• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.8 Metode Penelitian

1.8.1. Tipe Penelitian

Penelitian ini digunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif ditujukan untuk :

1. Mengumpulkan informasi secara aktual dan terperinci, 2. Mengidentifikasikan masalah,

3. Membuat perbandingan atau evaluasi,

4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk

menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara holistik (utuh).

Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan (Moeloeng, 2007).

Adapun sifat dari penelitian ini adalah deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/ obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan-lapangan, foto, video tape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya (Moeloeng, 2007).

Digunakaanya pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang lebih detail dari hasil penelitian yang di dapatkan. Selain itu pendekatan ini juga menjadikan individu dan organisasi tempat penelitian tidak terpisah dan menjadi satu, sehingga semakin memudahkan peneliti untuk memnerikan gambaran yang lebih terperinci.

Dengan didukung dengan pendekatan deskriptif, diharapkan dengan setiap

kata yang muncul menjadikan pembaca lebih mengerti dan memahami isi dan maksud dari skripsi ini.

1.8.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki populasi tersebut, pengambilan sampel yang dilakukan harus mewakili populasi atau harus representative (Sugiyono, 2007). Sampel yang diambil baik dalam melakukan wawancara maupun dalam penyebaran kuisioner adalah diambil dengann purposive sampling yaitu sampel dengan menggunakan pertimbangan/tujuan tertentu. Dalam hal ini peneliti menggunakan single case dengan pertimbangan untuk melihat keefektivitaan dari sudut pandang pelaksana program kesehatan dan keselamatan kerja. Sehingga sampel utama dari penelitian ini adalah koordinator pelaksana program kesehatan dan keselamatan di PT Djarum.

1.8.3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan secara langsung pada PT. Djarum Unit SKT Megawon II yang beralamatkan di Jl Raya Mejobo, Desa Megawon Kudus.

1.8.4. Subjek Penelitian

Subjek dari tugas akhir ini adalah manajemen dan pelaksana program Kesehatan dan Keselamatan Kerja PT Djarum Kudus Unit SKT Megawon II.

1.8.5. Sumber Data 1. Data Sekunder

Dalam penulisan skripsi ini, kami menggunakan dua sumber data sekunder antara lain :

a. Internal Data

Data ini peneliti dapatkan dari berbagai laporan, atau referensi yang tersedia di PT Djarum Unit SKT Megawon II.

b. Eksternal Data

Data ini peneliti peroleh dari berbagai literatur sebagai referensi dalam melakukan penulisan tugas akhir ini.

2. Data Primer

Data primer merupakan cara utama untuk mendapatkan informasi dan referensi tentang topik penulisan tugas akhir ini. Data ini di dapatkan dengan cara melakukan pengamatan, serta wawancara langsung kepada pelaksana program K3 di PT Djarum Unit SKT Megawon II dan mengambil beberapa dokumentasi yang di anggap perlu.

1.8.6. Teknik pengumpulan Data

Prosedur evaluasi program berdasarkan pendekatan kualitatif biasanya mulai dari mendesain, lalu menentukan sample, mengumpulkan data, kemudian dianalisis. Perbedaan yang mencolok antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif adalah prosedur dalam mengumpulkan data tidak mengikuti alur tertentu yang linier artinya pengumpulan data bisa maju dan mundur

sesuai dengan kebutuhan informasi dan keperluan penelusuran untuk mendapatkan semua informasi yang diperlukan. Ada cara untuk mencegah evaluator kehilangan focus yaitu dengan menggunakan FQE (Focused Qualitative Evaluation).

