• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Yanti

4.2.2.2 Scene 01:18:15 – 01:20:15

Gambar 4.7

Scene 01:18:15 – 01:20:15

BAMBANG Yan, ayo donk (kerja)!

YANTI Males BAMBANG Yah, lari kan (pelanggan)

YANTI

Sini bang, gue mau ngomong sama lo... Gue gak mungkin gini terus bang. BAMBANG

Terus elo mau ngapain?

Shot 1 Shot 2

YANTI Mau mati! BAMBANG

Masih bisa diobatin (penyakit) YANTI

Trus duitnya darimana? BAMBANG

Ya makanya ayo (kerja).. jangan males! YANTI

Gue bilang, gue gak bisa kayak gini terus. Lo dengar gak sih? BAMBANG

Terus lo mau kerja apa? Yang lo tau cuma ngangkang! YANTI

Anjing! Sembarangan lo kalo ngomong! Eh asal lo tau ya.. gue pernah kok kerja kantoran.Tapi asal lo tau juga ya.... Bos gue ternyata lebih senang gue tiduran daripada

kerja beneran. Makanya gue berhenti. Dan ternyata semua orang, setiap ngelihat gue, mereka lebih senang gue tiduran daripada kerja beneran!... Nih,lihat nih! Ini semua yang gue punya itu kutukan buat gue! Lo juga pengen kan? Lo juga kalau lihat gue pasti mau nidurin gue kan? Bangsat!.... Gue terima kok. Gue terima gak apa-apa.Emang aura gue tau gak lo? aura perek! Sengaja aja gue jajain! Tapi asal lo tahu ya, gue gak mau

kok sebenarnya! Gue gak mau! Gue gak mau! (Yanti teriak)

BAMBANG Yanti... YANTI Gue gak mau bang!

(Yanti menangis)

Deskripsi Narasi

Yanti tidak semangat bekerja dan tidak mendapatkan pelanggan saat malam dia bekerja. Bambang memaksanya untuk bekerja agar bisa mendapatkan uang

untuk biaya berobat Yanti. Tetapi Yanti tidak ingin melanjutkan pekerjaannya menjadi PSK (Pekerja Seks Komersil). Namun dia tidak tahu harus berbuat apa karena pengalaman dirinya bekerja kantoran, dia mengalami pelecehan oleh atasan dia yang ingin menidurinya. Hal itulah yang membawa dirinya menjajakan tubuhnya untuk para lelaki.

Tabel 4.17

Level Realitas Scene 01:18:15 – 01:20:15

Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Kostum Yanti:

Baju berwarna coklat kulit dan hitam Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti kurang bersih dan warna hitam

melambangkan keputusasaan, seksualitas, ketidakbahagiaan, dan penyesalan yang mendalam (Sanyoto, 2009, h. 50-51) Gerak Isyarat (gesture) Yanti:  Jari jemari bertaut  Kepala Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana,

ditolehkan ke samping untuk menghindari melihat Bambang 2008, h. 353-371).  Jari jemari bertaut menuntun pada gerakan-gerakan kecil yang memperlihatkan kecemasan (Cohen, 2009, h. 107)  Kepala ditolehkan ke samping untuk menghindari melihat penyebab reaksi adalah perasaan muak (Wainwrig, 2006, h. 44) Ekspresi Yanti: Tatapan mata tajam ke depan Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Raut muka

memperlihatkan permusuhan dan

tatapan mata tajam adalah bentuk sikap penolakan (Putra, 2013, h. 122) Shot 2 Kostum Yanti:

Baju berwarna coklat kulit dan hitam Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti kurang bersih dan warna hitam

melambangkan keputusasaan, seksualitas, ketidakbahagiaan, dan penyesalan yang mendalam (Sanyoto, 2009, h. 50-51) Gerak Isyarat (gesture) Bambang: Kepala mendongak lebih tinggi Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Kepala mendongak lebih tinggi sering ditafsirkan sebagai sikap angkuh

(Wainwrig, 2006, h. 67)

Ekspresi Yanti:

Tatapan kuat pada Bambang, mengerutkan dahi Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tatapan kuat pada sumber yang membuat sakit hati dan mengerutkan dahi adalah wujud kemarahan (Wainwrig, 2006, h. 44) Bambang: Senyum, gigi bagian atas dan bawah terlihat tetapi terbuka Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378).

