• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menyehatkan Rakyat

Dalam dokumen 50 Inisiatif Pak Harto Buku 02 [Draft] (Halaman 110-115)

15

H

ealth for All Gold Medal Award merupakan nama medali yang diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada pemimpin negara yang dinilai sukses membangun kesehatan bangsanya. Pak Harto sebagai Presiden RI berhasil memperolehnya pada 18 Februari 1991. Medali tersebut diberikan karena kepeloporan Pak Harto dalam menangani masalah-masalah kesehatan rakyatnya. Betapa tidak, Sejak rakyat mengamanatkan kepadanya untuk memimpin bangsa Indonesia, masalah kesehatan merupakan salah satu prioritas dalam program pembangunan yang dijalankanya. Kesehatan telah masuk menjadi program prioritas pada Repelita I (1969-1973) dan terus menerus diperjuangkan kesinambungannya sepanjang masa baktinya sebagai Presiden RI. Hasilnya tak dapat dipungkiri, Jika angka harapan hidup bangsa Indonesia pada awal Repelita I adalah 45,7 tahun maka pada tahun 1990 meningkat menjadi 62,7 tahun. Sementara angka kematian bayi per 1000 menurun dari 145 pada tahun 1970-an menjadi 58 pada akhir tahun 1990-an. Demikian pula angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran mengalami penurunan yang luar biasa dari 450 pada 1986 menjadi 425 pada tahun 1992. Keberhasilan

75

Menyehatkan Rakyat

ini juga ditopang oleh indikator-indikator lainnya, yang menunjukkan inisiatif dan komitmen Pak Harto dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya melalui bidang kesehatan. “memang saya sendiri turun

tangan dalam hal ini. Saya mesti turun ke lapangan menangani masalah ini. Dan tak boleh bosan, tak bolehjenuh. Sampai-sampai saya dan istri saya meminumkan sendiri cairan polio kepada beberapa bayi dlam rangka menggalakkan program imunisasi di tanah air. Itu usaha, usaha kita bersama, dalam mengatasi masalah yang sangat pokok di negeri ini.”

Pada masa Pemerintahan Pak Harto terdapat sejumlah inovasi pembangunan di bidang kesehatan yang memiliki andil besar diraihnya medali dari WHO ini.

Pertama, Program Keluarga Berencana. Meski dirancang sebagai usaha pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk, namun aktivitas yang dikembangkan sangat erat dengan perbaikan derajat kesehatan ibu dan anak. Memang Indonesia berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk dari 2,3% pada periode 1970-1980 menjadi 1,66% pada tahun 1990-an. Sementara angka kematian turun dari 19,1 per 1000 penduduk pada 1967-1970 menjadi 7,9 per 1000 pada tahun 1993. Dan angka kelahiran total per wanita menurun dari 5,6 anak pada 1967-1970 menjadi 2,87 anak pada tahun 1990-an. Hal ni dicapai ini antara lain karena keberhasilan Pak Harto menggalang dukungan dari tokoh agamawan dan kelompok masyarakat lainnya, pengorganisasian pelaksanaan program yang efektif oleh suatu lembaga yang dibangun khusus untuk itu yakni BKKBN, dan kampanye komunikasi yang massif dalam rangka menjadikan KB sebagai gaya hidup. Khusus untuk program pengendalian penduduk ini Pak Harto sebagai Presiden RI diganjar dengan penghargaan kependudukan dari UNDP pada tahun 1989.

Kedua, Mencegah dan membasimi penyakit dengan Imunisasi. Masih terkait dengan penanganan kesehatan, utamanya kesehatan ibu dan anak, salah satu program yang secar intensif dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru ialah program imunisasi nasional. Jika pada

tahun 1956 telah dijalankan program imunisasi cacar, maka pada tahun 1973 dilakukan imunisasi BCG untuk mengatasi tuberkolosis, pada 1974 pemerintah menggelar imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil. Sukses dengan serangkaian program itu, Pemerintah pada 1976 menjalankan program imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus). Memasuki tahun 1981 lebihagresif lagi dengan menjalankan program imunisasi nasional untuk polio, dilanjutkan dengan imunisasi campak pada 1982, dan pada 1997 dimulai program imunisisasi hepatitis. Pak Harto berhasil membangun kesehatan dengan melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit melalui imunisasi yang secara nasional cakupan imunisasi lengkap telah mencapai 89,9% pada 1992-1993. Cakupan ini jelas lebih tinggi dari yang ditetapkan WHO secara internasional yakni 80%.

Ketiga, Membangun Puskesmas di seluruh pelosok negeri. Kehadiran Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) telah dirintis sejumlah pakar kesehatan pada masa Orde Lama. Namun pengembangan Puskesmas sebagai instrumen pemerintah dalam mengorganisasi pelayanan kesehatan secara terpadu dan merata di seluruh pelosok negeri mulai dijalankan pada masa Pemerintahan Orde Baru. Pada awal Repelita I Pemerintah jumlah Puskesmas yang berhasil dibangun 1227 unit maka pada tahun 1998 jumlahnya telah mencapai 7181 unit. Puskesmas menjadi instrumen tak tergantikan bagi Pemerintah dalam melakukan pelayanan kesehatan secara terpadu dan merata di seluruh negeri.

