• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rombongan hewan banteng — bentuknya seperti banteng di

Dalam dokumen / f Mv. f.. &S v " 5 m (Halaman 59-70)

dunia kami

ribuan jumlahnya sedang bergerak melakukan

migrasi. Burung-burung terbang berkelompok. Im kali kedua aku datang ke Klan Bintang, dan tetap menakjubkan. Apalagi bagi

Miss Selena dan rombongannya, mereka sedang menatap tak berkedip dari jendela kaca kapsul oval.

"Kami

akan turun sebentar. Miss Selena. Siapa tahu

Meer

masih ada di pondoknya,” Ali bicara lewat alat komunikasi.

"Baik.

Aku

juga akan menyusul turun."

ILY

mengambang

turun, mendekati pondok kayu. Rerumput-an tersibak oleh kapsul terbang, tersisa tiga puluh senti dari dataran. Ali menekan tombol, mengaktifkan posisi mengambang,

sekaligus

membuka

pintu.

Kalian ikut turun?" tanya Ali.

Aku

dan Seli mengangguk.

Kami

berlompatan keluar, juga Miss Selena. Yang lain me-nunggu di kapsul.

Api unggun milik

Meer

padam. Tidak ada siapa-siapa di sana.

"Apakah dia sedang berburu?” Seli bertanya.

"Mungkin saja," jawab Ali sambil melangkah menuju pondok kayu Meer. Yang lain mengikuti.

"Siapa Meer?" Miss Selena bertanya, melangkah di sebelah

Seli.

"Nama

lengkapnya Mecraxareem. Miss. Dia ilmuwan paling brilian Klan Bintang. Arsitek mahakarya Kota Zaramaraz.

Pembuat ruangan simetris empat sisi."

"Jika dia yang merancang Kota Zaramaraz. kenapa dia tinggal di sini?" Miss Selena menoleh sekitar.

Karena dia tidak menyukai kebijakan

Dewan

Kota Zara-maraz. Miss. Sudah lama dia

memutuskan

tinggal di ruangan

ini. ratusan tahun lalu, menjadi pemburu. Dia kenal dekat dengan Faar, pemilik Ruangan

Lembah

Hijau yang keturunan langsung Klan Bulan. Meer dan Faar

membantu

kami melolos-kan diri dari kejaran Pasukan Bintang.’

Miss Selena mengangguk, lalu menoleh. ' Ruangan Padang

Rumput

ini menakjubkan. Klan ini maju sekali, hingga bisa

membuat

matahari buatan di atas sana, mengatur siklus air,

suhu, iklim,

memahat

pegunungan, dan mengukir sungai.

Me-reka memerlukan kekuatan besar atau mesin raksasa untuk

membuat

padang rumput ini."

Lima belas menit kami memeriksa, tapi sia-sia. Pondok kayu

itu kosong. Pintunya terbuka. Satu jendelanya copot, juga atap rumbianya tampak bolong. Lantainya kotor tidak terawat. Tidak ada tanda-tanda sebulan terakhir ada penghuninya.

"Meer mungkin saja sudah pergi dan Ruangan Padang

Rumput

ini.” Ali menghela napas kecewa. "Dia memiliki bubuk api dari Kaar. Dia bisa pergi melintasi perapian ke ruangan lain."

Sepertinya itu penjelasan yang

masuk

akal. Miss Selena me-mutuskan kembali ke dalam kapsul, melanjutkan perjalanan sesuai rencana, menuju titik pertama di utara Kota Zaramaraz.

Kami

melangkah menuju api unggun.

Aku

bertanya dalam

hati.

Apa

yang kanu harapkan?

Ada

banyak hal yang mungkin

telah berubah sejak kanu ke sini sebulan lalu.

"Ke

mana Mccr

pergi?" Scli bertanya.

"Entahlah. mungkin ke Ruangan

Lembah

Hijau milik Faar.

tapi itu tempat berbahaya sekarang, bahkan bagi Mcer sekalipun.

Atau mungkin dia kembali ke Kota Zaramaraz, atau ke ruangan

lain yang lebih cocok baginya."

Aku

mengangkat bahu.

