BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.4 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Ratna
4.2.4.2 Scene 01:05:01 – 01:09:09
Gambar 4.10
Scene 01:05:01 – 01:09:09
RATNA (menggedor pintu)
Assalamualaikum... Assalamualaikum.... mas, mas Marwan MARWAN
( membuka pintu) RATNA
Mas, boleh kita bicara di kamar... Aku gak mau di madu mas..lebih baik aku hidup sendiri daripada diduain
MARWAN Aku sayang kamu Ratna
RATNA
Shot 1 Shot 2
Mas, tolong jangan munafik... MARWAN
aku enggak munafik.... RATNA
Diam!... Kamu emang bajingan. Dari pertama menikah aku uda tau kamu emang bajingan!
MARWAN Ratna! RATNA
Kamu bangsat! ... kasih tas ini ke dia! MARWAN
Ratna, aku... RATNA
Dengar, aku bersedia menerima posisi yang sudah ditakdirkan untuk aku mas, tapi aku bukan barang yang tidak bernyawa.Aku hidup, aku manusia...manusia! Bukan anjing yang bisa ditendang begitu saja waktu majikannya sibuk dengan lonte-lonte di luar sana!
MARWAN ssstttt RATNA
“mau makan mas?””mau aku siapin air panas mas?”.... kamu kira aku pembantu?Itu uda kewajibanku di rumah ini. Kewajiban aku sebagai istri! Bukan kerja keras banting tulang untuk satu keluarga ini! Itu tugas kamu mas! Tugas kamu! Sekarang kamu datang
bawa istri baru dan anak. Sepertinya aku salah besar. Kamu emang gak tau diri. Kamu berani-beraninya menghina aku, orang yang udah kasih kamu makan?Jangan sentuh
aku... Jangan sentuh aku! MARWAN
Dengar! Aku cinta sama kamu Ratna, itu benar. Tapi aku enggak tahan nunggu sampai lima tahun. Bayangin lima tahun!
RATNA
Oke! Emang aku yang bajingan gak bisa kasih kamu anak. Kita buang aja bayi yang ada dikandunganku ini. Habis perkara!
RATNA
Aku emang bego...bego banget. Aku kerja keras setiap hari sementara kamu sibuk tidurin dia. “Aku lembur untuk anak kita” .... Minggir! Minggir!
MARWAN Kamu mau kemana?
RATNA
Apa urusan kamu aku mau kemana? MARWAN
Kalau kamu tenang, mungkin besok kita... RATNA
Oh mungkin besok, besok, besoknya lagi.. sampai kamu bisa tipu aku lagi? Itu yang ada dalam otak kamu, Marwan! Aku gak sudi!
ISTRI KEDUA MARWAN Mbak, minta maaf
RATNA
Harusnya kamu cek dulu siapa dia ISTRI KEDUA MARWAN
Iya, maaf RATNA
Gak ada yang perlu dimaafin Deskripsi Narasi
Ratna memergoki istri kedua Marwan bersama anaknya sedang berada di rumahnya bersama dengan Marwan. Ratna mengajak Marwan masuk ke dalam kamar untuk berbicara. Di dalam kamar, Ratna mengemasi barang-barangnya dan mengungkapkan kekesalan hatinya atas perilaku Marwan yang beristri lagi. Marwan mengaku bahwa itu dilakukan karena dirinya tidak tahan menunggu Ratna yang tidak kunjung hamil. Marwan mengatakan bahwa dirinya masih
mencintai Ratna. Ratna tetap bersikeras dirinya tidak ingin suaminya poligami, akhirnya dia meninggalkan rumah dan Marwan.