Keempat, Pendidikan dan Penyebaran Tenaga Medis. Komitmen Pak Harto memberikan pelayanan kesehatan hingga ke pelosok negeri membutuhkan ketersediaan sarana dan tenaga medis yang memadai, terutama dokter dan paramedis. Dalam kerangka itulah, Pemerintah mendorong dibukanya program pendidikan di bidang kedokteran maupun tenaga kesehatan lainnnya (perawat, bidan, apoteker, dan lainnya). Selain itu, Pemerintah menggelar program IDT (Instruksi Presiden untuk Desa Tertinggal) yakni program yang menempatkan dokter-dokter (yang baru lulus dari pendidikan) di daerah-daerah

77

Menyehatkan Rakyat

tertinggal. Program yang dimulai 1 April 1994 terbukti efektif menyediakan tenaga dokter di puskesmas-puskesmas maupun rumah sakit-rumah sakit yang jauh di pelosok negeri. Para dokter tersebut diposisikan sebagai Dokter PTT (Pegawai Tidak tetap) dengan masa kerja 1 tahun (khusus untuk daerah yang sangat terpencil hanya 6 bulan), dan bisa diperpanjang. Tak hanya Inpres untuk dokter, Pak Harto juga menerbitkan Inpres untuk Bidan serta mendorong digelarnya pendidikan kebidanan di banyak daerah, guna mencukupi kebutuhan tenaga medis bagi pelaksanaan program KB yang saat itu semakin pesat. Kelima, Melibatkan Masyarakat dalam pengembangan kesehatan lewat Posyandu. Tidak cukup dengan penyediaan sarana Puskesmas, Pemerintah Orde Baru juga mengajak masyarakat untuk berperan serta dalam meningkatkan kesehatannya. Dalam konteks ini, pihak masyarakat yang dipandang paling utama dalam penanganan kesehatan di keluarga adalah ibu-ibu rumahtangga. Mereka inilah yang digerakkan untuk berperan aktif dalam sebuah instrumen kesehatan masyarakat yang disebut Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu). Posyandu dikembangkan dari pos penimbangan dan karang gizi yang telah berlangsung sebelumnya. Posyandu dibangun di tingkat unit kecil masayarakat baik di RT/RW atau kampung, dengan menjalankan 5 program yakni pelayanan Kesehatan ibu anak, keluarga berencana, pembinaan gizi keluarga, penanggulangan penyakit, dan imunisasi. Ibu-ibu PKK serta istri-istri pejabat pemerintahan didorong untuk menjadi motor penggerak dari aktivitas Posyandu yang berada di lingkungannya. Keenam, mempromosikan peningkatan gizi keluarga. Anak-anak yang hidup pada masa pemerintahan Orde Baru sudah pasti mengingat dan menghafal jargon Empat Sehat-Lima Sempurna. Sebuah jargon yang telah dipromosikan sejak tahun 1955 mendapat tempat khusus pada masa Pemerintahan Orde Baru dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan gizi bangsa Indonesia. Dalam kaitan itulah, secara intensif dipromosikan berbagai program yang memungkinkan keluarga-keluarga Indonesia yang sebagian besar masih hidup dalam kondisi ekonpmi terbatas tetap dapat mencukupi kebutuhan dasar

gizi anggota keluarganya. Program ini terutama dilakukan melalui pemberian makanan tambahan di sekolah-sekolah dasar, mendorong terbangunnya karang gizi oleh Posyandu, hingga penyelenggaraan pendidikan gizi keluarga bagi anggota PKK, termasuk mendorong keanekaragaman pangan yang bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok keluarga.

Medali Emas Sehat untuk Semua diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal WHO Dr. Horishi Nakayima, di Jakarta pada 18 februari 1991. Menyusul setelah penyerahan medali tersebut, Pak Harto menggelar Rapat Kerja Nasional Kesehatan 1991 di tempat yang sama. Dalam kesempatan itu Pak Harto berujar: ” GBHN kita juga memberi petunjuk

agar pembangunan kesehatan terutama ditujukan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Untuk melaksanakanpetunjuk itu, pembangunan kesehatan harus lebih diarahkan kepada masyarakat di daerah terpencil dan derah kumuh perkotaan yang belum menikmati pelayanan kesehatan yang memadai. Bersamaan dengan itu harus terus diperbaiki mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Yang perlu ditingkatkan lagi adalah kemampuan teknis dan kemampuan manejementenaga-tenaga kesehatan di semua tingkatan.”***

79

50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia & Dunia

Memang saya sendiri turun tangan dalam

Dalam dokumen 50 Inisiatif Pak Harto Buku 02 [Draft] (Halaman 110-115)