• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Model Pendidikan Karakter 1. Pengertian Pendidikan Karakter

2. Model Pendidikan Karakter

Sebelum penulis menjelaskan model pembelajaran pendidikan karakter alangkah baiknya dikupas terlebih dahulu perbedaan antara strategi, model, pendekatan, metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Penjelasan ini dipandang penting mengingat sejauh ini masih sering muncul salah paham atau misleading atas hal ini. Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran sebagai hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk bagi guru di kelas. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran

25Haedar, Pendidikan, h.11.

26Ahmad Muhammad Al Hufy, Akhlak Nabi Muhammad saw (Keluhuran dan

Kemuliaannya), Alih bahasa Masdar Helmy dan Abd Khalik Anwar, (Jakarta: Bulan Bintang,

di kelas dan tutorial.27Model ialah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedomanatau acuan dalam melakukan sebuah kegiatan dalam pembelajaran.28

Arends menyatakan “The term teaching model refers to aparticular

approach to instruction that includes its goals, syintax, environment, and management system”. Istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan

pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya. Sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk merencanakan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya, joice menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.29

Dengan demikian bahwa model pembelajaran dapat dijadikan sebagai arah, acuan atau pedoman yang merupakan prosedur yang sistematis bagi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Menurut Fathurrahman Pupuh metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajaran pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal.30

27Agus Suprijono, Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi Paikem, cet IV, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 46

28Zamsiswaya, Pembelajaran dengan menerapkan Ideologi lima-I (Pekan Baru: LPPM UIN SUSKA, 2012), h.30.

29Hamruni, Strategi Pembelajaran (Jogyakarta: Insan Madani, 2012), h.5.

Dengan demikian, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan model pembelajaran.

Pendidikan karakter karena menyangkut penanaman nilai-nilai perilaku dalam sistem pendidikan khususnya di sekolah mestinya bersifat utuh dan terpadu, bahkan haruslah menyeluruh atau holistik. Pendidikan watak dan karakter selama ini sering dipandang dalam pengertian sempit, yaitu terbatas pada penanam nilai-nilai perilaku siswa atau subjek didik di ruang kelas dalam arti melalui kurikulum, padahal semestinya terpadu pada pendidikan karakter melalui budaya atau kultur edukasi, yang harus ditopang oleh prinsip pedagogi yang kokoh. Pendidikan karakter juga tidak sekedar bersifat pembelajaran melalui kurikulum, tetapi pembelajaran melalui keteladanan dari seluruh pihak di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Dalam kaitan ini pendidikan karakter harus merupakan bagian yang menyatu dalam pendidikan yang bersifat holistik31.

Pendidikan holistik, terutama dalam cakupan pendidikan holistic transformative (holistic-transformatitive education) memiliki ciri-ciri berikut: (1) memberikan bagi peserta untuk berkembang secara utuh, (2) keterpaduan proses formal, non formal, dan keluarga, (3) keterpaduan antara teori, praktek, dan apa yang ada dalam masyarakat, (4) menekankan pengembangan secara optimal dalam diri individu dan kelompok, dan (5) partisifatif. Karena itu semua pihak dan para pemangku kepentingan tidak boleh berlepas tangan dari tanggung jawab pendidikan kakrakter. Para pihak di lembaga pendidikan, pemerintah, partai politik, media masa, pengusaha, organisasi kemasyarakatan, lembaga-lembaga swasta dan swadaya masyarakat, keluarga, dan seluruh institusi sosial dalam masyarakat berkewajiban dan bertanggung jawab dalam membentuk karakter generasi bangsa. Dengan demikian semakin terpadu dan saling terkait antara fungsi lembaga-lembaga pendidikan dengan lembaga-lembaga di luar dalam sistem pendidikan karakter yang bersifat holistik.32

31Haedar, Pendidikan, h.18.

Sesuai apa yang dinyatakan oleh Elkind and sweet praktik persekolahan di Amerika Serikat pendidikan karakter dilaksanakan dengan pendekatan holistik (holistic approach). Artinya seluruh warga sekolah mulai dari guru, karyawan, dan para murid harus terlibat dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. Hal ini paling penting disini adalah bahwa pengembangan karakter harus terintegrasi ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Pendekatan semacam ini disebut juga reformasi sekolah menyeluruh.33

Pada pelaksanaan pendidikan karakter, sekolah-sekolah dapat berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan karakter dengan cara :

(1) Menekankan pentingnya nilai-nilai adab yang dikembangkan oleh orang dewasa sebagai model dalam kelas, yang akan dicontoh oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Di sini guru sebagai model teladan, uswatun

hasanah.