Tabel 4.26
Level Realitas Scene 01:05:01 – 01:09:09
Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Kostum Ratna:
Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana (Sanyoto, 2009, h. 51)
Lingkungan Rumah (ruang tamu)
Rumah adalah tempat
berkumpulnya keluarga: ayah, ibu, dan anak (Gunarsa, 1987, h. 2 – 4) Gerak Isyarat (gesture) Marwan: Posisi badan condong ke belakang Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Sikap negatif
ditandai dengan mencodongkan tubuh ke belakang (Wainrig, 2006, h. 112) Ekspresi Ratna:
Tatapan kuat pada Marwan dan tanpa ekspresi senyum Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya
terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tatapan kuat pada sumber yang membuat sakit hati. Kekecewaan, depresi ditandai dengan tanpa ekspresi senyum (Wainwrig, 2006, h. 44)
Shot 2 Kostum Ratna:
Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana
(Sanyoto, 2009, h. 51)
Lingkungan Rumah (kamar dengan properti lemari)
Rumah adalah tempat
berkumpulnya keluarga: ayah, ibu, dan anak. Kamar menjadi tempat yang lebih intim dan pribadi (Gunarsa, 1987, h. 2 – 4) Ekspresi Ratna: Tatapan kuat pada Marwan, mengerutkan dahi Gerak-gerik seperti melengkung ke bawah sudut bibir Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya
terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378).
Tatapan kuat pada sumber yang membuat sakit hati dan mengerutkan dahi adalah wujud kemarahan (Wainwrig, 2006, h. 44) Kesedihan, kekecewaan, depresi ditandai
dengan tanpa ekspresi senyum dan gerak gerik seperti
melengkung ke bawah sudut bibir (Wainwrig, 2006, h. 44)
Shot 3 Kostum Ratna:
Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana (Sanyoto, 2009, h. 51) Ekspresi Ratna: Muka mengerut, menunjukkan air mata, bibir bergetar Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya
terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Roman muka mengerut, adanya air mata, bibir bergetar
menunjukkan kesedihan dan kekecewaan
(Wainwrig, 2006, h. 44)
Shot 4 Kostum Ratna:
Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana (Sanyoto, 2009, h. 51) Gerak Isyarat (gesture) Ratna: Menggosok hidung Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Salah satu bentuk sentuhan diri adalah menggosok hidung yang berarti dalam keadaan stres (Wainwrig, 2006, h. 170) Marwan: Memegang bahu Sentuhan yang berupa kontak badan
Ratna dalam keluarga yang positif berarti memberikan rasa nyaman (Wainwrig, 2006, h. 167-168) Ekspresi Ratna: Menunjukkan air mata, bibir bergetar, berusaha menutupi wajah Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya
terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Kesedihan yang sangat dicirikan dengan menunjukkan air mata, bibir bergetar, dan berusaha menutupi wajah (Wainwrig, 2006, h. 44) Marwan: Menunduk Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya
terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378).
Kesedihan dan depresi salah satunya ditunjukkan dengan menunduk (Wainwrig, 2006, h. 44)
Deskripsi Level Realitas
Karakter Ratna tetap memiliki sifat kedekatan hati dan bijaksana melalui warna baju yang dia kenakan. Kedekatan hati dan bijaksana dalam konteks, Ratna tidak mengusir Marwan dan istri keduanya ataupun melakukan kekerasan fisik pada istri kedua Marwan. Karakter Ratna ini terpancar dari setiap adegan dalam
shot 1,2,3 dan 4.
Dalam adegan shot 1, dengan berlatar rumah, maka terlihat bahwa ini adalah konflik dalam keluarga. Di mana Marwan memiliki istri kedua beserta anak. Karakter Marwan digambarkan memiliki perasaan yang negatif ketika Ratna menemukan dirinya bersama dengan istri keduanya di ruang tamu melalui gerak isyarat yang ada. Perasaan negatif ini dalam konteks kebohongan Marwan selama ini terbongkar. Sedangkan Ratna yang menemukan hal tersebut, melihat Marwan dengan tatapan kecewa.
Dalam adegan shot 2, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan Ratna terpancar dari ekspresinya yang menatap Marwan tajam disertai tanpa ekspresi senyum. Selanjutnya kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan tersebut meluap
menjadi kesedihan yang sangat saat Ratna mulai mengeluarkan air mata, muka mengerut dan bibir bergetar yang ada dalam adegan shot 3. Dalam shot ini menampilkan kamar sebagai lingkungannya dan properti lemari terbuka yang menandakan Ratna ingin mengemasi barang-barangnya.
