BAB IV POTRET PENDUDUK KELURAHAN KARAS
4.2. Pendidikan dan Keterampilan
Pendidikan merupakan salah satu indikator kualitas sumber daya manusia, yang sangat ditentukan oleh investasi yang dilakukanoleh keluarga terhadap pendidikan anggota rumah tangganya maupun investasi pemerintah dalam sarana dan prasarana pendidikan. Kualitas sumberdaya manusia yang terkait dengan pendidikannya dapat dilihat dari beberapa determinan, yaitu kemampuan membaca dan menulis (angka buta huruf), status sekolah, serta pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Karena keterbatasan data, analisis dalam bagian ini hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis serta pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa di antara penduduk berusia 10 tahun ke atas di Kota Batam pada tahun 2005, masih ada sekitar 1-2 persen yang tidak dapat membaca huruf latin. Angka ini cukup kecil, jika mempertimbangkan bahwa penduduk berumur 10 tahun ke atas termasuk juga yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak jarang ditemukan di daerah-daerah terpencil, murid yang sudah duduk di kelas tiga SD ternyata masih belum mampu membaca dan menulis. Jika dibandingkan antara penduduk laki-laki dan perempuan, tingkat buta huruf ini lebih tinggi di antara penduduk perempuan, meskipun proporsinya tidak terlalu jauh berbeda. Ini juga mengindikasikan bahwa ada kemungkinan anak perempuan tidak diutamakan untuk cepat masuk sekolah pada, sehingga berpengaruh terhadap kemanpuan membacanya.
Tabel 4.7
Penduduk Kota Batam Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Kemampuan Membaca dan Menulis Serta Jenis Kelamin, Tahun 2005 (%)
Kemampuan membaca dan menulis Laki-laki Perempuan Total
Dapat membaca huruf latin 98,7 98,1 98,4 Dapat membaca huruf lainnya 0,1 0,4 0,3 Tidak dapat membaca (buta huruf) 1,1 1,5 1,3
Total 100,0 100,0 100,0
N 229.400 258.443 487.843
Dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, terlihat bahwa lebih dari 50 persen penduduk Kota Batam berpendidikan SLTA ke atas (Tabel 4.8). Umumnya pendidikan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, tetapi untuk jenjang pendidikan SLTP dan SLTA, proporsi penduduk perempuan berpendidikan SLTP dan SLTA lebih besar dibandingkan dengan penduduk laki-laki. Ini dapat berkaitan dengan migrasi masuk penduduk perempuan berpendidikan SLTP dan SLTA untuk bekerja di sektor industri di Batam, terutama di industri elektronik (Pemerintah Kota Batam, 2005). Sebaliknya untuk penduduk yang berpendidikan di bawah SLTP dan di atas SLTA, proporsi laki-laki lebih besar daripada perempuan, meskipun pada jenjang pendidikan dasar proporsinya tidak terlalu jauh berbeda. Namun, untuk jenjang pendidikan diatas SLTA, perbedaan antara laki-laki dan perempuan cukup besar, sekitar 5 persen. Keadaan ini menunjukkan bahwa masih ada kendala yang dihadapi penduduk perempuan di Kota Batam dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Table 4.8
Penduduk Kota Batam Berumur 5 Tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
dan Jenis Kelamin, Tahun 2005 (%)
Pendidikan Laki-laki Perempuan Total
Tidak/belum pernah sekolah 5,7 5,0 5,4
Belum/tidak tamat SD 12,4 11,8 12,1 SD 11,6 10,0 10,7 SLTP 13,8 15,0 14,4 SLTA 45,1 52,1 48,7 Diploma I-II 3,5 2,3 2,9 Akademi/Diploma III 2,9 1,4 2,1 Universitas 5,0 2,4 3,7 Total 100,0 100,0 100,0 N 258.192 285.734 543.926
Analisis pendidikan dan ketrampilan penduduk di Keluhan Karas terutama akan didasarkan pada data hasil survei rumah tangga di kelurahan tersebut, karena terbatasnya data sekunder tentang profil kelurahan yang tersedia. Kira-kira 82 persen penduduk Kelurahan Karas berpendidikan SD ke bawah. Keadaan ini juga hampir tidak berbeda dengan kondisi umum Kecamatan Galang yang kurang lebih 85 persen penduduknya berpendidikan SD ke bawah (Tabel 4.9). Namun, kondisi pendidikan penduduk di Kelurahan Karas ini lebih baik dari Kelurahan-kelurahan Pulau Abang, Rempang Cate dan Subang Mas, yang lebih dari 90 persen penduduknya berpendidikan SD ke bawah. Kondisi pendidikan penduduk kelurahan lainnya tidak jauh berbeda dengan penduduk Kelurahan Karas.
