Akses Media Sosial di Indonesia
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil/Temuan Penelitian
4) Penggunaan Prinsip Kesantunan sebagai Wujud Pengungkapan
Syarat mutlak lainnya dalam mewujudkan berbahasa santun adalah pentingnya kesadaran yang tinggi dalam penerapan prinsip kesantunan oleh penutur. Skala penerapan prinsip kesantunan dari segi tigkat kesantunan, hanya dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu ―tinggi‖ dan ―netral‖, dengan ketentuan bahwa: 1) jika penutur menerapkan prinsip kesantunan dalam bertutur maka dikategorikan pada status ‗mematuhi‘ sehingga dikategorikan dalam bertutur ‗santun‘; (2) jika penutur tidak menerapkan prinsip kesantunan dalam bertutur maka dikategorikan pada status ‗melanggar‘ sehingga dikategorikan dalam bertutur ‗tidak santun‘.
Berdasarkan hasil analisis data yang tertera pada tabel di atas, pelanggaran prinsip kesantunan oleh para politikus dalam penelitian ini terjadi sangat dominan. Dari 105 komentar sebagai data penelitian ini, ternyata 98 komentar (93,3 %) melanggar prinsip kesantunan dan 7 komentar (6,7 %) mematuhi prinsip kesantunan. Artinya, para politikus secara umum tidak menghiraukan prinsip kesantunan dalam memberikan pernyataan atau komentar. Prinsip kesantunan yang dilanggar tersebut adalah sebagai berikut. Pelanggaran atas prinsip pujian sejumlah 52 data, berarti komentar disampaikan dengan kecaman. Pelanggaran prinsip kesepakatan/kecocokan 21 data, berarti komentar yang disampaikan dengan pengklaiman kebenaran sepihak. Pelanggaran prinsip kearifan 11 data, berarti komentar yang disampaikan merugikan pihak lain. Pelanggaran prinsip kerendahan hati 8 data, berarti komentar disampaikan dengan mementingkan diri sendiri. Pelanggaran prinsip kedermawanan 3 data, berarti komentar tersebut menguntungkan diri sendiri. Pelanggaran prinsip kesimpatian 3 data, berarti disampaikan dengan rasa antipati. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa 93,3 % komentar para politikus melanggar prinsip kesantunan
169
sehingga berada pada posisi ‗tidak santun‘, sedangkan yang mematuhi atau ‗santun‘ hanya 6.7 %.
Kesantunan adalah sistem yang memperkecil potensi konflik dan konfrontasi yang selalu terjadi dalam pergaulan manusia (Lakoff dalam Syahrul, 2008:15). Bertolak dari temuan data dalam penelitian ini, dapat dikatakan bahwa umumnya para politisi tidak menerapkan prinsip kesantunan dalam berkomenar sehingga terjadi pelanggaran secara umum. Dengan demikian pelanggar prinsip kesantunan dapat memicu terjadinya konflik dan konfrontasi dalam pergaulan manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Leech (1986:170) bahwa kesantunan berbahasa adalah usaha untuk membuat adanya keyakinan dan pendapat yang tidak sopan menjadi sekecil mungkin dengan mematuhi prinsip kesantunan berbahasa.
Berdasarkan konsep kekerasan verbal, tuturan yang melanggar prinsip kesantunan berbahasa termasuk ke dalam bentuk kekerasan verbal. Hal ini dikarenakan menurut Lardelleir (dalam Haryatmoko, 2007:119). kekerasan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan Dalam hal ini, kekerasan tersebut dapat terwujud salah satunya dalam bentuk verbal (Astuti, 2013: 44)
b) Tingkat Kesantunan Para Politikus
Berdasarkan hasil analisis data terhadap empat unsur kesantunan yang dihubungkan dengan tingkat keterancaman muka dan skala kesantunan seperti dirangkum dalam tabel di atas, dapat diklasifikasikan tingkat kesantunan para politikus dan elit politik tentang wacana politik Pilkada DKI Jakarta dalam portal berita online dan kolom twittpolitik dalam empatk lasifikasi.
