BAB II PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.2 Pengembangan Ekowisata Bahari
Pengertian pariwisata dalam arti luas adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat maju dan sebagian kecil Negara berkembang. Pariwisata kemudian menjadi kanal yang tepat untuk membebaskan masyarakat dari tekanan fisik dan psikis serta semakin berkembang sejalan perubahan-perubahan sosial, budaya, ekonomi, teknologi dan politik (Damanik dan Weber, 2006).
Secara ekonomi, Damanik dan Weber (2006) membagi keberadaan pariwisata muncul dari empat unsur pelaku yang terkait erat, yaitu:
a) Permintaan atau kebutuhan. Unsur penting dalam permintaan wisata adalah wisatawan dan penduduk lokal yang menggunakan sumberdaya wisata. Waktu luang, uang, sarana dan prasarana merupakan permintaan potensial yang harus ditransformasikan menjadi permintaan riil, yakni pengambilan keputusan wisata.
b) Penawaran atau kebutuhan berwisata itu sendiri; yaitu produk dan jasa. Melalui pasar, produk dijual kepada wisatawan seperti hotel, restoran, objek wisata dan lain-lain. Jasa adalah layanan yang diterima wisatawan ketika mereka memanfaatkan produk tersebut, seperti pembersihan kamar, cara penyajian makanan sampai penyediaan informasi.
c) Pasar dan kelembagaan yang berperan untuk memfasilitasi keduanya. Pasar wisata yang faktual adalah unsur-unsur industri, sering juga disebut para pelaku pariwisata yang mempertemukan permintaan dan penawaran produk dan jasa wisata.
d) Pelaku atau aktor yang menggerakkan ketiga elemen tersebut, yaitu wisatawan, industri pariwisata, pendukung jasa wisata, pemerintah, masyarakat lokal dan lembaga swadaya masyarakat.
Objek atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat, yaitu panorama keindahan alam yang menakjubkan seperti gunung, lembah air terjun, danau, pantai, matahari terbit dan terbenam, cuaca dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keadaan alam sekitarnya. Objek wisata hasil manusia juga sering digunakan sebagai objek wisata seperti monumen, candi, bangunan klasik, peninggalan purbakala, museum, seni tari, seni musik, agama, adat-istiadat dan lain-lain. Secara singkat, objek atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan alam, kebudayaan, perkembangan ekonomi, politik dan sebagainya. Saat ini, salah satu jenis objek wisata yang sangat digemari adalah keindahan alam seperti laut, gunung, hutan, keanekaragaman flora dan fauna.
Ekowisata merupakan salah satu bentuk kegiatan wisata khusus yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumberdaya alam. Ekowisata juga diartikan sebagai perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan cara mengonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal (TIES dalam Fandeli 2000). Ada tiga perspektif pandangan terhadap ekowisata yaitu:
a) Ekowisata sebagai produk yang merupakan semua atraksi yang berbasis pada sumberdaya alam.
b) Ekowisata sebagai pasar yag merupakan perjalanan yang diarahkan pada upaya-upaya pelestarian lingkungan.
c) Ekowisata sebagai pendekatan pengembangan yang merupakan metode pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pariwisata secara ramah lingkungan.
Kegiatan ekowisata apabila dilakukan dengan sangat baik dan terencana, maka akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi masyarakat dan daerah.
Kehadiran wisatawan membawa dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat lokal. Potensi kawasan ekowisata menurut Tuwo (2011) dapat berupa (1) peningkatan peluang ekonomi, seperti meningkatkan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, berkembangnya usaha baru dan kerajinan barang lokal dan lain-lain (2) perlindungan sumberdaya alam dan nilai budaya seperti perlindungan ekologis dan keanekaragaman, meningkatnya fasilitas lokal, pengembangan keuangan mandiri, melindungi dan melestarikan budaya-budaya lokal dan lain-lain (3) peningkatan
kualitas hidup seperti estetika, nilai-nilai, pendidikan, pemahaman antar budaya dan mendorong masyarakat lokal untuk menghargai lingkungannya.
Ekowisata bahari merupakan jenis kegiatan pariwisata yang berhubungan dengan sasaran antara lain melihat atau mengamati terumbu karang, berbagai jenis ikan, hewan-hewan kecil di laut yang dilakukan dengan cara antara lain “diving”,
“snorkeling”, dan “swimming”. Kegiatan pariwisata ini harus didukung dengan penyediaan jasa transportasi, kapal pesiar, pengelola pulau kecil, pengelola taman laut, hotel, restaurant terapung, kawasan lepas, pantai, rekreasi pantai, konvensi di pantai dan di laut, pemandu wisata alam dan sebagainya. Kegiatan pariwisata ini juga membutuhkan fasilitas pendukung seperti jasa foto dan video, pakaian, peralatan olahraga, jasa kesehatan dan lain-lain. Konsep wisata pesisir dan bahari didasarkan pada view, keunikan alam, karakteristik ekosistem, kekhasan seni budaya dan karakteristik masyarakat yang berbeda di setiap daerah (Garrod dan Wilson 2004 dikutip Tafalas 2010).
