• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rombongan telah siuman semua. Baar menjamu kami makan

Dalam dokumen / f Mv. f.. &S v " 5 m (Halaman 142-147)

Rombongan

telah siuman semua. Baar

menjamu

kami

makan

pagi.

Wajah anggota Pasukan Bayangan dan Pasukan Matahari di

meja sebelah mengernyit. Ini kali ketiga mereka

makan

bubur pu-tih tersebut. Salah satu dan mereka sempat bertanya-tanya. “Apa-kah hanya ini makanan Klan Bintang?"

Aku

hendak menjawabnya,

tapi di meja kami juga sedang terjadi percakapan serius.

“Kami membutuhkan

bantuan kalian. Baar.’ Ali menyampai-kan maksud dan tujuan.

'Kapsul kalian ingin diperbaiki lagi?"

Ali menggeleng. "Bukan. Tiga kapsul kami baik-baik saja.

Lapisan material baru yang dipasang teknisi Ruangan Padang

Sampah

efektif melindunginya dan benturan."

"Senjata tambahan?"

"Juga bukan."

Meja

makan

di depan kami adalah benda berteknologi

cang-gih. Ketuk ujungnya,

maka

meja itu bisa mengeluarkan proyeksi nga dimensi di atas meja, bisa untuk menonron televisi, video, musik, atau briejing, diskusi pekerjaan. Ali baru saja memindah-kan peta Klan Bintang dan tabung transparannya ke sana, me-nampilkan

enam

titik yang kami tuju.

Ali menunjuk proyeksi peta di atas meja. "Kami menginginkan

portal kalian. Itu portal yang berbeda dengan portal untuk meng-angkut orang, benda, atau pasukan Klan Bintang, bukan?

Hanya

dioperasikan khusus dalam sistem pengelolaan sampah?”

Baar mengangguk.

"Apakah tersambung ke seluruh ruangan level pertama Klan Bintang?"

Baar mengangguk lagi. "Beberapa bahkan tersambung ke ruangan tidak berpenghuni. saat kami

membuang

sampah yang benar-benar tidak bisa diolah Lagi. Ruangan Pembuangan.’

"Apakah

Dewan

Kota mengawasi penggunaan portal

ter-sebut?"

Wui.ili...' Baar menggeleng. "Mereka tidak tertarik mengawasi kontainer-kontamer bensi sampah. Kecuali jika itu sampah-sampah khusus yang berbahaya dan Ruangan

Indusm

atau benda-benda tertentu klasifikasi tinggi yang harus segera

di-musnahkan."

Ali tersenyum lebar.

"Kami

ingin menggunakan lorong itu.

Baar. Itu akan

membuat

perjalanan kanu lebih cepat, tanpa di-ketahui. Masih ada empat ricik yang harus kami periksa. Titik berikutnya ada di timur Kota Zaramaraz. Jika menggunakan

lorong-lorong kuno, kami harus kembali ke Ruangan Padang Rumput, dan hanya ada satu jalur menuju ke sana, melewati dua ruangan level pertama, dua kota besar. Itu berbahaya.

Mungkin

saja penduduk dua ruangan itu tidak seramah kalian, lapi dengan Portal Sampah, kalian bisa mengirim kanu langsung ke ruangan kota yang terakhir. Menyelinap di sana,

menunggu

waktu yang tepat, kanu bisa melanjutkan perjalanan melewati lorong level kedua, bertemu dengan satu ruangan tidak ber-penghuni. baru

masuk

ke lorong level ketiga. Itu akan meng-hemat waktu banyak."

Miss Selena yang

duduk

di sebelah Ali mengangguk

dia

sepertinya

paham

kenapa Ali meminta kanu kembali ke sini.

Aku

juga

paham

kenapa Ali sebelumnya memilih rute melewati

143

Padang Sampah. Si genius ini

memang

mengincar portal khusus

di ruangan ini. Sepertinya dia sudah menduga ada jalur khusus yang bisa digunakan.

Mungkin

Ali teringat saat kami menyelinap ke Markas

Dewan

Kota Zaramaraz.

Meer

menyarankan kami melewati pipa-pipa air bersih kota.

Tapi Portal

Sampah

bukan sistem berpindah tempat yang menyenangkan, Ali. Maksudku, selain kalian harus bepergian dengan kulit pisang, sisa wortel atau kentang, portal itu

ber-guncang lebih keras, lebih lambat, pengap, tidak nyaman."

