• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV POTRET PENDUDUK KELURAHAN KARAS

4.3. Pekerjaan

Labih dari 75 persen penduduk Kota Batam bekerja di sektor industri dan hanya sekitar 0,8 persen bekerja di sektor pertanian, termasuk perikanan. Ada sekitar 779 buah perusahaan industri, sedangkan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian hanya berjumlah 24 buah (Pemerintah Kota batam, 2006: Tabel 3.2.18). Tetapi, sebagai daerah yang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau, penduduk Kecamatan Galang terutama bekerja di sektor perikanan, diikuti oleh sektor pertanian, perdagangan dan jasa (Tabel 4.11). Hampir 70 persen dari penduduk yang bekerja adalah mereka yang bekerja sendiri, dan hanya kira-kira 15 persen bekerja dengan dibantu buruh/pekerja yang dibayar dan 9 persen dibantu anggota rumah tangga (Tabel 4.12). Ini sesuai dengan lapangan pekerjaan penduduk yang mayoritas di sektor perikanan.

Tabel 4.11

Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas di Kecamatan Galang yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Tahun 2005

Sektor pekerjaan Jumlah pendududuk

yang bekerja

Persentase Pertanian tanaman pangan/

Pertanian lainnya 490 12,1 Perkebunan 74 1,8 Perikanan 2.109 52,0 Industri Pengolahan 145 3,6 Perdagangan 433 10,7 Jasa 327 8,1 Angkutan 59 1,4 Lainnya 421 10,4 Jumlah 4.058 100,0

Sumber: Pemerintah Kota Batam. Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Batam. 2006. Kecamatan Galang dalam Angka, Tabel 3.13

Tabel 4.12

Penduduk Berumur 15 tahun Ke Atas di Kecamatan Galang yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Tahun 2005

Status pekerjaan Jumlah pendududuk

yang bekerja

Persentase

Berusaha/bekerja sendiri 2.787 69,9

Berusaha dibantu buruh tidak tetap 366 9,2

Berusaha dibantu buruh tetap 31 0,8

Buruh/karyawan/pekerja dibayar 589 14,8

Lainnya 212 5,3

Jumlah 3.985 100,0

Sumber: Pemerintah Kota Batam. Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Batam. 2006. Kecamatan Galang Dalam Angka.

Dari jenis pekerjaannya, Tabel 4.13 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kecamatan Galang adalah petani, yang merupakan refleksi dari keadaan di tiap-tiap kelurahan. Petani di sini mempunyai pengertian luas yang mencakup pertani tanaman pangan, perkebunan dan juga perikanan (nelayan, budidaya ikan). Kelurahan Karas dan Kelurahan Pulau Abang merupakan dua kelurahan yang mempunyai proporsi terkecil penduduk yang bekerja sebagai petani. Namun, cukup tinggi proporsi penduduk di kedua kelurahan ini yang bekerja sebagai penampung ikan, seperti terlihat pada data pada Tabel 4.13. Pekerjaan ini juga masih berkaitan dengan eksploitasi sumberdaya laut. Dengan demikian, masih dibutuhkan intervensi program untuk menciptakan mata pencaharian alternatif, terutama yang tidak berkaitan dengan eksploitasi sumberdaya laut yang berlebihan, yaitu di sektor perdagangan dan jasa, yang memang sudah merupakan jenis pekerjaan yang sudah dilakukan penduduk setempat.

Tabel 4.13

Penduduk Menurut Kelurahan dan Jenis Pekerjaan, Kecamatan Galang, Tahun 2005 (%)

Jenis pekerjaan Kelurahan Pe-tani Jasa perdaga-ngan Indus-tri Penampun g ikan segar (mati) Penam-pung ikan hidup Total N Pulau Abang 56,6 4,6 4,3 15,2 19,2 100,0 302 Karas 86,4 2,1 1,7 4,2 5,6 100,0 906 Sijantung 93,6 1,5 1,0 2,3 1,7 100,0 823 Sembulang 94,2 2,5 1,4 1,5 0,4 100,0 844 Rempang Cate 92,1 2,5 3,0 2,0 0,4 100,0 831 Subang Mas 94,1 2,5 2,7 0,5 0,2 100,0 809 Galang Baru 95,0 2,4 1,5 0,6 0,5 100,0 822 Kec. Galang 90,4 2,4 2,0 2,7 2,5 100,0 5.337

Sumber: Pemerintah Kota Batam. Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota Batam. 2006. Kecamatan Galang Dalam Angka, Tabel 4.9.