Senyuman lebar dengan gigi terlihat atau seringai lebar diartikan sebagai sikap yang memberikan sindiran tajam

(Wainwrig, 2006, h. 44)

Shot 3 Kostum Yanti:

Baju berwarna coklat kulit dan hitam Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti kurang bersih dan warna hitam

melambangkan keputusasaan, seksualitas, ketidakbahagiaan, dan penyesalan yang mendalam (Sanyoto, 2009, h. 50-51) Gerak Isyarat (gesture) Yanti: Memainkan tangan – memegang kepala dan meremas rambut Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Memainkan tangan terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya

pada seseorang (Putra, 2013, h. 123). Tangan juga dapat digunakan pada sentuhan diri seperti meremas rambut yang menandakan stress (Wainwrig, 2006, h. 170) Ekspresi Yanti: Menunduk Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Kesedihan, kekecewaan, dan depresi biasanya ditujukan dengan tanpa ekspresi senyum dan menunduk (Wainwrig, 2006, h. 44)

Deskripsi Level Realitas

Adegan shot 1, 2 ,3 adalah bentuk rasa depresi Yanti terhadap pekerjaannya menjadi PSK (Pekerja Seks Komersil). Perasaan itu terlihat dari warna kostum yang dia gunakan berbeda dengan warna-warna yang sebelumnya dia gunakan. Warna coklat dan hitam melambangkan warna kurang bersih dan keputusasaan, seksualitas, ketidakbahagiaan, dan penyesalan yang mendalam.

Perasaan tersebut didukung dalam oleh gerak isyarat dan ekspresi Yanti dalam adegan shot 1, yaitu jari jemari Yanti yang bertaut yang menunjukkan kecemasan Yanti akan penyakitnya. Serta perasaan muak yang Yanti rasakan ditandai dengan kepala ditolehkan ke samping untuk menghindari melihat penyebab reaksi. Reaksi yang dimaksud dalam konteks ini adalah Bambang yang menyuruh dia untuk mencari pelanggan. Yanti merasa muak dengan pekerjaannya itu. Rasa muak ditunjukkan dengan ekspresi raut muka memperlihatkan permusuhan dan tatapan mata tajam adalah bentuk sikap penolakan. Dalam konteks ini penolakan yang dimaksud adalah penolakan terhadap dirinya sendiri yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil).

Sedangkan dalam adegan shot 2, perasaan depresi Yanti atas pekerjaannya itu dipandang sebelah mata oleh Bambang. Hal ini terbukti dari respon Bambang terhadap pernyataan Yanti yang ingin berhenti melalui gerak isyarat dan ekspresi. Kepala Bambang mendongak lebih tinggi saat terjalin percakapan dengan Yanti yang menandakan adanya sikap keangkuhan atas perasaan Yanti karena melihat Yanti tidak bisa berbuat apa-apa selain menjajakan diri. Hal ini diperkuat dengan

ekspresi Bambang yang menyerang Yanti. Menyerang bukan dalam konteks peperangan tetapi beragumen dengan Yanti. Sedangkan ekspresi Yanti menunjukkan kemarahan atau sakit hati atas pernyataan Bambang terlihat dari alis berkerut dan tatapan tajam.

Selanjutnya rasa depresi itu mencapai puncak dalam adegan shot 3. Di mana Yanti memainkan tangan seperti memegang kepala dan rambutnya yang menunjukkan sikap penolakan. Penolakan dalam konteks ini bukan penolakan terhadap orang lain, melainkan penolakan terhadap pekerjaannya sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil). Diikuti dengan ekspresi Yanti yang menunduk yang berarti kecewa, sedih, dan depresi.

Tabel 4.18

Level Representasi Scene 01:18:15 – 01:20:15

Sequence Level

Representasi

Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame FS (Full Shot) Memperlihatkan objek dengan lingkungan sekitar (Baksin, 2013, h. 127)

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Shot 2 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame MCU (Medium

Close Up)

Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h.79-80) Shot 3 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame MS (Mid Shot) Memperlihatkan seseorang dengan sosoknya (Baksin, 2013, h. 126)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h.

79-80)

Deskripsi Level Representasi

Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Dalam adegan shot 1, 2, 3 memiliki kesamaan, yaitu pengambilan gambar menggunakan angle eye level dan high key lighting sehingga tercipta suasana biasa pada umumnya. Namun untuk mendukung level realitas, dalam teknik pengambil gambar shot 1 menggunakan full shot untuk memperlihatkan Yanti dengan latar jalanan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pekerjaan Yanti sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil). Namun untuk mendukung ekspresi dan gerak isyarat Yanti yang depresi akan pekerjaannya, maka pengambilan gambar full shot juga mendukung gerak isyarat Yanti.

