P
ak Harto memenuhi amanah MPRS yang diembannya untuk menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) selambat-lambatnya pada 5 Juli 1971. Penyelengaraan Pemilu pertama pada masa Orde Baru itu digelar dua hari sebelum tenggat waktu, tepatnya 3 Juli 1971. Pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang No. 15 tahun 1969 tentang Pemilihan Umum Annggota Badan Permusyawaratan/ Perwakilan Rakyat dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Pemilu diikuti oleh organisasi politik dan golongan karya. serta melibatkan 58 juta rakyat yang memiliki hak pilih. Pada hari itu, 58 juta rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih mendatangi bilik-bilik suara untuk menntukan wakil-wakil mereka di DPR, DPDRD Tingakt I dan DPRD Tingkat II. Berbeda dengan Pemilu tahun 1955, dalam Pemilu kali ini anggota ABRI tidak menggunakan hak pilihnya, sebagai gantinya perwakilan ABRI diangkat langsung.Dalam Pemilu ini Golongan Karya berhasil meraih kursi terbanyak untuk DPR (236 kursi), disusul oleh Partai Nahdatul Ulama (58 kursi), Partai
69
Menyederhanakan Partai Politik
Muslimin Indonesia (24 kursi), PNI (20 kursi), dan Partai Sarekat islam Indonesia (10 kursi), sisanya dibagi untuk Partai Kristen Indonesia (7 kursi), Partai Katolik (3 kursi), dan Partai Islam PERTI (2 kursi). Sementara MURBA dan Partai IPKI tidak mendapatkan kursi.
Tentang penyelenggaraan Pemilu itu sendiri Pak Harto punya pandangan: “Saya menyadari bahwa untuk menyehatkan kehidupan
demokrasi, pemilu memang bukan satu-satunya alat. Meskipun demikian, pemilu adalah alat yang paling penting, yang sesuai dengan keinginan hati nurani kita semua. Justru melalui pemilu inilah rakyat sendiri daat secara langsung, aktif memilih wakil-wakilnya yang dipercaya. Apakah dengan selesainya pemilu kehidupan demokrasi kita benar-benar tumbuh dengan sehat? Jawabnya, bergantung pada kita sendiri, pada pemimpin-pemimpin partai politik, pada pemimpin-pemimpin-pemimpin-pemimpin organisasi karya, pada kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat, dan kepada seluruh rakyat”.
Keberhasilan penyelenggaraan Pemilu tahun 1971 menandai pula keberhasilan Pemerintah Orde Baru membangun tatanan politik baru yang berusaha konsisten dengan apa yang telah dimuat dalam Pancasila dan UUD 1945. Termasuk dalam hal ini, hadirnya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang kompoisi anggota mengikuti ketentuan yang baru. Terdiri atas 920 orang, berasal dari seluruh anggota DPR (460), utusan daerah yang dipilih oleh DPRD Tingkat 1 (130), utusan partai politik dan Golongan Karya menurut perimbangan hasil Pemilu DPR (123), dan yang diangkat mewakili golongan, ABRI, danbukan ABRI (207), serta partai-partai yang tidak berhasil meraih kursi dalam DPR sedikitnya mendapat 1 kursi dalam MPR. Mereka secara resmi dilantik pada 1 Oktober 1972.
“Sidang umum MPR dilangsungkan,” demikian Pak Harto mengenang peristiwa bersejarah itu, ”saya mengucapkan pidato
pertanggungja-waban saya sebagai Presiden/Mandataris MPR atas apa yang sudah kami laksanakan dalam periode 1966-1973. Dan pidato pertanggungjawaban ini adalah yang pertama dalam sejarah ketatanegaraan RI sejak
Proklamasi RI 28 tahun yang lalu. Suatu penghormatan bagi saya dapat merintis jalan bagi pelaksanaan kehidupan konstitusional yang setepat-tepatnya dengan semangat UUD 1945.” Dan dalam permusyawaratan
yang digelar MPR, pada 23 Maret 1973 Pak Harto terpilih dan diangkat kembali menjadi Presiden masa bakti 1973-1978. MPR juga memilih Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Wakil Presiden.
Merenungkan hasil Pemilu tahun 1971 dikaitkan dengan penciptaan stabilitas politik yang menjadi persyaratan mutlak bagi keberhasilan pembangunan ekonomi yang tengah dijalankannya, Pak Harto melangkah maju dengan sebuah inisiatif yang berani: penyederhanaan partai politik. Pak Harto memulai inisiatif ini dengan argumentasinya tentang konsensus nasional. Dikatakan oleh Pak Harto bahwa ada dua macam konsensus nasional, yang pertama ialah konsensus utama berupa tekad bulat bangsa Indonesia untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Menurutnya konsensus ini muncul secara spontan dan berhasil dicapai menyusul lahirnya Orde Baru. Sedangkan konsensus kedua ialah mengenai cara-cara melaksanakan yang pertama. Ini butuh proses panjang dan banyak pertimbangan yang berasal dari berbagai pihak. Masih menurut Pak Harto, setelah melalui proses ketatanegaraan yang panjang dan berliku, konsensus nasional yang kedua itu baru terwujud pada tahun 1983 ketika Pancasila ditetapkan sebagai satu-satunya asas.
Dalam kerangka mewujudkan konsensus-konsensus nasional itulah, Pak Harto mengambil inisiatif untuk melakukan penyederhanaan partai politik. Sebenarnya gagasan itu sudah dicoba pada Pemilu 1971, namun kondisinya masih belum memungkinkan. Namun pada masa berikutnya, Pak Harto terus membangun dialog dengan para pemimpin partai dan tokoh-tokoh nasional akan perlunya penyederhanaan partai. Dalam meyakinkan para tokoh bangsa tersebut, Pak Harto menggunakan argumentasi sebagai berikut: “Apa sebenarnya cita-cita
hidup kita? Itu pertanyaan yang saya lontarkan. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yang maha Esa, percaya kepada akhirat, tetapi
71
Menyederhanakan Partai Politik
melihat juga masalah yang riil di dunia, maka sebenarnya kita harus berpikir mengenai masalah dunia dan akhirat. Jadi soalnya, bagaimana kita harus hidup bersama sebagai manusia yang utuh, lahir dan batin, materiel dan spiritual, dunia dan akhirat itu? Kalau demikian halnya, saya tegaskan, marilah kita buat rencana kerja mengenai kehidupan di dunia dan di akhirat, yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.”
Pak Harto mengelaborasi fondasi gagasannya itu ke dalam format penyederhanaan politik yang dikehendakinya: “Tinggal kita menetapkan
rencananya. Yang mau menonjolkan dunianya, silakan tetapi tidak boleh melupakan akhiratnya. Yang mau menonjolkan materielnya, silakan tetapi tidak boleh melupakan spiritualnya; itu tidak lengkap, tidak mau menyadari bahwa kita berdasarkan materiel dan spiritual. Begitu juga mereka yang mau menonjolkan spiritualnya, jangan sekali-sekali meninggalkan materielnya. Sebaiknya ada juga yang selalu menjaga keseimbangan materiel-spiritual atau sebaliknya, spiritual/meteriel. Dengan demikian, maka kita sampai pada pikiran, cukuplah kita adakan dua kelompok saja dari sembilan partai ditambah satu kelompok dari golongan karya.”
Tak bisa dipungkiri, argumentasi tersebut sangat mengena. Para pemimpin partai akhirnya menyepakati penyederhanaan partai-partai politik dimaksud. Partai-partai Islam memilih untuk memperjuangkan program-program yang spiritual-materiel, mereka meleburkan diri ke dalam sebuah partai baru yang diberi nama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sementara partai-partai nasionalis, IPKI, Murba bersama Partai Katolik dan Partai Kristen Indonesia memilih untuk memperjuangkan program-program yang materiel-spiritual. Untuk itu mereka bergabung ke dalam partai baru yang diberi nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sedangkan Sekber Golkar memilih untuk memperjuangkan kesimbangan spiritual-materiel yang mewujud dalam Golongan Karya.
Penyederhanaan partai-partai ini terbukti efektif dalam mewujudkan stabilitas politik sepanjang masa Orde Baru. Hal yang demikian
sesungguhnya telah dipraktikkan oleh negara-negara maju di dunia, baik Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, maupun Prancis memiliki partai politik dalam jumlah yang sederhana. Yang dengan demikian maka stabilitas politik tetap terjaga demi kelangsungan pengembangan ekonomi dari bangsa-bangsa tersebut.***
73
50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia & Dunia