Strategi di tentukan setelah menganalisa skema proses manajemen konservasi. Pendekatan yang dilakukan yaitu seperti gambar dibawah ini.
Menarik Untuk Aktivitas Budaya
Sebagai kawasan perdagangan dan pemukiman kampung lama yang padat penduduk, kawasan segiempat emas Tunjungan memiliki karakter kuat sebagai kawasan dengan struktur inti perkampungan yang tetap bertahan diantara perkembangan kawasan yang cukup pesat oleh bangunan tinggi dan megah. Namun karakter yang kuat itu tidak dibarengi dengan keberadaan aktifitas budaya yang dapat menarik orang untuk datang terkait dengan wisata. Identitas masyarakat yang bisa dibentuk dari sense of occasion atau tradisional ceremony belum diangkat kepermukaan. Permasalahan tersebut disebabkan oleh :
• Belum adanya tokoh masyarakat atau paguyuban yang dapat menggerakkan tradisi budaya dari masyarakat setempat yang nantinya dapat menjadi nilai jual ( wisata) dari pemukiman kampung
• Kegiatan yang rutin saat ini hanya berupa kegiatan keagamaan seperti pengajian sedangkan kegiatan seni tari sudah lama tidak berjalan
Analisa Ekonomi
Pengembangan segiempat Tunjungan dari segi ekonomi mengarah pada proses revitalisasi kawasan seperti masa lampau dimana kegiatan ekonomi sangat tinggi dan menghidupkan daerah Tunjungan dan sekitarnya. Yaitu upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi.
Menurut Adhisakti (2005), konservasi bangunan atau kawasan hendaknya mampu mengembangkan ekonomi tanpa merusak tatanan lokal. Dari pernyataan tersebut maka dilihat dari potensi dan historisnya, strategi untuk meningkatkan aktivitas perdagangan disegi empat Tunjungan sebagai daerah konservasi bias melalui pendekatan :
• Adanya organisasi yang mengelola perdagangan dan merupakan persatuan dari para pedagang/pengusaha yang beraktivitas di segiempat Tunjungan. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan dapat dikontrol dengan baik dan menghindarkan dari munculnya pedagang- pedagang liar yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan kawasan.
• Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perdagangan. Poin ini erat hubungannya dengan proses konservasi, dimana dilakukan perbaikan terpadu pada bangunan, sarana transportasi, masalah reklame, ruang terbuka kawasan.
• Setelah ada organisasi dan perbaikan sarana prasarana. Maka diharapkan bisa mengakomodasi kegiatan ekonomi formal dan informal, sehingga mampu menambah nilai tambah bagi kawasan kota dan memberikan kesempatan masyarakat sekitar untuk turut serta dalam aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan kualitas hidup.
Gambar 12. Skema Manajemen Konservasi ( Adisakti, 2001)
Program Partisipasi
Manajemen bertumpu pada masyarakat merupakan sistem yang tepat untuk mengelola kawasan bersejarah di mana perlindungan dan pengelolaaan pusaka budaya menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Namun demikian, untuk mewadahi kebutuhan-kebutuhan baru masa kini dan masa datang, diperlukan beberapa program termasuk revitalisasi, sehingga pusaka budaya ini akan menjadi sumber-sumber yang bermakna untuk kehidupan masyarakat setempat. Dukungan, advokasi, bantuan, juga dana dari Pemerintah Daerah, Dinas-dinas, dan Organisasi non pemerintah hanyalah bersifat sementara. Masyarakat setempat seyogyanya menjadi pelaku utama untuk melanjutkan program konservasi mereka.
Begitu juga dengan masyarakat pada kawasan segi empat emas tunjungan berdasarkan hasil survey masyar`kat di kawasan studi sangat menginginkan adanya program pelestarian bahkan mengadakan kembali apa yang sudah lama telah hilang antara lain :
• Masyarakat masih merindukan kegiatan kesenian dalam kawasan, seperti tarian tradisional yang biasa di lakukan pada balai budaya.
• Adanya keinginan untuk memperbaiki sarana dan prasarana kampung, karena belum mendapat dukungan dari pemerintah.
• Adanya keinginan untuk mempertahankan kampung, akan tetapi terbuka dengan perubahan yang diberikan Sehingga bentuk dan fungsi kawasan permukiman yang dikelilingi oleh fungsi perdagangan jasa masih ingin dipertahankan oleh masyarakat. oleh karena itu diperlukan adanya upaya yang serius dalam :
• Mengadakan kembali atraksi budaya seperti tarian tradisional yang telah hilang sebagai kegiatan yang mendukung program partisipasi
• Mengusahakan kerjasama dengan pemerintah untuk memperbaiki sarana dan prasarana kampung kawasan segi empat emas tunjungan salah satunya melalui
Semin
program kemandirian masyarakat yang di fasilitasi dan di arahkan oleh pemerintah.