Sedangkan dalam shot 2 menggunakan teknik pengambilan gambar medium

close up. Hal ini bertujuan untuk menegaskan profil seseorang. Profil dalam

konteks ini berarti kedua tokoh yang muncul, yaitu Yanti dan Bambang yang sedang melakukan percakapan. Dengan pengambilan dari batas kepala hingga dada atas akan memperlihat dengan jelas bagaimana gerak isyarat dan ekspresi kedua tokoh tersebut saat terjalin percakapan serius. Sehingga mendukung makna gerak isyarat dan ekspresi yang telah dijabarkan dalam level realitas. Untuk Shot 3 menggunakan teknik pengambilan gambar mid shot yang memperlihatkan Yanti

dengan sosoknya yang sedih, depresi, dan kecewa akan pekerjaannya sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil).

Tabel 4.19

Level Ideologi Scene 01:18:15 – 01:20:15

Sequence Level Ideologi

Shot 1,2,3 Gagasan konsep yang terkandung adalah perempuan yang tidak berpendidikan tinggi, tidak memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bekerja. Perempuan dianggap cocok melayani. Berbeda dengan laki-laki yang menjadi pemimpin. Hal ini terlihat dari aspek narasi dan dialog Bambang yang melihat Yanti sebagai perempuan yang berposisi rendah dalam bagian pekerjaan dan hanya pantas menjadi PSK karena pekerjaan prostitusi juga sama

rendahnya. Hal ini diperkuat dengan latar jalanan yang menjadi ‘tempat kerja’ para PSK. Sedangkan dari segi karakter dan aksi Yanti yang menyatakan ketidaksukaan dirinya terhadap pekerjaan prostitusi, kemarahan dirinya yang dipandang sebelah mata oleh Bambang, serta

kepasrahan dirinya yang sebagai perempuan dianggap hanya mampu menjual tubuhnya. Ketidaksukaan, kemarahan, dan kepasrahan tersebut telah menjadi konflik batin dalam diri Yanti. Perempuan yang dianggap tidak berpendidikan dan tidak memiliki keahlian ini yang menjadi sistem

Deskripsi Level Ideologi

Salah satu konsep patriarki yang ada adalah ketika berbicara mengenai pekerjaan. Dikaitkan dengan struktur sosial, laki-laki dianggap pantas bekerja karena fungsi utamanya dalam keluarga adalah mencari nafkah. Sehingga muncul pandangan lain terkait perempuan yang bekerja. Adanya ketidaksetaraan yang muncul antara peran laki-laki dan perempuan yang bekerja.

Terlebih lagi gagasan ini diperkuat dengan hasil intitusi budaya manusia (Murniati, 2004, h. 96). Hasil budaya tersebut yaitu di dalam keluarga, anak laki-laki mendapat pendidikan yang layak, untuk dididik agresif dan pergi ke luar rumah. Sedangkan perempuan dididik untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan melayani laki-laki. Sehingga gagasan inilah yang memunculkan pandangan terhadap kemampuan intelektual kaum perempuan. Perempuan dalam konteks ini dilihat tidak mendapatkan pendidikan formal yang layak karena perempuan hanya pantas dan cocok untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Inilah salah satu wujud posisi perempuan di Indonesia dalam masyarakat.

Pada akhirnya ketika perempuan mendapat pendidikan yang formal, akan dipandang tidak berpendidikan tinggi sehingga tidak memiliki kemampuan lain. Begitu juga dengan yang dialami Yanti. Yanti yang ingin berhenti bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil) dianggap tidak pantas oleh Bambang. Menurutnya perempuan seperti Yanti hanya bisa menjadi pelacur karena latar belakang pendidikannya yang kurang dan tidak memiliki keahlian atau ketrampilan apapun untuk bekerja di kantor.

Gagasan ini semakin diperkuat karena adanya budaya patriarki di mana sebagai kaum perempuan dianggap hanya cocok melayani laki-laki sehingga kinerja perempuan di kantor dipandang sebelah mata, hal ini dikatakan oleh Yanti yang mengalami ketidaksetaraan dalam pekerjaan: “Eh asal lo tau ya.. gue pernah

kok kerja kantoran.Tapi asal lo tau juga ya.... Bos gue ternyata lebih senang gue tiduran daripada kerja beneran. Makanya gue berhenti. Dan ternyata semua orang, setiap ngelihat gue, mereka lebih senang gue tiduran daripada kerja beneran!”, “Tapi asal lo tahu ya, gue gak mau kok sebenarnya! Gue gak mau! Gue gak mau!”. Ini memperkuat gagasan patriarki dimana adanya dominasi

laki-laki dalam masyarakat. Yanti yang ingin menolak keinginan laki-laki-laki-laki di tempat kerjanya tidak bisa berbuat apa-apa.