KELAS VII SMP NEGERI 1 LEMBO Oleh :
SISWA KELAS XI SMA NEGERI 8 SIGI Oleh :
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian misalnya persepsi, motivasi, tingkah laku, tindakan, dan sebagainya, secara menyeluruh, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata, pada suatu konteks khusus yang alamiah serta dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong 2007:6). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah atau bidang-bidang tertentu. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi yang berjumlah 25 siswa.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu (1) observasi, (2) angket, (3) dokumentasi. Dalam hal ini, observasi dilakukan menggunakan teknik pengamatan langsung. Peneliti secara langsung meneliti kegiatan pameran siswa kelas XI terkait dengan kemampuannya mengapresiasi karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa di SMA Negeri 8 Sigi. Hal-hal yang diobservasi dalam mendukung penelitian ini antara lain mengenai lingkup sekolah, proses kegiatan pameran karya seni rupa, dan proses siswa
dalam mengapresiasi karya yang
dipamerkan. Peneliti menggunakan angket yang berisi pertanyaan terkait motivasi belajar siswa. Dokumentasi dalam hal ini, diperlukan untuk mengumpulkan data
berupa dokumen-dokumen terkait
penelitian.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1
Motivasi BelajarBerdasarkan hasil penelitian dari angket yang diedarkan kepada siswa kelas
XI SMA Negeri 8 Sigi dengan jumlah siswa 25 siswa. Sikap percaya diri (confidence) sangat terkait dengan bobot motivasi siswa bila rasa percaya diri ini tertanam dalam diri siswa akan lebih mendorong siswa tersebut untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Sikap tersebut merupakan modal untuk terjun dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 25 siswa diperoleh skor rata-rata 4,30. Bila dikonfirmasikan dengan kategori yang telah dibuat, maka motivasi siswa di atas skor tersebut berada pada rentang 3.50 – 4.49 (baik). Hal ini dapat dipahami bahwa sikap percaya diri siswa dalam mengikuti pembelajaran apresiasi seni cukup baik, sehingga dalam pembelajaran apresiasi seni rupa tidak mengalami hambatan yang cukup berarti.
Dari aspek perhatian (attention) diperoleh skor rata-rata 4,21, bila dikonsultasikan pada tabel kriteria tentang motivasi nilai tersebut berada pada rentang 3,50 – 4,49 (Baik). Ini berarti bahwa perhatian siswa terhadap pelajaran apresiasi karya seni rupa melalui penerapan model pembelajaran pameran adalah baik. Dengan pembelajaran apresiasi seni melalui penerapan model pembelajaran pameran, mendorong perhatian siswa kearah yang lebih baik, sehingga hal ini dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar terutama pada mata pelajaran Seni Budaya.
Dalam aspek relevansi (relevancy) diperoleh skor rata-rata 4,11, berdasarkan tabel kriteria motivasi siswa nilai tersebut berada pada rentang 3.50 – 4.49 (Baik). Hal ini berarti pemahaman siswa tentang
keterkaitan antara pelajaran yang
dilaksanakan dengan pelajaran sebelumnya cukup baik, begitu pula pemahaman siswa terhadap tujuan pembelajaran terutama pelajaran apresiasi seni ini juga adalah baik. Kondisi demikian kemungkinan tercipta dari pemberian pemahaman awal dari guru tentang maksud dan tujuan pembelajaran.
Aspek kepuasan (satisfaction) diperoleh skor rata-rata 4.13. Skor tesebut bila dikonsultasikan pada kriteria di atas berada pada rentang 3.50 – 4.49 (baik). Hal
147 ini dipahami bahwa aspek kepuasan siswa mengikuti pembelajaran Seni Budaya dalam mengapresiasi karya seni rupa melalui penerapan model pembelajaran pameran dapat terpenuhi. Kondisi demikian memupuk motivasi siswa untuk lebih giat belajar, dan berusaha meningkatkan sikap apresiatifnya terutama pada bidang seni dalam hal ini seni rupa, juga tidak menutup kemungkinan untuk cabang- cabang seni yang lainnya.
Motivasi siswa berdasarkan hasil penelitian ini, memiliki skor rata-rata 4,01 berada pada rentang 3.50 – 4.49 (baik). Ini berarti bahwa motivasi siswa secara umum cukup baik sehingga dalam proses belajar
mengajar dapat lebih dioptimalkan.
Pembelajaran apresiasi seni rupa dengan menerapkan model pembelajaran pameran lebih memotivasi siswa untuk mempelajari dan memperdalam tentang bagaimana menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya seni yang pada akhirnya diharapkan dapat mendorong kreativitas siswa dalam berkarya seni.
