• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Bertutur Terus Terang tanpa Basa-Bas

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN TIM PASCASARJANA (Halaman 156-159)

Akses Media Sosial di Indonesia

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil/Temuan Penelitian

1) Strategi Bertutur Terus Terang tanpa Basa-Bas

Penggunaan satrategi bertutur terus terang tanpa basa-basi (TTBB) dalam wacana politik pilkada DKI Jakarta 2017 oleh komunitas pendukung paslon ditemukan dalam data (34), (35), (36), (37) dan (38) berikut ini.

(35) Paslon 3 ibarat pengepul rongsokan. Ada koruptor, ormas radikal, kaum sumbu pendek, bahkan mantan bos prostitusi kalijodoh (GP2:18/04/17)

(36) Sakit jiwa kalau ada yang bilang, Program Anies lebih baik dari Ahok soal rumah untuk rakyat miskin (PP12:26/02/17)

(37) Otak sama bacot udah gak nyambung, malu dong sebagai menteri pendidikan apkiran. #ANIESCAGUBBANYAKBACOT (PP5:28/03/17)

(38) Karena terlalu sibuk untuk berkampanye hitam dan politik uang, Tim Ahok sampai lupa untuk meminta izin ke PANWASLU (TL6:08/04/17)

(39) Ahok dihujat mereka marah, Al-Quran dihina mereka diam, Padahal mereka Islam. Inilah yang disebut munafik, mereka lupa saat mati akan bertemu ALLAH bukan Ahok. (WI20:16/04/17)

Komentar para pendukung paslon dalam data (34) merupakan tuturan yang menggunakan startegi TTBB karena menyampaikan maksud secara langsung tanpa ada upaya mengurangi pembebanan. Dalam hal ini, penutur menyatakan bahwa paslon-3 didukung oleh orang-orang yang tidak baik, bahkan tidak bermoral, dan lain-lainnya.

149

Ungkapan koruptor, ormas radikal, kaum sumbu pendek, bahkan bos prostitusi, menunjukkan bahwa komentar tersebut memang disampaikan dengan langsung dan lugas tanpa ada upaya mengurangi pembebanan bagi pendukung paslon yang berkomentar.

Komentar pendukung paslon pada data (35) merupakan tuturan yang menggunakan startegi TTBB. Dalam komentar tersebut, pendukung paslon mengklaim bahwa orang yang mengatakan kalau program Anies lebih baik dari program Ahok mengenai rumah untuk rakyat miskin hanyalah orang yang sakit jiwa. Ungkapan sakit jiwa pada data tersebut, menunjukkan bahwa komentar tersebut memang disampaikan dengan langsung dan lugas tanpa ada upaya mengurangi pembebanan oleh si penutur.

Demikian juga halnya dengan komentar pada data (36), juga merupakan tuturan yang menggunakan startegi TTBB karena disampaikan secara langsung bahwa Anies adalah orang yang hanya banyak membual, bahkan bisa dikatakan antara omongan dan realita sudah tidak sinkron lagi. Ungkapan banyak bacot, anies cagub banyak bacot, sudah menunjukkan bahwa komentar tersebut memang disampaikan dengan langsung dan terkesan kasar tidak adanya upaya mengurangi pembebanan oleh yang berkomentar.

Selanjutnya, tuturan (37) juga merupakan tuturan yang menggunakan startegi TTBB karena menyampaikan maksud tuturan secara langsung tanpa ada upaya mengurangi pembebanan. Dalam hal ini, penutur menyampaikan bahwa paslon-3 sangat sibuk melakukan kampanye hitam dan politik uang, bahkan sampai melupakan kewajiban untuk meminta izin ke Panwaslu. Ungkapan langsung secara tersurat tentang kampanye hitam dan politik uang, menunjukkan bahwa tuturan komentar tersebut memang disampaikan dengan langsung dan frontal.

Terakhir, komentar pada data (38) juga merupakan tuturan yang menggunakan startegi TTBB. Dalam hal ini, penutur ingin menyampaikan bahwa orang Islam yang sangat menjungjung tinggi Ahok bahkan lebih tinggi dari kitab sucinya sendiri adalah orang-orang munafik yang lupa bahwa dia akan mempertanggungjwabkan perbuatannya itu di depan

150

Allah. Ungkapan munafik, menunjukkan bahwa komentar tersebut disampaikan dengan langsung dan frontal tanpa ada upaya mengurangi pembebanan oleh si penutur sama sekali.

2) Strategi Bertutur Kesantunan Negatif

Berikut ini adalah penggunaan satrategi bertutur terus terang dengan basa-basi kesantunan negatif (KN) dalam wacana politik pilkada DKI Jakarta 2017 oleh komunitas pendukung paslon ditemukan dalam data berikut ini.

(40) Mau Jakarta dipimpin sama yang berteman dengan pelaku makar, xteroris, pelaku cabul? (PP1:19/04/17).

(41) Agamaku adalah kekuatanku maka janganlah engkau salahkan kitabku (TL5:07/02/17). (42) Ketika kalian menangis junjungan kalian di penjara, Kami juga menangis ketika Kitab Suci

kami dihina (W17:12/05/17).

(43) Biarkan bani serbet kirim bunga sendiri, bikin kata-kata sendiri, bahagia sendiri, viralin sendiri. Yang penting kita ketawain bersama-sama hahahaha (WI11:27/04/17). (44) Renungan untuk Ahoker Muslim. Ahok dihina kalian ga terima dan langsung marah tetapi

Alquran dihina kalian diam dan biasa saja. Sepertinya ada yang salah dengan otak dan hati kalian (DF1:01/04/17).

Komentar yang disampaian pada data (39) menggunakan strategi TTKN karena pada tuturan tersebut si penutur berupaya untuk menjaga muka negatif. Dalam hal ini, maksud penutur untuk mempengaruhi pembaca agar tidak memilih paslon-3 tidak secara langsung disampaikan dalam tuturan melainkan dengan menggunakan kalimat tanya. Penggunaan kalimat tanya dalam tuturan, sudah merupakan upaya dalam menjaga muka positif karena meminimalkan paksaan terhadap orang lain. Hal tersebut juga ditandai dengan penggunaan kata ajakan Mau sehingga komentar tersebut tidak diartikan sebagai bentuk paksaan.

Komentar pada data (40) menggunakan startegi kesantunan negatif karena pada tuturan tersebut, si penutur juga telah berupaya untuk menjaga muka negatif. Maksud penutur melarang orang lain untuk tidak menyalahkan kitab sucinya disampaikan dengan menggunakan pagar terlebih dahulu, yaitu Agamaku adalah kekuatanku, yang diibaratkan sebagai pagar yang digunakan untuk menjaga muka negatif.

Demikan juga halnya dengan komentarpada data (41) juga menggunakan startegi kesantunan negatif karena pada tuturan tersebut, si penutur juga telah berupaya untuk menjaga muka negatif dengan menggunakan pagar terlebih dahulu. Dalam hal ini, ungkapan

151

Ketika kalian menangis junjungan kalian di penjara diibaratkan sebagai pagar yang digunakan untuk menjaga muka negatif.

Komentar pada data (42) penggunaan strategi kesantunan negatif ditandai dengan penggunaan kata Biarin dan kita sehingga komentar tersebut tidak diartikan sebagai bentuk paksaan, dan membiarkan keinginan seseorang agar dirinya bebas melakukan apa saja yang disenanginya atau tidak diganggu oleh orang lain.

Sama halnya dengan komentar pada data tuturan (43) juga menggunakan startegi TTKN karena pada komentar tersebut para pendukung paslon telah berupaya menjaga muka negatif dengan menggunakan pagar terlebih dahulu. Dalam hal ini, ungkapan Renungan untuk

Ahoker Muslim dan Ahok dihina kalian ga terima dan langsung marah diibaratkan sebagai pagar

yang digunakan untuk menjaga muka negatif.

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN TIM PASCASARJANA (Halaman 156-159)