• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

2.4 Budaya Patriarki

2.4.1 Patriarki dalam Rumah Tangga

Di dalam rumah, perempuan mendapat kedudukan tersubordinasi (lebih rendah) pada laki-laki. Sementara ketika istri bekerja, cenderung diperlakukan sebagai pencari nafkah kedua (membantu suami) sehingga imbalan lebih rendah untuk pekerjaan yang sama nilainya (Sadli, 2010, h. 172).

Menurut Notopuro (1984, h. 43-46), pernikahan pada hakikatnya adalah suatu peristiwa di dalam kehidupan yang menurut dan sesuai dengan kodrat alam. Dan dengan pernikahan dibentuklah suatu keluarga, yaitu masyarakat yang terkecil. Pentingnya seorang perempuan hadir sebagai pendamping suami adalah bahwa keluarga itu akan berdiri kuat dan berwibawa bila antara perempuan sebagai ibu dan bapak dalam rumah tangga tersebut ada di dalam keadaan seimbang, selaras, dan serasi.

Tetapi pada kenyataannya hidup pernikahan yang bahagia juga ditentukan dari peran suami dan istri. Hubungan perempuan dan laki-laki di Indonesia yang masih didominasi oleh ideologi gender yang membuahkan budaya patriarki (Murniati, 2004, h. 75).

Selain itu, budaya patriarki muncul akibat institusi hasil budaya manusia. Melalui pendidikan keluarga, anak laki-laki dididik untuk agresif, pergi ke luar, bermain di luar rumah. Sementara anak perempuan dididik untuk memasak, kerasan di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani ayah dan saudara laki-laki. Pendidikan ini akan berakibat laki-laki dilayani dan perempuan melayani (Murniati, 2004, h. 96).

Lever dikutip Setiadi dan Kolip (2011, h. 875), menuturkan perbedaan ciri-ciri kepribadian perempuan dan laki-laki terlihat sejak masa kanak-kanak.

a. Anak laki-laki lebih banyak memperoleh kesempatan bermain di luar rumah dan bermain lebih lama ketimbang anak perempuan.

b. Permainan anak laki-laki lebih bersifat kompetitif dan konstruktif karena anak laki-laki lebih tekun dan lebih efektif dari anak perempuan.

c. Permainan anak perempuan lebih banyak bersifat kooperatif dan lebih banyak berada di dalam ruangan.

Budaya patriarki ini terkadang dianggap wajar dalam masyarakat patriarki. Kekuasaan masing-masing oleh kedua pihak dianggap “wajar”, karena itu diakui sebagai wewenang masing-masing. Dalam masyarakat patriarki, suami dan istri dianggap wajar bahwa suamilah yang banyak mengambil keputusan dalam macam-macam hal yang bersangkutan dalam kehidupan keluarganya (Sajogyo, 1985, h. 41).

Di Indonesia sendiri, budaya patriarki masih mengakar kuat dalam diri masyarakat. Walaupun jaman semakin maju, adanya perjuangan perempuan menyamakan kedudukan agar setara dengan laki-laki, tetapi budaya patriarki sendiri susah untuk lepas dari masyarakat. Di Indonesia, dapat ditemukan dalam sebuah keluarga, peranan perempuan yang susah untuk bergerak luas, dan masih tunduk terhadap suami.

Asal mulanya, patriarki sudah mulai lepas saat masa di mana R.A. Kartini memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut memunculkan gerakan-gerakan emansipasi perempuan yang menuntut kesetaraan gender terutama persamaan hak gender (Setiadi dan Kolip, 2011, h. 877). Tetapi ketika masa Orde Baru, perempuan kembali dikekang dan tidak mendapatkan hak dan kedudukannya.

Menurut Murniati (2004, h. 84-85), patriarki di Indonesia bersumber dari berbagai aspek: (sosiologis) pembagian kerja dan fungsi dalam masyarakat, (kebudayaan) feodalisme dan ajaran agama, tradisi, atau adat, (politik) kolonialisme, imperialisme, dan militerisme, (ekonomi) kapitalisme. Persepsi sebagian besar masyarakat terhadap peran perempuan yang masih terbatas peran tradisional menjadikan posisi dan peran perempuan Indonesia ditingkatan marginal (Prawansa, 2006, h. 216).

2.4.2 Kekerasan Terhadap Perempuan

Perempuan oleh media massa senantiasa digambarkan sangat tipikal yaitu tempatnya ada di rumah, berperan sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh, tergantung pada pria, tidak mampu membuat keputusan penting, menjalani profesi yang terbatas, selalu melihat pada dirinya sendiri, sebagai obyek seksual atau simbol seks, obyek fetish, obyek peneguhan pola kerja patriarki, obyek pelecehan dan kekerasan, selalu disalahkan dan bersikap pasif, serta menjalankan fungsi sebagai pengkonsumsi barang atau jasa dan sebagai alat pembujuk (Sunarto, 2009, h. 4).

