BAB III LATAR BELAKANG BERDIRINYA AFDEELING DELI EN
4.4 Sarana dan Prasarana
4.4.6 Pasar
Sebelum Belawan dijadikan sebagai pelabuhan pusat ekspor impor komoditi, kegiatan perdagangan berada di Labuhan Deli. Sistem perdagangan yang diterapkan penduduk masih bersifat tradisional, penduduk menjual dagangannya di depan rumahnya. Selain itu, penduduk juga berdagang di pasar yang terletak di pinggir jalan dan membentuk sebuah perkampungan sederhana. Pasar tersebut berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk. Pasar juga menjadi tempat dimana penduduk saling bertukar informasi. Barang-barang yang diperdagangkan oleh penduduk bermacam-macam, mulai dari buah-buahan, ikan, kain, sayur, dan lainnya.
Pedagang di pasar juga beragam seperti orang Melayu, Karo, Cina, dan orang India. Para pedagang Cina biasanya menjual emas dan candu. Pasar yang terdapat di wilayah pesisir disebut “Pekan” sedangkan untuk di wilayah pedalaman disebut
“Tiga”. Pasar juga terdapat di sekitar pemukiman orang-orang Eropa yang
membentuk sebuah perkampungan. Dalam perkembangannya pasar di Afdeeling Deli en Serdang dikelola menggunakan dana daerah. Pengelolaan atas pasar yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda dilakukan dengan cara menempatkan pengawas khusus untuk sektor pasar. Pasar memberikan keuntungan yang cukup besar sehingga pemerintah Hindia Belanda menganggap perlu dipisahkan dalam hal pengawasannya. Pendapatan dari pasar tersebut digunakan untuk perbaikan, perluasan, dan pemeliharaan pasar yang ada, serta pembangunan pasar-pasar baru.
Adapun beberapa pasar dan pendapatannya yang berada di Afdeeling Deli en Serdang sebagai berikut :
Tabel 18
Lokasi dan Pendapatan Pasar di Afdeeling Deli en Serdang Tahun 1924-1928
Lokasi 1924 1925 1926 1927 1928
Serdang
Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 1 Desember 1929.
BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan
Deli dan Serdang adalah dua kerajaan besar yang terletak di Sumatera Timur.
Kedua kerajaan ini berasal dari garis keturunan yang sama dan merupakan wilayah pecahan dari Kerajaan Aru yang dipimpin oleh Gotjah Pahlawan. Pemerintahan di kedua wilayah ini umumnya sama berbentuk monarki konstitusional dimana Sultan merupakan kekuasaan tertinggi. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan dalam sistem pemerintahannya. Kekuasaan tertinggi di wilayah Deli secara simbolis adalah Sultan, namun Sultan diangkat oleh para Datuk (Sunggal, Sukapiring, XII Kuta, Senembah). Sementara itu di Serdang Sultan diangkat oleh Orang Besar dan Wazir.
Wilayah Deli dan Serdang merupakan penghasil lada terbesar yang sangat terkenal di perdagangan Semenanjung Malaya. Oleh karena itu, wilayah ini diperebutkan oleh Kesultanan Aceh dan Siak sudah sejak lama. Perebutan ini berakhir ketika Belanda mulai campur tangan melalui perjanjian yang disebut Tractaat Siak pada tahun 1856.
Meskipun pemerintah Hindia Belanda sudah melakukan aneksasi di Deli dan Serdang, pemerintah Hindia Belanda belum terlalu memperhatikan kedua wilayah ini.
Kedua wilayah ini justru berkembang dikarenakan masuknya investasi perkebunan di wilayah Deli pada tahun 1863 yang dipelopori oleh Jacobus Nienhuys. Kondisi geografis wilayah Deli maupun Serdang yang sangat mendukung untuk komoditi khususnya tembakau, membuat wilayah ini sangat terkenal akan hasil komoditi
tembakaunya di perdagangan dunia dengan sebutan “Tembakau Deli”. Hal ini membuat banyak orang-orang Eropa tertarik untuk membuka investasi perkebunan di wilayah ini. Melihat potensi tersebut, pada tahun 1873 pemerintah Hindia Belanda kemudian menetapkan Deli sebagai Afdeeling dan wilayah Serdang termasuk didalamnya.