• Merevitalisasi kampung dengan tetap mempertahankan eksistensi kampung dan fungsi kampung terhadap kawasan aktivitas perdagangan di sekitarnya
Sumber Daya Heritage
Untuk sumber daya heritage di klasifikasikan menjadi fisik dan non fisik. Warisan budaya fisik meliputi elemen- elemen fisik kawasan seperti fungsi dan bentuk lahan, bangunan, dan ruang luar.
1. Pola pemanfaatan lahan
Sebelumnyakawasan ini direncanakan dengan konsep permukiman di tengah lingkungan perdagangan, atau kawasan permukiman yang dilingkupi oleh kegiatan perdagangan. Pada keempat sisi kawasan, satu kapling dari tepi jalan diperuntukkan sebagai lahan perdagangan. Selebihnya digunakan sebagai lahan permukiman, dengan perbandingan 70% permukiman dan 30% perdagangan.
Kawasan segi empat emas tunjungan ini termasuk kota bawah Surabaya, dimana pertumbuhannya dimulai dari kantung-kantung permukiman. Sehingga munculnya fungsi perdagangan pada kawasan tersebut setelah terjadi ekspansi kawasan bawah menjadi kawasan perdagangan juga. Namun dari pola yang dihasilkan menunjukkan bahwa kantung permukiman memang tetap ingin dipertahankan.
Kondisi saat ini tetap terbagi atas kawasan permukiman dan dikelilingi oleh kawasan perdagangan di tepinya. Perbedaannya adalah, kawasan permukiman saat ini hanya tinggal sekitar 62%. Kekurangan 8% tersebut diakibatkan ekspansi area perdagangan dan ditambah dengan beberapa perkantoran dan fasilitas umum. Terdapat juga beberapa rumah sudah digunakan untuk aktifitas industri dan perdagangan, seperti pabrik kue, warung, kerajinan, dan kos-kosan.
2. Fungsi dan wujud bangunan
Bangunan-bangunan pertokoan difungsikan total untuk fungsi perdagangan dan perkantoran, terlihat dari penggunaan arcade yang memfasilitasi pejalan kaki yang ingin melintasi di depan pertokoan. Konsep arcade ini merupakan konsep umum arsitektur bangunan toko kolonial, yang meilhat prilaku pembeli di negara tropis seperti Indonesia.
Mayoritas bangunan menggunakan atap miring, dan beberapa menggunakan tower-tower kecil di atasnya. Fasade bangunan pertokoan menggunakan langgam art deco dan kolonial, dengan elemen-elemen beton sebagai dekoratifnya. Secara keseluruhan, deretan pertokoan ini menghasilkan kesan horizontal yang lebih kuat dibandingkan kesan vertikal dari penggunaan tower dan kolom. Kesan ini memberi identitas yang khas untuk koridor di sekitar segi empat emas tunjungan.
Wujud bangunan perumahan merupakan bangunan yang adaptatif tropis, terlihat dari besarnya bukaan pada bangunan dan kemiringan atap. Sehingga beberapa bangunan perumahan mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi antara lain :
ar Nasional Dies 43 Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra
• Renovasi pada langgamnya namun tidak berubah fungsi sebagai rumah tinggal,
• Bangunan yang dibangun pada lahan kosong, memiliki langgam arsitektur jengki, diangun kira-kira tahun 1970-1980an.
• Bangunan mengalami sedikit penambahan bentuk dan fungsi, yaitu untuk berjualan (warung) atau kerajinan.
• Bangunan tanpa perubahan bentuk tapi fungsi berubah menjadi industri rumah tangga kecil (pabrik).
Sehingga secara fungsional bangunan pertokoan hanya mengalami sedikit perubahan, yaitu pada beberapa area berubah fungsi menjadi fasilitas umum, dan ada beberapa bangunan tidak berfungsi. Namun yang terjadi adalah perubahan masa dan wujud bangunan akibat penambahan intensitas dan akibat dari kebebasan/keinginan merenovasi wujud/tampilan bangunan.
Untuk bangunan perumahan, secara fungsional mengalami sedikit perubahan menjadi bangunan semi komersial. Begitu pula dengan perubahan wujud bangunan yang hanya terjadi pada beberapa bangunan saja, karena intensitas, perubahan/penambahan fungsi, dan keinginan merubah.
3. Fungsi dan bentuk Ruang Luar
Secara fungsional kebutuhan akan ruang terbuka untuk kegiatan bersama berkurang oleh kebutuhan ruang untuk tempat tinggal. Akibatnya, fungsi kegiatan tersebut beradaptasi dengan ruang-ruang yang tersisa dan akhirnya banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan lagi. Ruang terbuka yang tersisa hanya berupa jalur sirkulasi dengan ukuran yang minimal. Ruang tersebut berubah bentuk menjadi ruang multi fungsi, terlihat dari beberapa warga menggunakan sebagai taman, dan beberapa tempat untuk duduk-duduk.
Warisan budaya non-fisik merupakan aspek non-fisik kawasan yang mempengaruhi perubahan fungsi dan bentuk kawasan.
1. Nilai sejarah
Kawasan Tunjungan tercatat mempunyai daya tarik sejak jaman dulu. Mulai dari era Adipati hingga jaman pemerintahan masa kini di Surabaya. Dari sekedar taman, area pertama untuk menerima tamu raja yang berasal dari pedalaman. Hingga kini menjadi pusat bisnis paling ramai di Kota Pahlawan ini. Tunjungan menjadi kawasan yang direncanakan oleh VOC sebagai kawasan pertokoan, yang selanjutnya ditetapkan menjadi CBD (Central Bussiness Distric) dari tahun 1900-1950. Terutama jalan tunjungan yang menjadi salah satu jalan protokol di pusat kota Surabaya.
Dari kedua kondisi itu, kawasan ini khususnya koridor jalan Tunjungan terwujud sebagai kawasan perdagangan yang bagus. Terlihat dari bentuk-bentuk pertokoan yang khas dengan langgam art deco, ruang pejalan kaki berbentuk arcade pada bagian depan-bawah bangunan, dan ruang parkir yang tersedia. Tercipta identitas koridor ruang perdagangan dan jalan protokol yang kuat dan khas pada jalan ini. Kondisi sekarang, secara fungsional koridor ini masih berfungsi sebagai jalan protokol dan kegiatan perdagangan. Namun secara wujud, koridor ini tidak
memiliki lagi ciri khasnya yang dulu, hanya beberapa bangunan saja yang masih terlihat seperti dulu.
Nilai sejarah lainnya yang terdapat pada kawasan permukiman. Menurut sejarah, permukiman ini banyak didiami oleh pejuang-pejuang Surabaya yang ikut bertempur melawan Belanda, karena letaknya tidak jauh dari beberapa titik lokasi pertempuran yang terjadi saat itu. Dan salah satu rumah di situ pernah digunakan oleh Bung Karno untuk berunding dengan VOC.
Nilai lain dari permukiman ini adalah, permukiman ini merupakan salah satu kantung-kantung permukiman yang menjadi cikal bakal perkembangan kota Surabaya. Salah satu yang masih bertahan dari sekian banyak yang sudah mulai hilang dan berubah.
2. Nilai Sosial Budaya
Dikawasan ini, sama seperti pada permukiman lainnya di Surabaya, memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan ritual keadatan seperti kawinan, sunatan, pengajian, istighosah, dan lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut bersifat publik dimana membutuhkan ruang untuk berkumpul bersama. Dulunya mereka menggunakan ruang terbuka yang tersedia sebelum dipadati oleh bangunan seperti sekarang.
Kegiatan-kegiatan adat tersebut masih dilakukan oleh penduduk setempat (asli Surabaya) sampai hari ini, tapi hanya tinggal beberapa saja yang masih mungkin dilakukan. Memang terjadi akulturisasi, dimana banyak pendatang menempati tempat-tempat yang ditinggalkan oleh sebagian penduduk asli, namun kurangnya ruang untuk melaksanakannya menjadi faktor penyebab utama. Beberapa kegiatan yang masih bisa dilakukan di ruang terbuka yang tersisa (jalan dan balai budaya) dan mesjid, masih diupayakan dilaksanakan. Tidak terkecuali diikuti juga oleh warga pendatang.
Dalam konteks pelestarian kawasan kota, warisan fisik kota menyangkut nilai yang dihasilkan dari fungsi dan bentuk elemen-elemen warisan suatu kawasan. Bentuk elemen kawasan yang dipengaruhi oleh fungsi kawasan saat itu, apakah masih memiliki nilai yang dapat dijaga pada saat ini. Ataukah ada perubahan fungsi-fungsi kawasan yang mempengaruhi bentuk fisik kawasan yang ada saat ini. Semakin besar perubahan fungsi dan fisik yang terjadi, semakin besar kemungkinan nilai kawasan tersebut hilang