Rombongan
telah siuman semua. Baarmenjamu
kamimakan
pagi.
Wajah anggota Pasukan Bayangan dan Pasukan Matahari di
meja sebelah mengernyit. Ini kali ketiga mereka
makan
bubur pu-tih tersebut. Salah satu dan mereka sempat bertanya-tanya. “Apa-kah hanya ini makanan Klan Bintang?"Aku
hendak menjawabnya,tapi di meja kami juga sedang terjadi percakapan serius.
“Kami membutuhkan
bantuan kalian. Baar.’ Ali menyampai-kan maksud dan tujuan.'Kapsul kalian ingin diperbaiki lagi?"
Ali menggeleng. "Bukan. Tiga kapsul kami baik-baik saja.
Lapisan material baru yang dipasang teknisi Ruangan Padang
Sampah
efektif melindunginya dan benturan.""Senjata tambahan?"
"Juga bukan."
Meja
makan
di depan kami adalah benda berteknologicang-gih. Ketuk ujungnya,
maka
meja itu bisa mengeluarkan proyeksi nga dimensi di atas meja, bisa untuk menonron televisi, video, musik, atau briejing, diskusi pekerjaan. Ali baru saja memindah-kan peta Klan Bintang dan tabung transparannya ke sana, me-nampilkanenam
titik yang kami tuju.Ali menunjuk proyeksi peta di atas meja. "Kami menginginkan
portal kalian. Itu portal yang berbeda dengan portal untuk meng-angkut orang, benda, atau pasukan Klan Bintang, bukan?
Hanya
dioperasikan khusus dalam sistem pengelolaan sampah?”
Baar mengangguk.
"Apakah tersambung ke seluruh ruangan level pertama Klan Bintang?"
Baar mengangguk lagi. "Beberapa bahkan tersambung ke ruangan tidak berpenghuni. saat kami
membuang
sampah yang benar-benar tidak bisa diolah Lagi. Ruangan Pembuangan.’"Apakah
Dewan
Kota mengawasi penggunaan portalter-sebut?"
Wui.ili...' Baar menggeleng. "Mereka tidak tertarik mengawasi kontainer-kontamer bensi sampah. Kecuali jika itu sampah-sampah khusus yang berbahaya dan Ruangan
Indusm
atau benda-benda tertentu klasifikasi tinggi yang harus segeradi-musnahkan."
Ali tersenyum lebar.
"Kami
ingin menggunakan lorong itu.Baar. Itu akan
membuat
perjalanan kanu lebih cepat, tanpa di-ketahui. Masih ada empat ricik yang harus kami periksa. Titik berikutnya ada di timur Kota Zaramaraz. Jika menggunakanlorong-lorong kuno, kami harus kembali ke Ruangan Padang Rumput, dan hanya ada satu jalur menuju ke sana, melewati dua ruangan level pertama, dua kota besar. Itu berbahaya.
Mungkin
saja penduduk dua ruangan itu tidak seramah kalian, lapi dengan Portal Sampah, kalian bisa mengirim kanu langsung ke ruangan kota yang terakhir. Menyelinap di sana,
menunggu
waktu yang tepat, kanu bisa melanjutkan perjalanan melewati lorong level kedua, bertemu dengan satu ruangan tidak ber-penghuni. barumasuk
ke lorong level ketiga. Itu akan meng-hemat waktu banyak."Miss Selena yang
duduk
di sebelah Ali mengangguk—
diasepertinya
paham
kenapa Ali meminta kanu kembali ke sini.Aku
jugapaham
kenapa Ali sebelumnya memilih rute melewati143
Padang Sampah. Si genius ini
memang
mengincar portal khususdi ruangan ini. Sepertinya dia sudah menduga ada jalur khusus yang bisa digunakan.
Mungkin
Ali teringat saat kami menyelinap ke MarkasDewan
Kota Zaramaraz.Meer
menyarankan kami melewati pipa-pipa air bersih kota.Tapi Portal
Sampah
bukan sistem berpindah tempat yang menyenangkan, Ali. Maksudku, selain kalian harus bepergian dengan kulit pisang, sisa wortel atau kentang, portal ituber-guncang lebih keras, lebih lambat, pengap, tidak nyaman."
"Apakah
aman
digunakan manusia?" tanya Miss Selena."