Tabel 4.9
Penduduk Kecamatan Galang Menurut Kelurahan dan Pendidikan yang Ditamatkan, Tahun 2005 (%)
Tingkat Pendidikan yang ditamatkan Total Kelurahan Tidak/Bl m tamat SD SD SLTP SLTA Diploma/ Akademi/ Universitas % N 1) PulauAbang 70,9 20,8 4,1 3,2 0,9 100,0 1.369 Karas 52,6 29,7 9,2 7,8 0,8 100,0 3.017 Sijantung 41,5 38,3 8,5 11,2 0,6 100,0 815 Sembulang 41,9 38.6 9,3 9,0 1,2 100,0 1.118 Rempang Cate 49,7 42,9 3,4 3,6 0,5 100,0 1.745 Subang Mas 69,5 21,6 5,1 2,3 1,5 100,0 472 Galang Baru 43,4 32,0 15,2 8,3 1,0 100,0 696 Kec. Galang 52,7 32,5 7,5 6,5 0,8 100,0 9.232 Sumber: Pemerintah Kota Batam. Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Kota
Batam. 2006. Kecamatan Galang dalam Angka Catatan: 1) Tidak termasuk kategori ’Lainnya’
Data survei yang dilakukan terhadap 100 rumah tangga di Kelurahan karas menunjukkan bahwa kira-kira 12 persen penduduk berumur 7 tahun ke atas belum/tidak sekolah dan sekitar 76 persen lainnya berpendidikan SD ke bawah (Tabel 4.9). Jika dibandingkan antara penduduk laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa hampir tidak ada
perbedaan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. Seperti yang diungkapkan Lurah Karas, untuk tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Galang, Belakang Padang, dan Bulang, pendidikan dari SD sampai ke SLTA digratiskan.
...di tiga kecamatan ini, Kecamatan Galang, Belakang Padang dan Bulang itu dari SD sampai ke SLTA itu digratiskan, maka anak-anak itu rata-rata tamat SMA, sebelum itu mereka hanya tamat SMP aja, dua, tiga orang yang nyambung ke Batam, nyambung ke Tanjung Pinang. Ini, Alhamdullillah karena kebijakan pemerintah untuk daerah hinterland ini dengan mainland itu beda gitu kan, kalau di kota itu bayar sekolahnya, kalau di hinterland itu gratis kan. (Wawancara dengan Lurah
Karas, 18 April 2007).
Program ini belum berlangsung lama, sehingga mungkin masih sedikit terlihat pengaruhnya terhadap pendidikan penduduk di Kelurahan Karas. Seperti telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, di Kelurahan Karas sendiri terdapat tiga (3) buah SD, satu (1) buah SMP dan satu (1) buah SMA. Tingginya proporsi penduduk yang berpendidikan SD ke bawah dapat disebabkan karena tingginya proporsi penduduk pada kelompok umur muda yang memang masih menempuh pendidikan SD. Kira-kira 22 persen penduduk di Kelurahan Karas berada pada kelompok umur 5-14 tahun (lihat Tabel 4.5), yang didalamnya termasuk kelompok usia pendidikan SD (7-12 tahun). Untuk daerah-daerah terpencil, kesulitan ekonomi sering menghambat anak masuk sekolah, sehingga anak mulai masuk sekolah SD pada usia yang lebih tua, di atas 7 tahun. Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 2000 terlihat bahwa untuk Kota Batam, kira-kira 92 persen penduduk berumur 7-12 tahun (kelompok umur SD) tidak/belum tamat SD serta untuk kelompok umur 13-15 tahun (kelompok umur SLTP) kira-kira 18 persen yang tidak/belum menamatkan SD (Lampiran 4.1). Dengan asumsi adanya wajib belajar (Wajar) 9 tahun, dapat diartikan bahwa mereka yang
dalam kelompok ini masih menempuh pendidikan, tetapi belum menamatkan pendidikan SD.
