• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pancasila Sebagai Ideologi Nasional

Dalam dokumen BUKU BAHAN AJAR BS IDEOLOGI (Halaman 45-51)

C. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL 1 Hakikat dan Fungsi Ideolog

2. Pancasila Sebagai Ideologi Nasional

Sebagai ideologi nasional, Pancasila berfungsi menggerakkan masyarakat untuk membangun bangsa dengan usaha-usaha yang meliputi semua bidang kehidupan. Pancasila tidak menentukan secara apriori sistem ekonomi dan politik, tetapi sistem apa pun yang dipilih harus mampu menyalurkan aspirasi utama tersebut di atas.

Sebagai ideologi nasional, Pancasila yang pada dasarnya menampilkan nilai-nilai universal, menunjukkan wawasan yang

integral-integratif dan sebagai ideologi modern mampu memberikan gairah dan semangat yang tinggi. Berbeda dengan ideologi-ideologi Barat, Pancasila yang dilahirkan dalam budaya dan sejarah peradaban timur sangat menjunjung tinggi peran religiusitas yang justru sangat didambakan dalam alam kehidupan dan peradaban teknokratis sekarang ini.

Dimensi religius membebaskan manusia dari dominasi kebendaan dengan menunjukkan transendensi terhadap-Nya melalui pemaknaan yang spiritual sehingga tidak akan kering kehabisan inspirasi dan bahkan menawarkan harapan dan perspektif ke depan. Sementara itu, dimensi etis mempertahankan manusia dalam memiliki harkat dan martabatnya dan memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan dan keadilan di dunia. Dengan demikian, Pancasila menawarkan solusi terhadap krisis dunia dengan menjaga keutuhan manusia sebagai pribadi di tengah keramaian peradaban dunia yang sedang mengalami proses alienasi kultural. Salah satu peran Pancasila yang menonjol sejak permulaan penyelenggaraan negara Republik Indonesia adalah fungsinya dalam mempersatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa yang berkepribadian dan percaya pada diri sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, kondisi masyarakat sejak permulaan hidup kenegaraan adalah serba majemuk. Masyarakat Indonesia bersifat multietnis, multireligius, dan multiideologis. Kemajemukan tersebut menunjukkan adanya berbagai unsur yang saling berinteraksi. Berbagai unsur dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat merupakan benih-benih yang dapat memperkaya khazanah budaya untuk membangun bangsa yang kuat, tetapi sebaliknya dapat memperlemah kekuatan bangsa dengan berbagai percekcokan dan perselisihan. Oleh karena itu, proses hubungan sosial perlu diusahakan agar berjalan secara sentripetal agar terjadi apa yang menjadi populer dalam tahun- tahun pertama perjuangan, yaitu samenbundeling van alle

krachten (persatuan bersama semua kekuatan). Di samping itu,

kemerdekaan bangsa Indonesia dicapai lewat revolusi. Penggalangan kekuatan tersebut sangat diperlukan untuk

membekali bangsa Indonesia dalam perjuangannya melawan penjajah dan mengusirnya dari bumi nusantara.

Dengan melihat situasi bangsa sedemikian itu, masalah pokok yang pertama kali harus diatasi pada masa itu adalah bagaimana menggalang persatuan dan kekuatan bangsa yang sangat dibutuhkan untuk mengawali penyelenggaraan negara. Dengan kata lain, nation and character building merupakan prasyarat dan tugas utama yang harus dilaksanakan. Dalam konteks politik inilah Pancasila dipersepsikan sebagai ideologi persatuan. Pancasila diharapkan mampu memberikan jaminan terhadap perwujudan misi politik itu karena merupakan hasil rujukan nasional sehingga setiap kekuatan sosial masyarakat merasa terikat dan ikut bertanggung jawab atas masa depan bangsa dan negaranya. Dengan demikian, Pancasila berfungsi pula sebagai acuan bersama untuk memecahkan perbedaan serta pertentangan politik di antara golongan dan kekuatan politik. Karena urgensi untuk memecahkan masalah-masalah politik selama dua dasawarsa dalam penyelenggaraan negara, Pancasila dipersepsikan sebagai sintesa atau perpaduan yang mempersatukan berbagai sikap hidup yang berada di tanah air. Berbagai aliran dan pendirian yang berbeda dipertemukan dalam Pancasila. Pancasila menyediakan arena yang di satu pihak memberikan keleluasaan bergerak, tetapi di pihak lain memberikan patokan moral yang tidak boleh dilanggar. Pancasila dapat diinterpretasikan secara luas. Akan tetapi, bagaimana pun luasnya Pancasila tidak dapat diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga meliputi pengertian yang bertentangan.