Selanjutnya dalam adegan shot 4, Ratna yang dalam keadaan stres ditunjukkan dari gerak isyaratnya menggosok hidung disertai dengan ekspresi berusaha menutupi wajah yang menandakan kesedihan yang sangat. Sedangkan Marwan berusaha memberikan rasa nyaman kepada istrinya melalui sentuhan di bahu istrinya tetapi hal itu tidak berguna karena Ratna menunjukkan keadaan stres. Selain itu Marwan terlihat menunduk ketika melihat istrinya menangis yang berarti dia merasa sedih.
Tabel 4.27
Level Representasi Scene 01:05:01 – 01:09:09
Sequence Level
Representasi
Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame FS (Full Shot) Memperlihatkan objek dengan lingkungan sekitar (Baksin, 2013, h.
127)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 2 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MS (Mid Shot) Memperlihatkan seseorang dengan sosoknya (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 3 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MCU (Medium
Close Up)
Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 4 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MS (Mid Shot) Memperlihatkan seseorang dengan sosoknya (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Deskripsi Level Representasi
Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Secara keselurahan dalam adegan shot 1,2,3,4 menggunakan angle eye level dan high key lighting. Karena adegan yang tercipta adalah formal dan biasa.
Dalam adegan shot 1 menggunakan teknik pengambilan gambar full shot. Hal ini berguna untuk mempertegas problematika keluarga Ratna dengan lingkungan
sekitar. Dengan mengambil setting di dalam rumah, maka penonton bisa menebak bahwa masalah yang terjadi, yaitu masalah keluarga. Ditambah dengan memperlihatkan konflik antara tokoh, yaitu Ratna, Marwan, dan istri kedua Marwan. Selain itu teknik pengambilan gambar full shot juga mendukung ekspresi Ratna yang terkejut dan kecewa serta gerak isyarat Marwan yang ketahuan memilki istri kedua.
Dalam adegan shot 2 menggunakan teknik pengambilan gambar mid shot yang memperlihatkan Ratna dengan ekspresinya yang kecewa, marah dan sedih terhadap Marwan serta keinginannya untuk pergi dari rumah karena memperlihatkan dengan jelas lemari yang terbuka. Selain itu dalam shot 3 menggunakan teknik pengambilan gambar medium close up untuk memperjelas ekspresi Ratna yang mengalami kesedihan yang sangat (hal ini mendukung level realitas yang telah dijabarkan).
Dalam adegan shot 4,menggunakan teknik pengambilan mid shot yang kembali memperlihatkan Ratna dengan gerak isyarat dan ekspresinya serta interaksinya dengan Marwan. Teknik ini memperlihatkan gerak isyarat dan ekspresi kedua tokoh.
Tabel 4.28
Level Ideologi Scene 01:05:01 – 01:09:09
Sequence Level Ideologi
Shot 1,2,3,4 Gagasan konsep yang terkandung adalah poligami yang masuk dalam dominasi laki-laki terhadap kebutuhan seksual
yang menjadi kepercayaan dan keyakinan dalam masyarakat. Hal ini terlihat dari aspek narasi dan dialog Marwan yang membenarkan tindakan dirinya berpoligami karena Ratna lama tidak memberikan keturunan. Karakter dan aksi Marwan tersebut menunjukkan kepada Ratna bahwa seharusnya Ratna bisa melakukan pelayanan yang sempurna terhadap suami. Hal ini diperkuat dengan latar rumah sebagai tempat dimana suami berkuasa atas istri. Mendukung gagasan ini, terlihat dari aspek narasi, dialog, aksi, dan karakter Ratna yang mengalami kemarahan atas poligami yang dilakukan suaminya, kesedihan atas ketidakmampuan dirinya yang setelah lima tahun baru memberikan keturunan sedangkan suaminya telah
berpoligami, serta ketidakberdayaan Ratna sehingga pada akhirnya dia memilih pergi dari rumah. Istri (perempuan) dalam rumah tangga umumnya dianggap eksis sebatas dia mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan seksualitas lawan jenisnya.
