• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Lily

4.2.1.2 Scene 00:46:07 – 00:47:42

Gambar 4.3

Scene 00:46:07 – 00:47:42

Rumah Sakit / Lily berkonsultasi PERAWAT Nyonya Lily.. LILY Dokter DR. KARTINI Gimana? LILY Baik dok.. DR. KARTINI Silahkan duduk.... Li,

Shot 3

Shot 2 Shot 1

saya harus bagaimana supaya kamu mau terbuka? LILY

Ng.. dokter, saya enggak ngerti.... DR. KARTINI

Mengapa kamu masih juga melindungi dia? LILY

Saya.... DR. KARTINI

Lily, kita bisa sama-sama lapor ke polisi LILY

Dokter jangan! Saya cinta sama dia. DR. KARTINI

Karena itu kamu bersedia disiksa begini? LILY

Dia gak siksa saya... Dokter dia enggak sengaja. DR. KARTINI

Kalau ini terus terjadi, bisa berbahaya untuk bayi kamu. LILY

( mengangguk pelan) DR. KARTINI

Lily, saya punya kewajiban untuk melaporkan kepada polisi kalau ada apa-apa yang tidak wajar pada pasien saya

(Lily kembali difoto oleh dr. Kartini) Deskripsi Narasi

Lily kembali bertemu dr. Kartini untuk melakukan pengecekan kehamilan dia. dr. Kartini melihat wajah Lily yang semakin lebam. Dia menyarankan Lily agar melaporkan kejadian yang dialami dirinya kepada polisi. Tetapi Lily

menyangkal dan menganggap perlakuan yang dilakukan suaminya bukan kekerasan. dr. Kartini tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kembali mengumpulkan foto wajah Lily sebagai dokumen pribadinya.

Tabel 4.5

Level Realitas Scene 00:46:07 – 00:47:42

Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Kostum Lily:

Mengenakan baju coklat muda Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Coklat sebagai simbol sifat sopan namun terasa kurang bersih atau tidak cemerlang (Sanyoto, 2009, h. 51).

Lingkungan Ruangan dokter dan duduk di sofa.

Duduk di sofa dengan posisi berhadapan adalah cara memasuki ruang pribadi, seperti menghadapkan wajah untuk benar-benar

menatap seseorang, mendekatkan diri (Wainwrig, 2006, h. 96-97)

Shot 2 Kostum Lily:

Mengenakan baju coklat muda Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Coklat sebagai simbol sifat sopan namun terasa kurang bersih atau tidak cemerlang (Sanyoto, 2009, h. 51). Ekspresi Lily: Tatapan mata ke bawah Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Memandang ke bawah memberitahukan bahwa tidak

merasa begitu bahagia

(Wainwrig, 2006, h. 49)

Shot 3 Ekspresi Lily:

Mulut terbuka, mata terbuka, warna wajah pucat

Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tindakan mulut terbuka, mata terbuka lebar, tubuh bergetar yang mempengaruhi wajah dan tubuh adalah ekspresi dari kekhawatiran atau ketakutan (Wainwrig, 2006, h. 45)

Deskripsi Level Realitas

Kekerasan yang dialami tokoh Lily digambarkan semakin parah melalui pakaian berwarna coklat yang dia gunakan. Coklat sebagai simbol sifat sopan namun terasa kurang bersih atau tidak cemerlang (Sanyoto, 2009, h. 51). Luka

lebam di muka Lily yang semakin parah menjadi pendukung kekerasan yang dialaminya. dr. Kartini mengajak Lily duduk di sofa (hal yang berbeda ketika dia menerima pasien lainnya). Properti sofa yang digunakan bertindak sebagai cara dr. Kartini memasuki ruang pribadi Lily. Dalam konteks ini bisa dianalogikan sebagai cara dr. Kartini mengajak pasiennya melakukan pembicaraan serius dan rahasia. Tentu saja terkait kekerasan yang dialami Lily.

Sementara itu cara dr. Kartini tersebut untuk masuk ke dalam ruang pribadi Lily, ditolak oleh Lily dalam adegan shot 2, Lily terlihat enggan melalui pembicaraan lebih lanjut dengan dr. Kartini. Tatapannya yang menghindari dr. Kartini dan berusaha menampilkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tetapi kenyataan itu semakin pudar karena dalam adegan shot 3, semua terekam jelas melalui ekspresi wajah Lily yang ketakutan dan cenderung pucat akibat perkataan dr. Kartini yang ingin membawa kasus ini kepada kepolisian (mata dan mulut terbuka serta warna wajah pucat).