Alat pengumpul data yang digunakan pada pendekatan ini bias berupa catatan tentang kasus-kasus, pedoman wawancara, kuesioner, dan atau berupa foto. Data yang terkumpul biasanya diberi kode dan diorganisasikan sedemikian rupa berdasarkan tingkat relevansinya dengan suatu fenomena atau peristiwa tertentu yang terjadi dalam program. Data tersebut nantinya akan dianalisis dengan cara mengelompokkan berdasarkan peristiwa yang terjadi dalam program. Data akan disajikan dalam bentuk cerita yang rinci lengkap dengan analisis situasi dan perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Tahap-tahap evaluasi program dengan pendekatan kualitatif secara garis besar adalah : (Royse, David , 2006)

1) menentukan tujuan evaluasi, jangka waktu evaluasi, dan factor pendukung lain seperti aksesibilitas ke dalam program,

2) Menentukan unit analisis yang merujuk kepada individu yang terlibat dalam program (panitia, peserta, pengguna output program, unsur pendukung program),

3) Menentukan sample, jenis data yang akan dikumpulkan, cara menganalisis data, dan cara menyimpulkan.

Berikut akan disajikan prosedur evaluasi program yang menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih rinci dalam bentuk bagan :

Gambar 1.2

Alur prosedur evaluasi program 1.8.6.1 Alat Pengumpul Data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut : 1) Pedoman wawancara mendalam,

2) Lembar catatan wawancara

3) Alat penunjang lainnya : alat tulis atau buku catatan dan ballpoint, 4) Kuisioner.

1.8.6.2 Cara Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif pada umumnya menggunakan teknik observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi.

1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik penelitian yang sangat penting. Pengamatan itu digunakan karena berbagai alasan.

Ternyata ada beberapa tipologi pengamatan. Terlepas dari jenis pengamatan, dapat dikatakan bahwa pengamatan terbatas dan tergantung pada jenis dan variasi pendekatan (Moleong, 2007).

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan pewawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007).

3. Kuisioner

Kuisioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama didalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.

4. Dokumentasi

Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen baik yang berada di sekolah ataupun yang berada berada diluar sekolah, yang ada hubungannya dengan penelitian tersebut.

Menurut Arikunto (2007), dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Dokumen dalam

penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.

1.8.7. Metode analisis Data

Menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2007), pada dasarnya analisis data ini didasarkan pada pandangan paradigmanya yang positivisme. Analisis data itu dilakukan dengan mendasarkan diri pada penelitian lapangan apakah satu atau lebih dari satu situs. Jadi seorang analisis sewaktu hendak mengadakan analisis data harus menelaah terlebih dahulu apakah pengumpulan data yang telah dilakukannya satu situs atau lebih.

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan kegiatan merangkum catatan–catatan lapangan dengan memilah hal-hal yang pokok yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, rangkuman catatan-catatan lapangan itu kemudian disusun secara sistematis agar memberikan gambaran yang lebih tajam serta mempermudah pelacakan kembali apabila sewaktu-waktu data diperlukan kembali.

2. Display Data

Display data berguna untuk melihat gambaran keseluruhan hasil penelitian, baik yang berbentuk matrik, pengkodean, ataupun perbandingan dari hasil reduksi data. Display data itulah selanjutnya peneliti dapat

menarik kesimpulan data memverifikasikan sehingga menjadi kebermaknaan data.

3. Kesimpulan dan Verifikasi

Untuk menetapkan kesimpulan yang lebih beralasan dan tidak lagi berbentuk kesimpulan yang coba-coba, maka verifikasi dilakukan sepanjang penelitian berlangsung sejalan dengan membercheck, trianggulasi dan audit trail, sehingga menjamin signifikansi atau kebermaknaan hasil penelitian.

1.8.7.1 Uji Credibility

Untuk melakukan uji credibility atau validitas data dalam penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah dengan melakukan trianggulasi data. Trianggulasi data ini merupakan teknikyang didasari pola pikir fenomologi yang bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik kesimpulan yang mantap diperlukan tidak hanya dari satu sudut pandangan saja. Teknik trianggulasi yang digunakanyaitu trianggulasi data (trianggulasi sumber) yaitu membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan yang diperoleh melalui alat yang berbeda dalam metode penelitian kualitatif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara,

b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan didepan pribadi,

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orag tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu,

d. Membandingkan keadaaan dan perspektif seorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah tinggi dan orang pemerintahan.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen berkaitan.

