• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengonsumsi Distorsi: Skena Ekstrem Metal Indonesia

Kemunculan musik metal di Indonesia pertama-tama difasilitasi oleh praktik konsumsi. Tentu saja musik metal tidak begitu saja jatuh dari langit. Ia hadir dalam suatu konteks sosial tertentu. Jeremy Wallach dalam buku Modern Noise, Fluid Genres:

Popular Music in Indonesia, 1997-2001 mencatat bahwa musik metal mulai muncul di

Indonesia di dekade 1990 an. Meski begitu, sebenarnya musik metal sudah muncul jauh sebelum dekade itu. Narendra menemukan bahwa musik metal sudah hadir di Indonesia sebelum dekade itu. Ia mencatat bahwa dekade 1990-an yang disebut oleh Wallach

74 Christe, 2004, Op. Cit. hal 336.

75 Noah Berlatsky. Sludge Metal: Doom’s Filthier Sibling. Diambil dari https://daily.bandcamp.com/lists/sludge-metal-list.

merupakan dekade di mana para penggemar musik metal di Indonesia mulai membangun skenanya sendiri, skena metal Indonesia. Sedangkan, di dekade sebelumnya hanya ada beberapa catatan mengenai beberapa album, band, dan festival musik rock di Indonesia. Dekade 1980-an lebih menjadi penanda adanya praktik konsumsi musik metal atau rock pada umumnya.

Praktik konsumsi musik rock juga perlu ditarik ke masa Orde Lama. Mengonsumsi musik rock saat itu dianggap sebagai sebuah praktik kontra-revolusioner. Sebab, Orde Lama menggaungkan semangat anti-“Barat” termasuk dalam konteks konsumsi musik. Presiden Soekarno saat itu bahkan menyebut musik dari “Barat” sebagai musik “ngak-ngik-ngok”. Artinya, konfrontasi atas imperialisme “Barat” tak hanya dilakukan dalam konteks politik internasional, tetapi juga dalam kebudayaan populer berupa musik dan film. Akibatnya, mengonsumsi musik populer dari “Barat”, termasuk musik rock, dianggap sebagai tindakan kontra revolusioner pada zaman itu. Semangat perlawanan yang melekat pada musik rock dianggap berseberangan dengan semangat perlawanan negara terhadap imperialisme.76 Stigma sebagai pendukung imperialisme barat pun kemudian menjadi implikasi kepada mereka yang mendengarkan ataupun memainkan musik “Barat” di era itu.

Pergantian Orde Lama ke Orde Baru menandai masuknya musik “Barat” ke Indonesia dengan leluasa. Konsumsi musik rock yang lebih masif menjadi salah satu implikasi pada perubahan ini. Mengutip Narendra, kaum muda seolah-olah memiliki “taman ria” gila-gilaan di dalam musik rock. Taman ria itu menjadi ekspresi baru bagi kaum muda selepas represi pemerintahan Soekarno terhadap kaum muda dengan

76 Yuka Dian Narendra & Gita Widya Laksmini Soerjoatdmojo. Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an. (Yogyakarta: Octopus Publishing, 2018), hal. 9.

kebijakan anti-Barat nya. Bukan sebuah kesalahan bila disebut sebagai Taman Ria.77 Di era 1970-an, konsumsi musik rock mencapai sebuah titik di mana band rock/heavy metal terkenal dunia pernah bermain di Jakarta. Band rock asal Inggris, Deep Purple, tampil di Indonesia pada tahun 1975 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Wendi Putranto, mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, mengatakan bahwa tampilnya Deep Purple itu menjadi penanda musik rock/metal lebih dikenal di kalangan anak-anak muda di Indonesia.

“Tahun 1975 dia (Deep Purple) pernah konser di GBK, 2 show waktu itu. Itu yang nonton 150 ribu, jadi bisa dibilang semua anak muda Indonesia nonton saat itu. Jadi berkat konser itulah nama Deep Purple lebih dikenal di Indonesia, karena itu konser rock kolosal pertama kali di Indonesia. Jadi, di situ kelihatan bahwa Deep Purple di tahun 1975 itu mempengaruhi band-band rock Indonesia, seperti God Bless. Mereka ngaku setelah konser Deep Purple itu banyak belajar showbiz dari Deep Purple”.78

Perkataan Wendi itu menunjukkan bahwa praktik konsumsi musik rock juga kemudian diikuti oleh produksinya. Band rock God Bless juga menjadi pembuka konser Deep Purple itu dan belajar tentang showbiz dari Deep Purple. Konser itu membuka pintu seluas-luasnya bagi heavy metal, yang di awal dekade 1970-an mulai berkembang, untuk juga masuk ke Indonesia. Black Sabbath menjadi band heavy metal pertama yang mulai didengar oleh banyak anak muda di era itu, termasuk di Indonesia.

