• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LATAR BELAKANG BERDIRINYA AFDEELING DELI EN

4.4 Sarana dan Prasarana

4.4.4 Pendidikan

Masuknya pemerintahan kolonial Belanda dan perkembangan perkebunan di Sumatera Timur khususnya Afdeeling Deli en Serdang memberikan pengaruh terhadap berkembangnya lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah. Dalam

143Ibid, hlm. 201.

perkembangannya, diperlukan tenaga kerja yang dapat membaca dan menulis sebagai pekerja atau pegawai di pemerintahan kerajaan, perusahaan perkebunan, dan pemerintahan Hindia Belanda.

Sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu Volkschool, Vervolgschool,Normaal School, Holland Inlandsch School, dan beberapa sekolah kampung atau sekolah Zending. Sekolah-sekolah ini pada awalnya dimaksudkan untuk memberantas buta huruf dan menulis. Disamping itu pemerintah Hindia Belanda juga bermaksud untuk mengedukasi demi kepentingan masa depan perkebunan.144

Sekolah-sekolah Missionaris Swasta atau sekolah Zending umumnya sama dengan pendidikan yang diterapkan di Toba, dimana setiap orang ingin `bekerja sebagai Kerani dan tidak semerta-merta menjadi petani. Sekolah ini diawasi langsung oleh pihak Zendeling Missionaris, mereka diminta untuk mengajari siswa dalam hal membaca, menulis dan menghitung serta menerapkan semacam ujian sekolah. Para siswa sekolah Batak membayar uang sekolah sebesar 0,10 f, sedangkan guru sekolah Batak digaji sebesar 15-20 f sebulan. 145

Beberapa sekolah Eropa, didirikan di pusat kota seperti di Medan dan Tebing Tinggi. Sekolah Eropa ini difokuskan untuk mendidik anak-anak dari pegawai pemerintahan dan beberapa anak-anak Tionghoa. Sekolah Eropa yang berada di

144 Suprayitno, Op.,cit, hlm. 30.

145 G.L.J.D Kok, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust,op.cit., hlm. 17.

Medan yaitu Mulo School, Sekolah Umum Eropa kelas I, Sekolah Negeri Eropa kelas II, dan dua sekolah Swasta yaitu Asosiasi Sekolah Netral dan Asosiasi Sekolah-sekolah Kristen yang didirikan pada tahun 1919. Diluar Medan ada juga Sekolah-sekolah swasta Eropa di Tebing Tinggi seperti Asosiasi Sekolah Tebing Tinggi yang disubsidi oleh pemerintah pada tanggal 31 Desember 1924. Adapun jumlah siswanya adalah:

Tabel 15

Jumlah Siswa Eropa di Setiap Sekolah Tahun 1924.

Jenis Sekolah Orang Eropa Asing Lainnya Pribumi

Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita

Mulo School 32 37 14 - 152 8

Sekolah Umum Eropa kelas I 95 95 1 1 4 -

Sekolah Negeri Eropa kelas II 32 36 1 2 70 12

Asosiasi Sekolah Netral 70 77 - - 2 -

Asosiasi Sekolah-sekolah Kristen 71 46 2 - 6 3

Asosiasi Sekolah Tebing Tinggi 20 24 2 - 12 3

Sumber : W.P.F.L. Winckel, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 9 Maret 1925.

Beberapa sekolah Eropa lainnya seperti Hollandsch Inlandsch School yang didirkan di wilayah administrasi Afdeeling Deli en Serdang tepatnya berada di Simpang Tiga. Jumlah siswa yang bersekolah di H.I.S Simpang Tiga sebanyak 189 siswa, yang terdiri dari 143 siswa laki-laki, dan 46 siswa perempuan. Guru yang diperkejakan disekolah tersebut sebanyak 7 orang. Bahasa resmi yang dipakai sekolah ini adalah bahasa Belanda, dan anak anak yang diterima adalah anak-anak Sultan,

pegawai pemerintahan, serdadu KNIL, serta anak pedagang kaya. Terdapat diskriminasi golongan dalam H.I.S yang menyebabkan tidak semua orang dapat bersekolah disini.146

Selain itu juga terdapat sekolah Frobel untuk anak-anak kecil dan sekolah kursus yang disubsidi oleh dewan kota. Terdapat juga sekolah untuk orang Cina yaitu Gouvernement Hollandsch Chineesche, jumlah murid disekolah ini tidak terlalu banyak karena mereka berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan tida memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Sekolah ini juga berada di Onderafdeeling Beneden Deli tepatnya di Belawan dan di Onderafdeeling Boven Deli di Arnhemia, Onderafdeeling Serdang di Lubuk Pakam, Pertumbukan, Bangun Purba, dan Onderafdeeling Padang en Bedagai di Tebing Tinggi dan Sei Rampah.147

Selanjutnya terdapat beberapa sekolah Menengah Umum, delapan diantaranya berada di Medan. Selebihnya tersebar di Subdivisi Afdeeling Deli en Serdang, berikut adalah jumlah siswa dan lokasi sekolah:

146 L.Kosteren, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, Op.cit., hlm. 19. Lihat juga: Suprayitno, Op.,cit. hlm. 31.

