Bab 5. Analisa Usaha
2. Pelaporan Keuangan a Neraca
Neraca (balance sheet) adalah suatu laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan sesaat dari sebuah usaha.
Neraca merupakan gambaran dari perkiraan atas nilai perusahaan pada suatu waktu yang menyangkut harta dan hutang perusahaan.
Neraca Konsolidasi Per Desember 2006 (dalam ribuan rp.)
Harta Lancar Kewajiban Lancar
Kas 50,000 Hutang Dagang 150,500
Piutang Dagang 172,500 Hutang Bank 80,900
Persediaan 400,000 Upah & gaji belum dibayar 38,000 Biaya dibayar dimuka 9,000 Hutang bunga 43,000 Total Harta Lancar 631,500 Hutang pajak 50,200
Harta Tetap Total Hutang Lancar 362,600
Bangunan 59,200 Kewajiban Jangka Panjang
Peralatan 67,500
Hutang Bank jangka
Panjang 200,000
Mebel dan alat kantor 22,000 Total Hutang JK Panjang 200,000
15 Total Harta Tetap 133,830 Total Kewajiban 562,600
Modal 202,730
Total Harta 765,330 Total Kewajiban dan Modal 765,330
b. Laporan Rugi Laba
Laporan rugi laba menggambarkan keadaan suatu usaha dalam suatu waktu tertentu, dengan membandingkan antara pengeluaran dengan pendapatan yang sekaligus dapat menunjukkan laba bersih perusahaan baik berupa keuntungan maupun kerugian. Dalam laporan rugi laba terdapat komponen harga pokok penjualan yang
menggambarkan jumlah biaya, termasuk ongkos kirim, dari barang dagangan selama periode tertentu.
Penjualan bersih 1,980,500
Harga Pokok Penjualan
Persediaan awal 820,000
Pembelian 940,500
Barang Siap Dijual 1,760,500
Persediaan akhir barang 460,500
Harga pokok penjualan 1,300,000
LABA KOTOR 680,500 Beban Operasi Pemasaran 140,700 Asuransi 45,000 Penyusutan 27,700 Gaji karyawan 225,300 Kesejahteraan 6,500
Jumlah Beban Operasi 445,200
Beban Umum
Telepon 2,000
Pos 1,500
Pajak Gaji 27,000
utilitas 5,000
Jumlah Biaya Umum 35,500
Beban Lain
Beban Bunga 40,900
Beban lingkungan 2,500
Jumlah Beban Lain 43,400
Beban Total 524,100
Pendapatan Bersih 156,400
3. Mengelola Keuangan Usaha
Apa yang kita peroleh dari laporan rugi laba dan neraca? Kita dapat melakukan evaluasi dan perencanaan untuk bisnis tahun depan.
1. Menentukan penjualan bersih tahun depan berdasarkan informasi laba bersih dan margin laba bersih.
2. Rasio likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan apakah usaha kita dapat menutupi kewajiban dalam jangka pendek yang jatuh tempo.
16 3. Rasio penjualan bersih atas harta total yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan penjualan sehubungan dengan harta yang dipunyainya.
4. Rasio laba bersih atas modal. Rasio ini menunjukan tingkat pengembalian keuntungan dari setiap modal yang ada diperusahaan.
Bedah Bisnis Hasil Studi Lapangan
Seorang wirausaha membutuhkan waktu untuk memperoleh kesuksesan di dunia usaha. Dan banyak diantara wirausaha yang sukses, mampu bertahan serta meningkatkan usahanya dengan membutuhkan waktu yang relatif lama. Meskipun sudah mempunyai perjalanan panjang dalam dunia usaha namun masih banyak wirausaha yang masih jalan ditempat artinya wirausaha tersebut hanya mampu mempertahankan keberadaan usahanya dalam waktu relatif lama dan bahkan banyak diantaranya yang gulung tikar, sebaliknya tidak sedikit wirausaha usaha sukses yang mengembangkan usahanya dalam waktu yang singkat.
Sukses atau tidaknya dalam dunia usaha, para wirausaha perlu menjalani sebuah proses. Proses inilah yang akan menentukan cepat atau lambatnya wirausaha mencapai kesuksesan. Banyak contoh wirausaha yang sukses setelah menjalani proses dalam waktu yang panjang dan umumnya mereka kuat dalam mempertahankan keberadaan bisnis/usahanya. Dalam proses menjalani usaha seorang wirausaha harus :
1. Berani menghadapi resiko dengan pertimbangan yang matang 2. Mampu menggunakan waktu secara efektif dan efisien
3. Mencari peluang usaha dan jeli memanfaatkan peluang tersebut. 4. Tidak cepat puas dan selalu termotivasi untuk mengembangkan usaha 5. Meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi 6. Berusaha memperbanyak relasi