Wawancara

Content Analysis

Observasi

Kuisioner

Gambar 1.3 Uji Validitas

1.8.7.2 Uji Dependability

Uji dependability atau uji reliabelitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data/temuan. Data dinyatakan reliabel bila peneliti sama dalam waktu yang berbeda menghasilkan data yang sama.

Pengujian dependability yaitu dengan mengulangi atau mereplika proses penelitian tersebut (Sugiyono, 2007).

Dalam penelitian kualitatif, sering terjadi peneliti tidak melakukan proses penelitian kelapangan tetapi bisa mencari data penelitian. Uji dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dengan dilakukan oleh auditor yang indipendent atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktifitas peneliti dalam penelitian. Jika peneliti tidak mampu menunjukkan jejak

Data

penelitiannya maka dependabilitas penelitiannya patut di ragukan (Sanafiah, 2000).

Dalam penelitian ini, peneliti juga menyertakan membercheck dari hasil penelitian sebagai bentuk uji credibility dan uji dependability.

Membercheck di gunakan untuk dijadikan sebagai data hasil observasi dalam uji credibility dan dapat membuat gambaran atau replika dari proses penelitian dalam uji dapendability.

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 SEJARAH PT. DJARUM

Kretek lahir di kota Kudus, Jawa Tengah pada sekitar tahun 1880. Seorang penduduk kota kudus bernama Haji Djamhari adalah orang yang paling berjasa pada lahirnya rokok kretek ini. Semua berawal dari penyakit yang diderita Haji Djamhari yaitu penyakit asma yamg telah lama menggerogoti kesehatannya.setiap asmanya kambuh beliau selalu merasa sangat kesakitan. Saat ia menderita sesak, ia menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakitnya. Hingga suatu ketika ia mencoba meracik daun tembakau dan bunga cengkeh untuk rokoknya.

Dari percobaanya tersebut membuahkan hasil dan rokok tersebut disebut kretek karena letupan api yang membakar cengkeh menghasilkan bunyi “kretek-kretek”.

Penemu rokok kretek itu sendiri yaitu Haji Djamhari telah meninggal dunia di kudus pada tahun 1890.

Pada awalnya perdagangan rokok kretek hanya terdapat di Kudus dan daerah-daerah sekitarnya. Namun dalam waktu singkat rokok ini diminati oleh daerah-daerah lain hingga menjangkau berbgai daerah di pulau Jawa. Perusahaan rokok kretek pertama kali muncul pada tahun 1905 yang didirikan oleh M.

Nitisemito, perusahaan rokok kretek itu dinamakan “Tjap Bal Tiga” yang secara resmi terdaftar dalam kantor perdagangan Hindia Belanda. Permintaan pasar terhadap produk rokok kretek ini sangat pesat, hal ini dibuktikan dengan niat M.

Nitisemito yang ingin membuat lantai kamarnya dengan uang golden. Hal ini membuat pemerintahan (saat itu jajahan Belanda)tersinggung, tapi dengan

diplomatis pemerintah mengungkapkan bahwa beliau dapat melanjutkan niatannya asal posisi uang golden tersebut dalam posisi berdiri. Di sini ada dua pendapat yang belum bias dipastikan. Pendapat pertama rencana itu dilanjutkan dan pendapat kedua M. Nitisemito tahu bahwa itu hanya penolakan halus pemerintah.

PT. Djarum adalah salah satu perusahaan yang memproduksi rokok kretek yang berdiri pada tahun 1951 (tepatnya 21 April 1951). Pendiri Djarum adalah Oei Wie Gwan dengan 17 pekerja yang mengawali bisnisnya dengan memasok rokok untuk dinas pembekalan angkatan darat.

Sejarah Djarum berawal saat Oei Wie Gwan membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramaphon pada tahun 1951 dan mengubah namanya menjadi Djarum. Oei mulai memasarkan kretek dengan merek “Djarum”

yang ternyata sukses di pasaran. Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963 (Oei meninggal tak lama kemudian), Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengekspor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini Djarum dipimpin Budi Hartono dan Bambang Hartono, yang dua-duanya merupakan putra Oei. Pada tahun 1983 secara resmi Djarum menjadi perseroan terbatas.

Pada tahun 1985 PT. Djarum menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, sehingga PT. Djarum memperluas jaringan pemasarannya di dalam

negeri dan luar negeri. Untuk menguasai pasar, PT. Djarum menjaga kualitas produksinya dengan sertifikat ISO 9001:2000 sebagai pengganti ISO 9001:1994.

Adanya sertifikat ISO menunjukkan bahwa PT. Djarum Kudus telah memenuhi Standart Mutu Internasional. Pada tahun 2003, PT. Djarum memperoleh predikat

“Superbrand” dan termasuk dalam 10 besar perusahaan terbaik versi majalah Global Far Estern Economic Review.

2.2 Tujuan Pendirian PT. DJARUM

1. Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan bidang pertanian khususnya tembakau bagi pendapatan nasional yang diperoleh dari hasil produksi dan pemasaran beberapa produk untuk keperluan ekspor maupun konsumsi dalam negeri.

2. Memperluas lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya dan meningkatkan taraf hidup karyawan pada khususnya.

3. Meningkatkan pendapatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah malalui pajak dan cukai tembakau.

2.3 Visi dan Misi PT. DJARUM 2.3.1 Visi

Menjadi yang terbesar dalam nilai penjualan dan profitabilitas di industri rokok Indonesia.

2.3.2 Misi

“Kami hadir untuk memuaskan kebutuhan merokok para perokok”

2.3.3 Nilai Inti:

1. Fokus pada pelanggan (mendengarkan pelanggan, memenuhi kebutuhan pelanggan). Karakteristik :

a. Orientasi pada pelayanan

b. Kualitas perbaikan berkesinambungan c. Inovasi

d. Konsep pemasar

2. Profesionalisme (orang bekerja harus dengan sikap baik melakukan dengan sikap baik, cara baik dan perhatian yang serius). Karakteristik:

a. Kompeten b. Integritas c. Sinergi d. Komitmen e. Orientasi

f. Rasa tanggung jawab g. excellent

3. Orang yang terus belajar (belajar dari karyawan internal, pelanggan eksternal, dan lingkungan). Karakteristik:

a. belajar kepentingan seluruh jenjang b. sikap keterbukaan

c. saling percaya

4. Satu keluarga (pertalian khas dan mau hidup bersama dengan tata cara sesuai konsensus). Karakteristik:

a. Setiap orang memiliki nilai dan peran b. Rasa memiliki

c. Saling mendukung d. Kebanggan

e. Saling memperhatikan f. Saling menghormati

5. Tanggung jawab social (peka dan peduli terhadap kepentingan masyarakat).karakteristik:

a. Kepedulian terhadap lingkungan b. Menjadi warga Negara yang baik

c. Rasa tanggung jawab terbatas sesuai dengan kemampuan perusahaan

2.3.4 Semboyan PT. DJARUM

Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.

2.3.5 Visi Masa Depan PT. DJARUM

a. Kepemimpinan dalam pasar dengan cara menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi secara konsisten dan inovatif untuk memuaskan konsumen.

b. Penciptaan citra positif yang kuat untuk perusahaan dan merk-merk kita.

c. Manajemen yang professional yang berdedikasi serta sumber daya yang kompeten.

2.4 Logo PT. DJARUM

Gambar 2.1 2.5 Struktur Organisasi PT. DJARUM

Struktur Organisasi adalah sistem atau jaringan kerja terhadap tugas-tugas, system pelaporan dan komunikasi yang menghubungkan secara bersama pekerjaan individual dengan kelompok. System organisasi menetapkan cara bagaimana tugas dan pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinir secara formal. Semua organisasi betapa kecilnya, mempunyai semacam struktur karena secara umum suatu struktur dirancang dengan maksud untuk memastikan bahwa organisasi dirancang dengan cara yang paling baik untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuannya. (Wahjono, 2010:16).