Saat itu aku benar-benar tidak menduga

menung

ada banyak

sekali yang telah berubah sejak Sekretaris

Dewan

Kota

meng-hilang. Sekretaris hanyalah orang kuat kedua di Klan Bintang.

Saat dia hilang tanpa kabar, bersama kaburnya beberapa tahanan dari penjara. Ketua

Dewan

Kota Zaramaraz yang marah me-ngerahkan seluruh Pasukan Bintang mencari Sekretaris ke ruangan-ruangan, termasuk Ruangan Padang

Rumput

milik Meer.

Kami

baru separuh jalan menuju kapsul ketika di atas kami sebuah portal besar terbuka.

"Apa itur Seh mendongak. Portal itu menutupi cahaya

mata-hari saking besarnya.

"Semua kembali ke kapsul!" Miss Selena berseru. Tanpa me-nunggu sedetik pun. Miss Selena melakukan telcportasi. Dengan

naluri yang terasah, meski belum tahu benda apa yang akan

keluar dari lubang di atas kepala kami. Miss Selena tahu kami dalam situasi genting.

Aku

meraih tangan Ali dan Seli.

Tubuh

kami juga

meng-hilang. muncul di dalam kapsul perak.

“Itu apa?" Seli bertanya, wajahnya pucat. Dia bergegas duduk.

"Portal dari Kota Zaramaraz!" Ali yang menjawab. "Pasang sabuk pengaman kalian!"

Aku

dan Seli segera

memasang

sabuk.

"Bawa kapsul kalian menuju pintu lorong kuno di utara. Ah!

Segera!” Miss Selena bicara lewat alat komunikasi.

61

Ali mengangguk. Dia menarik tuas kemudi.

II-Y melenting tinggi, seperti komet, melesat terbang menuju

bagian utara Ruangan Padang Rumput.

Di atas kami, di ketinggian dua puluh kilometer, lubang portal

senukm

membesar, belum sempurna terbuka, tapi hanya

soal di detik keberapa armada tempur Klan Bintang akan muncul. Ini sama seperti kemunculan mereka di

Lembah

Hijau milik Faar dulu. Pasukan Klan Bintang selalu datang dengan kekuatan penuh.

Waktu

sangat berharga. Telat sedetik kami bisa dihabisi armada itu.

Bagaimana mereka tahu kita datang?" tanya Sch. Suaranya

bergetar.

"Aku tidak tahu. Seli! Kita tidak sempat membahasnya seka-rang.” Ali menekan tuas kemudi hingga habis, kecepatan penuh.

Jarak kanu masih puluhan kilometer dan dinding ruangan.

Kami

harus tiba di lorong-lorong kuno. Itulah perintah Miss Selena.

Kami

tidak punya kesempatan menghadapi armada tempur di langit-langit terbuka.

Akan

berbeda jika kami

masuk

ke lorong-lorong kuno.

liga kapsul oval

memimpin

di depan.

Aku

mendongak, menyaksikan belasan pesawat besar berbentuk paruh burung perlahan keluar

dan

portal.

Armada

pesawat itu masih perlu beberapa detik lagi hingga dalam posisi tempur.

Kami

hampir

tiba di mulut lorong. Rencana Miss Selena berjalan baik.

Kami

sepertinya bisa lolos dengan mudah.

"Awas!” Seli berteriak,

membuatku

kaget, menoleh ke depan.

Dari balik rerumputan hijau, melesat keluar pesawat-pesawat

kecil. Enam, delapan, belasan jumlahnya. Besarnya kurang-Icbih

sama dengan kapsul kami, tapi bentuknya pipih, seperti paruh burung, bentuk khas benda rerbang Klan Binrang. Benda rerbang

tanpa awak itu langsung menyerang, tanpa peringatan. Cahaya mematikan

menyambar

kapsul-kapsul kami.

Ali menggigit bibir. ILV meliuk menghindar

juga tiga kapsul

oval Miss Selena di depan, lembakan-tembakan itu mengenai udara kosong, berdentum keras.

Ke mana

pun terbang, kami

terus dikejar oleh lima-enam benda terbang. Ali

menurunkan

kapsul hingga kaki pegunungan, lincah meniti celah-celah cadas, terus menghindari tembakan yang

menghantam

gunung.

Semen-tara tiga kapsul oval Miss Selena terus mendekati lubang lorong kuno.