“Sesuai yang gue tahu, metal masuk di Indonesia ketika Black Sabbath masuk di Indonesia juga, karena Black Sabbath salah satu pionir heavy metal. Dulu ada 3 band yang sangat berpengaruh di dunia yaitu Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Deep Purple. Tiga band itu di Indonesia juga sangat berpengaruh, cuma kalau di Indonesia posisinya dibalik, yang pertama Deep Purple, kedua Led Zeppelin, ketiga Black Sabbath. Kalau Deep Purple lebih ke hard rock, Led Zeppelin lebih blues rock, Black Sabbath menjadi heavy metal karena nada-nada yang diambil itu nada-nada yang miring, kegelapan, lebih gloomy, doom.”79

77 Ibid, hal. 11

78 Wawancara dengan Wendi Putranto di Lawless Jakarta, 23 April 2018.

Meski tidak pernah konser di Indonesia, nyatanya musik Black Sabbath lah yang menjadi tonggak masuknya musik heavy metal di Indonesia. Menurut Wendi, Indonesia sebenarnya ketinggalan dua tahun untuk mencicipi pertama kalinya musik heavy metal yang ditawarkan Black Sabbath. Album Black Sabbath yang bertajuk “Black Sabbath” yang dirilis tahun 1970 baru masuk sekitar tahun 1972-1973, dibawa oleh para pelajar yang belajar di luar negeri atau orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri lalu membawa pulang vinyl Black Sabbath. Kesusksesan Deep Purple bermain di Indonesia juga mengisnpsirasi anak-anak muda di Indonesia untuk membuat band rock.

Masuknya musik heavy metal lewat Black Sabbath dan band-band rock antara lain Led Zeppelin dan Deep Purple kemudian juga disusul oleh bentuk musik yang lebih ekstrim yaitu thrash metal. Pada dekade 1990-an terjadi ledakan metal di mana dua konser band thrash metal diadakan di Indonesia. Disebut ledakan metal sebab dua konser itu menjadi konser band metal di Indonesia yang jumlah penontonnya membludak. Konser pertama adalah band asal Brazil, Sepultura, yang dihelat di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1992. Konser kedua adalah dari band asal Amerika Serikat, Metallica, pada tahun 1993 di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Kedua konser ini dapat dibilang menjadi momentum yang penting bagi anak-anak muda penggemar musik metal di Indonesia. Selain karena penontonnya membludak, ledakan metal yang dimaksud adalah munculnya band-band metal lokal setelah adanya konser dari Sepultura dan Metallica itu. Kemunculan band-band metal ini juga tak lepas dari pelarangan konser rock/metal dari luar negeri. Pelarangan itu muncul karena konser Sepultura dan Metallica dibarengi oleh kerusuhan yang terjadi. Wendi menuturkan demikian mengenai rusuhnya dua konser itu:

“Yang bawa Sepultura dan Metallica tuh Setiawan Jody. Terjadi keributan pas Sepultura main di Surabaya yang akibatnya mereka cuma main delapan lagu. Kalau yang di Jakarta aman sih, cuma penontonnya waktu itu harus jalan jongkok

untuk masuk ke stadion. Itu termasuk konser yang mencekam. Bayangin aja jalan jongkok sepanjang 1 kilometer. Betapa enggak manusiawi sekali era itu. Untuk Metallica lebih ngeri lagi. Mereka kan main di Stadion Lebak Bulus. Di hari pertama itu rusuh karena banyak penonton yang enggak punya tiket nyoba buat jebol. Itu kan mereka terus dikejar-kejar polisi dan akhirnya rusuhnya merembet sampai ke Pondok Indah. Sepanjang jalan di Pondok Indah itu hancur. Penonton yang maksa masuk tapi enggak tembus akhirnya merembet keluar, merembet ke pedagang asongan lah, terus mobil-mobil dibakar, jadi mereka ini lebih sporadis. Sampai PIM-lah, itu di deket-deket PIM ada banner Toyota ancur, itu rumah-rumah di area PIM sampai ujung hancur, ya karena penonton itu yang lari, karena mereka dikejar polisi. Kan mereka lari sampai area Pondok Indah, diancurin itu kaca-kaca rumah, habis itu Pondok Indah.”80