Potensi ekosistem kawasan Karimunjawa sangat beragam dan unik baik di darat maupun di laut sehingga sangat menarik bagi wisatawan untuk berkunjung.
Aryono (2003) menyatakan bahwa konsep pariwisata yang dikembangkan biasanya mengacu pada jenis pariwisata bahari, seperti yang terdapat di Karimunjawa, yaitu:
1. Kegiatan ekowisata bahari yang dikembangkan yaitu kegiatan berenang dengan menikmati perairan yang jernih dengan panorama pantai berpasir putih.
a. Scuba Diving yaitu kegiatan di perairan yang dapat menikmati prasarana dan keindahan dalam laut, karang, ikan hias, dan lain-lain.
b. Snorkelling yaitu kegiatan di perairan laut dengan menikmati keindahan panorama di bawah permukaan laut.
c. Becak air yaitu kegiatan yang bersifat rekreasi yang tidak membutuhkan keahlian khusus seperti berenang.
d. Ski air, yaitu kegiatan olah raga yang harus diimbangi dengan keterampilan sambil menikmati kegiatan rekreasi.
e. Layar, yaitu kegiatan bersifat atraktif di permukaan laut dengan menggunakan fasilitas kapal layar dan diimbangi dengan menikmati pemandangan alam laut.
2. Kegiatan wisata pantai merupakan wisata pesisir dengan memanfaatkan pantai sebagai objek dan daya tarik wisata, seperti menikmati keindahan alam pantai, olah raga pantai dan sebagainya. Kegiatan yang bisa dikembangkan adalah sebagai berikut.
a. Camping adalah kegiatan wisata yang bersifat menikmati keindahan alam langsung dan dapat mendirikan perkemahan.
b. Jogging adalah kegiatan wisata yang bersifat olah raga seperti lari-lari kecil di pasir putih atau daerah dataran yang sejuk.
c. Berjemur merupakan kegiatan santai di sepanjang pantai sambil menikmati panorama laut.
d. Sand play adalah kegiatan wisata yang menggunakan sarana pasir.
e. Photo hunting merupakan kegiatan yang bersifat atraktif dalam pengambilan dokumentasi dengan latar belakang panorama yang indah.
Perencanaan pariwisata saat ini menjadi agenda yang sangat penting.
Persaingan dalam penawaran produk wisata semakin meningkat. Perilaku wisatawan juga cenderung berubah sesuai dengan perubahan zaman. Hal ini berkaitan juga dengan minat, selera dan kebutuhan wisatawan. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan lagi pengembangan perencanaan wisata agar mampu bersaing dengan pihak lain dan tetap memperhatikan kebutuhan konsumen wisata.
Damanik dan Weber (2006) menyatakan bahwa sumberdaya alam dan sumberdaya budaya merupakan kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan dan harus dipelihara agar bisa digunakan lagi di masa mendatang. Pembatasan secara ketat kegiatan eksploitasi dalam pemanfaatan sumberdaya tanpa menyisakan kerusakan lingkungan hidup secara permanen harus diwujudkan dalam program pembangunan. Pembangunan sumberdaya wisata bertujuan untuk memberikan keuntungan optimal bagi pemangku kepentingan wisatawan dalam jangka panjang.
Pariwisata hanya dapat berkelanjutan apabila komponen-komponen subsistem pariwisata, terutama pelaku pariwisata, mendasarkan kegiatannya pada pencarian hasil (keuntungan dan kepuasan) yang optimal. Kegiatan tersebut dilakukan dengan
tetap menjaga semua produk dan jasa wisata berkembang dan lestari dengan sangat baik.
Syarat untuk mencapai pariwisata yang berkelanjutan adalah sebagai berikut.
1. Wisatawan mempunyai kemauan mengonsumsi produk dan jasa pariwisata secara efektif, dalam arti bahwa produk tersebut tidak diperoleh dengan mengeksploitasi secara eksesif sumberdaya pariwisata setempat.
2. Produk wisata didorong ke produk berbasis lingkungan.
3. Kegiatan wisata diarahkan untuk melestarikan lingkungan dan peka terhadap budaya lokal.
4. Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan, implementasi dan monitoring pengembangan pariwisata.
5. Masyarakat juga harus memperoleh keuntungan secara adil dari kegiatan wisata.
6. Posisi tawar masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya semakin meningkat.
Setiap kegiatan yang dilakukan pasti akan menimbulkan dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Kegiatan ekowisata juga ikut mengakibatkan perubahan ekosistem sebagai basis dari kegiatan tersebut. Hal ini bisa terwujud dalam pencemaran, lingkungan yang tidak bersih, terjadinya penurunan kualitas air dan ikan dan lain-lain.