Klasifikasi pertama, dibuktikan dengan pilihan unsur kesantunan yang mengancam tingkat kesantunan tinggi oleh para politikus, yaitu majas sarkasme (26 data), jenis pernyataan ekspresif (49 data), strategi bertutur terus terang tanpa basa-basi (31 data), serta pelanggaran terhadap prinsip kesantunan (98 data); maka 47 % pernyataan para politikus berada pada ‗tindakan yang mengancam muka‘ (Face Threatening Acts) dengan tingkat
170
‗tinggi‘ karena parameter keterancaman muka yang diajukan Brown dan Levinson (1987:65- 67) berupa kritikan, kecaman, celaan, sindiran, dan tuduhan ditemukan dalam penelitian ini. Bentuk-bentuk pengungkapan tersebut sangat mengancam muka secara langsung karena berdasarkan parameter ‗skala ketidaklangsungan‘ yang diajukan Bulm-Kulka (Amir, dkk, 2006:14) ‖Semakin langsung Anda menyampaikan pernyataan, maka semakin tidak santun ungkapan Anda‖. Jadi, berdasarkan penjelasan tersebut, 47 % ungkapan dan komentar para politikus berada pada kategori ‗tidak santun‘. Klasifikasi ini ditandai dengan warna ‗merah‘ dalam tabel yang mengindikasikan bahwa pernyataan yang digunakan ‗berbahaya‘.
Klasifikasi kedua, komentar politikus yang agak mengancam tingkat kesantunan dibuktikan atas pilihan gaya pengungkapan dengan majas sinisme (32 data), jenis pernyataan direktif dan komisif (15 data), dan strategi kesantunan negatif (22 data), maka 17 % dari pernyataan politikus berposisi pada keterancaman muka yang ‗cukup tinggi‘. Hal tersebut terlihat pada pernyataan para politikus yang dominan menggunakan jenis pernyataan direktif, yaitu memperingatkan, menuntut, mengajak, dan memerintah yang berpotensi mengancam muka negatif. Hal ini sejalan dengan pendapat, Brown dan Levinson (1987:62) bahwa tindakan-tindakan yang mengancam muka negatif diantaranya ungkapan mengenai kebencian, kemarahan, perintah, peringatan, ancaman, dan lain sebagainya. Dengan demikian, 17 % pernyataan politikus berada pada klasifikasi ‗kurang santun‘. Klasifikasi ini ditandai dengan warna ‗kuning‘ dalam tabel, yang mengindikasikan bahwa pernyataan yang digunakan ‗agak berbahaya‘.
Klasifikasi ketiga, komentar para politikus yang kuarang mengancam tingkat kesantunan dibuktikan atas pilihan gaya pengungkapan dengan majas ironi, antifrasis, dan alusio (47 data), jenis asertif dan deklarasi (44 data), dan strategi kesantunan positif dan samar-samar (52 data), maka 32 % dari pernyataan para politikus dalam wacana politik Pilkada DKI 2017 berada pada keterancaman muka yang ‗rendah‘. Hal tersebut, dapat dilihat dari penutur yang dominan menggunakan jenis tindak tutur asertif dan deklarasi, yaitu berupa menyatakan, melaporkan, menyebutkan, menunjukkan yang disampaikan melalui sindiran
171
yang halus dan tidak langsung. Hal ini sesuai dengan parameter Grice (Pranowo, 2008:362) ―pilihlah ungkapan yang tidak meremehkan status mitra tutur‖ dan ‗skala ketidaklangsungan‘ menurut Blum-Kulka (1985:14) bahwa ―semakin tidak langsung Anda menyampaikan pernyataan, maka semakin santun ungkapan Anda‖. Dengan demikian, 32 % pernyataan para politikus berada pada klasifikasi ‗agak santun‘. Klasifikasi ini ditandai dengan warna ‗hijau‘ dalam tabel, mengindikasikan bahwa pernyataan yang digunakan ‗kurang berbahaya‘.
Klasifikasi keempat, ditandai dengan komentar para politikus yang mematuhi prinsip kesantunan sejumlah 7 data dari 105 total jumlah data. Artinya, hanya 4 % komentar dan pernyataan para politikus berada pada posisi ‗santun‘ karena tidak berpotensi mengancam muka. Klasifikasi ini ditandai dengan warna ‗hitam‘ dalam tabel, mengindikasikan bahwa pernyataan yang digunakan ‗aman/netral‘.
2. Representasi Kekerasan Verbal dalam Komentar Masyarakat terhadap Berita