Dari paparan di atas menjaadi salah satu bentuk terciptanya budaya patriarki. Menurut Surjadi (2011, h. 106), budaya patriarki memiliki imbas negatif dalam kehidupan keluarga yang berlanjut kepada marginalisasi perempuan, aturan/ larangan/ sanksi dalam keluarga, ketidaksetaraan gender dan penyembunyian kasus kekerasan. Hal ini mendorong timbulnya krisis dalam keluarga dan melahirkan kekerasan suami kepada istri.

Kekerasan dalam rumah tangga atau domestic violence adalah kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga (Purniati dan Kolibonso, 2003, h. 27). Sunarto (2009, h. 5) mengatakan kekerasan terhadap kaum perempuan memiliki dua bentuk, yaitu kekerasan di rumah dan kekerasan di lingkungan sosialnya. Kekerasan di rumah biasanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik oleh suami terhadap istrinya. Kekerasan di lingkungan sosial terjadi dalam bentuk perlakuan diskriminatif terhadap kaum wanita untuk menjalankan fungsi sosialnya.

Poli, Abubakar, dan Bulkis (2008, h. 30-36) membagi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ke dalam lima kelompok.

a. Teori biologis mengemukakan tindakan kekerasan laki-laki terhadap perempuan di dalam rumah tangga disebabkan karena pihak laki-laki mengalami gangguan mental. Perempuan yang tetap memelihara hubungannya dengan pihak laki-laki yang telah mengasarinya juga mengalami gangguan mental.

b. Teori psikopatologis memusatkan perhatian pada individu pelaku KDRT di mana trauma yang berasal dari pengalaman usia dini adalah penyebab tindakan kekerasan yang bersangkutan.

c. Teori sistem keluarga melihat keluarga sebagai sebuah sistem yang terdiri atas unsur-unsur yang ada di dalamnya, termasuk suami dan istri yang saling mempengaruhi. Sebab dari KDRT terletak pada kedua belah pihak yang ingin menguasai pihak lainnya.

d. Teori pembelajaran sosial mengemukakan bahwa tindakan kekerasan laki-laki terhadap perempuan adalah perilaku yang dipelajarinya dari lingkungan keluarga sendiri pada usia dini.

e. Teori feminis didasarkan pada analisis kesetaraan kekuasaan dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Teori ini menyatakan bahwa KDRT mencerminkan struktur masyarakat patriakhal, yaitu struktur masyarakat yang mengutamakan kekuasaan laki-laki di atas kekuasaan perempuan. Dalam hal ini KDRT terjadi karena laki-laki mau mempertahankan posisinya sebagai penguasa dalam rumah tangga.

Straus dikutip Purniati dan Kolibonso (2003, h. 5) mengatakan dominasi laki-laki dalam keluarga dan dalam lingkungan adalah penyebab utama terjadinya kekerasan keluarga. Goode dikutip Purniati dan Kolibonso (2003, h. 5) melihat pandangan tersebut merupakan salah satu langkah untuk terjadinya kekerasan karena pemaksaan sangat diperlukan untuk mendukung keputusan akhir yang sudah ditetapkan.

Purniati dan Kolibonso (2003, h. 31) mengatakan pada dasarnya bentuk kekerasan dalam rumah tangga adalah merupakan bentuk kekerasan yang tidak berbeda dengan kekerasan lainnya tetapi di dalamnya terdapat hubungan yang saling menyakiti, dan adanya tujuan pelaku untuk melestarikan kekuasaan dan kendali atas pasangannya.

Adapun cara kekerasan yang biasa dilakukan; (1) penganiayaan lisan atau verbal, (2) penganiayaan emosional, (3) penyalahgunaan keuangan, (4)

penganiayaan fisik, (5) penyalahgunaan seksual, (6) penyalahgunaan sistem. Lebih lanjut lagi, kekerasan fisik meliputi perbuatan pemukulan, penganiayaan, pengurungan (dikurung dalam rumah), memberikan beban pekerjaan yang berlebihan dan ancaman kekerasan. Sedangkan yang termasuk kekerasan verbal adalah caci maki, meludahi, dan penghinaan secara verbal. Kekerasan emosional meliputi perbuatan, pembatasan atau pemutusan hubungan dengan masyarakat maupun dengan keluarga, melarang istri bekerja, sering meninggalkan rumah tanpa alasan, dan teror. Kekerasan ekonomi meliputi perbuatan pembatasan keuangan yang berlebihan, memaksa bekerja sedangkan pelaku suka menganggur. Sedangkan yang dimaksud kekerasan seksual adalah pemerkosaan, baik yang dilakukan oleh suami atau marital rape maupun oleh anggota keluarga lain (Purniati dan Kolibonso, 2003, h. 31).

Dari cara-cara kekerasan dalam rumah tangga yang telah dipaparkan, adapun kekerasan yang dialami oleh istri dibagi dalam empat bentuk, yaitu kekerasan fisik (menjambak, memukul, menyundut rokok, menendang, menampar, dan sebagainya), kekerasan emosional (menghina, mengejek, menduakan istri dan sebagainya), kekerasan ekonomi (menjual istri, tidak menafkahi, mengeksploitasi istri, dan sebagainya), serta kekerasan seksual (perkosaan, dan sebagainya) (Purniati dan Kolibonso, 2003, h. 47).