Setelah konser Metallica, pemerintah Soeharto kemudian melarang adanya konser rock/metal dengan penampil dari luar negeri. Dikatakan oleh Wendi, dari tahun 1993 hingga 2001 tidak ada konser metal yang diselenggarakan di Indonesia denga npenampil dari luar negeri. Meski begitu, di era itulah kemudian muncul band-band metal lokal yang memainkan musik metal dengan pendekatan lebih ekstrim dan membentuk skena metal sendiri. Artinya, skena metal mulai berkembang di Indonesia di era itu. Wendi bahkan menyebut pertangahan era 1990-an sebagai kebangkitan generasi metal kedua setelah di era sebelumnya, lebih tepatnya akhir 1980-an band-band antara lain Rotor, Edane, dan Roxx menjadi band-band Indonesia awal yang mengusung musik metal. Di generasi kedua ini, band-band metal lebih condong memainkan musik metal yang ekstrim seperti death metal, black metal, grindcore, hingga metalcore. Di era itu, skena ekstrem metal ini juga dibarengi oleh kemunculan skena punk dan skena hardcore. Secara umum, skena musik keras ini juga disebut sebagai skena underground.

Dalam payung skena underground, skena ektrem metal tumbuh berkembang di berbagai kota besar di Pulau Jawa. Bandung menjadi salah satu kota yang terkenal akan

80 Wawancara dengan Wendi Putranto di Lawless Jakarta, 23 April 2018. Wendi Putranto juga menjadi salah seorang penonton di konser Metallica tersebut dan melihat secara langsung kerusakan-kerusakan yang terjadi seusai menyaksikan konser tersebut.

skena ekstrem metalnya. Daerah Ujungberung di Bandung menjadi cikal bakal adanya komunitas metal ekstrem itu. Funeral, Necromancy, Orthodox, Jasad, Toxic, dan Mocker Shit adalah enam band yang menjadi tonggak adanya komunitas ektrem metal yang kini lebih dikenal dengan nama Ujungberung Rebels.81 Uwo, vokalis sekaligus gitaris Funeral, mengatakan bahwa Bandung Indah Plaza menjadi tempat di mana penikmat musik death metal kala itu berkumpul sehingga praktik dan diskursus mengenai musik underground terjadi. Komunitas underground di Ujungberung dapat dikatakan muncul secara organik melalui kegiatan nongkrong seperti yang dikatakan oleh Uwo itu. Ini juga diamini oleh Addy Gembel, vokalis band Forgotten, yang dulu menjadi vokalis Toxic mengungkapkan bahwa mereka kala itu hanya memainkan musik metal saja dan komunitas itu muncul dengan sendirinya dan lama-lama semakin banyak baik itu penggemarnya maupun band-band yang muncul.82

Praktik bermusik atau nge-band menjadi penting dalam skena ini. Di awal-awal terbentuknya komunitas itu, band-band banyak menampilkan musik mereka di pentas seni sekolah karena mereka saat itu juga masih duduk di bangku SMA dan SMP. Seiring berjalannya waktu, tahun 1994 terjadi satu momen yang penting bagi skena underground di Bandung ini. Konser musik underground bertajuk Hullabalo digelar untuk pertama kalinya di GOR Saparua. Hullabalo menjadi penting sebab praktik musik underground bisa terjadi dalam skala yang lebih besar. Hullaballo tak hanya menampilkan band-band ekstrem metal, tetapi band-band hardcore, punk, hingga pop juga ikut serta. Hullabalo menjadi inspirasi bagi komunitas Ujungberung Rebels untuk membuat acara mereka sendiri dan secara penuh menampilkan musik ekstrem metal. Maka, di tahun 1995 mereka

81 Iman Rahman Anggawiria Kusumah. Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur. (Bandung: Minor Books, 2012), hal. 23.