Ada

belasan benda terbang yang juga mengejar mereka.

jarak benda terbang yang mengejar kami semakin dekat. Ali

menggerakkan ruas.

ILY

melengkung naik ke atas hingga ke-tinggian sepuluh kilometer. Ali menggerakkan tuas kemudi lagi,

ILY meluncur seperti bola besi jatuh, manuver yang tidak pernah kulihat di ILY versi sebelumnya. Seli menjerit ngeri,

mengira kami jatuh sungguhan. Tapi itu gerakan yang hebat,

membuat

bingung benda terbang yang mengejar. Sebelum mereka menyadarinya. ILY telah berada di belakang mereka,

balik mengejar tiga benda terbang yang mengejar kami.

Tinggalkan mereka. Ali! Segera ke lorong!" Miss Selena

memberi perintah.

Ali bergumam. Dia jelas bersiap menekan tombol senjata,

membalas menembaki benda-benda terbang ini. Tapi Miss Selena benar, kami tidak punya waktu meladeni benda terbang tanpa

penumpang

mi.

Armada

tempur telah sempurna keluar dan portal, bergerak cepat ke arah kami.

Kapsul oval Miss Selena

masuk

lebih dulu ke dalam lorong, disusul dua kapsul oval lainnya. Sedetik, giliran kami yang

me-lesat masuk. Lenyap di dalam lorong-lorong kuno.

Armada

tempur Klan Bintang yang baru saja keluar dari

portal tidak bisa

masuk

ke lorong karena berukuran besar.

Gerakan mereka terhenti di langit-langit ruangan. Tapi benda terbang kecil yang muncul dari dasar padang rumput bisa. Se-telah

mengambang

sejenak di mulut lorong, mereka ikut masuk, mengejar kami.

"Ali, apa yang terjadi di belakang?" Suara Miss Selena

ter-dengar dan alat komunikasi.

"Benda terbang kecil itu mengejar kita. Miss f Ali berseru, memberitahu.

"Kalian bisa mengatasi merekar"

Ali tidak menjawab. Dia telah menekan sebuah tombol di

papan kemudi. II.

Y

mendesing pelan seperti sedang mengubah

posisi.

"Apa yang

kamu

lakukanr" aku berseru.

"Aku akan menghentikan benda terbang yang mengejar kita,

Raf

Sambil terus melaju cepat di dalam lorong, badan ILY ber-putar 180 derajat. Posisi jendela kaca berubah menghadap ke belakang.

Ini juga manuver yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Di depan kami sekarang benda-benda terbang Klan Bintang terlihat.

Jarak mereka sekitar dua ratus meter dan terus mendekat.

Me-reka bahkan mulai melepas tembakan. Cahaya-cahaya mematikan berdentum mengenai dinding-dinding lorong.

Posisi kami semakin dekat. Wajah Seli terlihat tegang.

"Kalian yang memintanya! Rasakan senjata pamungkas ILY f

Ali berkata dingin, menekan tombol.

Aku

dan Seli saling tatap.

Aku

kira akan melesat petir terang berwarna biru,

menghantam

kapsul di belakang kami, atau rudal berteknologi ringgi, atau senjata yang dramatis lainnya, ternyata

bukan. Setelah terdengar suara pendek tak bertenaga, sebuah gumpalan karet melenting keluar dari ILY, mengenai benda terbang di belakang kami. Tidak terjadi apa-apa. tidak ada dentuman kencang, apalagi ledakan seru seperti di film-film.

Benda terbang itu justru terus mengejar.

Ya

ampun?

Ali bergurau? Apanya yang senjata pamungkas?

Hanya

itu senjata yang dimiliki ILY versi 3.0? Permen karet?

Bagaimana kami bisa bertahan satu hari di Klan Bintang dengan teknologi seperti ini? Dia bilang kapsul ini lebih canggih.

'Sabar,

Raf

Ali nyengir lebar.

Sedetik berlalu. Entah apa yang terjadi, benda terbang di belakang kami mendadak terbanting ke dinding lorong, seperti kehilangan kendali,juga belasan benda terbang di belakangnya yang turut mengejar.

Semua

jatuh seperti burung kehilangan tenaga, atau seperti daun yang terlepas dari tangkainya, ber-guguran.

Astaga! Itu keren sekali.

EMP.

Ra!" Ali berseru

membanggakan

diri.

Aku

dan Scli saling tatap!

EMP?

Percuma saja

menembak

mereka dengan petir. Benda terbang itu punya tameng transparan milik Klan Bulan. Mereka bisa mengatasinya.

Aku menambah

amunisi ILY dengan granat

EMP.

eUaromagnctic pulsc.

Gumpalan

karet itu cukup mengenai target-nya, meledak pelan,

maka

jaringan listrik radius seratus meter

di sekitarnya seketika padam. Benda terbang itu. secanggih apa

pun teknologinya, tanpa listrik tak ubahnya kaleng rongsokan.

Mereka tidak bisa lagi mengejar kita.”

ILY mendesing pelan, berputar 180 derajat, posisi layar kaca kembali ke depan.

65

Aku

menelan ludah. Si biang kerok ini sepertinya telah ber-hitung matang sebelum kembali ke Klan Bintang.

‘Apa yang terjadi di belakang sana. Ali?" Miss Selena meng-hubungi dari kapsulnya.

Ali segera menjelaskan. Para pengejar telah dipukul jatuh.

Kapsul kami bisa melaju tanpa gangguan.

"Bagus sekali. Ali.”

‘Terima kasih, Miss!" Ali tersenyum bangga.

'Ikuti tiga kapsul oval. Terus melaju dengan kecepatan stabil

ke arah utara, Ali. Jika peta yang

kamu

berikan benar, kita

buruh

enam

jam hingga tiba di ruangan berikutnya."

'Siap laksanakan. Miss!" Ali menjawab pendek.

Seli meluruskan kakinya, berusaha lebih rileks. Sejak

ke-munculan portal raksasa. Seli tegang sekali. Tapi tidak ada lagi

yang mengejar kami, menyisakan dinding lorong kuno yang lengang dan gelap, dengan diameter

enam

meter.

Aku

memperhatikan layar di atas papan kemudi ILY, yang menampilkan peta Klan Bintang.

Ada

ruangan besar di ujung lorong ini. lapi itu bukan titik

tujuan kami. Kapsul kami masih melintasi lorong dengan garis

berwarna biru

lorong-lorong kuno level kedua. Peta ini bersifat

waktu terkini. Posisi kami terlihat di peta.

Hnam

jam lagi kami sampai di ruangan depan. Setiba di sana kami akan pindah ke lorong warna merah, lorong-lorong kuno level ketiga. Di ujung lorong merah itulah tempat pertama yang akan kami periksa.

Lima belas menit tanpa percakapan. ILY terus melaju di

lorong yang gelap dan lengang.

Hanya

cahaya dari kapsul-kapsul

kami yang

menimpa

dinding lorong,juga desing dan kapsul yang terdengar.

Ali melepaskan

mas

kemudi. Dia berdiri.

Eh?

Kamu mau

ke mana?" Seli refleks bertanya

maksud

Scli. bagaimana dengan kapsul terbang mereka jika Ali

me-ninggalkannya.

'Aku lapar. Sel," Ali menjawab santai. 'Aku sudah mengaktif-kan kemudi otomatis. Kapsulnya tidak akan menabrak din-dmg."

Si genius itu melangkah ke kotak besar di belakang.

'Ada yang

mau

roti?

Aku membawa

banyak makanan." Ali

mengeluarkan bungkusan roti.

Aku

dan Seli saling ratap, menggeleng. Ini baru pukul se-tengah lima pagi di kota kami, masih awal sekali untuk sa-rapan.

Ali

duduk

di atas kotak perbekalan,

membuka

bungkus roti besar. Dia

makan

dengan lahap.

“Sejak kemarin

malam

selera

makanku

buruk, Ra. Tidak sabaran

menunggu

berangkat,

membuatku

malas makan." Ali menjelaskan. "Setelah dikejar-kejar benda terbang tadi selera

makanku

pulih” Dia nyengir lebar.

Entahlah, aku harus bilang apa. Bagi Ali, petualangan kami mi mungkin hanya perjalanan biasa. Sejak dulu Ali selalu

san-tai.