Sebaliknya, Pancasila tidak dapat dipersempit sehingga menjadi monopoli golongan masyarakat tertentu saja.

Persepsi tersebut di atas dapat diperjelas dengan gagasan Bung Karno yang mengemukakan ibarat wadah dan isi (1953). Negara adalah suatu wadah yang dapat diisi apa pun. Karena negara RI disusun berdasarkan Pancasila, apa pun isi yang dituangkan harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bagaimana pun juga, persepsi demikian memberikan implikasi-implikasi tertentu.

Dalam alam pikiran tersebut, Pancasila merupakan ideologi nasional yang meliputi dan memayungi segenap orientasi di dalamnya. Artinya, adanya pandangan-pandangan hidup di dalam masyarakat diakui dan dibenarkan untuk berkembang, baik dengan mengeksplisitkan potensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya maupun melalui akulturasi. Pengembangan itu diperlukan untuk memperkuat kebudayaan daerah sebagai sarana artikulasi masyarakat. Di samping itu, eksistensi pandangan-pandangan hidup tersebut diperlukan pula untuk mengisi dan memperkaya ideologi nasional dalam menjalankan fungsinya untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks pemahaman seperti itulah kebudayaan nasional yang menurut penjelasan UUD 1945 merupakan rangkuman dari puncak-puncak kebudayaan itu diharapkan menumbuhkan saling pengertian dan saling penghargaan yang sangat diperlukan dalam kancah hidup bersama.

Berkaitan dengan hal itu, persepsi politik yang memberikan pembenaran hak hidup bagi pandangan-pandangan hidup dalam rangka mengisi ideologi nasional pada khususnya dan pembenaran eksistensi kebudayaan daerah dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional pada umumnya membuka pula peluang terjadinya berbagai interpretasi subjektif yang diberikan oleh setiap kekuatan sosial politik. Berbagai interpretasi itu di satu pihak dapat benar-benar memperkaya ideologi nasional dan kebudayaan nasional, tetapi di lain pihak bisa juga memperkosanya karena memaksakan suatu pandangan subjektif tertentu demi kepentingan-kepentingan politik tertentu.

Pandangan yang menyatakan bahwa Pancasila adalah doktrin revolusi sebagaimana tercatat dalam sejarah adalah contoh pemerkosaan yang dimaksudkan. Lebih lanjut, interpretasi subyektif dapat mencerminkan suatu paham serta golongan tertentu yang nyata-nyata keluar jalur karena tidak adanya keserasian antara pahamnya dan nilai-nilai Pancasila atau menganggap Pancasila semata-mata sebagai perangkat sopan santun belaka, seperti tecermin dalam adanya pemberontakan- pemberontakan pada masa lalu. Dengan kata lain, suatu pandangan hidup sebagai subideologi ditampilkan sebagai

tandingan terhadap Pancasila sebagai ideologi nasional dan memaksanya dengan kekuatan fisik.

Penampilan Pancasila sebagai ideologi persatuan telah menunjukkan relevansi dan kekuatannya dalam dua dasawarsa sejak permulaan kehidupan dan penyelenggaraan negara RI. Pancasila merupakan filsafat politik. Rakyat Indonesia telah dibangun dengan kesadaran yang kuat sebagai bangsa yang memiliki identitas dan hidup bersatu dalam jiwa nasionalisme dan patriotisme. Namun, terlihat adanya kelemahan dalam persepsi dalam periode tersebut. Kemiskinan yang parah dan berlarut-larut kurang mendapatkan perhatian dan kurang ditanggulangi. Rakyat yang sejak lama mengharapkan perbaikan hidup kurang ditanggapi.

Situasi demikian ditangkap oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai peluang dengan memanfaatkan serta mengangkatnya sebagai isu politik utama. Kejelian ini memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa organisasi politik yang tidak lama sebelumnya telah mengadakan pemberontakan di Madiun yang dalam waktu singkat dapat menarik dukungan berjuta- juta orang di belakangnya.

D. PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Dalam dokumen BUKU BAHAN AJAR BS IDEOLOGI (Halaman 45-51)