KELAS X SMA NEGERI 1 SINDUE Oleh :
KONSELING DENGAN PENERAPAN METODE SOSIODRAMA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SINDUE
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecerdasan Emosional
Emosi adalah perasaan tertentu yang bergejolak dan dialami seseorang serta berpengaruh pada kehidupan manusia.
Emosi memang sering dikonotasikan
sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan, pada beberapa budaya emosi dikaitkan dengan sifat marah seseorang. Menurut Aisah Indiati (2006), sebenarnya terdapat banyak macam ragam emosi, antara lain sedih, takut, kecewa, dan sebagainya yang semuanya berkonotasi negatif. Emosi lain seperti senang, puas, gembira, dan lain-lain, semuanya berkonotasi positif.
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (bahasa Inggris:
58 emotional quotient) adalah kemampuan
seseorang untuk menerima, menilai,
mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.
Kecerdasan emosional (EQ)
belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah
penelitian mengungkapkan bahwa
kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
2.2 Wilayah Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional terbagi
dalam beberapa wilayah kemampuan yang
membentuknya. Wilayah-wilayah
kemampuan yang membentuk kecerdasan emosional tidak seragam untuk setiap ahli,
tergantung dari sudut pandang dan
pemahaman, selain itu juga antara wilayah yang satu dengan yang lainnya tidak dapat
dipisahkan. Wilayah-wilayah yang
membentuk kecerdasan emosional ini dicetuskan oleh Petter Salovey (Goleman 1999 : 65) secara terpisah memaparkan lima wilayah kecerdsan emosional yang meliputi :
1. Kesadaran diri
Mengenal emosi diri adalah berarti kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu diatas. Kesadaran ini menurut Mayer berarti waspada terhadap suasana hati, waspada ini berarti kita berada diatas emosi bukan hanyut dalam aliran emosi tersebut. Kesadaran diri bukanlah perhatian yang larut ke dalam emosi, bereaksi secara berlebihan dan melebih- lebihkan apa yang diserap, kesadaran diri lebih merupakan modus netral yang mempertahankan refleksi diri bahkan ditengah badai emosi. Dalam kondisi terbaik, pengamatan diri memungkinkan adanya semacam kesadaran yang mantap terhadap perasaan penuh nafsu atau gejolak. Pada titik terendah, kesadaran diri
memanifestasikan dirinya semata-mata sebagai sedikit langkah mundur dari pengalaman.
2. Mengelola emosi
Kemampuan untuk mengatur emosi diri sendiri, tujuannya adalah keseimbangan emosi, bukan menekan emosi, setiap perasaan mempunyai nilai dan makna. Kehidupan tanpa nafsu bagaikan padang
pasir netralitas yang datar dan
membosankan, terputus dan terkucil dari kekayaan hidup itu sendiri. Tetapi, sebagaimana diamati Aristoteles yang dikehendaki adalah emosi yang wajar, keselarasan antara perasaan dan lingkungan (Goleman 1995). Apabila emosi terlampau ditekan, terciptalah kebosanan dan jarak, bila emosi tidak dikendalikan, terlampau ekstrim dan terus menerus,emosi akan menjadi sumber penyakit, seperti kecewa marah deppresi. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi, emosi yang berlebihan yang meningkat dengan insentitas terlampau tinggi untuk waktu
yang terlalu lama akan mengoyak
kestabilan kita. 3. Motivasi
Motivasi adalah kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan peraihan sasaran. Robbins mengemukakan motivasi merupakan suatu konstruk yang menjelaskan awal arah, intensitas dan kehadiran perilaku individu yang bertujuan. Selain itu Oemar Hamalik (Syaifu Bahri
2002:114) mendefinisikan motivasi
‘sebagai suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.
Karena seseorang mempunyai tujuan
tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
Motivasi mencakup konsep-konsep
59
untuk bekerja sama, kebiasaan,
ketidakcocokan dan keingintahuan.
4. Mengenali Emosi Orang Lain Atau Empati
Menurut Titchener (Goleman 1995) bahwa ‘empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian menimbulkan perasaan
yang serupa dalam diri seseorang.
Kemampuan berempati adalah kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain ikut berperan dalam kehidupan. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri, semakin terbuka kita kepada emosi diri sendiri, semakin terampil kita membaca
perasaan. Emosi jarang diungkapkan
dengan kata-kata, emosi jauh lebih sering diungkapkan melalui isyarat. Kunci untuk memahami perasaan orang lain adalah mampu membaca pesan non verbal.
5. Membina hubungan
Kemampuan membina hubungan
merupakan kecakapan sosial yang
mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain, tidak dimilikinya kecakapan ini akan membawa pada
ketidakcakapan dalam dunia sosial.
Kemampuan ini memungkinkan seseorang membentuk hubungan, untuk menggerakan dan mengilhami orang-orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan dan mempengaruhi, membuat orang-orang lain merasa nyaman.
2.3 Pengertian Bimbingan
Secara etimologis kata bimbingan
merupakan terjemahan dari kata
“Guidance” berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukan,
membimbing, menuntun, ataupun
membantu”. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan.
Bimbingan adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar orang yang
dibimbing dapat mengembangkan
kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu
dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma
yang berlaku. Bimbingan merupakan
bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu atau beberapa orang dengan memberikan pengetahuan tambahan
untuk memahami dan mengatasi
permalahan yang dialami oleh individu atau seseorang tersebut, dengan cara terus menerus dan sitematis.
