BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Lily
4.2.1.3 Scene 01:03:17 – 01:04:23
Gambar 4.4
Scene 01:03:17 – 01:04:23
(Backsound musik oriental) LILY:
(menyalakan api sembahyang) SUAMI LILY:
Sayang...
(Menyuruh Lily masuk ke kamar)
Deskripsi Narasi
Lily menyalakan lilin untuk sembahyang. Tiba-tiba suaminya muncul dari dalam kamar sambil merokok dan memanggil Lily untuk masuk ke dalam kamar. Lily pun menuruti permintaan suaminya dan masuk ke dalam kamar.
Tabel 4.8
Level Realitas Scene 01:03:17 – 01:04:23
Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Kostum Lily: Baju tidur berwarna putih dengan motif bunga-bunga Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49) Suami Lily: Kaos berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat tegas dan merangsang (Sanyoto, 2009, h. 49) Ekspresi Lily: Tatapan mata ke bawah Warna wajah pucat Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378).
Memandang ke bawah
memberitahukan bahwa tidak merasa begitu bahagia (Wainwrig, 2006, h. 49)
Warna wajah yang pucat adalah ekspresi dari kekhawatiran atau ketakutan (Wainwrig, 2006, h. 45)
Shot 2 Kostum Lily: Baju tidur berwarna putih dengan motif bunga-bunga Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49) Suami Lily: Kaos berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat tegas dan merangsang (Sanyoto, 2009, h. 49) Gerak Isyarat (gesture) Suami Lily: Berkacak Memperteguh pesan verbal dan
pinggang Mulut sedikit dimajukan, asap rokok dihebuskan ke atas mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371) Berkacak pinggang berarti tidak akan membiarkan orang lain main-main dengan dirinya (Cohen, 2009, h. 109) Mengehembuskan asap rokok ke atas dengan mulut sedikit dimonyongkan adalah bentuk kemenangan dan kekuasaan (Putra, 2013, h. 135) Ekspresi Lily: Menunduk Tatapan mata ke bawah Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Kesedihan, kekecewaan, dan depresi biasanya
ditujukan dengan tanpa ekspresi senyum dan menunduk (Wainwrig, 2006, h. 44) Memandang ke bawah memberitahukan bahwa tidak merasa begitu bahagia (Wainwrig, 2006, h. 49)
Deskripsi Level Realitas
Adegan dalam shot 1 dan 2 menggambarkan karakter perempuan, yaitu Lily yang mengalah. Hal ini terbukti dari warna pakaian tidur yang Lily gunakan. Selain itu, warna putih dalam hubungan suami Lily dan Lily menggambarkan adanya rangsangan untuk melakukan hubungan seksual. Lily mengalah dan menuruti keinginan suaminya. Lily menyadari bahwa suaminya memiliki kekuasaan yang besar dalam rumah tangga.
Sedangkan suami Lily menunjukkan kekuasaan dan kemenangan melalui gerak isyaratnya yang berkacak pinggang di dekat pintu saat memanggil Lily dengan asap rokok dihembuskan ke atas. Dalam konteks ini, kemenangan bukan berarti menang dalam berperang. Tetapi menang dalam kekuasaan. Lily yang
selama ini menuruti perintah suaminya menunjukkan bahwa kini suami Lily yang memiliki kuasa terbesar dalam hidup rumah tangga mereka.
Tetapi kekuasaan yang dimiliki suami Lily diterima Lily dengan keterpaksaan. Lily memperlihatkan ketidakmauannya melalui ekspresi wajahnya. Lily sebenarnya menghindari keinginan suaminya melalui tatapan mata yang ke bawah dan wajah yang menunduk. Kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran terpancar dari wajah Lily.
Tabel 4.9
Level Representasi Scene 01:03:17 – 01:04:23
Sequence Level
Representasi
Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MCU (Medium
Close Up)
Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 2 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame MCU (Medium
Close Up)
Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80)
Deskripsi Level Representasi
Level representasi yang muncul dalam shot 1 dan 2 secara teknis ingin mendukung visual yang dimunculkan dalam realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Secara umum nuansa yang kentara dimunculkan dalam shot 1 dan
2 adalah low key lighting. Melalui hal tersebut ingin diperlihatkan bahwa nuansa
intim sekaligus mencekam muncul dalam hubungan suami Lily dan Lily. Nuansa intim tercipta karena adanya hubungan suami istri, tetapi sekaligus menjadi nuansa mencekam karena mendukung ketakutan dan kekhawatiran Lily yang telah dijabarkan dalam level realitas.
Sedangkan dari segi angle dan pengambilan gambar dengan teknik eye level dan MCU (Medium Close Up) dari shot 1 ingin menonjolkan sosok Lily beserta dengan ekspresi dirinya yang mendukung bahwa suasana mencekam tercipta. Sementara itu, dari shot 2 ingin menonjolkan sosok suami Lily yang memiliki kekuasaan atas diri Lily. Sehingga Lily menuruti keinginan suaminya.
Tabel 4.10
Level Ideologi Scene 01:03:17 – 01:04:23
Sequence Level Ideologi
Shot 1,2 Gagasan konsep yang terkandung adalah sosok laki-laki yang memiliki kuasa atas perempuan terutama dalam rumah tangga. Kekuasaan itu muncul karena adanya ketidaksetaraan. Hal ini terlihat dari narasi, dialog, karakter, dan aksi suami Lily ketika memanggil istrinya. Kekuatan dari karakternya sebagai suami terlihat bahwa dirinya memang memiliki kuasa atas istrinya sendiri. Kekuasaan itu juga didukung oleh latar adegan, yaitu di rumah. Peran suami dalam rumah tangga sudah mutlak menjadi pemimpin sehingga menimbulkan kepercayaan dan keyakinan dalam masyarakat.
Deskripsi Level Ideologi
Konsep patriarki terjadi ketika adanya ketidaksetaraan gender. Dalam hal ini, ketidaksetaraan yang terjadi sering merugikan posisi perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kuasa tertinggi dalam masyarakat. Peranan laki-laki yang
dianggap penting akan berdampak pada kehidupan berumah tangga. Sehingga menurut Sadli (2010, h. 172), di dalam rumah, perempuan mendapat kedudukan tersubordinasi (lebih rendah) daripada laki-laki.
Hal ini juga terjadi dalam rumah tangga Lily. Posisi laki-laki lebih tinggi terlihat dari gerak isyarat (gesture) laki-laki yang berkacak pinggang dan menghembuskan asap rokok ke atas. Gerak isyarat ini sudah menjadi hal yang wajar dilakukan laki-laki karena menegaskan bahwa diri mereka memiliki kuasa dalam rumah tangga.
Ditambah ketika perempuan menuruti permintaan laki-laki dan tidak bisa menolak adalah bukti bahwa perempuan sadar dirinya berada di bawah kendali laki-laki. Konsep patriarki inilah yang telah menjadi budaya dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan budaya patriarki ini sudah dianggap “wajar” oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Karena setiap individu memiliki tugas masing-masing termasuk melayani suami.
Ketidaksetaraan atau patriarki ini muncul akibat institusi hasil budaya manusia. Melalui pendidikan keluarga, anak laki-laki dididik untuk agresif, pergi ke luar, bermain di luar rumah. Sementara anak perempuan dididik untuk memasak, kerasan di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani ayah dan saudara laki-laki. Pendidikan ini akan berakibat laki-laki dilayani dan perempuan melayani (Murniati, 2004, h. 96). Inilah yang menyebabkan keterwakilan perempuan di Indonesia dianggap rendah. Termasuk dalam adegan scene ini,
karakter suami Lily yang arogan dan berkuasa sudah terpancar ketika terjalin dialog dengan Lily. Jadi Lily menuruti apa yang menjadi perintah suaminya itu.