Setelah ditetapkan sebagai Afdeeling Deli sistem pemerintahan di kedua wilayah ini mengalami banyak perubahan. Kekuasaan tertinggi tidak lagi berada di tangan Sultan, Sultan bertanggung jawab langsung kepada Asisten Residen dan Residen pemerintah Hindia Belanda. Sejak saat itu, Deli dan Serdang seringkali mengalami pertikaian terutama dalam permasalahan batas wilayah kekuasaan.
Wilayah Percut, Denai, Padang, dan Bedagai menjadi wilayah yang terus menerus diperebutkan oleh kedua kerajaan ini. Namun, pembagian atas wilayah-wilayah yang diperebutkan ini akhirnya ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda sesuai kebutuhan dan pihak pemerintah Swapraja yang memihak kepada kolonial.
Selain konflik wilayah juga terjadi konflik-konflik atas konsesi lahan perkebunan di kedua wilayah ini. Hal ini disebabkan oleh perluasan perkebunan di wilayah Deli maupun Serdang yang membutuhkan lahan lebih untuk membuka perusahaan perkebunan. Konsesi lahan yang diberikan Sultan dianggap tidak adil dan kerap memicu konflik. Contoh konflik yang terjadi atas konsesi lahan perkebunan seperti Perang Sunggal, pembakaran bangsal-bangsal perkebunan, dan Perang Raya.
Pihak perkebunan dan pemerintah Hindia Belanda sangat dirugikan atas kejadian-kejadian tersebut. Untuk itu, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan pengamanan
ekstra dan penambahan personel pemerintahan. Beberapa kali Afdeeling Deli mengalami reorganisasi pemerintahan mulai dari tahun 1900 sampai 1909 satu tahun terakhir sebelum disatukannya kedua wilayah ini dalam satu administratif pemerintahan.
Perluasan perkebunan dan perkembangan penduduk di kedua wilayah ini semakin pesat. Sehingga pekerjaan administrasi pemerintahan dan permintaan pengamanan atas perkebunan juga semakin banyak. Pada tahun 1909 Dewan pemerintahan Afdeeling Deli dihapuskan. Pemerintah Hindia Belanda bermaksud untuk membentuk Dewan Afdeeling yang lebih besar lagi. Pada tahun 1910 barulah kedua wilayah ini secara resmi berdasarkan Besluit 7 Januari 1910 ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah administratif Afdeeling Deli en Serdang. Reorganisasi pemerintahan ini bertujuan untuk memangkas dan menghemat dana dalam proses administrasi pemerintahan, serta membuat sistem pemerintahan di Sumatera Timur lebih efektif dan terpusat.
Dalam perkembangannya, meskipun wilayah Afdeeling Deli en Serdang ini tidak begitu luas. Wilayah ini memiliki penduduk terpadat dengan komposisi penduduk yang heterogen mulai dari Melayu, Karo, Eropa, Cina, India, Simalungun, Minang, serta Banjar. Hal ini disebabkan oleh jaringan perkebunan yang berkembang begitu pesat di kedua wilayah ini. Wilayah Afdeeling Deli en Serdang bahkan memiliki 2 wilayah yang ditetapkan sebagai Gemeente (Kotapraja) yaitu Medan pada tahun 1903 dan Tebing Tinggi pada tahun 1917. Pembentukan Gemeente ini
bertujuan untuk memberikan tempat khusus orang-orang Eropa yang perkembangannya semakin pesat di wilayah Deli maupun Serdang.
Perkembangan selanjutnya adalah sarana dan prasarana yang dibangun baik oleh pihak Onderneming maupun pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan perkebunan. Sarana dan prasarana di Afdeeling Deli en Serdang ini termasuk yang paling lengkap dibandingkan dengan beberapa wilayah lainnya di Sumatera Timur.
Wilayah ini memiliki pelabuhan terbesar bertaraf internasional yaitu Belawan. Selain itu jalan raya dan jaringan kereta api terbesar juga dibangun sebagai pendukung yang menghubungkan perkebunan dengan pusat perdagangan. Sekolah-sekolah dan rumah sakit juga mulai berkembang untuk kepentingan pemerintahan maupun perkebunan.
Sekolah-sekolah yang dibangun kebanyakan diperuntukkan untuk anak-anak perkebunan agar bisa menghitung, membaca dan menulis. Demikian juga dengan fasilitas kesehatan yang diberikan untuk menangani penyakit-penyakit yang diderita oleh kuli-kuli perkebunan.
Kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Timur khususnya di Afdeeling Deli en Serdang berakhir pada tahun 1942. Kemudian digantikan oleh pemerintahan Jepang, dimana dalam pelaksanaan pemerintahannya Jepang menggantikan semua sistem pemerintah yang dibuat Belanda baik dari nama-nama Jalan, Bangunan, serta wilayah administrasi pemerintahan Afdeeling. Sistem pemerintahan Afdeeling digantikan menjadi Bunsucho.
5.2 Saran
Sistem pemerintahan Afdeeling dalam pembagian wilayah otonom sampai saat ini masih digunakan dan dikenal dengan sebutan Kabupaten. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda Afdeeling Deli en Serdang yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Deli Serdang memiliki wilayah administratif lebih luas jika dibandingkan dengan saat ini. Penelitian ini telah menggambarkan perubahan tatanan pemerintahan Afdeeling Deli en Serdang tahun 1910 hingga tahun 1942. Penelitian mengenai Afdeeling Deli en Serdang ini masih perlu dilakukan, mengingat banyaknya sumber-sumber yang berbeda pandangan pada tahun terbentuknya Afdeeling Deli en Serdang.
Penulis berharap penulisan ini dapat memunculkan gagasan baru dan menjadi acuan tentang penulisan sejarah pemerintahan lainnya terkhusus wilayah Deli Serdang. Kemudian penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat luas mengenai Deli Serdang pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Arsip :
Algemeene Secretarie Besluit 6 Februari 1900 No.32. Algemeene Secretarie Besluit 1 April 1909.
Algemeene Secretarie Besluit 31 Januari 1910 No.21.
Algemeene Secretarie Besluit 13 April 1911 No.17.
Algemeene Secretarie 6 Maret 1911 No. 1183.
ANRI. G.L.J.D Kok, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust. 30 Juni 1910.
ANRI. S. van Der Plas, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust. 2 Juni 1913
ANRI. L.Kosteren, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust. 15 September 1919.
ANRI. H.E.K Ezerman, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 21 Desember 1921.
ANRI. S. Bouwman, Memorie van Overgave van de Assistent Resident van de Afdeeling Deli en Serdang, Residentie Sumatra Oostkust, 1 Desember 1929.
Departemen Burgerlijke Openbare Werken, Staat van bijlagen behoorende bij het schrijven van den Dir. B.O.W.van 18 Augustus 1926 No. 13.
Dapartemen van Binnenlandsch Bestuur, Rapport van 31 Juli 1909 No.21 Departemen Verkeeren en Waterstraat, Grote Bundel Besluit 2590.
DG Stibbe, 1921, Encyclopedie van Nederlandsch Indie, Vierde deel, Leiden: EJ Brill.
Gewestelijk Bestuur Residentie Oostkust van Sumatra, Medan 2 Desember 1907 . Paulus, J.1917, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, Vol. I, The Hague: Martinus
Nijhoff.
Staatsblad van Nederlandsche Indie 1873 No. 84
Staatsblad van Nederlandsche Indie 1876 No. 103 Staatsblad van Nederlandsche Indie 1879 No.205 Staatsblad van Nederlandsche Indie 1881 No.31 Staatsblad van Nederlandsche Indie 1900 No.64.
Verslag de Handelsvereeniging te Medan over het jaar 1920.
Sumber Buku :
Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penulisan Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Anderson, Jhon, 1971, Mission to the East Coast of Sumatra in 1823, London:
Oxford University Press.
De Ridder, Jacobus, 1990, De Invloed Van De Westersche Cultures Op De Autochtone Bevoeking ter Oostkust Van Sumatra, Leiden: IDC, Koleksi mikrofis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
De Raet, J. A. M. Van Cats Baron, 1893, Reize In De Battaklanden, Tijdscrijft Voor Indische Taal, Land, en Volkenkunde, Deel XXII.
De Raet , J.A.M. van Cats Baron, 1867, Vergelijking van den Vroegeren Toestand van Deli, Serdang en Langkat, Tijdschrijft voor Indische Taal, Land en Volkenkunde van Batavia Genootschap, Deel XXIII.
E.A. Halewijn, 1876, Geographische En Ethnographisce Gegevens Betreffende Het Rijk van Deli ( Oostkust van Sumatra ), Tijdschrijft voor Indische Taal, Land en Volkenkunde van Batavia Genootschap, Deel XXIII.
Ghani, Mohammad Abdul. 2019, Jejak Planters di Tanah Deli : Dinamika Perkebunan di Sumatra Timur 1863-1996. IPB Press.
G.Schaap, 1907, Uittreksels Uit De Memorie Van Overgave Van Het Bestuur Over De Residentie Oostkust Van Sumatra, Tijdschrift Van Het Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap.
Handoko,2018, Jaringan Pelayaran Pelabuhan Belawan 1886-1942. Tesis S-2, Belum diterbitkan. Medan : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Indra & Suprayitno, 1998, Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij dalam Pengembangan Prasarana Transportasi di Sumatera Timur1883 - 1940, Medan, Fakultas Sastra USU.
Nasution, Junaidi, 2018, Transformasi Modernitas di Kota Medan : Dari Kampung Medan Putri Hingga Gemeente Medan, dalam Jurnal Sejarah Vol 1(2), Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia.
Nurhamidah, 1983, Medan Pada Masa Pemerintahan Gemeente, dalam Skripsi, belum diterbitkan, Medan: Departemen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Pelzer, Karl J.1985, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatera Timur 1863-1947, (terj. J. Rumbo) Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Tanpa tahun terbit, Sumatera Utara dalam Lintasan Sejarah, Medan:Tanpa Penerbit.
Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
Proyek Penelitian dan Pencatatan kebudayaan Daerah, 1978, Sejarah Daerah Sumatera Utara, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Reid, Anthony, 1987, Perjuangan Rakyat Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan.
Said, Mohammad, 1990, Koeli Kontrak Tempo Doeloe Dengan Derita dan Kemarahannya, Medan: PT. Harian Waspada.
Saragih, Erika Revida dkk, 2013, Napoleon Der Batakskisah perjuangan Tuan Rondahaim Saragih melawan Belanda di Sumatra Timur 1828-1891, Medan :USU Press.
Sinar ,Tengku Luckman, 1971, Sari Sejarah Serdang Jilid I, Medan: tanpa penerbit.
___________________,1991, Sejarah Medan Tempo Doeloe, Medan: Tanpa Penerbit.
___________________, 1989, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan: Yayasan Kesultanan Serdang.
Stoler, Aan Laura, 2005, Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979, Yogyakarta: Karsa.
Sumarno, Edi, 2016, Pelestarian dan Perlindungan Tembakau Deli Sebuah Perpektif Historis, Dalam Jurnal Pertanian Tropik Vol.3, Medan: Dapartemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU.
Suprayitno, 2001, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia Dari Federalisme ke Unitarisme : Studi tentang Negara Sumatera Timur 1947-1950, Yogyakarta:
Tarawang Press.
Takari, Muhammad dkk, 2010, Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya, Medan: USU Press.
Tim Pengumpulan, Penelitian Data dan Penulisan Sejarah Pemerintahan Departemen Dalam Negeri Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, 1991, Sejarah Perkembangan Pemerintahan Departemen Dalam Negeri di Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara ( Masa Pemerintahan Pendudukan Kolonial dan Jepang ), Medan: Tanpa Penerbit.
Willem Westerman,1901, De Tabakscultuur op Sumatra’s Oostkust, Amsterdam: J.H Bussy.
W.H.M Schadee, 1919, Geschiedenis van Sumatra’s Oostkust Deel II, Amsterdam:Oostkust Van Sumatra-Instituut.
LAMPIRAN LAMPIRAN I
Keputusan Pemerintah Mengenai Pembagian Wilayah Pantai Timur Sumatera
Sumber : Staatsblad van Nederlandsch Indie No.64 tahun 1900
LAMPIRAN II
Keputusan Pemerintah mengenai penghapusan Afdeelingsraad Deli dan pembentukan Gemeenteraad Medan.
Sumber : Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 179 tahun 1909
LAMPIRAN III
Catatan akhir Perundang-undangan pemerintah Hindia Belanda tahun 1910
Sumber : Regeering Almanak 1910
LAMPIRAN IV
Catatan akhir Perundang-undangan pemerintah Hindia Belanda tahun 1911
Sumber : Regeering Almanak 1911
LAMPIRAN V
Keputusan Reorganisasi Pemerintahan Afdeeling Deli menjadi Afdeeling Deli en Serdang tahun 1910
Sumber : Besluit 31 Januari 1910 No.21