(2) Membantu siswa dalam memperjelas nilai-nilai yang seharusnya mereka miliki, membangun ikatan personal serta tanggung jawab di antara mereka. (3) Menggunakan kurikulum tradisional sebagai wahana untuk mengajarkan

nilai-nilai dan menguji pertanyaan-pertanyaan terkait konteks moral.

(4) Meningkatkan dan mempertajam refleksi moral peserta didik melalui diskusi, debat, curah pendapat, dan jurnal-jurnal.

(5) Meningkatkan penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan komponen sekolah (guru, siswa, guru BK, karyawan sekolah) terhadap masyarakat serta berbagai bentuk strategi pelibatan dalam masyarakat lainnya.

(6) Mendukung pengembangan guru dalam dimensi pengembangan moral dan pelaksanaan dialog antar guru dalam konteks moral selama pelaksanaan tugasnya.34

Di lain pihak, Schulman dan Mekler dalam publikasinya berjudul

Bringing up A Moral Child menekankan bahwa yang penting dalam pendidikan

moral adalah membuat anak agar berperilaku santun dan baik (good) dan berlaku

33Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 139.

adil (just), pengembangan nilai good and just adalah yang paling utama. Dalam pengertian just tidak sekedar adil, tetapi juga jujur menghargai hak-hak dan milik orang lain. Dengan demikian moralitas didefinisikan dalam dua aspek.

Pertamaniat, sikap, perilaku siswa harus baik, bahkan menjadi luhur (bila hal-hal

yang baik telah menjadi darah daging, dihayati dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari maka yang baik itu telah menjadi luhur), sehingga memunculkan kesejahteraan pada diri sendiri dan juga sesamanya. Kedua, harus jujur dan adil artinya mempertimbangkan hak-hak orang lain tanpa memandang kedekatan, kekerabatan, tanpa adanya perasangka atau sebaliknya, tanpa memandang favoritism. Lebih lanjur dinyatakan oleh Schulman dan mekler bahwa ada tiga pondasi pengembangan moral, yaitu ; (i) penghayatan dan internalisasi terhadap standar dari orangtua tentang yang benar dan salah, (ii) pengembangan sikap dan reaksi empati, dan (iii) pengembangan dan pemerolehan standar moral sendiri35.

Model dianggap efektif dan efesien apabila dalam penerapannya telah mencapai standart yang ditetapkan. Pengertian efektif, efesiensi adalah kosa kata yang sering terdapat dalam manajemen sumber daya manusia. Efektivitas diterjemahkan dengan makna tepat guna yakni suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki, sedangkan efficiency berasal dari kata latih eficere yang berarti to effect, menghasilkan, mengadakan dan menjadikan dalam bahasa Indonesia ditulis

“efisiensi atau efisien” diterjemahkan dana guna kerja.36

Darmiyati menyimpulkan bahwa model pendidikan karakter yang efektif adalah model yang menggunakan pendekatan komprehensif. Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam berbagai bidang studi. Metode dan strategi yang digunakan bervariasi yang sedapat mungkin mencakup inkulkasi/penanaman (lawan indoktrinasi), keteladanan, fasilitasi nilai, dan pengembangan soft skills (antara lain berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi efektif, dan dapat mengatasi masalah). Semua warga sekolah (pimpinan sekolah, guru, siswa, pegawai administrasi, bahkan penjaga sekolah serta pengelola warung sekolah) dan orang

35Ibid, h. 141.

tua murid serta pemuka masyarakat perlu bekerja secara kolaboratif dalam melaksanakan program pendidikan karakter.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) dan yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut ahli psykolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut antara lain: cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan: baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari : dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil dan punya integritas. Penyelenggaraan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai karakterdasar yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolute atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.37

Berdasarkan grand design yang di kembangkan Kemendiknas, secara psikologis dan sosial cultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial cultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial cultural tersebut dapat di kelompokkan dalam: olah hati (spiritual and emotional depelopment), olah pikir (intellectual depelopment), olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic

development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development) yang

secara diagramatik dapat di gambarkan sebagai berikut :

Tabel 1: Pembentukan KarakterIndividu Manusia