‘Kita baru lima belas menit tiba di sini, dan sudah dikejar-kejar Pasukan Bintang. Perjalanan ini akan sulit sekali." Seli berkata pelan. "Bagaimana mereka tahu kita muncul di Ruangan Padang Rumput?"

"Kemungkinan besar karena mereka menugaskan benda

ter-bang kecil tadi untuk patroli di ruangan-ruangan Klan Bintang,"

Ali menjawab sambil mengunyah roti. "Saat portal terbuka, kita

muncul di sana, benda terbang itu bersembunyi di balik rerumputan, menghubungi Kota

Za

ramaraz. Menerima kabar

67

iru.

Dewan

Kota langsung

membuka

portal raksasa, mengirim

Armada Kedua

Klan Bintang. Melihat kita melarikan diri, benda terbang itu kemudian diperintahkan menyerang,

menahan

kita

selama mungkin."

"Itu berarti kedatangan kita di Klan Bintang telah dike-tahui.”

Ali mengangguk.

Bagaimana jika di ruangan depan mereka juga telah me-nunggu:" Wajah Seli tampak cemas.

"Mungkin saja. Tapi kita khawatirkan nanti-nanti saja. Sch.

Masih ada

enam

jam lagi sebelum kita riba di sana, jangan

membuat

selera

makanku

hilang lagi." Ali mengangkat bahu.

"Ali!" Seli melotot.

"Lihat peta di layar. Seli.

Hanya

ruangan yang tersambung dengan lorong kuno level pertama yang bisa terlihat bentuknya

di peta. Di luar itu. ruangannya hanya bintik-bintik kecil seperti layar televisi rusak. Nah. ruangan yang kita tuju hanyalah ruang-an lorong level kedua, mangan tanpa penghuni. Menurut

dugaan-ku. portal raksasa hanya didesain dibuka menuju ruangan yang tersambung lorong kuno level pertama, ruangan yang

ber-penghuni. Seperti Ruangan

Lembah

Hijau milik Foar. Ruangan Padang

Rumput,

Ruangan Penjara, mereka bisa mengirim armada tempur ke sana. Sedangkan di

mangan

lorong kuno level kedua, paling

cuma

benda-benda terbang kecil yang patroli.

Jangan khawatir, kapsul kita bisa mengatasinya."

Ali diam sejenak, kembali asyik mengunyah roti.

"Bicara soal khawatir, aku lebih mengkhawatirkan

Meer

seka-rang."

"Mccr?"

Yeah, jika dia belum pergi saat patroli riba di mangannya,

mungkin saja dia celah ditangkap Pasukan Bintang- Meski Mcer

tidak terlihat melawan

Dewan

Kota Zaramaraz secara Langsung, informasi yang dia ketahui bisa membahayakan rencana mereka.

Apalagi jika mereka mengetahui Meer memiliki serbuk api Klan Matahari, serta pernah

membantu

kita menyelinap ke Kota Zaramaraz. l’idak ada

ampun

baginya."

Seli

mengaduh

pelan.

Aku

sebenarnya berharap masih bisa bertemu Meer di pon-dok kayunya. Dia pasti tahu tentang pasak-pasak bumi. Bahkan mungkin dia juga tahu lokasi pasak bumi yang akan

diruntuh-kan. I’api mencari di

mana Meer

sekarang sama rumitnya

de-ngan mencari pasak tersebut."

Ali kembali ke kursi kemudi. Dia telah selesai makan.

Me-regangkan badannya sebentar, seperti sedang melakukan pemanas-an ringan. Ali lantas duduk, mengambil alih kemudi otomatis.

Aku

menatap ke luar jendela kaca II.Y. Tidak ada pemandang-an di sana selain lengang dan gelap. Seli benar, petjalanan ini

akan sulit. Lima belas menit pertama kami sudah harus

meng-hadapi Pasukan Bintang. Tapi, lagi-lagi, aku salah menduga, itu

jelas sekali belum masalah besar jika dibandingkan beberapa jam kemudian. Saat kami harus menyaksikan kehilangan anggota rombongan.

ILY terus melesat cepat melewati lorong-lorong kuno.

69

Dalam dokumen / f Mv. f.. &S v " 5 m (Halaman 59-70)