• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bundo kanduang adalah panggilan terhadap wanita menurut Adat Minangkabau yang artinya Bundo adalah Ibu, Kanduang adalah sejati, jadi Bundo kanduang adalah IBU SEJATI. Bundo kanduang sebagai golongan wanita adalah pengantara keturunan yang harus memelihara diri, serta mendudukan diri sendiri dengan aturan Adat Basndi Syarak. Membedakan buruk dengan baik, halal dengan haram, dalam hal makanan serta perbuatan lahiriah lainnya. Karena sebagai pengantara keturunan mempunya tugas pokok dalam memebentuk dan menentukan watak manusia dalam melanjutkan keturunan. Maka menurut hukum adat Minangkabau ibu adalah sebagai tempat menarik tali keturunan manusia di Minangkabau yang disebut Matrilineal. Karena ibulah menurut ketentuan, Alam takambang jadi guru yang dijadikan oleh Yang Maha Kuasa yang menyimpan pranatal, yang melahirkan dan beberapa proses maha penting yang kemudian disambut oleh tugas – tugas ke Ibuan setelah dilahirkan.

Di dalam Adat Minangkabau Bundo Kanduang itu dihimpun dalam suatau ungkapan yang berbunyi “Bundo kanduang, Limpapeh Rumah Nan Gadang, umbun puumbun puruak pegangan kunci, umbun puruak ulung bunian, pusek jalo kumpulan tali, sumarak didalam kampung, hiasan dalam nagari, nan gadang basa batuah, kok iduik tampe banasa, kok mati tampe baniat, kaundan – undang ka madinah, kapayuang panji ka sarugo”.

Maksud Gurindam Adat Minangkabau memberikan beberapa ketentuan dan pengecualian terhadap wanita di Minangkabau Bundo kanduang di bagi dalam 5 (lima) macam secara garis besarnya, merupak ciri – ciri khasnya :

1. Keturunan ditarik dari garis Ibu

Di Minangkabau keturunan ditarik dari garis Ibu yang disebut matrilinial. Kalau seorang Ibu basuku Caniago, maka anak yang dilahirkannya baik laki – laki atau perempuan harus bauku Caniago pula sesuai dengan suku Ibunya (berlainan dengan Adat di nagari lain di Indonesia, bahkan di dunia).

Ini adalah mengandung rahasia agar manusia yang dilahirkan oleh kaum Ibu, terutama kau laki – laki yang menghormati dan memuliakan jenis keturunannya tanpa pandang bulu, seseorang tidak akan berbuat semaunya terhadap kaum Ibu sejenis ibunya (yang melahirkan) apalagi berbuat a-normal kepadanya. Alam semesta yang merupakan guru tempat belajar ikhtiar bagi nenek moyang orang Minangkabau dahulunya dalam menyusun adat itu sendiri tentang keturunan manusia

80 seumpama yang terdapat pada tumbuh – tumbuhan. Sebuah di tumbuh – tumbuhan yang baik sudah pasti akan melahirkan pohon dan uah yang baik pula, begitu juga sebaliknya, maka seorang Ibu menurut Adat Minangkabau akan lebih banyak menetukan untuk manusia yang dilahirkannya, pepatah mengatakan :

Kalau kuruah di hulu Sampai kamuaro karuah juo Kalau kuriak induaknyo

Bintiak anaknyo, tuturan atok jatuah kapalimpahan

2. Rumah Tempat Kediaman

Berumah tangga adalah suatu syarat mutlak bagi satu nagari di Minangkabau. Rumah tempat kediaman ini menurut hukum Adar Minangkabau adalah diutamakan untuk wanita bukan kaum laki – laki. Seorang bapak di Minangkabau belumlah merasa puas kalau dia belum dapat membuat rumah tempat kediaman anaknya yang perempuan, dan hal ini adalah merupakan kewajiban dan cita – cita seorang Bapak, tetapi tidak seorang Bapak memnpunyai niat untuk membuatkan untuk anaknya yang laki – laki keadaan ini mempengaruhi kepada Adat perkawinan di Minangkabau yang disebut dalam pepatah :

Sigal mancari anau

Anau tatap, sigai baranjak

Artinya setiap perkawinan laki – laki pulang kerumah perempuan dan setiap perceraian laki – laki yang pergi, sedangkan perempuan tetap pada tempatnya semula (rumahnya). Seorang perempuan menurut adat dan Agama Islam tidaklah dibenarkan tidur dan diam sembarangan tetapi diutamakan memberi tempat kediaman yaitu rumah, kecuali laki – laki tidaklah merupakan suatu larangan menurut Adat dan Agama Islam diamdan tidur sembarangan, umpanya menumpang ditempat orang lain, dikedai, dimesjid, surau dan sebagainya. Mengingat pentingnya peranan wanita dalam hidup dan kehidupan ini sesuai dengan kodrat hayati yang lemah itu, maka Adat Minangkabau mengutamakan lindungan terhadap kaum wanita sesuai pepatah :

Nan lamah ditueh Nan condong ditungkek Ayam barinduak

Sirieh bajunjuan Iduek batampek Mati bakubua

81

Kuburan iduik di rumah gadang Kuburan mati di tangah padang

3. Sumber Ekonomi Diutamakan Untuk Wanita

Sawah ladang, banda buatan yang merupakan sumber ekonomi menurut Adat Minangkabau, pemanfaatannya diutamakan untuk wanita, dan berarti bukanlah kaum laki – laki tidak dapat memanfaatkannya sama sekali, berhubung kaum wanita itu lemah dari pada kaum laki – laki maka sawah ladang untuk wanita karena laki – laki mempunyai kemampuan dan kebebasan yang lebih luas kalau dibandingkan dengan wanita, ianya harus mengawasi sawah ladang untuk kepentingan bersama, karena laki – laki merupakan tulang punggung yang kuat bagi kaum wanita yang selalu berusaha melindungi mereka.

4. Yang Menyimpan Hasil Ekonomi adalah Wanita

Umbun puruak pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, yang bermaksud bahwa hasil ekonomi sebagai pemegang kuncinya adalah Bundo Kanduang. Rangkiang sebagai lambang tempat menghimpun penyimpanan hasil sawah ladang terletak dihadapan rumah Gadang yang ditempati Bundo kanduang.

5. Wanita Mempunyai Hak Suara Dalam Musyawarah

Setiap sesuatu yang akan dilaksanakan di dalam lingkungan kaum dan pasukan menurut Adat Minangkabau, suara dan pendapat kaum wanita sangat menentukan atau tidaknya suatu pekerjaan. Kaum wanita (Bundo Kanduang) memintakan pemdapatnya terlebih dahulu sebelum pekerjaan itu dilaksanakan, sepanjang pekerjaan itu menyangkut dengan adat.

2. SIFAT BUNDO KANDUANG

Seorang Bundo Kanduang (Wanita) menurut Adat Minangkabau haruslah memilik sifat – sifat kepemimpinan serta menjadi Ibu Sejati, sebagai pengantara keturunan dan menentukan watak manusia yang dilahirkannya, tempat meniru dan meneladan dalam lingkungan.

1. Bersifat benar, tercermin didalam pergaulan sehari – hari, menjahui sifat pendusta “balainan muluik jo hati”.

2. Bersifat jujur dipercayai lahir dan bathin 3. Bersifat cerdik, tahu dan pandai

82 Cerdik artinya mengetahui mudharat jo mufaat, mangana labo jo rugi, mengetahui sumbang jo salah, tahu jo unak kamanangkuik, tahu dirantiang kamancucuak, ingek di dahan kamaimpok, tahu diangin nan basuruik, arih diombak nan basabuang, tahu dialamat kato sampai

4. Pandai berbicara, pasih lidah di dalam berkata. Karena dia andalan seorang yang berfungsi pendidik didalam rumah tangga dan keluarga serta kaumnya

5. Mempunyai sifat malu, sifat malu didalam dirinya. Sifat malu ini adalah merupakan benteng bagi kaum wanita, karena tidak memiliki sifat malu tidak ubahnya seperti sekuntum ros yang tidak berduri, wanita yang pemalu adalah wanita yang berbudi luhur, pepatah mengatakan :

Nan kuriek iyolah budi Nan merah iyolah sago Nan baiek iyolah budi Nan indah iyolah baso

3. MARTABAT SEORANG UNDO KANDUANG

1. Ingek dan jago pado Adat : ingek jo Adat nan karusak, jago limbago nan kasumbang. Dalam pergaulan antara wanita dengan wanita, maupun dengan laki – laki selalu ingat menjauhkan diri serta hati – hati jangan sampai terlalu bebas, serta menjahui dari segala yang bersifat sumbang di dalam pergaulan, hati – hati didalam tingkah laku dan perbuatan, umpama dalam perjalanan, perkataan, berpakaian, makan dan minum, tempat diam penglihatan dan sebagainya. Pepatah mengatakan :

Habis sandiang dek bageso Habis miang dek bagisie Habis biso dek biaso Habis gali dek galitiek

2. Berilmu berna‟rifat, berfaham ujud yakin tawakkal pada Allah 3. Murah dan maha dalam laku dan perangai yang berpatutan :

Ramah dan rendah hati, tidak angkuh dan sombong baik sesamanya maupun dengan laki – laki. Tetapi ada waktu maha (mahal) yakni tidak suka dipermainkan oleh laki – laki, dirayu dan dibujuk dengan segala bentuk rayuan dan tipuan, selalu menjaga kehormatannya yang dibenteng oleh sifat malu dan sopan dan budi pekerti yang

83 mulia. Sangat dilarang oleh adat dam Agama Islam (Syarak) seorang wanita bersifat :

Taruah bana bak katidiang Taserak bana bak anjalai Bak buluik digalitiek ikua Bak kacang diabuih ciek Bak katidiang tangga bingkai Bak payuang tabukak kasau Alun dijujai nyolah lah galak Alun dikubik nyolah datang Bak balam talampau jinak

4. Kayo dan miskin pado hati dan kebenaran

Kayo hati dan miskin hati bagi seorang wanita menurut adat yang diukur dengan mungkin dan patut didalam pergaulan sehari – hari. Kayo hatinya yang melahirkan, sifat sopan santun, hormat dan khimat kepada orang tua dan suami. Selalu mencerminkan sifat seorang ibu dan pendidik yang ramah tamah, perkataannya lunak lembut senantiasa mengandung arti mendidik dan nasehat. Berbudi dan berwibawa terhadap kaum laki – laki. Miskin hati adalah akan berlaku tegas terhadap orang lain kalau tidak diatas yang wajar dan benar, apalagi terhadap laki – laki yang ingin mempermainkannya, atau tingkah laku yang tidak sopan terhadapnya. Tidak mudah tergoda oleh rayuan laki – laki sebelum mengetahui secara jelas budi pekerti laki – laki itu, tidak akan tergoda walaupun dengan rayuan setinggi gunung, oleh mas dan perak sebagainya.

5. Sabar dan Ridha

Senantiasa memiliki kesabaran diatas segala sesuatu yang timbul di dalam lingkungan rumah tangga dan keluarganya dan terjauh diri dari sifat pemurah.

6. Imek dan jimek lunak lambuik bakato – kato

Harus hemat dan cermat, selalu hati – hati baik tentang adat dan agamanya, maupun di dalam tingkah laku dan perbuatan, sesuai dengan hayati sebagai wanita yang tercermin di dalam perkataannya yang lunak dan lembut, karena lunak dan lembut ini adalah merupakan kunci bagi segala hati manusia. Budi baik, baso katuju, mului

84 manih bibieh, rundaian elok talempong kato, sakali rundiang disabuik takana juo salamonyo, murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan.

Syarak mengatakan :

Berkatalah dengan sebaik – baiknya perkataab Pepatah mengatakan :

Bajaln surang tak dahulu Bajalan baduo tak ditangah Imek jimek kito dahulu

Martabat nan anam jaan lah lengah

4. LARANGAN DAN PANTANGAN BUNDO KANDUANG

1. Menjatuhkan kebinaan kepado barang nan santoso, wanita yang sifatnya memecah belah rumah tangga orang lain baik dengan mulut maupun dengan perbuatan dan tingkah laku

2. Hilie melonjak, mudiek mangacau, meninggalkan sifat wanita yang terpuji, seperti laki – laki yang kurang sopan

3. Kiri kanan mamacah parang, memecah kesatuan dan persatuan keluarga baik mengganggu suami orang lain serta suka bertengkar

4. Menghasut alam nan salasai, mangaruah aie nan janiah Memiliki sifat dengki dan suka memfitnah

5. Bapaham bak kambiang dek ulek

Meninggalkan sifat – sifat kewanitaannya/keibuannya 6. Barundiang bak sarash tajun

Wanita yang bermulut kasar, pembicaraannya selalu menyakiti hati orang, sombong dan takabur didalam hati

7. Karano miskin pado budi

Wanita yang hilang sifat malu pada dirinya, bergaul bebas dengan laki – laki yang bukan suaminya

8. Marubahi lahir dengan bathin, suka berdusta, tidak jujur didalam hati 9. Mamakai cabua sio – sio

Wanita yang suka berbuat cabul dalam perbuatan dan perkataan baik dihadapan orang lain maupu familinya

10. Kato nan lalu lalang sajo, bak caro mambuka buluah meninggakan mungkin dengan patuik.

85 Wanita yang berkata – kata kasar, tidak hormat kepada orang tua, durhaka kepada Ibu bapak.

SUMBANG DUO BALEH BAGI WANITA