Judul: Menjadi waspada dan berjaga
Orang Farisi dan Saduki berseberangan dalam hal pengajaran. Orang Farisi menekankan ajaran Musa, dan tradisi Yahudi, sedangkan orang Saduki meski mengajarkan ajaran Musa, tetapi menolak tradisi Yahudi. Kali ini mereka tampak rukun mencobai Yesus dengan meminta tanda (1). Apakah perbuatan ajaib Yesus yang mereka saksikan tidak cukup meyakinkan?
Teguran Yesus kepada mereka sebagai angkatan jahat dan tidak setia bukan mempermasalahkan kepandaian mereka. Mereka tahu membaca cuaca, tetapi tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Mereka tidak bisa menghubungkan apa yang mereka temukan pada Taurat mengenai Mesias telah hadir dalam diri Yesus. Masalah mereka adalah tidak mau menerima konsekuensi kalau mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah. Itulah sebabnya Yesus menjawab dengan tidak memberikan tanda lain karena bagi mereka sudah ada kesaksian nabi Yunus. Kisah nabi yang keras kepala walau melihat pertobatan Niniwe seharusnya menggugah hati mereka sehingga bertobat.
Yesus juga mengingatkan para murid agar waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki, yaitu ajaran orang Farisi dan Saduki. Para murid semula salah mengartikan maksud Yesus tersebut karena pikiran mereka terpaku pada kebutuhan jasmani. Yesus pun menegur mereka. Kebutuhan fisik telah membutakan mereka akan makna sesungguhnya tentang peringatan Sang Guru. Di abad duapuluh satu ini kita diperhadapkan pada tantangan untuk dapat mengaitkan iman dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai ajaran dari pengajar yang mengaku Kristen muncul dengan gaya yang memesona. Sebenarnya kalau kita terbiasa belajar firman Tuhan, kita pasti bisa membedakan manakah ajaran yang benar, yang Alkitabiah dan mana yang salah. Namun, seringkali kebutuhan fisik kita membelokkan arah iman kita kepada pengajaran yang mudah dicerna dan yang tidak sesuai iman kristiani. Kita kompromi dengan cara yang ditawarkan dunia. Hati-hati! Apakah kita harus menerima tanda Yunus, baru bertobat?
Diskusi renungan ini di Facebook:
58 Kamis, 14 Februari 2013 Bacaan : Matius 16:13-20
(14-2-2013)
Matius 16:13-20
Pengakuan iman
Judul: Pengakuan iman
Biasanya orang karena bergaul akrab akan mengenal sahabatnya lebih dekat, dan dapat
mendeskripsikan sahabatnya itu. Hidup para murid semakin dekat dengan Yesus. Mereka telah melihat karya Yesus saat mereka menemani Yesus melayani. Seharusnya, mereka semakin tahu siapa sebenarnya Sang Guru itu. Benarkah para murid demikian? Bukankah baru saja mereka salah mengerti nasihat Yesus mengenai ragi?
Strategi Yesus untuk mendapatkan pengakuan jujur para murid adalah dengan lebih dahulu menanyakan pandangan orang lain mengenai diri-Nya (13). Baru kemudian Yesus menanyakan pandangan atau pengenalan para murid secara pribadi. Simon Petrus mewakili para murid menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (16). Yesus menyebut Simon berbahagia bukan karena kemampuannya menjawab tepat melainkan karena ia telah menerima anugerah penyataan Allah Bapa. Dengan pengenalan yang benar akan Mesias, tanggung jawab memimpin jemaat juga diberikan. Petrus, dipercaya memimpin para rasul untuk menggembalakan gereja. Sedangkan gereja itu sendiri didirikan atas dasar Yesus. Perhatikan kata Petrus yang berarti batu (Yun. Petros) sedangkan kata batu karang (Yun. Petra) artinya batu karang yang besar. Petrus dan para rasul diberi otoritas untuk mengelolanya (19).
Bergaul akrab dengan Yesus secara fisik ternyata tidak cukup untuk mengenal Dia secara tepat. Perlu penyataan dari Allah. Buktinya, Petrus masih salah mengerti misi Yesus (22). Sebelum bisa bergaul akrab dengan Yesus seseorang perlu memiliki relasi hidup dengan-Nya. Pengakuan iman Petrus yang mewakili para rasul menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki relasi yang benar dengan Yesus.
Dengan relasi yang benar, kita harus hidup akrab dengan Yesus yaitu dengan membaca dan merenungkan firman-Nya. Kehidupan yang akrab melalui firman-Nya akan mengokohkan pengakuan iman yang keluar dari hati dan pikiran yang paling dalam. Pengakuan yang benar diiringi oleh tindakan yang tepat membuktikan bahwa kita adalah pengikut Yesus yang sejati.
Diskusi renungan ini di Facebook:
59 Jumat, 15 Februari 2013 Bacaan : Matius 16:21-28
(15-2-2013)
Matius 16:21-28
Meniru Yesus
Judul: Meniru Yesus
Entah apa yang dipikirkan Petrus setelah pengakuan imannya dipuji Sang Guru. Kenyataannya, Yesus menegur Petrus dengan keras (23) karena responsnya yang menolak bahwa Mesias harus menderita bahkan mati sebelum bangkit di hari ketiga (21-22).
Pendapat Petrus sangat manusiawi karena di baliknya, ia memiliki skenario tersendiri. Baginya Yesus adalah Mesias yang akan membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi. Impian mesianik ini adalah impian seluruh orang Yahudi pada saat itu. Namun, apa yang dipikirkan Petrus bukanlah pikiran Allah melainkan pikiran Iblis yang berpotensi mengacaukan misi Yesus. Yesus menegaskan kepada para murid pentingnya mereka mengikut Dia. Mengikut Yesus berarti hidup menyangkal diri dan memikul salib (24). Menyangkal diri dan memikul salib sama dengan bersedia kehilangan nyawa karena Yesus. Sebaliknya mempertahankan nyawa sedemikian sampai menyangkal Yesus berarti menolak mengikut Yesus. Yesus memberikan perbandingan, apa artinya mempertahankan nyawa dengan cara beroleh seisi dunia, tetapi justru kehilangan nyawa. Karena tidak ada harta seisi dunia yang bisa menjamin nyawa manusia. Sebaliknya kalau bersedia mengikut Yesus walaupun risikonya dibunuh oleh dunia ini, nyawanya akan
diselamatkan oleh Yesus. Hidup selama-lamanya di bumi bukan menjadi tujuan utama hidup pengikut-Nya. Pengikut Yesus bukan mencari kemuliaaan dunia melainkan kemuliaan surgawi yang akan Yesus berikan sebagai upah bagi pengikut yang setia, saat Yesus datang dalam kemuliaan Bapa.
Menjadi murid Yesus harus siap menerima tantangan yaitu godaan untuk menghalalkan segala cara dalam berbagai sendi kehidupan sehingga identitas Kristen jadi kabur bahkan jadi batu sandungan bagi orang lain. Orang Kristen yang lebih senang mengikuti gaya dunia akan kehilangan makna hidup sebagai pengikut Kristus. Apakah itu kehidupan yang sedang kita jalani? Sejatinya hidup kristiani kita meniru Yesus. Berani kehilangan nyawa karena kebenaran dan demi upah kemuliaan surga yang Yesus janjikan.
Diskusi renungan ini di Facebook:
60 Sabtu, 16 Februari 2013
Bacaan : Matius 17:1-13