Hasil survei di Kelurahan Karas menunjukkan bahwa lebih dari 54 persen penduduk merupakan angkatan kerja (Tabel 4.14). Proporsi penduduk laki-laki yang berada dalam kelompok angkatan kerja (lebih dari 75 persen) jauh lebih besar daripada penduduk perempuan (yang hanya kurang lebih 30 persen). Penduduk perempuan lebih banyak berada dalam kelompok ’bukan angkatan kerja’, terutama dalam kategori ’mengurus rumah tangga’. Dalam kelompok ’bukan angkatan kerja’ ini, proporsi penduduk laki-laki yang masih bersekolah juga lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Struktur kegiatan utama penduduk di Kelurahan Karas ini menunjukkan keadaan yang umum ditemukan di berbagai wilayah diIndonesia, yaitu stereotipe perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga dan tidak memerlukan pendidikan formal yang tinggi. Laki-laki adalah pencari nafkah utama dan mendapat prioritas untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggidari perempuan. Sebaliknya, tidak ada sama sekali penduduk laki-laki yang mempunyai kegiatan utama ’mengurus rumah tangga’. Tingginya proporsi penduduk perempuan yang masuk dalam kategori ’mengurus rumah tangga’ ini juga dapat disebabkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tentang stereotipe kegiatan perempuan yang berkaitan dengan pengurusan rumah tangga. Padahal, dalam kenyatannya perempuan di masyarakat pertanian (termasuk keluarga nelayan) juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan tunai, misalnya membantu mengurus usaha penampungan ikan di rumah yang dilakukan suami, bahkan seringkali istri justru yang mengurus usaha tersebut sedangkan suami lebih banyak terlibat dalam kegiatan kenelayanan. Karena kegiatan ini dilakukan di rumah dan hanya dalam jam-jam tertentu dalam sehari, kemungkinan kegiatan ini tidak diperhitungkan sebagai ’bekerja’. Selain dari itu, keterlibatan perempuan dalam kegiatan industri rumah tangga juga rentan terhadap pengelompokan sebagai ’hanya mengurus rumah tangga’. Karena itu, untuk intervensi kegiatan ekonomi alternatif (selain eksploitasi sumber daya laut), hal-hal seperti ini perlu menjadi perhatian. Dilihat dari penduduk yang bekerja, sebagian besar penduduk laki-laki bekerja di sektor perikanan tangkap, diikuti sektor pertanian tanaman keras dan indiustri pengolahan. Perempuan banyak

bekerja di sektor industri pengolahan dan perdagangan yang umumnya dapat dikerjakan di rumah (Tabel 4.15).

Tabel 4.14

Distribusi Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut Kegiatan Utama yang Dilakukan dan Jenis Kelamin,

Kelurahan Karas, Tahun 2007 (%)

Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Total

Angkatan kerja - Bekerja 60,1 22,8 43,2 - Menganggur/tidak mencari kerja 10,8 4,8 8,1 - Mencari kerja 3,9 3,0 3,5

Bukan angkatan kerja

- Sekolah 24,6 21,0 23,0 - Mengurus rumah tangga 0,0 47,3 21,4 - Lainnya 0,5 1,2 0,8

Jumlah 100,0 100,0 100,0

N 203 167 370

Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.

Tabel 4.15

Distribusi Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama yang Dilakukan dan Jenis Kelamin,

Kelurahan Karas, Tahun 2007 (%)

Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Total

Perikanan tangkap 86,1 10,5 68,1

Pertanian tanaman keras 4,1 2,6 3,8 Industri pengolahan 4,1 52,6 15,6 Perdagangan 1,6 23,7 6,9 Angkutan 0,8 0,0 0,6 Jasa 3,3 7,9 4,4 Lainnya 0,0 2,6 0,6 Jumlah 100,0 100,0 100,0 N 122 38 160

Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.

Berdasarkan jenis pekerjaannya, sebagian besar laki-laki di Kelurahan Karas bekerja sebagai nelayan dan ada pula sebagian kecil yang bekerja sebagai tenaga usaha jasa, petani tanaman keras dan tenaga produksi (Tabel 4.16). Dilihat dari status pekerjaannya, sebagian besar (52,5 persen) penduduk laki-laki ini bekerja dengan status berusaha sendiri. Ini memang berkaitan dengan kegiatan sebagai nelayan yang umumnya bekerja sendiri atau dibantu anggota rumah tangganya, atau bekerja bersama orang lain dengan sistim bagi hasil. Kira-kira 17 persen penduduk yang bekerja di Kelurahan Karas menyatakan bahwa mereka bekerja dengan/bersama orang lain dengan sistim bagi hasil (Tabel 4.17).

Untuk penduduk perempuan, di antara yang bekerja, proporsi terbesar bekerja sebagai tenaga produksi dan tenaga penjualan. Proporsi terbesar penduduk perempuan (50 persen) juga bekerja berusaha sendiri dan kira-kira 37 persen sebagai buruh. Mereka yang bekerja sebagai buruh bisa bekerja sebagai tenaga produksi di industri pengolahan, seperti pengolahan hasil laut (pembuatan kerupuk) dan pembuatan ikan asin, terutama ikan bilis di Kelurahan Karas, tetapi ada pula yang bekerja di sektor industri yang ada di Kota Batam, meskipun secara resmi masih merupakan penduduk Kelurahan Karas, seperti dinyatakan Lurah Karas berikut:

....rata-rata dia tamatan SMA tadi bekerja di Batam itu rata-rata perempuan, karena perempuan ini mungkin di satu sisi perusahaan itu menganggap perempuan itu ulet kerjanya, sesudah itu mungkin tidak banyak resikonya, untuk demo itu juga tidak berani kalau perempuan, mungkin. Tapi kalai laki-laki ini memang payah, kalau dari SMA 9 Karas sini yang pergi ke Batam minta kerja itu, pulang nggak dapat.