menggelar acara dengan tajuk Bandung Berisik. Acara ini juga menginspirasi beberapa konser lainnya antara lain Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest.83 Bandung menjadi barometer musik ekstrem di Indonesia. Ratusan band metal lahir di skena ini. Band Jasad dan Burgerkill menjadi dua band aktif dari komunitas Ujungberung Rebels yang kini memiliki basis penggemar paling banyak di Indonesia. Mereka juga telah bermain di festival-festival metal besar dunia anatar lain di Wacken Open Air di Jerman, Bloodstock Festival di Inggris, dan Obscene Ekstreme Fest di Ceko. Burgerkill di tahun 2019 bahkan menjalani tur di Amerika Serikat. Wendi Putranto menyebut bahwa Ujungberung menjadi lokasi pergerakan skena metal yang penting di Indonesia. Bukan saja mewakili Bandung, tetapi seluruh Indonesia.84

Kemunculan komunitas ekstrem metal di Ujungberung lantas juga dibarengi oleh kota-kota lain terutama di Pulau Jawa. Jakarta, Surabaya, Kediri, Solo, Malang, Yogyakarta adalah kota-kota di mana ekstrem metal mulai banyak digemari di era itu. Bali juga membentuk komunitas ekstrem metal mereka sendiri.85 Uniknya, antar komunitas atau skena ini juga saling terhubung melalui siaran radio, acara-acara konser, dan yang paling utama adalah zine.86 Selain itu, di tahun 1997 juga ada sebuah kaset kompilasi berjudul Metalik Klinik. Kompilasi ini disponsori Musica Studios. Menurut Wendi Putranto, Metalik Klinik yang merupakan album kompilasi berskala nasional berperan sangat penting dalam membuat sebuah jaringan metal antar band-band ekstrem metal di berbagai kota di Indonesia. Sebab, kompilasi itu memungkinkan band-band di berbagai kota untuk mengirimkan satu lagu mereka dan ketika berhasil masuk, nama band

83 Lihat dalam https://fajarbrutaldeath.wordpress.com/bahan-ajar/sejarah/awal-perkembangan-musik-underground-indonesia/

84 Andoko, 2019, Op. Cit.

85 Emma Baulch. Making Genres: Reggae, Punk, and Death Metal in 1990s Bali. (Durham: Duke University Press, 2007).

mereka juga akan diketahui tak hanya oleh penggemar, tetapi juga oleh band-ban dlain yang masuk dalam kompilasi itu. Metalik Klinik sebagai sebuah album kompilasi musik ekstrem metal mencapai kesuksesan besar dan dirilis hingga edisi ke-9.

“Di kompilasi Metaliklinik yang pertama ada Betrayer, Tengkorak, Purgatory, Death Vomit, Trauma, dan lain-lain. Nah waktu itu album Metaliklinik ketika dirilis kabarnya laku sampai 100 juta copy, dan itu jadi gebrakan yang gila-gilaan. Harus diakui album kompilasi itu jadi penting buat mengekspos musik metal ke tingkat nasional. Jadi orang tahu ada kompilasi yang kayak gini band-bandnya dan itu laku”.87

Mereka, melalui berbagai cara itu, membentuk sebuah komunitas terbayang alternatif dalam payung ekstrem metal. Band-band ekstrem metal yang kini tergolong legendaris pun lahir dari skena-skena tiap kota itu. Sucker Head, Ritual Doom, Tengkorak, Trauma, Betrayer, dan Siksakubur menjadi band-band yang lahir di skena Jakarta. Yogyakarta yang menamakan komunitas mereka dengan Jogjakarta Corpse Grinder (JCG) memunculkan nama-nama antara lain Death Vomit, Cranial Inscisored, Detritivor, dan Venomed. Surabaya memunculkan nama-nama antara lain Slowdeath, The Sinners, dan Klepto Opera. Sementara itu, Extreme Decay mewakili Malang dalam ranah ekstrem metal. Skena Kediri yang bernama Kediri Death Metal Kingdom memunculkan nama-nama semacam Immortal Rites, Demented Heart, Kilharmonis, hingga Tenggorokan. Solo terkenal dengan komunitas black metal-nya. Bandoso dan Makam adalah dua band Black Metal yang lahir di Solo di era itu.