Tentu saja aman.
Kami
bepergian dengan portal itu.""Itu lebih dari cukup." Miss Selena berkata lugas. "Apakah kami bisa memakainya?"
Baar mengangguk. Dia tidak keberatan.
Kami
tidakmenunggu
lagi. Setelahmakan
malam, sempat menyapaZaad
sebentar di kamarnya, rombongan melanjutkan perjalanan.Ruangan yang kami tuju adalah Ruangan Peternakan Timur.
Jika melihat di layar peta, ruangan itu berupa hamparan lembah
subur, dengan sisi-sisi lima puluh kilometer, memiliki kota kecil yang indah di tengah ruangan. Sisanya adalah lahan peternakan
luas, dengan hutan dan area terbuka hijau. Mayoritas penduduk
mangan
ini bekerja sebagai peternak, tidak kurang dan satu jutapenduduknya.
Tiga kapsul kami dinaikkan ke dalam kontainer besar. Lantas ekskavator bersiap
menumpahkan
pakan ternak ke dalamnya.Sebagian sampah restoran, makanan, yang dikirim dari berbagai
mangan
ke PadangSampah
diolah menjadi pakan ternak. Hasil olahan itu dikirim kembali ke ruangan yang membutuhkan.Ruangan Peternakan I imur menerima belasan kontainer pakan
ternak setiap harinya.
Kami
bisa bersembunyi di dalam salah satu kontainer tersebut.Miss Selena menyuruh kami
masuk
ke kapsul.Kami
siapberangkat.
"Pastikan kalian kembali ke sini dengan Portal
Sampah
yang sama ataujaring perak akan kembali menangkap kalian di udara.Aku
ridakmau
melihat kalian pingsan keriga kalinya.” Baar melambaikan tangan, tertawa.Aku. Ali. dan Seli balas melambaikan tangan,
masuk
ke da-lam portal.Pintu tiga kapsul ditutup. Ekskavator mulai
menumpahkan
berton-ton pakan ternak dari pipa besar,
membuat
kapsul kami sempurna ditutupi gumpalanmakanan
yang berlendir danlengket. Itu limbah bubur putih yang telah diolah lagi. Kapsul kami tidak kedap bau. Bau pakan ternak itu tercium pekat hingga ke dalam. Melihat lendir lengket itu
memenuhi
jendela kaca, aku mulai mual.Seli
menahan
napas.jangan dilihat. Seli.
Kamu
bisa muntah." Ali nyengir lebar.Kami
masihmenunggu
proses pengisian pakan ternak selesai.Ali
bergumam
pelan, "Malang sekali nasib hewan ternak Klan Bintang. Makanannya bergizi tinggi, tapi bentuknya menjijikkan.Aromanya mengerikan. Mereka pasti tidak pernah tahu rasanya
rumput segar."
Proses pengisian pakan ternak selesai. Kontainer ditutup. Di
luar sana, Baar sudah mengaktifkan Portal Sampah. Sebuah
lubang besar terbentuk, dengan tujuan Ruangan Peternakan Timur. Baar memberi aba-aba. belasan kontainer itu bergerak perlahan melintasi portal.
Kontainer yang kami tumpangi terbanting keras saat melesat
145
cepat di dalam lorong berpindah. Ini benar-benar perjalanan yang “ideal" Sudah mual
mencium
dan melihat lendir lengket, perut kami diaduk-aduk pula oleh guncangan sepanjangper-jalanan. Seli mencengkeram lengan kursi.
“Jangan muntah di dalam ILY. Seli. Raib. Cipratan muntahnya
bisa mengenai papan kemudi. Kalian harus membersihkannya
jika muntah."
Kalau saja kondisiku lebih baik, aku akan menjitak Ali. Bukan-nya bersimpati melihat wajahku dan Seli yang pucat, dia malah mengancam.
Setelah lima menit kami terbanting ke sana kemari, guncang-an mulai berkurang, kemudian berhenti sama sekali.
Aku
mem-perkirakan kontainer keluar dari portal, tiba di dalam sebuah gudang besar. Bkskavator sibuk mengangkut kontainer yang baru
riba,
menumpuknya
rapi di jalur pakan ternak. Portal kembali menutup, menghilang.Kami
telah tiba di Ruangan Peternakan Timur.11