4.2 Prestasi Belajar 4.2.1 Siklus I
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada siklus I, terkait
pembelajaran apresiasi karya seni rupa melalui penerapan model pembelajaran pameran pada mata pelajaran Seni Budaya, maka diperoleh prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi sesuai dengan tabel berikut:
No. Absen Nilai Keterangan
1 76 Tuntas 2 74 Tidak Tuntas 3 80 Tuntas 4 82 Tuntas 5 75 Tuntas 6 73 Tidak Tuntas 7 77 Tuntas 8 82 Tuntas 9 80 Tuntas 10 76 Tuntas 11 78 Tuntas 12 72 Tidak Tuntas 13 84 Tuntas 14 77 Tuntas 15 85 Tuntas 16 71 Tidak Tuntas 17 83 Tuntas 18 80 Tuntas 19 79 Tuntas 20 78 Tuntas 21 72 Tidak Tuntas 22 70 Tidak Tuntas 23 76 Tuntas 24 80 Tuntas 25 81 Tuntas Jumlah 1941 Rata-Rata 77,64
Banyak Siswa Tuntas 19
Banyak Siswa Tidak Tuntas 6 Persentase Tuntas Belajar 76%
Dari hasil tes formatif siklus I dalam pembelajaran apresiasi karya seni
rupa melalui penerapan model
pembelajaran pameran pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi diperoleh nilai rata-rata sebesar 77,64. Jumlah siswa yang sudah tuntas atau mencapai nilai >=75 sebanyak 19 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 6 siswa sehingga persentase tuntas belajar klasikal yakni 76%.
4.2.2 Siklus II
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada siklus II, terkait
pembelajaran apresiasi karya seni rupa melalui penerapan model pembelajaran pameran pada mata pelajaran Seni Budaya, maka diperoleh prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi sesuai dengan tabel berikut:
No. Absen Nilai Keterangan
1 91 Tuntas 2 89 Tuntas 3 94 Tuntas 4 98 Tuntas 5 89 Tuntas 6 89 Tuntas 7 92 Tuntas 8 97 Tuntas 9 94 Tuntas 10 92 Tuntas 11 92 Tuntas 12 98 Tuntas 13 99 Tuntas 14 92 Tuntas 15 97 Tuntas 16 86 Tuntas 17 96 Tuntas 18 95 Tuntas 19 94 Tuntas 20 93 Tuntas 21 86 Tuntas 22 85 Tuntas 23 91 Tuntas
148
24 95 Tuntas
25 96 Tuntas
Jumlah 2320
Rata-Rata 92,8
Banyak Siswa Tuntas 25
Banyak Siswa Tidak Tuntas - Persentase Tuntas Belajar 100%
Dari hasil tes formatif siklus II dalam pembelajaran apresiasi karya seni
rupa melalui penerapan model
pembelajaran pameran pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi diperoleh nilai rata-rata sebesar 92,8. Jumlah siswa yang sudah tuntas atau mencapai nilai >=25 sebanyak 19 siswa. Hal ini berarti bahwa dari total jumlah siswa sebanyak 25,
secara keseluruhan siswa telah
memperoleh nilai dengan kategori tuntas,
sehingga persentase tuntas belajar
klasikal yang dipeloh siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi pada siklus II ini adalah sebesar 100%.
4.2.3 Revisi
Pada revisi siklus I akan dijelaskan tentang hasil penelitian siklus I terkait prestasi belajar siswa dengan tabel berikut ini:
Rekapitulasi Prestasi Belajar Siswa Siklus I Hasil
Penelitian Nilai Indikator Keterangan
Rata-rata 77,64 75 Tercapai Persentase Ketuntasan belajar 76% 80% Tidak Tercapai
Rata-rata hasil belajar siswa pada
siklus I diperoleh 77,64 dengan
persentase ketuntasan belajar sebesar 76%. Dari hasil belajar tersebut dapat dikatakan bahwa nilai hasil belajar siswa
telah mencapai target indikator
keberhasilan yang ditetapkan (75). Akan tetapi, walaupun nilai rata-rata siswa telah mencapau target KKM yang telah ditentukan, namun berdasarkan tabel di atas, persentase tuntas belajar yang diperoleh siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi pada mata pelajaran Seni Budaya belum dapat mencapai standar yang telah
ditentukan. Dari standar 80%, siswa kelas XI baru mampu mencapai persentase tuntas belajar sebesar 76%. Oleh karena itu, untuk memperoleh ketuntasan belajar siswa secara klasikal dengan memenuhi indicator yang telah ditentukan, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian hingga ke siklus selanjutnya yakni siklus II.
Pada revisi siklus II akan
dijelaskan tentang hasil penelitian siklus II terkait prestasi belajar siswa dengan tabel berikut ini:
Rekapitulasi Prestasi Belajar Siswa Siklus II Hasil
Penelitian Nilaii Indikator Keteranganan
Rata-rata 92,8 75 Tidak
Persentase tuntas belajar
100% 80% tercapai
Nilai rata-rata prestasi belajar
siswa pada siklus II mengalami
peningkatan yang sangat signifikan yakni
diperoleh 92,8 dengan persentase
ketuntasan belajar sebesar 76%. Dari hasil belajar tersebut dapat dikatakan bahwa nilai hasil belajar siswa telah mencapai target indikator keberhasilan yang ditetapkan (75). Selain itu, pada siklus II ini, persentase tuntas belajar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi juga telah memenuhi indicator standar yang telah ditentukan. Dari standar 80 %, siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi telah
mampu memperoleh persentase
ketuntasan belajar sebesar 100%.