Tabel 4.6

Level Representasi Scene 00:46:07 – 00:47:42

Sequence Level

Representasi

Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Angle High Angle Menimbulkan kesan ‘lemah’, ‘tak berdaya’, ‘kesendirian’, dan kesan lain yang

mengandung konotasi ‘dilemahkan atau dikerdilkan’ (Baksin, 2013, h. 121-122)

Frame LS (Long Shot), 2 S (Two Shot)

Memperlihatkan objek dengan latar belakangnya yang saling berinteraksi (Baksin, 2013, h. 127-128)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Shot 2 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame MCU (Medium

Close Up)

Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Shot 3 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame BCU (Big Close

Up) Menonjolkan objek untuk menimbulkan ekspresi tertentu (Baksin, 2013, h. 125)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Deskripsi Level Representasi

Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Dalam adegan shot 1, 2, 3 adegan yang muncul adalah formal dan biasa. Dalam adegan shot 1 karakter Lily digambarkan lemah dan tak berdaya dari pengambilan high angle. Hal ini mendukung level realitas yang menggambarkan hasil kekerasan yang dialami Lily semakin parah. Nuansa serius juga terlihat dari pengambil gambar LS (Long Shot). Di mana terjadi percakapan serius antara Lily dengan dr. Kartini. Latar belakang suasana percakapan antara

Dalam adegan shot 2 rasa kekhawatiran dan ketakutan Lily terlihat jelas dari pengambilan gambar MCU (Medium Close Up) yang menegaskan tokoh Lily tidak nyaman dengan percakapan antara dirinya dengan dr. Kartini. Kemudian rasa khawatir dan takut itu semakin terlihat saat pengambilan gambar menjadi BCU (Big Close Up) dalam adegan shot 3. Ekspresi Lily digambarkan jelas sehingga mendukung level realita yang telah diteliti sebelumnya.

Tabel 4.7

Level Ideologi Scene 00:46:07 – 00:47:42

Sequence Level Ideologi

Shot 1,2,3 Gagasan konsep yang terkandung dalam scene ini adalah kekerasan dalam rumah tangga serta budaya patriarki dalam keluarga. Hal ini telihat dari narasi dan dialog yang

memperlihatkan dengan jelas Lily mengalami kekerasan dan Lily masih membela suaminya karena dia menyadari posisi suaminya di rumah (sebagai penguasa). Hal tersebut

bertentangan dengan apa yang Lily terima, yaitu kekerasan. Sehingga terdapat konflik batin Lily saat dr. Kartini

menyadarkan Lily atas perbuatan suaminya yang dapat membahayakan nyawanya. Lily menampilkan karakter dan aksi yang mengalami ketidaksetaraan dengan wajar.

Ideologi ini terkait sistem kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap kekuasaan laki-laki dalam kehidupan berumah tangga.

Deskripsi Level Ideologi

Walby (1990, h. 20-21), membagi konsep patriarki ke dalam enam struktur, salah satunya adalah kekerasan dari laki-laki. Kekerasan yang digambarkan Walby, terbagi atas dua jenis, yaitu kekerasan rutin yang dialami perempuan dan kekerasan luar biasa. Ketika perempuan sudah membina hubungan rumah tangga, kekerasan yang dialami perempuan akan dikategorikan dalam kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam shot 1,2,3 terjadi kekerasan dalam rumah tangga Lily, terlihat dari wajah Lily yang penuh dengan luka lebam. Lily mengalami kekerasan fisik, yang menyebabkan luka disekitar wajahnya. Tetapi Lily melihat bahwa perilaku suaminya sebagai wujud dari kuasa laki-laki dalam rumah tangga: “Dia gak siksa

saya... Dokter dia enggak sengaja”. Lily menyadari bahwa perilaku suaminya

adalah hal wajar dalam hubungan suami-istri. Adegan-adegan ini menguatkan bahwa adanya gagasan konsep budaya patriarki dalam rumah tangga, di mana posisi laki-laki sebagai kepala keluarga lebih tinggi daripada perempuan. Sehingga akibatnya timbul sebuah keyakinan dan kepercayaan bahwa peran perempuan dalam rumah tangga, yaitu harus melayani laki-laki.

Dikaitkan dengan konteks sosial, dalam masyarakat patriarki di Indonesia, suami dan isteri menganggap wajar bahwa suamilah yang lebih banyak mengambil bermacam-macam keputusan termasuk hal yang bersangkutan dengan keluarganya (Sajogyo, 1983, h. 41).

Hal inilah yang membuat Lily tetap membela suaminya. Walaupun dia mengalami konflik batin. Hal ini terlihat dari ekspresi dan gerak isyarat Lily yang menolak ketidaksetaraan tetapi mengalami pembicaraan yang tidak nyaman dengan dr. Kartini karena dia menyadari kekerasan yang dia terima.