• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa penting bagi bisnis untuk menghormati HAM?

Dalam dokumen pedoman untuk perusahaan (Halaman 34-37)

dan mengapa ini penting?

1.3 Mengapa penting bagi bisnis untuk menghormati HAM?

melakukan ini semua sendirian. Kemungkinan besar Anda akan memerlukan bantuan dari rekan yang bekerja di fungsi atau departemen lain di perusahaan Anda. Kemungkinan lain adalah Anda akan memerlukan bantuan dari mitra dan organisasi ahli yang dapat diandalkan dari luar perusahaan, termasuk organisasi masyarakat sipil, serikat pekerja, organisasi internasional atau inisiatif multi pihak. Sebagai bagian dari prosesnya, Anda butuh melibatkan para pemangku kepentingan tersebut yang mungkin akan terkena dampak secara langsung oleh kegiatan perusahaan, mendengarkan mereka, dan mempertimbangkan sudut pandang mereka dalam proses pengambilan keputusan di perusahaan Anda.

1.3 Mengapa penting bagi bisnis untuk menghormati HAM?

Bisnis adalah mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang utama. Tetapi bisnis juga dapat berisiko terhadap HAM, merugikan orang-orang dan juga bisnis itu sendiri. Sekarang ini terdapat peningkatan kesadaran dan perhatian terhadap bagaimana perusahaan berdampak pada orang dan masyarakat di seluruh dunia. Hal ini meliputi perusahaan besar dan kecil di semua industri–

dari perusahaan pertambangan yang merelokasi masya rakat, sampai ke pedagang yang mendapatkan barang dari pemasok yang menggunakan pekerja anak, pabrik yang mencemari pasokan air, atau perusahaan yang menggunakan jasa pasukan keamanan yang menggunakan tindakan keras yang berlebihan.

Seperti yang sudah dijelaskan di dalam Prinsip-Prinsip Panduan PBB, menghormati HAM adalah tanggung jawab yang dimiliki semua perusahaan. Menghormati HAM juga semakin menjadi norma praktik bisnis. Misalnya, sejumlah pemerintah mengambil tindakan, yang meliputi:

Semakin banyak pemerintah yang mengembangkan Rencana Aksi Nasional tentang Bisnis dan HAM.

Sampai tahun 2016, ada 35 negara dengan beragam latar belakang telah mengembangkan atau sedang dalam proses mengembangkan Rencana Aksi Nasional untuk implementasi Prinsip-Prinsip Panduan PBB;1

Anda adalah kepala bidang keberlanjutan untuk sebuah perusahaan kertas dan bubur kertas besar di Indonesia. Perusahaan Anda memiliki sejarah konflik dengan masyarakat lokal karena penggunaan kawasan hutan di dalam operasi perusahaan dan pemasoknya. Anda mengetahui kalau kondisi ini berakibat buruk bagi masyarakat lokal dan juga bagi perusahaan. Apa yang bisa Anda lakukan?

1 Informasi tentang Rencana Aksi Nasional dapat ditemukan di situs internet Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM: www.goo.gl/itpqGj dan di situs internet Business & Human Rights Resource Centre: www.goo.gl/LKm7iH. ICAR dan DIHR telah membuat alat bantu untuk Rencana Aksi Nasional, yang tersedia di www.goo.gl/7auV8J.

PELAJARI LEBIH LANJUT TENTANG CERITA DARI INDONESIA DI BUSINESSRESPECTHUMANRIGHTS.ORG

Pedoman ini untuk siapa

dan mengapa ini penting? Apa tujuan pedoman ini?

35

Perkembangan hukum nasional di negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat sekarang mengharuskan pengungkapan upaya uji tuntas HAM terkait dengan risiko perbudakan dan perdagangan orang dalam rantai pasokan global, atau terkait dengan kegiatan berisiko tinggi lainnya, seperti penggunaan sumber daya mineral dari daerah konflik di sejumlah produk konsumen.

Instruksi Uni Eropa (UE) tentang pengungkapan infor-masi nonkeuangan, yang mana negara-negara anggota UE diharuskan untuk mengadopsinya ke dalam hukum nasional masing-masing, akan memperkuat kewajiban pengungkapan informasi terkait HAM bagi korporasi di seluruh Uni Eropa secara signifikan;

Bursa efek dan regulator di semakin banyak wilayah hukum, termasuk di India, Malaysia dan Afrika Selatan, mewajibkan atau mendorong pengungkapan secara lebih luas informasi terkait permasalahan-permasalahan – termasuk HAM.

Pemerintah Belanda memulai proses perundingan perjanjian di lusinan sektor berbeda yang melibatkan asosiasi industri, para anggotanya, OMS, serikat pekerja dan pemerintah demi mencapai kesepakatan baru untuk bisa menangani HAM dan risiko lain di rantai nilai global masing-masing sektor dengan lebih baik;

Badan-badan kredit ekspor nasional dan lembaga pembiayaan pembangunan di semakin banyak negara anggota OECD mencari cara untuk mengintegrasikan HAM ke dalam uji tuntas lingkungan dan sosial mereka;

Organisasi di tingkat kawasan, seperti Uni Eropa, Organisasi Negara-Negara Amerika dan Komisi HAM Antar Pemerintah ASEAN telah menegaskan Prinsip-Prinsip Panduan PBB sebagai referensi otoritatif global jika berbicara mengenai harapan terhadap pelaku bisnis tentang HAM;

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah mulai membahas perlunya inisiatif dan standar baru tentang tanggung jawab rantai pasokan, dengan mengacu pada Prinsip-Prinsip Panduan PBB.

Tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dan para pemangku kepentingan lain, termasuk:

Sejumlah perusahaan yang jumlahnya terus bertambah membuat komitmen eksplisit untuk menghormati HAM, seperti lebih dari 9000 perusahaan yang telah menanda-tangani Sepuluh Prinsip UN Global Compact2 (lihat Bab 4 untuk penjelasan tentang hubungan antara UN Global Compact dan Prinsip-Prinsip Panduan PBB), lebih dari 340 perusahaan yang telah menerbitkan kebijakan HAM, atau semakin banyaknya perusahaan yang melaporkan kinerja HAM-nya secara komprehensif;3

Anda adalah kepala bagian etis untuk sebuah bank di Afrika Selatan. Perusahaan Anda sudah memiliki sistem yang bagus tetapi Anda mengetahui bahwa masih ada yang perlu dilakukan untuk memenuhi tanggung jawab perusahaan untuk menghormati HAM.

Bagaimana Anda bisa mengajak rekan-rekan kerja Anda dan memperkuat sistem yang ada?

2 Sampai dengan Juni 2016: www.goo.gl/xIx2Nh.

3 Lihat www.goo.gl/GXK10R.

PELAJARI LEBIH LANJUT TENTANG CERITA DARI AFRIKA SELATAN DI BUSINESSRESPECTHUMANRIGHTS.ORG

36

Standar keberlanjutan internasional yang sekarang semakin diselaraskan dengan Prinsip-Prinsip Panduan PBB, termasuk:

Panduan OECD untuk Perusahaan Multinasional,

Standar ISO 26000 tentang Tanggung Jawab Sosial,

Kerangka dan Standar Kinerja Keberlanjutan dari International Finance Corporation;

Investor yang memiliki tanggung jawab sosial dengan nilai aset yang dikelola sebesar 4,8 triliun dollar AS mendukung kerangka pelaporan HAM yang lebih tegas serta upaya-upaya membuat tolak ukur untuk menilai perusahaan dengan menggunakan Prinsip-Prinsip Panduan PBB;4

OMS yang aktif di tingkat global dan lokal semakin sering meminta pertanggungjawaban perusahaan berdasarkan Prinsip-Prinsip Panduan PBB melalui kampanye-kampanyenya;

The International Bar Association (Perhimpunan Advokat Internasional) telah mengeluarkan pedoman untuk perhimpunan advokat nasional dan pengacara hukum bisnis tentang implementasi Prinsip-Prinsip Panduan PBB dalam praktik hukum.5

Kondisi yang setara tentang HAM bagi perusahaan perlahan mulai terbentuk. Ini merupakan berita baik, karena risiko bagi perusahaan nyata adanya:

Proyek bisnis ditunda, ditangguhkan atau dibatalkan karena adanya penolakan keras dari masyarakat lokal yang khawatir tentang dampak terhadap hak asasi mereka – seperti pada kasus ladang angin untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dalam cerita dari Meksiko di situs internet proyek ini.

Beban biaya konflik dengan pekerja dan masyarakat lokal termasuk ‘biaya yang tersembunyi’ misalnya waktu kerja karyawan, termasuk manajer senior, yang digunakan untuk mengelola konflik. Hal ini ditemukan di salah satu studi tentang proyek sektor ekstraktif sebagai salah satu biaya yang sering diabaikan ketika bicara tentang biaya konflik antara perusahaan dan masyarakat (lihat kotak di bawah ini).

4 Lihat www.goo.gl/jfRb6b.

5 Lihat www.goo.gl/HD4joF.

Pedoman ini untuk siapa

dan mengapa ini penting? Mengapa penting bagi bisnis untuk menghormati HAM?

37

Risiko terkait kepemilikan lahan diakui menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan di berbagai sektor. Sebuah studi tahun 2013 tentang konsesi lahan di ekonomi pasar yang sedang berkembang menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh konsesi yang diberikan membawa risiko bagi perusahaan yang berurusan dengan sengketa dengan masyarakat sehubungan dengan hak milik atau hak adat atas lahan tersebut.7 Kampanye Oxfam ‘Behind the Brands (Di Balik Merek)’ telah menyoroti hubungan antara perampasan lahan dengan merek-merek ternama,8 dan perusahaan seperti Coca-Cola, PepsiCo, Unilever dan lainnya sekarang mulai berkomitmen untuk menjalankan kebijakan ‘toleransi nol’ terhadap perampasan lahan, termasuk di rantai pasokan mereka.

Penggunaan tuntutan dan gugatan hukum kreatif terhadap perusahaan atas tuduhan keterlibatan dalam pelanggaran HAM, dari tuduhan tentang tanggung jawab perusahaan induk dalam kasus melawan perusahaan tambang Kanada atas tindakan anak perusahaannya di Guatemala, sampai kasus melawan Tate & Lyle, sebuahkonglomerat gula internasional, yang digugat di Pengadilan Tinggi Inggris oleh petani dari Kamboja karena penggusuran paksa yang dilakukan oleh dua

Dalam dokumen pedoman untuk perusahaan (Halaman 34-37)