PT. Djarum termasuk kedalam organisasi yang strukturnya menggunakan tipe struktur organisasi divisional atas dasar produk. Setiap departemen bertanggungjawab atas suatu produk atau sekumpulan produk yang berhubungan (garis produk). Divisionalisasi produk adalah pola logic yang dapat diikuti bila jenis produk mempunyai teknologi pemrosesan dan metoda-metoda pemasaran yang sangat berbeda satudengan yang lain dalam organisasi.(Handoko, 2003:178).

Struktur Organisasi PT. DJARUM

Gambar 2.2

Sumber PT. Djarum (2012) 2.6 Job Description PT. DJARUM

Berikut adalah penjelasan mengenai tugas masing-masing staff yang ada di PT. Djarum:

1. Senior Production Manager

Bertanggung jawab atas kelancaran semua produksi rokok pada SKT.

SENIOR PRODUCTION MANAGER

COORDINATOR SKT

SKT REGION HEAD 1

SKT REGION HEAD 1

SKT REGION HEAD 1 SKT REGION

HEAD 1

SKT REGION HEAD 1

SUPERVISOR UNIT HEAD

FOREMAN CHASIER

WEEKLY WORKER

DAILY WORKER

2. Coordinator SKT

Menjadi kkordinator pada semua region head dan bertanggung jawab pada senior production head.

3. SKT Region Head

Membawahi beberapa unit brak SKT dan memastikan semua proses produksi pada unit yang dibawahi berjalan baik

4. Supervisor

Bertanggung jawab dan memastikan berlangsungnya seluruh kegiatan di area SKT yang bersangkutan. Selain itu juga bertanggung jawab terhadap kebutuhan karyawan yang dilaporkan ke HRD dan disetujui oleh manger.

5. Unit Head

Bertanggung jawab secara administrasi, material handling dan penjadwalan produk pada brak SKT serta memastikan fungsi SKT sesuai mutu kualitas dan kuantitas.

6. Foreman

Bertanggung jawab terhadap pegawai borongan dan harian terkait proses dan mutu hasil kerja.

7. Chasier

Bertanggung jawab untuk masalah keuangan brak dan mebagikan gaji untuk karyawan borongan dan harian.

2.7 Lokasi PT. DJARUM

PT. Djarum merupakan perusahaan yang memiliki lokasi tersebar di kota Kudus. Lokasi perusahaan yang tersebar tidak menimbulkan suatu dampak bagi PT. Djarum. Lokasi kantor Pusat PT. Djarum terletak di tengah kota Kudus yaitu di Jln. A. Yani BB 40. Sedangkan untuk lokasi tiap-tiap unit perusahaan tersebar di berbagai daerah. Lokasi unit perusahaan dapat dilihat pada table berikut ini :

Lokasi Unit PT.Djarum NO UNIT PERUSAHAAN

PT. DJARUM

LOKASI UNIT PERUSHAAN

1 Prosessing Krapyak C Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus 2 Prosessing Gondangmanis Gondangmanis, Bae, Kudus

3 Gudang Krapyak B Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus 4 Gudang Sidorekso A Sidorekso, Kaliwungu, Kudus

5 Gudang Kaliwungu B Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus 6 Gudang Garung A Garung Lor, Kaliwungu, Kudus 7 Gudang Mijen Mijen, Kaliwungu, Kudus 8 Gudang Kaliputu A Gor Kaliputu, Kota, Kudus 9 Gudang Burikan B Burikan, Kota, Kudus

10 Gudang Sidorekso B Sidorekso, Kaliwungu, Kudus 11 Gudang Jati Kulon Jati Kulon, Jati, Kudus

12 Gudang Gribig A Gribig, Gebog, Kudus

13 Gudang Garung B Garung Lor, Kaliwungu, Kudus 14 Gudang Kaliwungu A Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus 15 Gudang Karangngawen Brambang, Karangngawen, Demak 16 Brak Megawon Megawon, Jati, Kudus

17 Brak Jetak II Gembung Jetak Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus 18 Brak Jetak I Jetak Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus 19 Brak BL 53 Jln. Lukmonohadi 53, Kudus

