BAB II PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.4 Perubahan Sosial dan Perekonomian Nelayan
Satria (2009) mendefinisikan masyarakat pesisir yaitu masyarakat yang sama-sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumberdaya pesisir. Mereka adalah nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan bahkan penjual ikan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Subri (2005) yang mendefinisikan nelayan sebagai suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.
Pemanfaatan potensi perikanan laut Indonesia belum dapat memberi kekuatan dan peran yang kuat terhadap perekonomian serta peningkatan pendapatan masyarakat nelayan Indonesia. Kekayaan potensi perikanan memang sangat besar namun kehidupan nelayan yang dekat dengan potensi tersebut sebagian besar masih
hidup dalam kemiskinan. Kekurangberdayaan masyarakat pesisir disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah, keterbatasan dalam menguasai teknologi, modal dan kelembagaan usaha. Hal ini tidak terlepas dari faktor kerentanan dan kepemilikan aset yang berpengaruh terhadap kehidupan nelayan. Kedua faktor inilah yang akan mempengaruhi aksesibilitas nelayan dalam mempertahankan hidupnya.
Sahri et al. (2006) membagi aksesibilitas sosial ekonomi nelayan kecil kedalam lima modal, yaitu modal sumberdaya manusia, modal sumberdaya alam, modal ekonomi, modal fisik dan modal sosial. Aksesibilitas paling tinggi adalah modal sosial, artinya masyarakat nelayan memiliki integritas sosial yang tinggi. Sikap sosial ini terlihat dalam konteks ekonomi (arisan) dan keagamaan. Modal fisik, yaitu keberadaan pangkalan pendaratan ikan yang berfungsi untuk tempat pendaratan kapal ikan, tempat memperbaiki jaring, tempat pelelangan dan penjemuran ikan dan berbagai hal lainnya yang bertujuan memudahkan nelayan dalam bekerja. Modal SDM, yaitu pengetahuan nelayan tentang penangkapan ikan, misalnya menggunakan alat tangkap yang sederhana dan ada juga yang dilarang. Modal finansial, yaitu kemampuan nelayan mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha. Hal ini mengindikasikan kemudahan nelayan untuk mendapatkan modal berusaha. Modal paling rendah adalah modal alam (stok ikan), artinya stok ikan sebagai salah satu aset nelayan kecil pada saat ini dalam kondisi yang sangat kritis (Sahri dkk. 2006).
Keberadaan kegiatan ekowisata bahari sering menimbulkan pencemaran pesisir dan laut dari hasil sampah-sampah wisatawan serta pembangunan sarana dan prasarana wisata yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Hal ini bisa mengancam kehidupan biota laut dan berdampak pada penurunan modal alam (ketersediaan ikan). Apabila laut tercemar, maka kehidupan yang ada di dalamnya akan mengalami kerusakan biologis dan degradasi laut yang berkepanjangan sehingga produktivitas nelayan akan menurun. Jumlah ikan yang tersedia di laut menjadi berkurang dan kualitas air menjadi menurun. Hal ini tentu saja langsung berdampak pada penurunan jumlah pendapatan nelayan.
Pemanfaatan sumberdaya kelautan (SDK) oleh berbagai aktor membuat akses nelayan terhadap laut semakin terbatas. Penetapan kawasan wisata di suatu daerah
pesisir dapat menyebabkan wilayah penangkapan nelayan menjadi semakin sempit akibat adanya penetapan zona wisata dikawasan tempat dimana nelayan biasanya menangkap ikan. Nelayan juga tidak diperkenankan melakukan fishing ground yang lebih jauh lagi. Keterbatasan modal yang dimiliki nelayan membuat nelayan hanya bisa melakukan penangkapan di sekitar pantai dengan alat yang sederhana.
Keterbatasan ini mereka atasi dengan memanfaatkan secara maksimal daerah-daerah pesisir dan terumbu karang untuk mengeksploitasi ikan secara besar-besaran.
Munculnya kegiatan wisata ternyata tidak hanya mengakibatkan perubahan pada ekosistem, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.
Sekalipun kegiatan ekonomi wisata ini belum mampu mengubah struktur mata pencaharian namun telah memberikan dampak positif berupa perluasan lapangan pekerjaan seperti mengembangkan usaha transportasi, akomodasi, rumah makan dan usaha cindera mata untuk menunjang kegiatan wisata. Pengembangan kegiatan ekowisata bahari di Raja Ampat misalnya memberikan dampak yang positif kepada masyarakat dan lingkungannya. Perilaku masyarakat untuk melindungi kawasannya dari kerusakan semakin positif karena masyarakat menyadari bahwa terumbu karang dan keindahan alam mereka dapat menjadi atraksi wisata yang mengagumkan sehingga dapat menambah pendapatan (Tafalas 2010).