Perolehan ini otomatis dapat
membuktikan bahwa dengan penerapan model pembelajaran pameran, maka dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi dalam mengapresiasi karya seni rupa.
V. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan beberapa hal terkait penelitian tindakan kelas ini yaitu:
149
1. Penerapan model pembelajaran
pameran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengapresiasi karya seni rupa pada mata pelajaran Seni Budaya pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi. Hal ini terbukti dari
motivasi belajar siswa yang
memperoleh hasil dengan kategori Baik (Rentang 3.50 – 4.49). Artinya, dengan
penerapan model pembelajaran
pameran dapat membangkitkan
motivasi belajar siswa terutama pada pelajaran apresiasi karya seni rupa.
2. Penerapan model pembelajaran
pameran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mengapresiasi karya seni rupa pada mata pelajaran Seni Budaya pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Sigi. Hal ini terbukti dari hasil belajar siswa yang terus mengalami peningkatan di setiap siklusnya.
Pada siklus I nilai rata-rata siswa sebesar 77,64 dengan jumlah siswa yang tuntas yakni sebanyak 19 siswa
atau dengan persentase 76%.
Selanjutnya pada siklus II, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat drastis yakni nilai rata-rata siswa menjadi 92,8 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 100%. Hal ini berarti bahwa dari total jumlah siswa sebanyak 25, secara keseluruhan siswa telah memperoleh nilai dengan kategori tuntas.
VI. SARAN
Sebagai implikasi dari penelitian ini, disarankan kepada guru untuk dapat model pembelajaran pameran sebagai salah satu alternatif pembelajaran apresiasi seni rupa pada mata pelajaran Seni Budaya.
Selanjutnya, kepada peneliti lain,
diharapkan dapat melakukan penelitian pada mata pelajaran yang berbeda sehingga didapatkan perbandingan.
150
DAFTAR PUSTAKA
Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni: Wacana, Apresiasi, dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dalyono. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan P embela jaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Saiful Bahri & Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Garha. Oho. 1980. P endidikan Kesenian Seni Rupa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Hasibuan, J. J & Moedjiono. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kartika, Dharsono Sony. 2007. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains.
Katjik, dkk. 1972. Metode Pengajaran Seni Rupa untuk SMA. IKIP Malang: Sub Proyek Penyusunan Metode Khusus Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi.
Koentjoroningrat dkk. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djakarta: Djambatan. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sahman, Humar. 2003. Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang. IKIP Semarang Press. Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sobandi, Bandi. 2008. Model Pembelajaran Kritik dan Apresiasi Seni Rupa.Maulana Offset: Solo. Sudjana, Nana. 2010. Dasar -Dasa r P roses Bela jar Mengaja r. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sumiati & Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
Susanto, Mikke. 2002. Diksi Rupa: Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta: Kanisius.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:Remaja Rosdakarya.
151
I. PENDAHULUAN
Proses pembelajaran keterampilan berbahasa menjadi satu kesatuan yang
mencakup keterampilan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis.
Keterampilan-keterampilan tersebut harus dimiliki oleh setiap orang agar dapat meningkatkan kompetensi berbahasa yang baik, dalam hal ini keterampilan berbahasa
Indonesia khususnya keterampilan
berbicara atau berkomunikasi.
Komunikasi sebagai kegiatan
berbahasa secara lisan. Kegiatan berbicara
dilakukan setiap orang untuk
berkomunikasi sehari-hari. Menurut Henry Guntur Tarigan (2012: 16) berbicara adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi
artikulasi atau kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan atau
menyampaikan pikiran, gagasan, dan
perasaan.
Tujuan pembelajaran berbicara yang diharapkan adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan secara lisan, serta memiliki kegemaran berbicara secara kritis dan kreatif. Secara umum tujuan pembelajaran 1) Guru SD GKST Beteleme
keterampilan berbicara yaitu siswa mampu mengomunikasikan ide atau gagasan, dan pendapat, secara lisan ataupun sebagai
kegiatan mengekspresikan ilmu
pengetahuan, pengalaman hidup, dan lain sebagain
Dengan belajar berbicara,
diharapkan siswa SD tidak hanya dapat
mengembangkan kemampuan dalam
melisankan ide atau gagasan yang dimiliki
tetapi siswa diharapkan mampu
mempertanggungjawabkan gagasan dan dapat mengaplikasikannya.
Pembelajaran yang didominasi oleh guru merupakan satu faktor penyebab siswa kurang aktif terlibat dalam pembelajaran. Pembelajaran keterampilan berbicara yang menyebabkan siswa kurang aktif dapat terjadi karena guru menggunakan model pembelajaran yang kurang sesuai dengan materi berbicara, selain itu siswa juga tidak dilibatkan secara langsung dalam aktivitas berbicara di kelas. Pembelajaran di kelas masih banyak didominasi oleh guru sehingga kurang mampu membangun persepsi, minat, dan sikap siswa yang lebih baik.
Kebanyakan anak didik mengalami kebosanan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sebagian besar disebabkan oleh faktor didaktik, termasuk model pengajaran Media Litbang Sulteng IX (1) : 151-160, Januari 2016 ISSN : 1979 - 5971
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE