• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Lily

4.2.1.4 Scene 01:09:32 – 01:09:43

Gambar 4.5 Scene 01:09:32 – 01:09:43 (Backsound) LILY: (menjerit kesakitan) Deskripsi Narasi

Di dalam sebuah ruangan, suami Lily memeluk Lily kemudian mencekiknya, memeluknya lagi dengan erat dan terakhir seperti menarik-narik kepala Lily yang menyebabkan Lily menjerit.

Shot 2 Shot 1

Tabel 4.11

Level Realitas Scene 01:09:32 – 01:09:43

Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Kostum Lily:

Baju tidur putih

Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah,

merangsang, dan kewanitaan

(Sanyoto, 2009, h. 49)

Perilaku Suami Lily: Mengelus kepala Lilu

Elusan dan usapan lembut adalah perilaku sentuhan yang hanya dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan dekat, biasanya secara seksual (Wainwrig, 2006, h. 172) Gerak Isyarat (gesture) Lily: Telapak tangan terbuka Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371).

Posisi telapak tangan yang terbuka dan menghadap ke atas menunjukkan kerentanan (Cohen, 2009, h. 49) Ekspresi Lily: Mulut terbuka lebar, mata tertutup, warna wajah pucat Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tindakan mulut terbuka, tubuh bergetar yang mempengaruhi wajah dan tubuh adalah ekspresi dari kekhawatiran atau ketakutan (Wainwrig, 2006, h. 45) Suami Lily: Senyum, gigi bagian atas dan bawah terlihat tetapi saling merapat dan mata tertutup Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h.

372- 378). Seringai tertutup (gigi bagian atas dan bawah terlihat tapi saling merapat) sebagai tanda sikap menyerang tetapi bahagia (Wainwrig, 2006, h. 43-44) Shot 2 Kostum Lily:

Baju tidur putih

Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49) Gerak Isyarat (gesture) Lily: Memainkan tangan – seperti memegang dan menahan tangan suaminya Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Memainkan tangan terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk

mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya pada seseorang (Putra, 2013, h. 123) Ekspresi Lily: Mulut terbuka lebar, mata tertutup, warna wajah pucat Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tindakan mulut terbuka, tubuh bergetar yang mempengaruhi wajah dan tubuh adalah ekspresi dari kekhawatiran atau ketakutan (Wainwrig, 2006, h. 45) Suami Lily: Senyum, gigi bagian atas dan bawah terlihat tetapi saling merapat dan mata tertutup Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Seringai

tertutup (gigi bagian atas dan bawah terlihat tapi saling merapat) sebagai tanda sikap menyerang tetapi bahagia (Wainwrig, 2006, h. 43-44) Shot 3 Ekspresi Lily:

Mulut terbuka lebar, mata tertutup, warna wajah pucat Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tindakan mulut terbuka, tubuh bergetar yang mempengaruhi wajah dan tubuh adalah ekspresi dari kekhawatiran atau ketakutan

(Wainwrig, 2006, h. 45)

Deskripsi Level Realitas

Secara keseluruhan dalam adegan shot 1, 2, 3 menggambarkan karakter Lily yang ketakutan dan khawatir. Ditinjau dari ekspresi wajah Lily: mata tertutup,

mulut terbuka lebar, serta warna wajah pucat. Lily merasa kesakitan dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya akibat perbuatan suaminya. Tetapi Lily tidak dapat menolak dan menahan perilaku suaminya itu. Hal ini terlihat dari gerak isyarat Lily yang awalnya posisi telapak tangannya terbuka menghadap ke atas yang artinya kerentanan. Dalam konteks ini kerentanan yang dialami Lily akibat tidak kuasa menolak perilaku suami Lily sehingga Lily tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan gerak isyarat Lily yang memainkan tangan menandakan Lily tidak mempunyai keberanian untuk menolak suaminya.

Sedangkan karakter suami Lily yang menikmati perilakunya terhadap Lily terlihat dari elusan dan ekspresinya yang memuaskan hasrat seksualnya. Elusan itu didukung dengan ekspresi seringai tertutup. Sehingga makna kebahagiaan hanya dirasakan satu pihak saja, yaitu suami Lily. Karena adanya sikap menyerang melalui ekspresi tersebut. Suami Lily ingin menyerang Lily untuk memuaskan hawa nafsunya dan mencapai kebahagiaan yang dia inginkan.

Tabel 4.12

Level Representasi Scene 01:09:32 – 01:09:43

Sequence Level

Representasi

Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame MCU (Medium

Close Up)

Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)

Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80) Shot 2 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame FS (Full Shot) Memperlihatkan objek dengan lingkungan sekitar (Baksin, 2013, h. 127)

Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80) Shot 3 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu

(Baksin, 2013, h. 123)

Frame CU (Close Up) Memberi gambaran objek secara jelas (Baksin, 2013, h. 125)

Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80)

Deskripsi Level Representasi

Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Dalam adegan shot 1, ingin ditegaskan bagaimana sosok Lily dan suami Lily melalui medium close up. Berdasarkan level realitas, melalui gerak isyarat Lily yang ketakutan dan ingin menolak tetapi pasrah terhadap perilaku suami Lily. Sedangkan karakter suami Lily yang memiliki kelainan mental semakin diperkuat karena menampilkan ekspresi kedua tokoh yang berbeda. Suami Lily memiliki ekspresi yang terlihat bahagia atas penderitaan Lily. Sedangkan Lily memiliki ekspresi kesakitan dan ketakutan atas perlakuan suaminya. Melalui pengambilan gambar inilah, karakter kedua tokoh ditegaskan,

dengan angle eye level dan low key lighting sehingga menimbulkan nuansa yang intim dan mencekam.

Sedangkan dalam adegan shot 2, menggunakan teknik pengambilan gambar

full shot untuk memperlihatkan tempat mereka melakukan hubungan suami istri.

Sewajarnya lokasi untuk melakukan hubungan suami istri adalah di kamar. Tetapi melalui pengambilan gambar inilah ingin memperlihatkan ada kejanggalan dalam hubungan suami istri yang mereka lakukan, baik itu ada kelainan dalam tokoh laki-laki maupun tokoh perempuan.

Adanya kejanggalan yang berujung pada kekerasan semakin terasa dalam adegan shot 3 di mana, dengan teknik pengambilan gambar close up yang memberikan ekspresi objek secara jelas. Dalam hal ini, ekspresi Lily yang kesakitan dan ketakutan terpancar dari ekspresi mulut terbuka lebar dan mata tertutup. Ditambah dengan low key lighting sehingga suasana semakin mencekam.

Tabel 4.13

Level Ideologi Scene 01:09:32 – 01:09:43

Sequence Level Ideologi

Shot 1, 2, 3 Gagasan konsep yang terkandung adalah kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh laki-laki yang memiliki kuasa atas perempuan. Hal ini terlihat dari karakter dan aksi kedua tokoh. Suami Lily memperlihatkan kekuasaanya atas Lily dengan melakukan kekerasan. Sedangkan Lily

memperlihatkan ketidakberdayaannya atas kekerasan yang dia terima. Konflik batin terjadi di dalam diri Lily yang terlihat dari ekspresi dan gerak isyarat. Dengan berlatar rumah mendukung dominasi laki-laki terhadap perempuan. Ini lahir dari sistem kepercayaan dan keyakinan

masyarakat mengenai posisi laki-laki yang lebih tinggi daripada perempuan.

Deskripsi Level Ideologi

Dominasi laki-laki dalam keluarga menjadi penyebab munculnya kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga terdiri dari beragam bentuk. Bentuk kekerasan yang muncul dari shot 1,2,3 adalah kekerasan fisik dan kekerasan seksual.

Kekerasan fisik muncul ketika perempuan sudah mengalami rasa kesakitan dan ketakutan. Kesakitan dan ketakutan muncul dari jeritan dan bahasa non verbal, seperti ekspresi dan gerak isyarat. Lily sebagai perempuan yang menjadi korban kekerasan menyampaikan rasa kesakitan dan ketakutannya melalui hal-hal tersebut. Yang menjadi pendukung lain adalah bagaimana ekspresi suami yang menyerang Lily dan ekspresi bahagianya bisa melakukan kekerasan terhadap Lily. Sedangkan bentuk kekerasan seksual adalah pemerkosaan terhadap istri. Di mana memaksa istri untuk melayani suami. Ketika terjadi pemaksaan akibat adanya penolakan. Hanya saja, penolakan dari pihak perempuan diabaikan oleh

pihak laki-laki akibat adanya kuasa laki-laki terhadap perempuan. Di dalam rumah tangga, dominasi laki-laki yang menjadi penentu dalam segala hal sehingga perempuan menuruti keinginan laki-laki.

Kekerasan dalam rumah tangga ini masuk dalam dua kelompok, yaitu kelompok teori biologis akibat adanya kelainan mental serta kelompok teori feminis akibat adanya kekuasaan laki-laki di atas kekuasaan perempuan. Kedua kelompok ini didukung oleh level realitas dan level representasi yang telah dijabarkan di atas.

Straus dikutip Purniati dan Kolibonso (2003, h. 5) mengatakan dominasi laki-laki dalam keluarga dan dalam lingkungan adalah penyebab utama terjadinya kekerasan keluarga. Muniarti (2004, h. 103) melihat bahwa dalam keluarga, kedudukan istri tergantung pada suami. Sehingga perempuan yang ingin mandiri menganggap keluarga sebagai penjara yang dapat menghilangkan kemerdekaannya. Tetapi pada umumnya hal tersebut jarang ditemukan karena kaum perempuan sendiri sudah puas dengan kedudukannya di bawah laki-laki. Ketidaksetaraan inilah yang menjadi institusi budaya dalam masyarakat di Indonesia. Sehingga bisa berdampak pada salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga.