dunia kami
—
ribuan jumlahnya sedang bergerak melakukanmigrasi. Burung-burung terbang berkelompok. Im kali kedua aku datang ke Klan Bintang, dan tetap menakjubkan. Apalagi bagi
Miss Selena dan rombongannya, mereka sedang menatap tak berkedip dari jendela kaca kapsul oval.
"Kami
akan turun sebentar. Miss Selena. Siapa tahuMeer
masih ada di pondoknya,” Ali bicara lewat alat komunikasi."Baik.
Aku
juga akan menyusul turun."ILY
mengambang
turun, mendekati pondok kayu. Rerumput-an tersibak oleh kapsul terbang, tersisa tiga puluh senti dari dataran. Ali menekan tombol, mengaktifkan posisi mengambang,sekaligus
membuka
pintu.Kalian ikut turun?" tanya Ali.
Aku
dan Seli mengangguk.Kami
berlompatan keluar, juga Miss Selena. Yang lain me-nunggu di kapsul.Api unggun milik
Meer
padam. Tidak ada siapa-siapa di sana."Apakah dia sedang berburu?” Seli bertanya.
"Mungkin saja," jawab Ali sambil melangkah menuju pondok kayu Meer. Yang lain mengikuti.
"Siapa Meer?" Miss Selena bertanya, melangkah di sebelah
Seli.
"Nama
lengkapnya Mecraxareem. Miss. Dia ilmuwan paling brilian Klan Bintang. Arsitek mahakarya Kota Zaramaraz.Pembuat ruangan simetris empat sisi."
"Jika dia yang merancang Kota Zaramaraz. kenapa dia tinggal di sini?" Miss Selena menoleh sekitar.
Karena dia tidak menyukai kebijakan
Dewan
Kota Zara-maraz. Miss. Sudah lama diamemutuskan
tinggal di ruanganini. ratusan tahun lalu, menjadi pemburu. Dia kenal dekat dengan Faar, pemilik Ruangan
Lembah
Hijau yang keturunan langsung Klan Bulan. Meer dan Faarmembantu
kami melolos-kan diri dari kejaran Pasukan Bintang.’Miss Selena mengangguk, lalu menoleh. ' Ruangan Padang
Rumput
ini menakjubkan. Klan ini maju sekali, hingga bisamembuat
matahari buatan di atas sana, mengatur siklus air,suhu, iklim,
memahat
pegunungan, dan mengukir sungai.Me-reka memerlukan kekuatan besar atau mesin raksasa untuk
membuat
padang rumput ini."Lima belas menit kami memeriksa, tapi sia-sia. Pondok kayu
itu kosong. Pintunya terbuka. Satu jendelanya copot, juga atap rumbianya tampak bolong. Lantainya kotor tidak terawat. Tidak ada tanda-tanda sebulan terakhir ada penghuninya.
"Meer mungkin saja sudah pergi dan Ruangan Padang
Rumput
ini.” Ali menghela napas kecewa. "Dia memiliki bubuk api dari Kaar. Dia bisa pergi melintasi perapian ke ruangan lain."
Sepertinya itu penjelasan yang
masuk
akal. Miss Selena me-mutuskan kembali ke dalam kapsul, melanjutkan perjalanan sesuai rencana, menuju titik pertama di utara Kota Zaramaraz.Kami
melangkah menuju api unggun.Aku
bertanya dalamhati.
Apa
yang kanu harapkan?Ada
banyak hal yang mungkintelah berubah sejak kanu ke sini sebulan lalu.
"Ke
mana Mccr
pergi?" Scli bertanya."Entahlah. mungkin ke Ruangan
Lembah
Hijau milik Faar.tapi itu tempat berbahaya sekarang, bahkan bagi Mcer sekalipun.
Atau mungkin dia kembali ke Kota Zaramaraz, atau ke ruangan
lain yang lebih cocok baginya."
Aku
mengangkat bahu.Saat itu aku benar-benar tidak menduga
menung
ada banyaksekali yang telah berubah sejak Sekretaris
Dewan
Kotameng-hilang. Sekretaris hanyalah orang kuat kedua di Klan Bintang.
Saat dia hilang tanpa kabar, bersama kaburnya beberapa tahanan dari penjara. Ketua
Dewan
Kota Zaramaraz yang marah me-ngerahkan seluruh Pasukan Bintang mencari Sekretaris ke ruangan-ruangan, termasuk Ruangan PadangRumput
milik Meer.Kami
baru separuh jalan menuju kapsul ketika di atas kami sebuah portal besar terbuka."Apa itur Seh mendongak. Portal itu menutupi cahaya
mata-hari saking besarnya.
"Semua kembali ke kapsul!" Miss Selena berseru. Tanpa me-nunggu sedetik pun. Miss Selena melakukan telcportasi. Dengan
naluri yang terasah, meski belum tahu benda apa yang akan
keluar dari lubang di atas kepala kami. Miss Selena tahu kami dalam situasi genting.
Aku
meraih tangan Ali dan Seli.Tubuh
kami jugameng-hilang. muncul di dalam kapsul perak.
“Itu apa?" Seli bertanya, wajahnya pucat. Dia bergegas duduk.
"Portal dari Kota Zaramaraz!" Ali yang menjawab. "Pasang sabuk pengaman kalian!"
Aku
dan Seli segeramemasang
sabuk."Bawa kapsul kalian menuju pintu lorong kuno di utara. Ah!
Segera!” Miss Selena bicara lewat alat komunikasi.
61
Ali mengangguk. Dia menarik tuas kemudi.
II-Y melenting tinggi, seperti komet, melesat terbang menuju
bagian utara Ruangan Padang Rumput.
Di atas kami, di ketinggian dua puluh kilometer, lubang portal
senukm
membesar, belum sempurna terbuka, tapi hanyasoal di detik keberapa armada tempur Klan Bintang akan muncul. Ini sama seperti kemunculan mereka di
Lembah
Hijau milik Faar dulu. Pasukan Klan Bintang selalu datang dengan kekuatan penuh.Waktu
sangat berharga. Telat sedetik kami bisa dihabisi armada itu.‘ Bagaimana mereka tahu kita datang?" tanya Sch. Suaranya
bergetar.
"Aku tidak tahu. Seli! Kita tidak sempat membahasnya seka-rang.” Ali menekan tuas kemudi hingga habis, kecepatan penuh.
Jarak kanu masih puluhan kilometer dan dinding ruangan.
Kami
harus tiba di lorong-lorong kuno. Itulah perintah Miss Selena.
Kami
tidak punya kesempatan menghadapi armada tempur di langit-langit terbuka.Akan
berbeda jika kamimasuk
ke lorong-lorong kuno.liga kapsul oval
memimpin
di depan.Aku
mendongak, menyaksikan belasan pesawat besar berbentuk paruh burung perlahan keluardan
portal.Armada
pesawat itu masih perlu beberapa detik lagi hingga dalam posisi tempur.Kami
hampirtiba di mulut lorong. Rencana Miss Selena berjalan baik.
Kami
sepertinya bisa lolos dengan mudah.
"Awas!” Seli berteriak,
membuatku
kaget, menoleh ke depan.Dari balik rerumputan hijau, melesat keluar pesawat-pesawat
kecil. Enam, delapan, belasan jumlahnya. Besarnya kurang-Icbih
sama dengan kapsul kami, tapi bentuknya pipih, seperti paruh burung, bentuk khas benda rerbang Klan Binrang. Benda rerbang
tanpa awak itu langsung menyerang, tanpa peringatan. Cahaya mematikan
menyambar
kapsul-kapsul kami.Ali menggigit bibir. ILV meliuk menghindar
—
juga tiga kapsuloval Miss Selena di depan, lembakan-tembakan itu mengenai udara kosong, berdentum keras.
Ke mana
pun terbang, kamiterus dikejar oleh lima-enam benda terbang. Ali
menurunkan
kapsul hingga kaki pegunungan, lincah meniti celah-celah cadas, terus menghindari tembakan yang
menghantam
gunung.Semen-tara tiga kapsul oval Miss Selena terus mendekati lubang lorong kuno.
Ada
belasan benda terbang yang juga mengejar mereka.jarak benda terbang yang mengejar kami semakin dekat. Ali
menggerakkan ruas.
ILY
melengkung naik ke atas hingga ke-tinggian sepuluh kilometer. Ali menggerakkan tuas kemudi lagi,ILY meluncur seperti bola besi jatuh, manuver yang tidak pernah kulihat di ILY versi sebelumnya. Seli menjerit ngeri,
mengira kami jatuh sungguhan. Tapi itu gerakan yang hebat,
membuat
bingung benda terbang yang mengejar. Sebelum mereka menyadarinya. ILY telah berada di belakang mereka,balik mengejar tiga benda terbang yang mengejar kami.
Tinggalkan mereka. Ali! Segera ke lorong!" Miss Selena
memberi perintah.
Ali bergumam. Dia jelas bersiap menekan tombol senjata,
membalas menembaki benda-benda terbang ini. Tapi Miss Selena benar, kami tidak punya waktu meladeni benda terbang tanpa
penumpang
mi.Armada
tempur telah sempurna keluar dan portal, bergerak cepat ke arah kami.Kapsul oval Miss Selena
masuk
lebih dulu ke dalam lorong, disusul dua kapsul oval lainnya. Sedetik, giliran kami yangme-lesat masuk. Lenyap di dalam lorong-lorong kuno.
Armada
tempur Klan Bintang yang baru saja keluar dariportal tidak bisa
masuk
ke lorong karena berukuran besar.Gerakan mereka terhenti di langit-langit ruangan. Tapi benda terbang kecil yang muncul dari dasar padang rumput bisa. Se-telah
mengambang
sejenak di mulut lorong, mereka ikut masuk, mengejar kami."Ali, apa yang terjadi di belakang?" Suara Miss Selena
ter-dengar dan alat komunikasi.
"Benda terbang kecil itu mengejar kita. Miss f Ali berseru, memberitahu.
"Kalian bisa mengatasi merekar"
Ali tidak menjawab. Dia telah menekan sebuah tombol di
papan kemudi. II.
Y
mendesing pelan seperti sedang mengubahposisi.
"Apa yang
kamu
lakukanr" aku berseru."Aku akan menghentikan benda terbang yang mengejar kita,
Raf
Sambil terus melaju cepat di dalam lorong, badan ILY ber-putar 180 derajat. Posisi jendela kaca berubah menghadap ke belakang.
Ini juga manuver yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Di depan kami sekarang benda-benda terbang Klan Bintang terlihat.
Jarak mereka sekitar dua ratus meter dan terus mendekat.
Me-reka bahkan mulai melepas tembakan. Cahaya-cahaya mematikan berdentum mengenai dinding-dinding lorong.
Posisi kami semakin dekat. Wajah Seli terlihat tegang.
"Kalian yang memintanya! Rasakan senjata pamungkas ILY f
Ali berkata dingin, menekan tombol.
Aku
dan Seli saling tatap.Aku
kira akan melesat petir terang berwarna biru,menghantam
kapsul di belakang kami, atau rudal berteknologi ringgi, atau senjata yang dramatis lainnya, ternyatabukan. Setelah terdengar suara pendek tak bertenaga, sebuah gumpalan karet melenting keluar dari ILY, mengenai benda terbang di belakang kami. Tidak terjadi apa-apa. tidak ada dentuman kencang, apalagi ledakan seru seperti di film-film.
Benda terbang itu justru terus mengejar.
Ya
ampun?
Ali bergurau? Apanya yang senjata pamungkas?Hanya
itu senjata yang dimiliki ILY versi 3.0? Permen karet?Bagaimana kami bisa bertahan satu hari di Klan Bintang dengan teknologi seperti ini? Dia bilang kapsul ini lebih canggih.
'Sabar,
Raf
Ali nyengir lebar.Sedetik berlalu. Entah apa yang terjadi, benda terbang di belakang kami mendadak terbanting ke dinding lorong, seperti kehilangan kendali,juga belasan benda terbang di belakangnya yang turut mengejar.
Semua
jatuh seperti burung kehilangan tenaga, atau seperti daun yang terlepas dari tangkainya, ber-guguran.Astaga! Itu keren sekali.
EMP.
Ra!" Ali berserumembanggakan
diri.Aku
dan Scli saling tatap!EMP?
Percuma saja
menembak
mereka dengan petir. Benda terbang itu punya tameng transparan milik Klan Bulan. Mereka bisa mengatasinya.Aku menambah
amunisi ILY dengan granatEMP.
eUaromagnctic pulsc.
Gumpalan
karet itu cukup mengenai target-nya, meledak pelan,maka
jaringan listrik radius seratus meterdi sekitarnya seketika padam. Benda terbang itu. secanggih apa
pun teknologinya, tanpa listrik tak ubahnya kaleng rongsokan.
Mereka tidak bisa lagi mengejar kita.”
ILY mendesing pelan, berputar 180 derajat, posisi layar kaca kembali ke depan.
65
Aku
menelan ludah. Si biang kerok ini sepertinya telah ber-hitung matang sebelum kembali ke Klan Bintang.‘Apa yang terjadi di belakang sana. Ali?" Miss Selena meng-hubungi dari kapsulnya.
Ali segera menjelaskan. Para pengejar telah dipukul jatuh.
Kapsul kami bisa melaju tanpa gangguan.
"Bagus sekali. Ali.”
‘Terima kasih, Miss!" Ali tersenyum bangga.
'Ikuti tiga kapsul oval. Terus melaju dengan kecepatan stabil
ke arah utara, Ali. Jika peta yang
kamu
berikan benar, kitaburuh
enam
jam hingga tiba di ruangan berikutnya."'Siap laksanakan. Miss!" Ali menjawab pendek.
Seli meluruskan kakinya, berusaha lebih rileks. Sejak
ke-munculan portal raksasa. Seli tegang sekali. Tapi tidak ada lagi
yang mengejar kami, menyisakan dinding lorong kuno yang lengang dan gelap, dengan diameter
enam
meter.Aku
memperhatikan layar di atas papan kemudi ILY, yang menampilkan peta Klan Bintang.Ada
ruangan besar di ujung lorong ini. lapi itu bukan titiktujuan kami. Kapsul kami masih melintasi lorong dengan garis
berwarna biru
—
lorong-lorong kuno level kedua. Peta ini bersifatwaktu terkini. Posisi kami terlihat di peta.
Hnam
jam lagi kami sampai di ruangan depan. Setiba di sana kami akan pindah ke lorong warna merah, lorong-lorong kuno level ketiga. Di ujung lorong merah itulah tempat pertama yang akan kami periksa.Lima belas menit tanpa percakapan. ILY terus melaju di
lorong yang gelap dan lengang.
Hanya
cahaya dari kapsul-kapsulkami yang
menimpa
dinding lorong,juga desing dan kapsul yang terdengar.Ali melepaskan
mas
kemudi. Dia berdiri.Eh?
Kamu mau
ke mana?" Seli refleks bertanya— maksud
Scli. bagaimana dengan kapsul terbang mereka jika Ali
me-ninggalkannya.
'Aku lapar. Sel," Ali menjawab santai. 'Aku sudah mengaktif-kan kemudi otomatis. Kapsulnya tidak akan menabrak din-dmg."
Si genius itu melangkah ke kotak besar di belakang.
'Ada yang
mau
roti?Aku membawa
banyak makanan." Alimengeluarkan bungkusan roti.
Aku
dan Seli saling ratap, menggeleng. Ini baru pukul se-tengah lima pagi di kota kami, masih awal sekali untuk sa-rapan.Ali
duduk
di atas kotak perbekalan,membuka
bungkus roti besar. Diamakan
dengan lahap.“Sejak kemarin
malam
seleramakanku
buruk, Ra. Tidak sabaranmenunggu
berangkat,membuatku
malas makan." Ali menjelaskan. "Setelah dikejar-kejar benda terbang tadi seleramakanku
pulih” Dia nyengir lebar.Entahlah, aku harus bilang apa. Bagi Ali, petualangan kami mi mungkin hanya perjalanan biasa. Sejak dulu Ali selalu
san-tai.
‘Kita baru lima belas menit tiba di sini, dan sudah dikejar-kejar Pasukan Bintang. Perjalanan ini akan sulit sekali." Seli berkata pelan. "Bagaimana mereka tahu kita muncul di Ruangan Padang Rumput?"
"Kemungkinan besar karena mereka menugaskan benda
ter-bang kecil tadi untuk patroli di ruangan-ruangan Klan Bintang,"
Ali menjawab sambil mengunyah roti. "Saat portal terbuka, kita
muncul di sana, benda terbang itu bersembunyi di balik rerumputan, menghubungi Kota
Za
ramaraz. Menerima kabar67
iru.
Dewan
Kota langsungmembuka
portal raksasa, mengirimArmada Kedua
Klan Bintang. Melihat kita melarikan diri, benda terbang itu kemudian diperintahkan menyerang,menahan
kitaselama mungkin."
"Itu berarti kedatangan kita di Klan Bintang telah dike-tahui.”
Ali mengangguk.
Bagaimana jika di ruangan depan mereka juga telah me-nunggu:" Wajah Seli tampak cemas.
"Mungkin saja. Tapi kita khawatirkan nanti-nanti saja. Sch.
Masih ada
enam
jam lagi sebelum kita riba di sana, janganmembuat
seleramakanku
hilang lagi." Ali mengangkat bahu."Ali!" Seli melotot.
"Lihat peta di layar. Seli.
Hanya
ruangan yang tersambung dengan lorong kuno level pertama yang bisa terlihat bentuknyadi peta. Di luar itu. ruangannya hanya bintik-bintik kecil seperti layar televisi rusak. Nah. ruangan yang kita tuju hanyalah ruang-an lorong level kedua, mangan tanpa penghuni. Menurut
dugaan-ku. portal raksasa hanya didesain dibuka menuju ruangan yang tersambung lorong kuno level pertama, ruangan yang
ber-penghuni. Seperti Ruangan
Lembah
Hijau milik Foar. Ruangan PadangRumput,
Ruangan Penjara, mereka bisa mengirim armada tempur ke sana. Sedangkan dimangan
lorong kuno level kedua, palingcuma
benda-benda terbang kecil yang patroli.Jangan khawatir, kapsul kita bisa mengatasinya."
Ali diam sejenak, kembali asyik mengunyah roti.
"Bicara soal khawatir, aku lebih mengkhawatirkan
Meer
seka-rang.""Mccr?"
Yeah, jika dia belum pergi saat patroli riba di mangannya,
mungkin saja dia celah ditangkap Pasukan Bintang- Meski Mcer
tidak terlihat melawan
Dewan
Kota Zaramaraz secara Langsung, informasi yang dia ketahui bisa membahayakan rencana mereka.Apalagi jika mereka mengetahui Meer memiliki serbuk api Klan Matahari, serta pernah
membantu
kita menyelinap ke Kota Zaramaraz. l’idak adaampun
baginya."Seli
mengaduh
pelan.Aku
sebenarnya berharap masih bisa bertemu Meer di pon-dok kayunya. Dia pasti tahu tentang pasak-pasak bumi. Bahkan mungkin dia juga tahu lokasi pasak bumi yang akandiruntuh-kan. I’api mencari di
mana Meer
sekarang sama rumitnyade-ngan mencari pasak tersebut."
Ali kembali ke kursi kemudi. Dia telah selesai makan.
Me-regangkan badannya sebentar, seperti sedang melakukan pemanas-an ringan. Ali lantas duduk, mengambil alih kemudi otomatis.
Aku
menatap ke luar jendela kaca II.Y. Tidak ada pemandang-an di sana selain lengang dan gelap. Seli benar, petjalanan iniakan sulit. Lima belas menit pertama kami sudah harus
meng-hadapi Pasukan Bintang. Tapi, lagi-lagi, aku salah menduga, itu
jelas sekali belum masalah besar jika dibandingkan beberapa jam kemudian. Saat kami harus menyaksikan kehilangan anggota rombongan.
ILY terus melesat cepat melewati lorong-lorong kuno.
69