BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.2 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Yanti
4.2.2.1 Scene 00:12:02 – 00:14:22
Gambar 4.6
Scene 00:12:02 – 00:15:30
Rumah Sakit / Yanti berkonsultasi DR. KARTINI
Gimana pekerjaan kamu? YANTI
Saya dapat tiga cowok seperti biasanya dalam satu malam, tapi cewek juga sih, Dok! Lagi global warming, jadi banyak yang saya angetin...
Jalanan / Flashback PSK 1
Mbak, masih boleh ikutan disini gak? YANTI
Yang baru di belakang dekat warung! PSK I
Belakang sana? YANTI
Ya, ngesot belakang sana, cin...
BAMBANG Bos, ayo bos!
YANTI
Bambang, tawarin bang BAMBANG Malem bos..mau? PELANGGAN LAKI-LAKI
Ayam kampus? BAMBANG
Ayam kampus udah gak musim, yang ini presto empuk. PELANGGAN LAKI-LAKI
S1? BAMBANG
Kalo S1 dia gak nangkring disini bos PELANGGAN LAKI-LAKI
Serius, gue mau S1 BAMBANG
Gue kayak lagi ngelamar kerja... PELANGGAN LAKI-LAKI
Bisa bahasa Inggris? YANTI
May i help you? Yukk PELANGGAN LAKI-LAKI You do speak english. Get it!
YANTI
it’s gonna be expensive sir... PELANGGAN LAKI-LAKI
Deskripsi Narasi
Yanti ditemani Bambang (temannya yang menemani dia menjadi PSK) rutin konsultasi kepada dr. Kartini. Yanti menceritakan bahwa dia mendapat pelanggan laki-laki dan satu perempuan dalam semalam. Ketika adegan flashback, Yanti mendapatkan pelanggan laki-laki yang menginginkan PSK berpendidikan. Yanti menunjukkan kemampuannya berbahasa Inggris, sehingga pelanggan laki-laki tersebut menjadi tertarik kepada Yanti.
Tabel 4.14
Level Realitas Scene 00:12:02 – 00:15:30
Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Kostum Yanti:
Baju berwarna merah
Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Merah melambangkan gairah, agresif, merangsang dan seks (Sanyoto, 2009, h. 47)
Lingkungan Jalan Raya Orang-orang yang bergelandangan dan berkeliaran di jalan raya atau di tempat umum dengan tujuan untuk
melacurkan diri (Hidayana, dkk., 2004, h. 129) Gerak Isyarat (gesture) Yanti: Menyibakkan rambut ke belakang sehingga bagian leher terlihat jelas
Menelengkan kepala Mencondongkan tubuh ke depan Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371) Menyibakkan rambut ke belakang sering dilakukan oleh perempuan ketika tertarik pada pria dan membiarkan daerah pribadinya dimasuki (Putra, 2013, h. 113) Ketertarikan diistilahkan dengan mempertahankan posisi kepala pada sudut pandang yang mengarah pada objek yang menarik perhatian (Wainwrig, 2006,
h. 45) Mencondongkan tubuh ke depan berarti memiliki sikap positif terhadap orang lain (Wainwrig, 2006, h. 112) Ekspresi Yanti:
Senyum dengan mulut tertutup
Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Senyuman sebagai gerak-gerik mengucapkan salam dengan tingkat kesenangan (Wainwrig, 2006, h. 44)
Shot 2 Kostum Pelanggan laki-laki: Kemeja berwarna biru muda Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Biru melambangkan
kecerdasan (Sanyoto, 2009, h. 48-49) Gerak Isyarat (gesture) Pelanggan laki-laki: Agak mencondongkan tubuh ke depan Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Mencondongkan tubuh ke depan berarti memiliki sikap positif
terhadap orang lain (Wainwrig, 2006, h. 112)
Ekspresi Pelanggan laki-laki: Pupil mata membesar
Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Pupil mata membesar dengan tatapan tertahan untuk waktu yang lama melambang
2013, h. 108)
Deskripsi Level Realitas
Adegan shot 1 dan 2 masuk dalam adegan flashback. Pemeran perempuan bernama Yanti, bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil) yang menarik perhatian laki-laki, terlihat dari warna baju yang dia kenakan, yaitu bergairah, agresif, merangsang dan seks serta lingkungan terjadinya percakapan antara Yanti dan laki-laki tersebut, yaitu jalan raya yang umumnya menjadi tempat mangkal para PSK. Konteks tersebut menunjukkan karakter Yanti sebagai PSK. Dalam
shot 1 menjelaskan bagaimana Yanti menarik perhatian laki-laki melalui gerak
isyarat yang dia lakukan, yaitu menyibakkan rambut ke belakang sehingga bagian leher terlihat jelas dan menelengkan kepala menandakan dirinya tertarik dan ingin menarik perhatian laki-laki. Selain itu, rasa nyaman berkomunikasi ditunjukkan Yanti ketika mencondongkan tubuh ke depan.
Dalam adegan shot 2, karakter pelanggan laki-laki yang cerdas tersirat dari komunikasi verbal dan warna kemeja yang dia kenakan. Pelanggan laki-laki ini tertarik kepada Yanti terlihat dari ekspresinya, yaitu pupil mata membesar saat melihat Yanti berbicara.
Tabel 4.15
Level Representasi Scene 00:12:02 – 00:15:30
Representasi
Shot 1 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame KS (Knee Shot) Memperlihatkan sosok objek (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 2 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MCU (Medium
Close Up)
Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Deskripsi Level Representasi
Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Adegan shot 1 ingin menampilkan sosok Yanti dengan pekerjaannya sebagai PSK yang menarik perhatian laki-laki yang telah diuraikan dalam level realitas. Oleh sebab itu, untuk memperlihatkan sosok Yanti menggunakan teknik pengambilan gambar knee shot.
Selanjutnya dalam adegan shot 2 untuk menegaskan profil pelanggan laki-laki yang cerdas menggunakan teknik pengambilan gambar medium close up. Kedua adegan dalam shot 1 dan 2, menggunakan angle eye level dan high key lighting yang digunakan pada adegan-adegan formal dan biasa karena berlokasi di jalan raya yang menjadi tempat mangkal Yanti.
Tabel 4.16
Level Ideologi Scene 00:12:02 – 00:15:30
Sequence Level Ideologi
Shot 1,2 Gagasan konsep yang terkandung adalah pekerjaan perempuan (prostitusi) dan seksualitas yang berada dalam lingkup patriarki dimana adanya dominasi laki-laki dalam perempuan yang menjadi sistem kepercayaan dan keyakinan masyarakat. Hal ini terlihat dari narasi dan dialog pelanggan laki-laki. Pelanggan laki-laki memperlihatkan kekuasaannya melalui kalimat-kalimat yang menganggap setinggi apapun pendidikan perempuan, perempuan tersebut tetap pantas
menjadi PSK. Bahwa pada akhirnya ketrampilan dan pendidikan perempuan tetap dianggap tidak berguna karena pada akhirnya perempuan akan bertugas melayani laki-laki. Hal tersebut juga diperkuat melalui karakter dan aksi pelanggan laki-laki saat menjalin percakapan dengan Yanti. Latar jalanan juga mendukung bahwa pekerjaan prostitusi umumnya dilakukan oleh perempuan dan pelanggannya adalah laki-laki.
Deskripsi Level Ideologi
Seksualitas tidak akan lepas dari nilai-nilai patriarki. Salah satu konsep patriarki yang dikemukakan Walby (1990, h. 20-21) adalah hubungan patriarki dalam seksualitas. Dalam hal ini, seksualitas terjadi jika dilakukan oleh lawan jenis dan sama-sama saling suka. Hanya saja seksualitas ini merugikan kaum perempuan, namun terakhir munculnya kontrasepsi modern, perceraian dalam hukum yang dianggap menguntungkan kaum perempuan. Hal ini membuktikkan bahwa gagasan konsep konsekuensi seksualitas yang berlaku adalah seksualitas yang sarat bias kepentingan laki-laki.
Hidayana (2004, h. 123-136) mengatakan pelacuran atau prostitusi adalah fenomena dari perdagangan perempuan. Maddock (2012, h. 556) mengatakan terjadinya eksploitasi seksual seperti kawin paksa, perbudakan seksual dan pengantin pesanan jika ada unsur pemaksaan. Dalam hal ini, prostitusi yang merupakan kinerja pekerja seks sukarela, tidak disamakan dengan eksploitasi seksual. Umumnya pemaksaan untuk menjadi pelacur terjadi pada
perempuan-perempuan muda. Yanti sendiri bekerja sebagai PSK bukan karena paksaan terlihat dari ekspresi dan gerak isyarat Yanti yang menarik perhatian laki-laki. Sehingga dalam kasus ini hanya terjadi fenomena perdagangan seksualitas perempuan.
Perempuan dengan pekerjaan sebagai pelacur dianggap pantas oleh laki-laki karena pada umumnya laki-laki melihat ketidaksetaraan terhadap pekerjaan perempuan. Di mana perempuan tetap mendapatkan upah dan martabat yang rendah. Dalam adegan di atas, perkataan pelanggan laki-laki ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan yang sarjana tetap pantas menjadi PSK (Pekerja Seks Komersil) : “Ayam kampus?”, “Serius, gue mau S1”. Istilah ‘Ayam Kampus’ untuk menggambarkan mahasiswi yang bekerja menjadi pelacur. Selain itu, ekpresi pelanggan laki-laki yang tertarik pada Yanti saat mendengar Yanti berbahasa Inggris menunjukkan bahwa sebagai perempuan yang cerdas, Yanti tetap pantas menjadi PSK. Hal ini membuktikkan bahwa gagasan konsep perempuan yang bekerja, setinggi apapun pendidikan dan ketrampilannya tetap dianggap rendah oleh laki-laki.
Prostitusi umumnya dikaitkan dengan pekerjaan perempuan. Jika dikaitkan dengan konteks sosial, menurut Hidayana, dkk. (2004, h. 46) pergerakan isu seksualitas telah terjadi ketimpangan dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan. Di satu pihak, di arena tersebut laki-laki mampu memperlihatkan keperkasaan dan kekuasaannya, di lain pihak, perempuan menempatkan diri dan ditempatkan sebagai pelayan kebutuhan seks pasangannya. Ketimpangannya
Di Indonesia sendiri, ketimpangan seksualitas tidak hanya terjadi pada sebuah rumah tangga. Tetapi dikaitkan juga dengan pekerjaan perempuan di Indonesia. Umumnya prostitusi adalah pekerjaan yang dianggap rendah. Tetapi yang dipandang rendah bukanlah pekerjaannya. Tetapi perempuan-perempuan yang bekerja dengan melacurkan dirinya kepada laki-laki. Ini terjadi karena adanya ketimpangan seksualitas sendiri, yaitu kodratnya perempuan yang hanya dilihat sebagai ‘pelayan kebutuhan seks pasangan’.