"Apakah

aman

digunakan manusia?" tanya Miss Selena.

"

Tentu saja aman.

Kami

bepergian dengan portal itu."

"Itu lebih dari cukup." Miss Selena berkata lugas. "Apakah kami bisa memakainya?"

Baar mengangguk. Dia tidak keberatan.

Kami

tidak

menunggu

lagi. Setelah

makan

malam, sempat menyapa

Zaad

sebentar di kamarnya, rombongan melanjutkan perjalanan.

Ruangan yang kami tuju adalah Ruangan Peternakan Timur.

Jika melihat di layar peta, ruangan itu berupa hamparan lembah

subur, dengan sisi-sisi lima puluh kilometer, memiliki kota kecil yang indah di tengah ruangan. Sisanya adalah lahan peternakan

luas, dengan hutan dan area terbuka hijau. Mayoritas penduduk

mangan

ini bekerja sebagai peternak, tidak kurang dan satu juta

penduduknya.

Tiga kapsul kami dinaikkan ke dalam kontainer besar. Lantas ekskavator bersiap

menumpahkan

pakan ternak ke dalamnya.

Sebagian sampah restoran, makanan, yang dikirim dari berbagai

mangan

ke Padang

Sampah

diolah menjadi pakan ternak. Hasil olahan itu dikirim kembali ke ruangan yang membutuhkan.

Ruangan Peternakan I imur menerima belasan kontainer pakan

ternak setiap harinya.

Kami

bisa bersembunyi di dalam salah satu kontainer tersebut.

Miss Selena menyuruh kami

masuk

ke kapsul.

Kami

siap

berangkat.

"Pastikan kalian kembali ke sini dengan Portal

Sampah

yang sama ataujaring perak akan kembali menangkap kalian di udara.

Aku

ridak

mau

melihat kalian pingsan keriga kalinya.” Baar melambaikan tangan, tertawa.

Aku. Ali. dan Seli balas melambaikan tangan,

masuk

ke da-lam portal.

Pintu tiga kapsul ditutup. Ekskavator mulai

menumpahkan

berton-ton pakan ternak dari pipa besar,

membuat

kapsul kami sempurna ditutupi gumpalan

makanan

yang berlendir dan

lengket. Itu limbah bubur putih yang telah diolah lagi. Kapsul kami tidak kedap bau. Bau pakan ternak itu tercium pekat hingga ke dalam. Melihat lendir lengket itu

memenuhi

jendela kaca, aku mulai mual.

Seli

menahan

napas.

jangan dilihat. Seli.

Kamu

bisa muntah." Ali nyengir lebar.

Kami

masih

menunggu

proses pengisian pakan ternak selesai.

Ali

bergumam

pelan, "Malang sekali nasib hewan ternak Klan Bintang. Makanannya bergizi tinggi, tapi bentuknya menjijikkan.

Aromanya mengerikan. Mereka pasti tidak pernah tahu rasanya

rumput segar."

Proses pengisian pakan ternak selesai. Kontainer ditutup. Di

luar sana, Baar sudah mengaktifkan Portal Sampah. Sebuah

lubang besar terbentuk, dengan tujuan Ruangan Peternakan Timur. Baar memberi aba-aba. belasan kontainer itu bergerak perlahan melintasi portal.

Kontainer yang kami tumpangi terbanting keras saat melesat

145

cepat di dalam lorong berpindah. Ini benar-benar perjalanan yang “ideal" Sudah mual

mencium

dan melihat lendir lengket, perut kami diaduk-aduk pula oleh guncangan sepanjang

per-jalanan. Seli mencengkeram lengan kursi.

“Jangan muntah di dalam ILY. Seli. Raib. Cipratan muntahnya

bisa mengenai papan kemudi. Kalian harus membersihkannya

jika muntah."

Kalau saja kondisiku lebih baik, aku akan menjitak Ali. Bukan-nya bersimpati melihat wajahku dan Seli yang pucat, dia malah mengancam.

Setelah lima menit kami terbanting ke sana kemari, guncang-an mulai berkurang, kemudian berhenti sama sekali.

Aku

mem-perkirakan kontainer keluar dari portal, tiba di dalam sebuah gudang besar. Bkskavator sibuk mengangkut kontainer yang baru

riba,

menumpuknya

rapi di jalur pakan ternak. Portal kembali menutup, menghilang.

Kami

telah tiba di Ruangan Peternakan Timur.

11

Dalam dokumen / f Mv. f.. &S v " 5 m (Halaman 142-147)