Kedatangan wisatawan yang melakukan kontak dengan penduduk memberikan peluang transfer budaya baik dalam bentuk sikap maupun perbuatan dan tingkah laku. Fenomena perubahan ekosistem juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pesisir khususnya nelayan. Berkurangnya ketersediaan ikan di laut membuat nelayan banyak yang beralih profesi menjadi pekerja di bidang yang lain seperti ikut serta dalam kegiatan ekowisata. Apabila musim atau cuaca sedang tidak bagus untuk melaut maka nelayan melakukan kegiatan ekowisata untuk menambah pendapatan. Hal ini membuat struktur masyarakat yaitu jumlah penduduk yang profesi utamanya sebagai nelayan menjadi berkurang.
Ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi atau krisis ekologi juga harus diperbaiki kembali. Purnomowati (2001) dalam penelitiannya menyatakan bahwa sistem pengelolaan berbasis masyarakat (PBM) adalah suatu alternatif yang
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi segenap pengguna sumberdaya dan pihak-pihak yang terkait dalam upaya pengelolaan wilayah pesisir dalam rangka memanfaatkan sumberdaya pesisir secara lestari dan memperbaiki kerusakan akibat degradasi lingkungan. Pengelolaan berbasis masyarakat menekankan pada pengetahuan dan kesadaran masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaan karena masyarakat lokal merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan sumberdaya alam. Program-program yang dikembangkan harus mencerminkan preferensi, ketersediaan sumberdaya lokal, dukungan aturan dan kelembagaan yang memungkinkan lahirnya partisipasi aktif serta inovasi kreatif dari masyarakat.
Penyusunan aturan-aturan lokal dan lembaga-lembaga yang bersifat formal dan nonformal merupakan salah satu bentuk alternatif pengelolaan SDK yang berkelanjutan dan memberi peluang partisipasi semua stakeholder. Solihin dan Satria (2007) menyatakan bahwa pengelolaan perikanan yang berbasiskan kearifan lokal telah mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, terjaganya sumberdaya ikan dari kegiatan penangkapan yang merusak dan menjamin kelangsungan hidup masyarakat pesisir khususnya nelayan kecil. Penegakan hukum yang tegas bagi para pelanggar serta adanya kekuatan hukum yang mengikat bagi seluruh masyarakat membuat peraturan ini dapat dijalankan dengan baik sehingga tercipta ketertiban dan keamanan masyarakat. Hukum ini berisi larangan dan sanksi dimana yang menjadi kekuatannya adalah kesadaran kolektif dari masyarakat untuk melindungi hasil laut di wilayahnya. Lembaga-lembaga lain juga ikut dibentuk untuk menjaga kelestarian laut seperti AMPHIBI dan KPP. Kedua lembaga ini adalah lembaga keamanan swadaya masyarakat yang bersifat formal dan turut meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya pesisir yang mempercepat pelaksanaan pengelolaan terpadu berbasis masyarakat.
Ketersediaan sumberdaya alam yang cukup besar dan lapangan pekerjaan yang luas merupakan potensi untuk menjadi kekuatan ekonomi. Tetapi jika potensi sumberdaya manusia (SDM) yang kurang menguntungkan baik dalam kuantitas dan kualitasnnya, maka pembangunan tidak bisa mengandalkan SDM dari daerah tersebut saja. Kondisi seperti ini menjadikan mobilitas penduduk menjadi salah satu aspek
pendorong pertumbuhan kawasan tersebut. Raharto (1999) mengatakan bahwa perkembangan perekonomian suatu daerah menjadi daya tarik bagi penduduk yang berada diluar daerah tersebut untuk melakukan migrasi dan mencari kehidupan yang lebih baik disana. Para migran tertarik untuk mengisi kesempatan-kesempatan ekonomi yang terbuka, terutama disektor industri dan jasa.
Rusli (2010) mendefinisikan migrasi sebagai dimensi gerak penduduk geografis, spasial atau teritorial antara unit-unit geografis yang melibatkan perubahan tempat tinggal yaitu dari tempat tinggal asal kepada tempat tinggal tujuan. Seseorang dikatakan melakukan migrasi jika ia melakukan pindah tempat tinggal secara permanen atau relative permanen dengan menempuh jarak minimal tertentu. Banyak faktor yang melatarbelakangi migrasi, salah satunya untuk memperoleh pekerjaan.
Adanya pariwisata menurut Muriatmo (1992) dalam Marisa (2007) mendatangkan pendapatan devisa negara dan terciptanya lapangan pekerjaan yang berabrti mengurangi jumlah pengangguran serta adanya kemungkinann bagi masyarakat daerah wisata dan masyarakat di luar daerah wisata untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup mereka. Munculnya hotel-hotel, toko-toko, dan restoran di daerah wisata memberikan kesempatan kerja sehingga banyak penduduk di luar daerah wisata bermigrasi ke daerah wisata tersebut .