(Wawancara dengan Lurah Karas, 18 April 2007).

Perempuan yang berusaha sendiri umumnya adalah mereka yang bekerja sebagai tenaga penjualan di sektor perdagangan, seperti membuka warung di rumah. Tidak ada penduduk perempuan yang bekerja dengan buruh tetap ataupun yang bekerja dengan sistim bagi

hasil. Ini sangat berkaitan erat dengan jenis pekerjaan yang dilakukan penduduk perempuan. Bekerja dengan bagi hasil umumnya dilakukan dalam kegiatan kenelayanan (menangkap ikan), dan memang hampir tidak ada perempuan yang terlibat dalam kegiatan kenelayanan.

Tabel 4.16

Distribusi Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama yang Dilakukan dan

Jenis Kelamin, Kelurahan Karas, Tahun 2007 (%)

Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Total

Nelayan 85,2 7,9 66,9

Petani tanaman keras 3,3 2,6 3,1 Tenaga produksi 3,3 44,7 13,1

Tenaga penjualan 1,6 31,6 8.8 Tenaga usaha jasa 4,9 7,9 5,6

Lainnya 1,6 5,3 2,5

Jumlah 100,0 100,0 100,0

N 122 38 160

Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.

Tabel 4.17

Distribusi Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama yang Dilakukan dan

Jenis Kelamin, Kelurahan Karas, Tahun 2007 (%)

Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Total

Berusaha sendiri 52,5 50,0 51,9 Berusaha dibantu anggota

keluarga

9,8 5,3 8,8 Berusaha dengan buruh tetap 3,3 0,0 2,5

Buruh/karyawan 11,5 36,8 17,5 Pekerja keluarga 5,7 7,9 6,3

Berusaha dengan orang lain/bagi

hasil 17,2 0,0 13,1

Jumlah 100,0 100,0 100,0

N 122 38 160

Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.

Pekerjaan yang sepenuhnya dilakukan oleh perempuan adalah membuat kerajinan/anyaman dari bahan pandan yang banyak terdapat di Kelurahan Karas. Hasil pekerjaan kelompok perempuan tersebut dipasarkan secara sendiri-sendiri karena belum ada pihak yang bekerja sama untuk memasarkannya. Selain itu, belum tertanamnya rasa kebersamaan dalam aktivitas ekonomi menyebabkan penduduk melakukan usaha ekonomi, termasuk memasarkan hasil produksi, secara sendiri-sendiri. Hal ini dikemukakan oleh salah seorang narasumber berikut ini,

… kelemahan ibu-ibu kita di sini dan bapak-bapaknya juga rasa kekompakan, rasa gotong royong itu kurang. Mereka kalau nganyam tikar itu sendiri-sendiri, buat tikar sendiri-sendiri-sendiri, nanti kalau sudah siap dijual sama orang jual keliling.

Kira-kira 21 persen dari total penduduk berumur 10 tahun yang bekerja menyatakan bahwa mereka mempunyai pekerjaan tambahan. Artinya mereka melakukan lebih dari satu pekerjaan. Dari total penduduk yang melakukan lebih dari satu pekerjaan ini, proporsi perempuan hanya sekitar 9 persen (Tabel 4.18). Lapangan pekerjaan yang utama untuk pekerjaan tambahan ini adalah pertanian tanaman keras dan perdagangan. Dengan demikian sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai nelayan (di sektor perikanan laut) juga banyak yang bekerja sebagai petani dan pedagang. Mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan perdagangan, jika dilihat menurut jenis pekerjaannya adalah tenaga usaha jasa dan tenaga penjualan. Penduduk yang mempunyai pekerjaan tambahan ini juga sebagian besar berusaha sendiri tanpa dibantu anggota rumah tangga maupun tenaga lainnya (buruh).

Tabel 4.18

Distribusi Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Bekerja, dan Mempunyai Pekerjaan Tambahan, Kelurahan Karas, Tahun 2007

Ciri-ciri pekerjaan tambahan Persentase

Penduduk yang bekerja dan mempunyai pekerjaan tambahan (% dari total yang bekerja)

20,6 (33)

- Proporsi perempuan 9,0

Lapangan pekerjaan tambahan

- Pertanian tanaman keras 45,4

- Perdagangan 18,2

- Lainnya 36,4

Jenis pekerjaan tambahan

- Petani tanaman keras 36,4

- Tenaga usaha jasa 24,2

- Tenaga penjualan 18,2

- Lainnya 21,2

Status pekerjaan tambahan

- Berusaha sendiri 69,7

- Berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga 12,1

- Lainnya 18,2

Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.