Deskripsi Level Ideologi
Seksualitas sarat dengan bias kepentingan laki-laki. Dalam gagasan konsep yang terkandung dalam scene ini, baik dari level realitas dan representasi yang telah diuraikan, seksualitas juga mencakup pihak-pihak yang sudah menikah. Konsep patriarki yang muncul menurut Walby (1990, h. 20-21) dalam scene ini adalah patriarki dalam keluarga dan seksualitas. Poligami masuk dalam bagian seksualitas. Dalam hal ini posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Pada hakikatnya, menurut Hidayana, dkk (2004, h. 121-122) gagasan konsep poligami
bisa dikatakan ‘terjadi’ jika istri tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri, istri sakit berat atau cacat badan, dan tidak dapat melahirkan keturunan.
Dalam permasalahan keluarga Ratna, setelah lima tahun pernikahannya, dia baru dikaruniai anak. Tetapi pada akhirnya, Marwan, suami Ratna, tidak bisa menunggu selama itu. Oleh sebab itu terjadilah poligami: “Dengar! Aku cinta
sama kamu Ratna, itu benar. Tapi aku enggak tahan nunggu sampai lima tahun. Bayangin lima tahun!”. Perkataan Marwan ini membuktikkan bahwa dia
mempunyai hak untuk melakukan poligami, karena istrinya tidak memenuhi kebutuhannya untuk mendapatkan anak.
Pernyataan Marwan ini membuat Ratna sebagai perempuan terinjak-injak. Dilihat dari gerak isyarat Ratna yang memperlihatkan rasa stres dan ekspresinya yang kecewa, sedih, dan marah namun tidak bisa berbuat apa-apa karena suaminya telah berpoligami tanpa seijinnya. Bahkan alasan Marwan melakukan poligami juga membuat Ratna menyadari posisinya yang rendah sebagai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan: “Oke! Emang aku yang
bajingan gak bisa kasih kamu anak. Kita buang aja bayi yang ada dikandunganku ini. Habis perkara!”.
Peraturan poligami ini memberikan kekuasaan kepada kaum laki-laki. Perempuan pada dasarnya tidak ingin suami mereka beristri lagi. Perkataan Ratna mewakili pernyataan tersebut: “Dengar, aku bersedia menerima posisi yang
sudah ditakdirkan untuk aku mas, tapi aku bukan barang yang tidak bernyawa.Aku hidup, aku manusia...manusia! Bukan anjing yang bisa ditendang
begitu saja waktu majikannya sibuk dengan lonte-lonte di luar sana!”, ““mau makan mas?””mau aku siapin air panas mas?”.... kamu kira aku pembantu?Itu uda kewajibanku di rumah ini. Kewajiban aku sebagai istri! Bukan kerja keras banting tulang untuk satu keluarga ini! Itu tugas kamu mas! Tugas kamu! Sekarang kamu datang bawa istri baru dan anak”. Pernyataan Rara ini
membuktikkan gagasan konsep poligami terjadi akibat adanya ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Budaya patriarki dalam keluarga dikaitkan dengan konteks sosial yang menjadi produksi utama konsep poligami terjadi. Asal mula budaya patriarki dalam keluarga Ratna sudah terlihat dan Ratna sendiri menyadari posisi dirinya sebagai istri yang berkewajiban melayani suaminya. Bahkan segala keputusan dalam rumah tangga, akan diambil alih oleh suami. Oleh sebab itu, perempuan adalah kaum yang dirugikan. Karena pada akhirnya yang memiliki hak dalam rumah tangga untuk mengambil keputusan adalah laki-laki. Termasuk halnya dalam berpoligami, di mata masyarakat patriarki di Indonesia, poligami adalah hal yang wajar jika perempuan tidak mampu memenuhi kebutuhan seksualitas laki-laki atau suami.