Tabel 4.10
Distribusi Penduduk Berumur 7 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin,
Kelurahan Karas, Tahun 2007 (%)
Pendidikan Laki-laki Perempuan Total
Belum/tidak sekolah 11,0 13,0 11,9
Belum/tidak tamat SD 35,3 37,0 36,1
SD tamat 30,3 26,1 28,4
SLTP tamat 13,3 13,6 13,4
SLTA tamat keatas 10,1 10,3 10,2
Total 100 100 100
N 218 184 402
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2007.
Penduduk Pulau Karas dahulunya dikenal memiliki keahlian membuat perahu yang disebut dengan Sampan Melayu. Namun, keahlian dan ketrampilan itu sekarang tidak diteruskan pada generasi muda, seperti yang dinyatakan Lurah Karas berikut:
Tanya: Masyarakat nelayan di sini ya Pak ya?. Biasanya kan pasti ada juga yang punya keahlian untuk buat kapal?
Jawab: Ada Bu. Di sini kalau di Pak jamil ini kan sudah dibantu...Pak Ani, kemudian lagi di daerah pulau itu Pak Yanto, memang kalau orang sini bilang dulu ada yang membuat Sampan Melayu kan, tukang Sampan Melayu, untuk diperlombakan, adakan ...seperti tujuh belas Agustus, itu kan itu dulu memang di Karas ini ada orang yang
pandai buat sampan-sampan kecil itu, tapi sekarang ini tidak ada penerusnya nampaknya, berganti dari sampan dayung berganti ke motor pompong, sekarang yang tinggal hanya pandai buat pompongnya.
(Wawancara dengan Lurah Karas, 18 April 2007).
Selain Sampan Melayu, beberapa di antara penduduk juga mempunyai keahlian membuat perahu untuk kegiatan melaut. Bagi sebagian orang, keterampilan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat perahu yang digunakan sendiri, melainkan juga perahu pesanan pihak lain. Salah seorang diantaranya bahkan membuat perahu atas pesanan orang-orang dari luar wilayah Kelurahan Karas, termasuk juga dari Bangkok (wawancara dengan narasumber di lokasi penelitian).
Selanjutnya, ada pula beberapa penduduk yang mempunyai keterampilan mekanik motor tempel, yang sudah diikutkan pelatihan oleh Lurah. Selain dari itu ada beberapa penduduk yang mempunyai ketrampilan dan membuka bengkel untuk memperbaiki motor pompong dan bengkel las untuk membuat trali-trali besi untuk jendela. Ketrampilan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut dalam industri rumah tangga seperti membuat kerupuk ikan dan sambal ikan (semacam abon ikan) juga sudah dimiliki penduduk setempat. Tetapi usaha ini belum merupakan usaha komersil, baru untuk dikonsumsi sendiri. Program Coremap yang sudah masuk ke Kelurahan Karas ini membuat kegiatan-kegiatan tersebut sekarang merupakan kegiatan kelompok industri rumah tangga. Keterampilan lainnya yang dimiliki juga membuat ikan asing/kering, ikan asap (ikan salai) juga untuk dikonsumsi sendiri dan membuat anyam-anyaman (tikar). Kegiatan-kegaitan ini biasanya dilakukan oleh perempuan.
Sebagian perempuan, khususnya, menguasai keterampilan membuat anyaman untuk berbagai keperluan, antara lain tikar dan peralatan untuk menutup makanan (tudung saji berukuran besar dan kecil).
Keterampilan yang dimiliki didapat secara turun temurun atau belajar dari penduduk setempat yang menguasainya. Ketersediaan bahan baku untuk membuat anyaman, yaitu pandan (sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya), menyebabkan mereka yang menguasai keterampilan tersebut terus melakukan kegiatannya sampai sekarang. Namun, usaha anyam-anyaman ini masih merupakan usaha perorangan, untuk digunakan sendiri, atau hanya dijual pada pedagang pengumpul keliling yang biasanya datang ke Pulau Karas Anyam-anyaman dari Pulau Karas ini sudah dipromosikan sampai ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). (Wawancara dengan Lurah Karas).