20 Brak Kliwon Jln. Cempaka 18, Kudus

21 Brak Kradenan Demaan, Kota, Kudus

22 Brak Kedung Dowo Kedung Dowo, Kaliwungu, Kudus 23 Brak Burikan Burikan, Kota, Kudus

24 Brak Terban Terban, Jekulo, Kudus 25 Brak Karangbener Karangbener, Bae, Kudus 26 Brak Karang Rejo Karang Rejo, Gebog, Kudus

27 Brak Sudimoro Sudimoro Karangmalang, Gebog, Kudus 28 Brak Bulung Cangkring Bulung Cangkring, Jekulo, Kudus 29 Brak Blolo Blolo Karangampel, Kaliwungu, Kudus 30 Brak Kesambi Kesambi, Mejobo, Kudus

31 Brak BL 72 Jln. Lukmonohadi 72, Kudus 32 Brak Besito Besito, Gebog, Kudus 33 Brak Gedangan Gedangan, Welahan, Jepara

34 Brak Sekarjati Brantak Sekarjati, Welahan, Jepara

35 IPAL Gribig, Gebog, Kudus

Sumber PT. Djarum 2012 Tabel 2.1

2.8 Sarana dan Prasarana

Dalam proses produksi tentunya dibutuhkan sebuah sarana untuk mempermudah proses produksi agar bahan pokok produksi dapat diolah sehingga menjadi barang yangs siap dikonsumsi yang sesuai dengan keinginan konsumen dan standar yang ditetapkan perusahaan. Berikut adalah sarana dan prasarana produksi yang terdapat dalam proses pembuatan rokok dari yang berupa tembakau dan cengkeh hingga menjadi rokok yang sudah siap diedarkan.

1. Mesin dan Peralatan Produksi

Dalam memproduksi rokok, PT. Djarum masih menggunakan tenaga kerja manusia disamping menggunakan mesin. Pembuatan rokok dengan

menggunakan tenaga manusia disebut SKT (Sigaret Kretek Tangan) sedangkan penggunaan mesin disebut SKM (Sigaret Kretek Mesin). Kedua cara tersebut tentunya memiliki peralatan yang berebeda. Mesin dan peralatan produksi yang digunakan dalam SKT adalah sebagai berikut:

a. Peralatan Produksi Giling - Gilingan dan Kain Mori

Gilingan dilengkapi dengan kain mori berukuran lebar 11 cm dan panjang 1 m merupakan alat tradisional untuk mencetak bahan rokok (tembakau, papir, dan lem) menjadi 1 batang rokok. Gilingan bekerja 100% menggunakan tenaga manusia. Untuk mencapai target gilingan baik secara kualitas maupun kuantitas, serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi karyawan giling, maka desain alat giling sudah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan hasil kemajuan Riset dan Development PT. Djarum.

- Gunting

Guntimg digunakan untuk merapikan ujung serta pangkal batang rokok setelah mengalami proses penggilingan.

b. Peralatan Penunjang

Alat yang digunakan sebagai penunjang dalam kegiatan produksi giling adalah:

- Meja gilingan yaitu meja untuk meletakkan alat gilingan dan alat penunjang lainnya.

- Tong tempat tembakau yaitu tong yangterbuat dari bahan logam sebagai wadah tembakau yang baru diambil dari gudang untuk siap digiling.

- Papan kipingan digunakan sebagai tempat kertas papir sebelum diberi lem, kertas papir ditata diatas papan kipingan sehingga memudahkan untuk member lem.

- Countainer digunakan sebagai wadah lem untuk kemudian dibagikan kepada pekerja giling.

- Plog yaitu berupa lempengan logam yang berebentuk empat persegi panjang dengan beberapa logam bundar dengan diameter yang berbeda-beda. Plong digunakan untuk mengukur diameter ujung dan pangkal rokok, sehingga diperoleh rokok yang berukuran sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

- Solet, yaitu alat bantu pengeliman kertas papir.

c. Peralatan pengemasan

- Kotak besi berukuransama dengan bungkus rokok berfungsi untuk menata rokok ketika dibungkus dengan plastik pelapis dalam.

- Kotak besi berukuransama dengan bungkus rokok berfungsi untuk menata rokok ketika dibungkus dengan plastik pelapis dalam.