147Ibid, hlm. 21.

Tabel 16

Jumlah Siswa Menengah Umum di Subdivi Afdeeling Deli en Serdang Tahun 1919.

Lokasi Pria Wanita Total Jumlah Guru

Medan

I 221 58 279 7

II 132 41 173 5

III 112 21 133 4

IV 122 5 127 4

V 131 15 146 5

VI 84 19 103 4

Sekolah Perempuan VII - 34 34 2

Kampung Baru VIII 30 - 30 1

Tebing Tinggi I 135 21 156 5

II 131 20 151 5

Labuhan Deli 117 18 135 4

Pulo Brayan 76 12 88 3

Bandar Chalipah 94 - 94 4

Arnhemia 195 12 207 5

Simpang Tiga 172 21 193 5

Sei Rampah 69 3 72 3

Lubuk Pakam 134 12 146 5

Bangun Purba 80 3 83 3

Sumber : L. Kosteren, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 15 September 1919

Untuk wilayah Afdeeling Deli en Serdang mulai muncul sekolah-sekolah daerah (kampung). Menurut Van Der Plas, “munculnya sekolah kampung secara bertahap disebabkan oleh minat anak-anak pribumi untuk belajar bahasa kami (Belanda)”.148 Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengambil inisiatif agar sekolah-sekolah tersebut yang mulanya dibiayai dengan dana Landschaap dilimpahkan kepada penduduk kampung itu sendiri. Sampai pada tahun 1925 sekolah-sekolah tersebut dapat ditemukan di Subdivi Afdeeling Deli en Serdang seperti : Onderafdeeling Beneden Deli berjumlah 17 sekolah, Boven Deli 7 sekolah, Padang en Bedagai 5 sekolah, dan Serdang 14 sekolah.149 Adapun lokasi sekolah tersebut yaitu:

148 S. van Der Plas, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust,op.cit., hlm. 12.

149 S. Bouwman, Op.cit., hlm. 23.

Tabel 17

Lokasi Sekolah di Afdeeling Deli en Serdang Tahun 1929

Subdivisi (Onderafdeeling) Lokasi

Beneden Deli Sunggal, Kampung Baru, Bandar Setia, Klambir Lima, Percut, Titi Papan, Hamparan Perak, Patumbah, Kolam, Mabar, Amplas, Tembung, Deli Tua, Klumpang, dan Slamet Tanjung.

Boven Deli Namoe Rambe, Lau Bekeri, Lau tjih, Si Biru Biru dan Durian Sembilan.

Padang en Bedagai Kuta Bajoe, Tandjong Beringin, Dolok Masihoel, dan Dolok Merawan

Serdang Rantau Panjang, Pantai Cermin, Sennah, Pertumbukan, Kwala Bali, Periboean, Galang, Gunung Rinteh, Rumah Sumboel, dan Gunung Rambei.

Sumber : S. Bouwman, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van deAfdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 1 Desember 1929.

Senembah Maatschappij adalah salah satu onderneming yang peduli terhadap pendidikan anak-anak pekerja, perusahaan ini mempelopori adanya sekolah onderneming dipimpin oleh P.W. Janssen yang menjabat sebagai direktur di Senembah Maatschappij. Sekolah ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa resmi mereka, hal ini mengagetkan beberapa pengurus sekolah lainnya karena umumnya sekolah-sekolah menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa resmi.

Sekolah ini mendapatkan perhatian khusus pemerintah Hindia Belanda karena sekolah ini tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Gambar 8

Murid dan guru sekolah di Senembah Maatschappij Tahun 1920

Sumber : Tropen Museum-collectie (diakses pada https://hdl.handle.net.

tanggal 15 Juli 2020)

Dalam perkembangannya sekolah dapat memenuhi kebutuhan akan posisi tenaga kerja rendah sampai menengah. Contohnya sebagai juru tulis administrasi dikantor perkebunan dan Afdeeling, operator mesin, dan mandor kebun. Dalam praktiknya kegiatan sekolah pada masa pemerintahan Hindia Belanda banyak dikaitkan dengan aktivitas perkebunan, seperti bercocok tanam dan praktikum otomotif. Murid-murid juga diberikan pendidikan budaya seperti kesenian. Guru-guru

yang memahami budaya kesenian sengaja didatangkan dari Jawa untuk memberikan pelajaran kesenian dan juga cara membatik untuk siswa wanita, padahal saat itu masyarakat di Afdeeling Deli en Serdang menganggap kegiatan membatik bukanlah merupakan tradisi yang berasal dari kearifan lokal. 150

Dokumen terkait