7. Mampu mengontrol sikap dan perilaku 8. Belajar demi kemajuan.
9. Mampu membagi pengetahuannya kepada yang lainnya 10. Melakukan penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan
Pada saat ini sedang berkembang wirausaha yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman, salah satu diantaranya adalah :
Bagaimana “Starbucks” Sukses Sebagai Waralaba
Ada dua hal penting paling mendasar, yang membuat Starbucks maju. Kedua hal tersebut adalah semangat/hasrat (passion), dan keaslian (authenticity). Kombinasi dari kedua hal mendasar inilah yang membuat Starbucks menjadi maju seperti sekarang. Didirikan pada tahun 1971, Starbucks adalah sebuah perusahaan yang begitu ‘keranjingan’ akan kopi, serta selalu berusaha menanamkan pengertian pada para pelanggannya tentang kehebatan kopi yang dapat disajikan. Melalui visi dan nilai-nilai yang dibangun, yaitu kombinasi antara dorongan persaingan dan keinginan luar biasa untuk meyakinkan bahwa setiap orang dalam perusahaan dapat secara bersama-sama memperoleh kemenangan. “Saya ingin mencampur kopi dengan romansa, berani untuk mencapai apa yang dikatakan orang mustahil, menantang kebiasaan yang aneh-aneh dengan ide-ide inovatif, dan melakukan semua ini dengan elegan dan gaya.” (Howard Schultz, Chairman dan CEO Starbucks).
Yang diperkenalkan oleh pihak Starbucks bukanlah melulu mengenai produk kopinya, melainkan keberaniannya dalam melakukan penerobosan, melakukan suatu hal yang tidak lazim, awalnya hanya bermodalkan keberanian dan kreativitas. Starbucks dalam
17 memperkenalkan produknya, antara lain dilakukan dengan cara membuat konsumen ketika singgah di Starbucks serasa menemukan oasis, suatu tempat lingkungan kecil, ketika Anda dapat beristirahat, mendengarkan musik Jazz dan merenungkan segala sesuatu yang melintas dibenak anda, merenungkan pertanyaan-pertanyaan bersifat personal, universal atau bahkan yang aneh-aneh sambil menikmati secangkir kopi. Kopi dan coffehouse telah menjadi bagian penuh arti dari kehidupan komunitas, di Eropa dan Amerika selama berabad-abad. Hal tersebut dikaitkan pula dengan adanya pergolakan politik, gerakan-gerakan para penulis dan perdebatan intelektual di Venesia, Vienna, Paris, dan Berlin. Starbucks menggetarkan siapapun, terutama penggemar kopi, karena merupakan warisan keberhasilan dari masa lalu. Starbucks memperoleh kekuatan kesuksesan dari sejarahnya sendiri, serta dari ikatannya dengan masa lalu yang panjang. Itulah yang membuatnya lebih dari sekedar perusahaan yang tumbuh menjamur di era 1990-an. Kekuatan-kekuatan itulah yang membuatnya tetap bertahan.
Para pendiri Starbucks pada dasarnya bukanlah golongan pelaku bisnis handal. Starbucks dirintis oleh tiga orang sahabat, Jerry, seorang guru bahasa Inggris, berasal dari Bay Area, dan setelah tamat pada mata kuliah utama Literatur pindah ke Seattle. Gordon, seorang penulis memang berasal dari Seattle dan terakhir adalah Zev Siegl, seorang pengajar sejarah. Zev merupakan putra pemimpin orkestra untuk Seattle Symphony. Mereka bertiga sama-sama menyukai produksi film, penulisan, penyiaran, musik klasik, gourmet, anggur yang bagus, dan kopi yang istimewa. Tak seorang pun dari mereka bertiga memimpikan untuk memiliki perusahaan sebesar Starbucks,yang telah menjlema menjadi sebuah kerajaan bisnis. Tetapi satu hal yang pasti adalah mereka mendirikan Starbucks dengan satu alasan : “MEREKA MENCINTAI KOPI” dan memiliki tekad untuk menjadikan Seattle memiliki akses menuju yang terbaik. Kakek spiritualis Starbucks adalah Alfred Peet, berusia 70 tahunan, beruban, keras kepala, mandiri dan blak-blakan, berasal dari Belanda, memperkenalkan dark-roasted coffe ke Amerika. Ia orang yang tidak sabaran, tidak suka berpura-pura, tetapi ia akan kuat duduk berjam-jam dengan siapapun yang mempunyai perhatian tulus untuk belajar mengenai dunia kopi dan teh. Memang tidak mengherankan, karena Alfred Feet merupakan putra pedagang kopi dari Amsterdam. Ia tumbuh, beranjak dewasa dalam eksotisme kopi Indonesia, Afrika Timur dan Karibia. Peet kecil masih mengingat betul bila ayahnya pulang dengan membawa berkantung-kantung kopi yang dimasukkan ke dalam saku jasnya. Kemudian ibunya akan membuat tiga pot sekaligus, menggunakan campuran yang berbeda-beda dan memberikan pendapatnya. Ketika remaja Peet bekerja magang pada salah satu importir besar di kotanya. Dan sebagai pedagang teh, ia berlayar menyeberangi lautan, menuju perkebunan-perkebunan di Jawa dan Sumatera, mengasah dan memperhalus cita rasanya, sampai ia dapat mencium perbedaan tipis kopi-kopi dari negara-negara dan daerah yang berbeda.
Tahun 1955, Peet pindah ke Amerika. Ia merasa begitu terkejut. Di sinilah negara terkaya di dunia, tetapi kopinya begitu ‘mengerikan’. Kebanyakan kopi yang diminum orang Amerika adalah kopi dengan kualitas rendah, sehingga para pedagang kopi dari London dan Amsterdam memperlakukannya sebagai komoditi murahan. Sangat sedikit kopi arabika yang memiliki kualitas tinggi, dibawa ke Amerika Utara, kebanyakan dibawa ke Eropa, tempat cita rasa lebih dibeda-bedakan. Sebetulnya Peet sejak tahun 1950-an telah mulai mengimpor kopi arabika ke Amerika. Namun di sana tidak banyak permintaan. Mungkin karena belum banyak orang Amerika yang mengenal dan mendengarnya. Maka pada tahun 1966, ia membuka sebuah toko kecil, Peet’s Coffee and Tea, di Vine Street, Berkeley, yang dikelolanya hingga tahun 1979. bahkan ia mengimpor alat penyangrai sendiri, karena ia berpikir bahwa perusahaan-perusahaan Amerika tidak tahu bagaimana menyangrai sejumlah kecil kopi arabika kualitas tinggi
18 tersebut. Salah satu kekhasan yang dimiliki Starbucks adalah roasted coffee dark penemuan Peet. Kopi yang dibuatnya dengan cara Eropa, yang diyakininya sangat penting untuk mengeluarkan aroma biji-biji kopi yang berbeda. Ia selalu menganalisis setiap kantung biji kopi, dan menyarankan cara pemanggangan yang sesuai untuk karakteristik yang dimiliki masing-masing kopi.
Starbucks mulai melakukan pengembangan secara profesional, atau menurut istilah Howard Schultz,pada 18 Agustus 1987 merupakan hari kelahiran Starbucks modern. Dari situlah mulai dipikirkan apa saja yang harus dilakukan secara pemikiran bisnis. Perhatian paling utama ditujukan pada masalah manajemen. “manajemen yang kurang pengalaman”, merupakan salah satu faktor paling riskan dalam catatan Howard Schultz. Selain manajemen, hal yang membuat Starbucks begitu pesat perkembangannya adalah masalah kepercayaan. Starbucks dapat lebih cepat berkembang dan menjadi lebih berhasil lagi, kalau orang-orang yang terlibat di dalamnya termotivasi dengan semangat yang sama, semangat untuk percaya terhadap apa yang mereka lakukan dengan semangat dan kegairahan, akan menghasilkan sesuatu yang menggembirakan. Dan satu- satunya cara untuk menanamkan rasa percaya diri pada karyawan Starbucks adalah bersikap jujur kepada mereka, sama-sama saling berbagi rencana dan kegembiraan. Melaksanakan dan menepati apa yang sudah dijanjikan kepada mereka, serta selalu tak lupa untuk menepati apa-apa yang telah dikatakan pada mereka. Memberikan dengan tepat apa yang sudah dijanjikan. Memang hal ini cukup memakan waktu, tetapi itulah yang dapat menanamkan kepercayaan, baik terhadap karyawan (ke dalam) maupun terhadap publik di luar. Ketika memasuki pemasaran internasional, maka Starbucks harus mulai memikirkan dan memperhitungkan serta mempertimbangkan segala sesuatunya secara jangka panjang. Ada target yang direncanakan, dan harus dicapai. Harus dipikirkan, bagaimana membuka 125 store baru dalam lima tahun, sesuai dengan yang telah dijanjikan kepada investor. Seiring dengan bertambah dan berkembangnya keterampilan di lingkungan Starbucks, maka harus dapat membuka 15 store pada tahun pertama, kemudian 20 store pada tahun kedua, 25 store pada tahun ketiga, 30 store pada tahun keempat, dan terakhir adalah 35 store pada tahun kelima. Di atas kertas rencana itu terlihat begitu besar, bahwa penjualan akan tumbuh dengan cepat menjadi $60 juta dan laba akan tumbuh dalam waktu bersamaan. Starbucks harus bergerak cepat, salah satunya adalah dengan merekrut manajer-manajer berpengalaman, serta segera melangkah untuk memperoleh dukungan dan antusiasme dari lingkungan Starbucks sendiri.
Dalam memasuki pemasaran modern, ada beberapa hal yang dijual oleh Starbucks , bukan hanya produk, tetapi dengan menanamkan kesan, citra atau image kepada pelanggan, bahwa bila pelanggan singgah di Starbucks, maka mereka akan mengalami, atau menemukan hal-hal sebagai berikut :
1. Cita rasa romantika, pada Starbucks cafe atau store, orang dapat singgah dan