2.4 Pengertian Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Konseling merupakan
suatu proses dengan adanya
seseorang yang dipersiapkan secara profesional untuk membantu orang lain
dalam pemahaman diri pembuatan
keputusan dan pemecahan masalah dari hati
kehati antar manusia dan hasilnya
tergantung pada kualitas hubungan. 2.5 Tujuan Bimbingan dan Konseling
Secara garis besar, tujuan
bimbingan dan konseling dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umun dan tujuan khusus. Guna memperjelas apa yang menjadi tujuan umum dan khusus, akan disampaikan penjelasannya sebagai berikut:
2.6 Tujuan Umum
Ditinjau dari perkembangan
konsepsi bimbingan dan konseling
senantiasa mengalami perubahan, dari yang
sederhana sampai yang
komprehensif.Tujuan bimbingan dan
konseling dengan mengikuti pada
perkemangan konsepsi bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap
perkembangan dan predisposisi yang
dimilikinya, berbagai latar belakang yang ada, serta sesuai dengan tuntutan positif
60 lingkungannya.
2.7 Tujuan Khusus
Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara
langsung dengan permasalahan yang
dialami individu yang bersangkutan, sesuai
dengan kompleksitas permasalahanya.
Dengan demikian maka tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk tiap-tiap individu bersifat unik pula, artinya tujuan bimbingan dan konseling untuk individu yang satu dengan individu yang yang lain tidak boleh disamakan.
2.8 Hubungan Bimbingan dan Konseling
Menurut Mohamad Surya (1988), ada tiga pandangan mengenai hubungan antara bimbingan dan konseling. Pandangan pertama berpendapat bahwa bimbingan sama dengan konseling. Kedua istilah tidak mempunyai perbedaan yang mendasar. Pandangan kedua berpendapat bahwa bimbingan berbeda dengan konseling, baik
dasar maupun cara kerja. Menurut
pandangan kedua, bimbingan merupakan
pendidikan sedangkan konseling
merupakan psikoterapi yaitu usaha untuk
menolong individu yang mengalami
masalah serius. Pandangan ketiga
berpendapat bahwa bimbingan dan
konseling merupakan kegiatan yang
terpadu, keduanya tidak saling terpisah. Berkaitan dengan pandangan ketiga ini, Downing (1998); Hansen, Stefic, dan Warner (1977) dalam Prayitno (1978), menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu pelayanan khusus yang terorganisasi dan terintegrasi ke dalam program sekolah untuk menunjang kegiatan perkembangan siswa secara optimal, sedangkan konseling adalah usaha pemberian bantuan kepada
murid secara perorangan dalam
mempelajari cara-cara baru guna
penyesuaian diri.
2.9 Pengertian Metode Sosiodrama Sosiodrama merupakan salah satu metode dalam bimbingan kelompok yaitu role playing atau metode bermain peran
dengan cara mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Sosiodrama merupakan dramatisasai dari persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan dengan orang lain, tingkat
konflik-konflik yang dialami dalam
pergaulan sosial (Winkel, 2004 : 470). Jadi metode sosiodrama adalah metode untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh seorang individu yang dilakukan dalam format kelompok dengan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu situasi masalah sosial.
2.10 Tujuan Sosiodrama
Sosiodrama biasanya digunakan untuk menangani masalah yang berkaitan dengan masalah social seperti krisis kepercayaan diri jika dhadapan kelompok, menumbuhkan rasa kesetaikawanaan social dan rasa tanggung jawab serta untuk
mengembangkan ketrampilan tertentu.
Selain itu dapat dikatakan bahwa teknik sosiodrama lebih tepat digunakan untuk mencapai tujuan yang mengarah pada : Aspek afektif motorik dibandingkan
pada aspek kognitif, terkait dengan
kehidupan hubungan sosial.
Sehubungan dengan itu maka materi yang disampaikan melalui teknik sosiodrama bukan materi yang bersifat konsep- konsep yang harus dimengerti dan dipahami, tetapi berupa fakta, nilai, mungkin juga konflik-konflik yang terjadi di lingkungan kehidupannya. Melalui permainan sosiodrama, konseli
diajak untuk mengenali, merasakan suatu situasi tertentu sehingga mereka dapat menemukan sikap dan tindakan yang tepat seandainya menghadapi situasi yang sama. Diharapkan akhirnya
mereka memiliki sikap dan
keterampilan yang diperlukan dalam mengadakan penyesuaian sosial. 2.11 Langkah-Langkah Sosiodrama
Langkah-langkah pelaksanaan
metode sosiodrama, meliputi:
1. Persiapan, dari mulai mempersiapkan konselor, tokoh-tokoh, topik yang akan dibawakan, tujuan dari topik yang dibawakan pada sosiodrama itu, babak-
61 babak yang akan dimainkan, konselor membagi tugas. Satu babak cerita menjadi tugas satu kelompok anak untuk mendramakannya.
2. Membuat skenario
3. Menentukan kelompok sesuai naskah 4. Menentukan kelompok penonton untuk
observasi
5. Konselor memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk berlatih sesuai dengan babak yang harus mereka mainkan. Berikan kebebasan bagi mereka untuk menentukan pembagian peran, dialog, dan sebagainya.
6. Pelaksanaan drama.
7. Pada akhir sosiodrama, konselor
memberi komentar/kesimpulan atas tujuan cerita.
8. Evaluasi dan diskusi, evaluasi dapat dilakukan dengan refleksi atau dengan cara laiseg (layanan segera), laijapan (layanan jangka panjang).
9. Ulangan permainan (rehersal), jika masih ada waktu permainan dapat diulang kembali dengan pertukaran peran pemain.
III. METODE PENELITIAN