkan
makanan
sendiri.***
Kami
tertahan hinggaenam
jam di Ruangan Padang Sampah.Tiga kapsul kembali
masuk
ke ruangan perawatan.Dua
teknisi Padang Sampah, dibantu robot-robot reparasi bekerja keras memperbaikinya. Terutama dua kapsul oval.
"Aku tidak percaya kapsul ini
kamu
yang membuatnya." Baar menggeleng, melambaikan tangan.Ali ridak terima. "Hei,
memang
aku yang membuarnya."Kami
berkumpul di ruang perawatan. Baar. Bhaar. dan Siir ikut menemani, menonton sebentar kapsul-kapsul itu diper-baiki."Hanya seorang insinyur atau ilmuw'an yang bisa
membuat
benda terbang, Ali.
Kamu
paling baru berumur lima belas tahun."Baar sekarang mengukur tinggi Ali dengan tangannya, sengaja
membuat
Ali semakin kesal. "Bahkan tinggimu belum cukup.”'Memang
dia yang membuatnya. Baar. Dia cukup pinrar untuk ukuran warga Klan Bumi."Aku
kayuhan melihat Ali,mem-belanya sesekali tidak ada salahnya.
"
Naaah
,
aku tetap tidak percaya.
Ada
teknologi Klan Bintang di kapsul perak kalian. Raib. Bagaimana Ali membuatnya?”'Sebulan lalu dia mencuri tabung transparan di ruangan Sekretaris
Dewan
Kota, yang berisi pengetahuan dan teknologi Klan Bintang."’Hah?" Baar memastikan tidak salah dengar.
Aku
mengangguk.“Kalian bisa mencuri sesuatu di ruangan Sekretaris
Dewan
Kota-
Dan
bisa lolos dan sanar Itu keren sekali. Seharusnya diadihukum
berat.""Maksudmu
siapa yangdihukum
berat. Baar?" Siir bertanya."Sekretaris
Dewan
Kota, siapa lagir Koor hanya salah me-nekan tombol tujuan portal dan dia dibuang ke Ruangan Padang Sampah, atau kau. hanya salah menyalakan lampu sorot. Itu kesalahan kecil. Lihat. Sekretaris membiarkan tabung transparan dicuri dari ruangannya. Itu jelas kesalahan fatal, lebih seriusdibanding aku dan Bhaar yang membiarkan lima tahanan kabur
dari penjara. Sekretaris harus
dihukum
berat."Siir tertawa.
Ketiga kalinya mengunjungi ruangan ini. aku tahu para pengawas Ruangan Padang
Sampah
memiliki selerahumor
yangbaik. Mereka suka bergurau, serta sesekali saling menjaili. Tapi
itu
masuk
akal, dengan luas ruangan kubus sisi seratus kilometer,hanya berdua puluh
—
minusZaad
yang tidak bisa kemana-mana —
mereka harus selalu riang. Ini bukan ruangan yang me-nyenangkan.Enam
jammasuk
ruang perawatan, tiga kapsul kami kembaliseperti baru.
189
"Kami menambahkan
senjara jaring perak di kapsul kalian,”teknisi memberitahu. "Siapa tahu berguna untuk menangkap
sesuatu.
Kami
juga telahmemasang
kunci otomatis benda-bendadi dalam kapsul oval jika kapsul mengalami benturan, termasuk teknologi pendingin yang lebih modern, agar kalian bisa
mendekati suhu ribuan derajat Cclsius tanpa masalah."
Miss Selena mengangguk, menyuruh rombongan bersiap.
Sebuah kontainer besar mendekat. Tiga kapsul kami
dinaik-kan ke atasnya. Di sisi kontainer itu tertulis besar-besar 'Material Olahan Limbah Titanium
—
Ruangan Industri BendaTerbang (RIBT)" Itulah ruangan yang kami tuju. Titik keempat yang harus kami periksa berada dekat ruangan tersebur. Dari sana kami akan langsung
masuk
ke lorong-lorong kuno level ketiga.Kami
akan menggunakan lagi PortalSampah
menuju Ruang-an Industri Benda Terbang."Itu salah satu ruangan high profile. Ruangan yang sangat penting bagi Kota Zaramaraz karena seluruh benda terbang
di-buat di sana, termasuk armada tempur Klan Bintang. Ruangan
itu memiliki sistem keamanan terbaik. Robot-robot penjaga."
Aku
dan Ali saling tatap, menelan ludah. "Lantas bagaimana kami melewatinya?" tanyaku."Aku tidak tahu." Baar menggeleng. "Lalat pun tidak bisa
ter-bang tanpa sepengetahuan mereka."
Aku
mengeluh tertahan."Apakah itu kawasan bebas terbang?” Seli bertanya.
Naaah, tidak. Itu ruangan pusat benda terbang, Seli.
Bagai-mana
bisa dilarang terbang?"Seli menatap Baar kikuk
—
dia cemas, jadi lupa bertanya se-polos itu.Aku
tahu maksud Seli. Dia mengkhawatirkanArmada
Kedua
Kora Zaramaraz. berharap portal tidak bisa dibuka ke sana."Apakah ada jalur lain, selain melewati ruangan itu?" Seli me-noleh kepada Ali.
Ali menggeleng. “Itu satu-satunya jalur yang tersedia. Setidak-nya kita hanya perlu melewati satu ruangan berpenghuni. Bukan hutan taiga atau gua dengan laba-laba loncat sebelumnya."
Seli mengusap wajahnya yang kebas. Dia tetap cemas.
’Kita pikirkan setelah tiba di sana. Seli.” Miss Selena berkata lugas. "Prinsip penting bagi seorang pengintai: Jika kita meng-khawatirkan setiap langkah yang dibuat, kita akhirnya tidak akan pernah berani melangkah.
Semua
naik ke atas kapsul. Kitabe-rangkat sekarang.”
Kami
berlompatan ke dalam kapsul. Pintu ditutup.Salah satu ekskavator mulai
menumpahkan
bijih titanium ke dalam kontainer. Sekitar kami gelap, bijih titanium ini seperti pasir berwarna hitam. Kontainer segera dipenuhi hasil olahan limbah yang dikirim kembali ke ruangan lain. Ekskavator me-nutup kontainer, menyegelnya.Kami
masih menunggu beberapa menit, masih adaenam
kontainer lain yang dalam prosespeng-isian.
Lima belas menit lengang, di luar Baar mengaktifkan Portal
Sampah.
Tujuh kontainer mulai bergerak melintasi lorong berpindah, berpilin
masuk
ke dalam pusaran gelap. Kapsul kami terbanting keras sepanjang petjalanan.Aku
mencengkeram lengan kursi,menatap sekitar, setidaknya ini lebih baik.
Kami
tidakmencium
aroma dan menatap olahan pakan ternak, bubur lengket itu.191
14
•ISlMA
menit terbanting, tujuh kontainer tiba di gudang per-sediaan Ruangan Industri Benda Terbang, bergerak melintasimulut portal.
Ekskavator raksasa mengangkut kontainer.
menumpuknya.
"Keluarkan kamera terbangmu. Ali!” Miss Selena memberi
perintah, setelah
menunggu
beberapa saat, memastikan di luaraman, tidak terdengar aktivitas.
Ali mengangguk, menekan tombol.
Dua
bola pingpong ber-gerakmenembus
bijih titanium,membuat
celah di tutupkontai-ner. dan terbang keluar mulai mengintai.
Kami
sepertinya berada di gudang besar tempat bahan bakumembuat
benda terbang disimpan.Ada
delapan bagian. Kontai-ncr kami berada di tumpukan dengan tanda 'Bijih Titanium.RIB
I " Di bagian lain, potongan besi, perak, aluminium, suku cadang, benda-benda terbuat dari plastik, dan kaca tertata rapidalam rak-rak dengan hologram. Belalai robot bekerja otomatis
membawa
benda-benda itu menuju unit perakitan—
tempatbenda terbang dibuat.
Aku
memperhatikan layar ILY lebihsaksama. Di dalam gudang ini tidak terlihat siapa pun. juga kamera pengawas.
Hanya
ekskavator yang sekarang parkirmem-bisu.
’Kinm
kamera terbang keluar bangunan. Ali!" Miss Selenamemberi perintah. Dia harus memastikan kami benar-benar
aman
sebelum keluar dari kontaincr.Bola-bola pingpong mendesing keluar dari bangunan.
Pemandangan menakjubkan terlihat di layar ILY.
Sama
seperti Ruangan Peternakan Timur, ruangan ini juga berbentuk lembah hijau. Sisi kubusnya sepanjangenam
puluhkilometer. ’Iapi bukan hamparan unit-unit ternak yang ada,
me-lainkan kompleks bangunan manufaktur benda terbang.
Ada
puluhan jumlahnya, berbaris rapi simetris.
Ada
bangunan khusus untukmembuat
Irem Terbang.Ada
bangunan untukmempro-duksi mobil terbang, sepeda terbang, hingga bangunan paling penting, pusat perakitan pesawat tempur Klan Bintang.
Ribuan karyawan
RIBT
terlihat di setiap bangunan perakitan.Belum lagi kamera pengawas ada di mana-mana.
Dan
yang paling serius, ada ratusan robot yang menjaga ruangan ini. Itubukan robot biasa.
Aku mengaduh
pelan.Baar benar, mereka menjaga ruangan ini dengan sangat serius.
Itu robot paling mutakhir Klan Bintang. Robot Z. Tingginya
dua puluh meter,
membawa
rabung perak, senjata yang bisamengeluarkan berbagai kekuatan petarung Klan Bulan dan Klan Matahari. Bagaimana kami bisa menyelinap keluar menuju mulut
lorong-lorong kuno dengan Robot
Z
berkeliaran menjaga ruang-an ini? Seli juga mengempaskan punggungnya ke kursi. Ali me-nepuk dahinya pelan."Ada apa, Alir" salah satu anggota Pasukan Matahari yang mengemudikan kapsul oval bertanya.
193
“Robot Z." Ali meng'doM'ttp robot itu di layar, mengaktifkan kamera jarak jauh bola-bola pingpong. "Dengan robot itu. kita tidak akan
mudah
melewati ruangan ini."Aku
ingat sekali, terakhir kami melewati robot ini dengancara Ali harus berubah menjadi beruang besar.
Hanya
itu caramengalahkannya. Tapi bertarung melawan Robot
Z
di ruanganini sama saja dengan memberitahukan keberadaan kami, dan Kota Zaramaraz akan
menginm Armada
Kedua-nya."Bagaimana jika kita menyelinap pada
malam
hari denganposisi menghilang?” Salah saru anggota Pasukan Matahari meng-usulkan metode sebelumnya di Ruangan Peternakan Timur.
Ali menggeleng. "Robot
Z
akan menghabisi kapsul kitabahkan saat kapsul kira baru beberapa ratus meter melintas di
depannya. Ini buruk sekali."
"Miss Selena, aku tidak bisa mengirim kamera terbang lebih
jauh lagi. Gerakannya bisa dibaca Robot Z. Mereka bisa tahu ada penyusup di ruangan ini. Itu amat berisiko."
"Baik. larik kembali kamera terbangmu." Miss Selena meng-angguk.
Bola-bola pingpong kembali
masuk
ke gudang."Setidaknya kira bisa keluar dengan
aman
di gudang ini." Miss Selenamembuat
keputusan sementara. "Keluarkan tiga kapsul.Kita
menunggu
di luar hingga ada cara pergi ke mulut lorong kuno. Aktifkan posisi menghilang."Ali mengangguk, menekan tombol. ILY perlahan bergerak menerobos bijih titanium,
membuat
lubang besar di tutup kontainer. Tiga kapsul keluar satu per satu,mengambang
tiga puluh senti di atas lantai gudang, tidak kasatmata.Ah menekan
tombol lagi. Pintu kapsul terbuka.'Kamu mau
kc mana. Ali?" Seli bertanya."Kamu mau
men-cari informasi lagi?"
Ali mengangguk. "Aku
mau
melihat ruangan ini lebih dekat.Robot-robot itu tidak akan cunga jika kita
membaur
bersama warga lainnya. Barangkali di luar sana kitamenemukan
cara menyelinap menuju mulut lorong."Itu ide bagus, daripada menunggu di gudang persediaan tanpa melakukan apa pun.
Aku
ikut melompat turun. Seli menyusul.Pastikan kalian kembali ke sini sebelum gelap. Ah. Seli,
Raib!" Miss Selena berseru. "Apa pun yang kalian temukan, kita
harus bergerak saat
malam
tiba."Kami
mengangguk, melangkah menuju pintu gudang.HA
Desain ruangan mi mirip Ruangan Peternakan Timur.
Dalam
setup kompleks bangunan besar terdapat sebuah perkampungan untuk para insinyur, teknisi, ilmuwan, dan karyawan yang be-kerja di Ruangan Industri Benda Terbang. Bedanya, mereka mengenakan pakaian seperti pekerja manufaktur, bukan baju peternak.
Rumah-rumah
mereka lebih minimalis, dengan desain hminstis. Termasuk keluarga mereka, anak-anak atau remaja,mengenakan model baju, mainan, peralatan yang khas kota
indus-tri.
Ali dengan cepat mengubah pakaiannya.
Aku
dan Selimeng-ikuti.
Kami
berjalan kaki melewati jalur-jalur benda terbang, menuju perkampungan terdekat. Beberapa karyawan menyapa kami.Aku. Seli, dan Ali balas menyapa senormal mungkin. Mereka warga yang ramah. Satu -dua menawarkan agar kami naik kapsul
195
terbang mereka menuju tujuan.
Kami
menolak dengan sopan.Lima belas menit berjalan kaki, kami tiba di perkampungan yang
terlihat ramai. Ini mungkin pukul sembilan pagi waktu setempat.
Kafe-kafe dipenuhi karyawan industri yang sedang sarapan.
Satu-dua terlihat bergegas. Benda terbang dengan stiker
holo-gram penanda unit-unit bangunan berlalu-lalang. Itu sepertinya alat transportasi karyawan.
'Ya ampun!
Kamu
harus segera berangkat sekolah!Ayo
ber-gegas.' Terdengar seorang ibu meneriaki putranya yang berusiaenam
tahun.Anak
itu masih asyik mengetuk-ngetuk meja yang menampilkan proyeksi permainan video game. Mereka sepertinya sedang mampir sebentar di kafe, membeli makanan kecil—
buburputih yang dibuat seperti kue kering.
Kami
terus melangkah, sambil memperhatikan kesibukan perkampungan.Dua
ratus meter sebelum riba di halreTrem
Terbang, kami berpapasan dengan salah satu Robot Z.Wajah
Seli tegang, me-nahan napas.Aku
berjalan danmemasang
ekspresi wajahse-normal yang aku bisa. Masih terbayang betapa ganasnya robot
ini menyerang kami di Markas
Dewan
Kota Zaramaraz.Hanya Ah
yang melangkah santai dan berbisik. "Sepanjang kalian tidakmenggunakan kekuatan di sini, robot ini hanyalah robot."
Robot
Z
sempat menunduk, memperhatikan kami. Matanyaberkilauan, dengan tinggi dua puluh meter,
memanggul
tabung perak. Robot ini terlihat gagah. Sekilas RobotZ
memperhatikan kami, memastikan kami tidak berbahaya, lalu kembali men-dongak. menatap ke depan, melanjutkan patroli.Aku
dan Selimengembuskan
napas perlahan. Itu amat me-negangkan."Sekali lagi, Ra. Seli. jangan gunakan kekuatan apa pun.
Robot ini bisa mendeteksi anomali di sekitarnya, benda
meng-hilang, energi dingin, teknik kinerik, atau sambaran petir.
Apa
pun itu.jangan digunakan."“Aku tahu. Ali. Tidak perlu diingatkan lagi," Seli berkata pelan.
Kami
tiba di halte.Menunggu
lima menit, satuTrem
Terbang merapat ke jalan. Pintunya terbuka.Kami
bertiga bergegas naik.Irem melaju dengan kecepatan stabil di atas jalur-jalur benda
terbang.
Tetapi trem tidak menuju pusat kota, melainkan berbelok menuju kompleks bangunan besar lainnya di sisi barat.
"Kita ke mana. Ali?” Sdi berbisik.
"Aku juga tidak tahu.” Ali mengangkat bahu. 'Kita sedang memeriksa ruangan ini.
Ke mana
pun Trem Terbang pergi tidak masalah. Kita ikut saja."Ali
duduk
santai, menikmati perjalanan, menatap hamparan lembah hijau dengan bangunan-bangunan raksasa—
pusatmanufaktur benda terbang Klan Bintang.
Setelah beberapa kali trem berhenti,
penumpang
naik-turun,memperhatikan bangunan-bangunan yang dilewati. Ali tiba-tiba berdiri. Dia
memutuskan
turun."Kita sudah sampai, Ali?" Seli bertanya, ikut bergegas
ber-diri.
Entah apa yang menarik perhatian Ali hingga dia turun di halte ini.
Aku
juga ikut turun.Aku
menatap sekitar. Halte iniramai sekali. Selain trem, baru saja merapat beberapa benda
terbang besar yang menurunkan puluhan remaja dengan seragam sekolah masing-masing. Sepertinya mereka rombongan karya-wisata. Di kota kami aku juga sering bertemu rombongan
197
karyawisata murid sekolah luar kota yang mengunjungi
museum
atau wahana permainan.
Ali melangkah cepat mendekati rombongan itu. Pakaiannya juga berubah, menyerupai seragam remaja-remaja tersebut.
Aku
dan Seli saling tatap.
Apa
yang hendak dilakukan Alif Tidak sempat bertanya, daripada teranggai langkah Ali. kami segeramelakukan hal yang sama, mengubah penampilan, bergegas menyusul Ali yang sudah
membaur
dengan rombonganbe-sar.
"Selamat Jatang Ji Pusat Riset Benda Terbang, RIBT.
Masa
depan dimulai Ji sini."
Proyeksi transparan berbentuk manusia muncul di setiap
sudut pintu
masuk
kompleks bangunan, menyapa kami. Be-berapa karyawan bangunanmenyambut
rombongan, turutme-nyapa ramah.
Aku
menyejajari langkah Ali.'Mereka itu siapa, Alif Kenapa kita mengikuti merekaf” Scli bertanya.