• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGOBATAN ALTERNATIF PADA KANKER KOLOREKTAL

Dalam dokumen JIMKI 5.1 (Halaman 136-144)

Muhammad Iqbal1

1Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta

121

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

Keywords: colorectal cancer, ginger, 6-gingerol, 6-shogaol.

1. PENDAHULUAN

Kanker merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular (Non-communicable diseases atau NCD). NCD merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Dari 57 juta kematian pada tahun 2008, 63% (36 juta kematian) disebabkan oleh NCD, terutama oleh karena penyakit kardiovaskuler (17 juta kematian), kanker (7,6 juta kematian), penyakit paru kronis (4,2 juta kematian) dan diabetes (1,3 juta kematian).[1] Kanker dapat menyerang jaringan dalam berbagai organ tubuh[1] dan ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan menginvasi jaringan di sekitarnya maupun dengan bermigrasi ke tempat yang jauh (metastasis). Kanker yang merupakan penyakit tidak menular, menjadi masalah kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia. Masyarakat awam berpikir bahwa kanker merupakan suatu penyakit yang menakutkan yang akan berujung pada kematian. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2013, insiden kanker meningkat dari 12,7 juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus tahun 2012. Sedangkan jumlah kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2 juta pada tahun 2012. Kanker menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular. Diperkirakan pada 2030 insiden kanker dapat mencapai 26 juta orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat. Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk atau sekitar 330.000 orang. Kanker merupakan penyakit pembunuh nomor dua di dunia setelah penyakit kardiovaskular dengan angka kematian mencapai 13%. Angka kematian akibat kanker pada tahun 2012 meningkat

hingga 8,2 juta jiwa jika dibandingkan angka kematian pada tahun 2008 yang mencapai 7,6 juta jiwa.[2]

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kanker ini umumnya bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding permukaan dalam usus besar serta rektum. Polip atau jaringan yang tumbuh ini biasanya jinak dan tidak menyebabkan gangguan. Meski demikian, ada juga yang berpotensi menjadi ganas, terutama yang sudah ada pada usus dan rektum selama 5 hingga 15 tahun.[3] Secara epidemiologis, kanker kolorektal menduduki urutan ke-4 kanker terbanyak di dunia, dimana jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan perbandingan 19,4 dan 15,3 per 100.000 penduduk. Secara umum didapatkan kejadian kanker kolorektal meningkat tajam setelah usia 50 tahun. Suatu fenomena yang dikaitkan dengan pajanan terhadap berbagai karsinogen dan gaya hidup. Kanker kolorektal adalah penyebab kematian kedua terbanyak dari seluruh pasien kanker di Amerika Serikat (AS). Lebih dari 150.000 kasus baru, terdiagnosis setiap tahunnya di AS dengan angka kematian per tahun mendekati angka 60.000. Di AS rerata usia pasien kanker kolorektal 67 tahun dan lebih dari 50% kematian terjadi pada mereka yang berusia diatas 55 tahun.[4]

Di Indonesia, seperti yang terdapat pada laporan registrasi kanker nasional yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Patologi Anatomik Indonesia didapatkan angka yang agak berbeda. Hal yang menarik di sini adalah kecenderungan untuk umur yang lebih muda dibandingkan dengan laporan dari negara barat. Data dari bagian Patologi Anatomik FKUI mendapatkan angka 35,265% untuk usia di bawah 40 tahun.[4] Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti berapa insiden karsinoma

122

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

kolorektal. Sjamsuhidajat (1986) dari evaluasi data-data di Departemen Kesehatan mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk.[5]

2. PEMBAHASAN

2.1. Patofisiologi Kanker Kolorektal Pada pasien kanker kolorektal, keluhan dan tanda-tanda fisik timbul sebagai bagian dari komplikasi seperti obstruksi. Obstruksi kolon biasanya terjadi di kolon transversum. Kolon descenen dan kolon sigmoid lebih sedikit, karena ukuran lumennya lebih kecil daripada bagian kolon yang lebih proksimal. Terdapat 3 kelompok kanker kolorektal berdasarkan perkembangannya yaitu:[5] 1. Kelompok familial, mencakup 20%; 2. Kelompok yang diturunkan (inherited)

yang mencakup kurang dari 10% dari kasus kanker kolorektal;

3. Kelompok sporadik, yang mencakup sekitar 70%.

Kelompok diturunkan adalah mereka yang dilahirkan sudah dengan mutasi germline (germline mutation) pada salah satu alel dan terjadi mutasi somatik pada alel yang lain. Contohnya adalah FAP (Familial Adenomatous Polyposis) dan HNPCC (Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer). HNPCC terdapat pada sekitar 5% dari kanker kolorektal. Kelompok sporadik membutuhkan dua mutasi somatik, satu pada masing masing alelnya. Kelompok familial tidak sesuai kedalam salah satu dari dominantly inherited syndromes diatas (FAP & HNPCC) dan lebih dari 35% terjadi pada umur muda. Meskipun kelompok familial dari kanker kolorektal dapat terjadi karena kebetulan saja, akan tetapi faktor lingkungan, penetrant mutations yang lemah atau currently germline mutations dapat berperan.[5]

Terdapat 2 model perjalanan perkembangan kanker kolorektal (karsinogenesis) yaitu LOH (Loss of Heterozygocity) dan RER (Replication Error). Model LOH mencakup mutasi tumor gen supresor meliputi gen APC, DCC dan p-53 serta aktifasi onkogen yaitu K-ras. Model ini contohnya adalah perkembangan polip adenoma menjadi karsinoma. Sementara model RER karena

adanya mutasi gen hMSH2, hMLH1, hPMS1, hPMS2. Model terakhir ini contohnya adalah perkembangan HNPCC. Pada bentuk sporadik, 80% berkembang lewat model LOH dan 20% berkembang lewat model RER.[6,7]

2.2. Gejala Klinis Kanker Kolorektal Kebanyakan kasus Karsinoma Kolorektal (KKR) didiagnosis pada usia sekitar 50 tahun dan umumnya sudah memasuki stadium lanjut sehingga prognosisnya juga buruk. Keluhan yang paling sering dirasakan pasien KKR diantaranya perubahan pola BAB, perdarahan per anus (hematokezia) dan konstipasi. Kanker kolorektal umumnya berkembang lamban, keluhan dan tanda-tanda fisik timbul sebagai bagian dari komplikasi seperti obstruksi, serta pendarahan akibat invasi local dan kakeksia. Obstruksi kolon biasanya terjadi di kolon transversum. Kolon descenden dan kolon sigmoid karena ukuran lumennya lebih kecil daripada kolon yang lebih proksimal. Obstruksi parsial awalnya ditandai dengan nyeri abdomen. Namun bila obstruksi total terjadi akan menyebabkan nausea, muntah, distensi dan obstipasi.[4]

Kanker kolorektal dapat berdarah sebagai bagian dari tumor yang rapuh dan mengalami ulserasi. Meskipun perdarahan umumnya tersamar namun hematokezia timbul pada sebagian kasus. Tumor yang terletak lebih distal umumnya disertai hematokezia atau darah dalam feses tetapi tumor yang proksimal sering disertai dengan anemia defisiensi besi. Invasi lokal tumor menimbulkan tenesmus, hematuria, infeksi saluran kemih berulang dan obstruksi uretra. Akut abdomen dapat terjadi jika tumor tersebut menimbulkan perforasi. Kadang timbul fistula antara kolon dengan lambung atau usus halus. Asites maligna dapat terjadi akibat invasi tumor ke lapisan serosa dan sebaran ke peritoneal. Metastasis jauh ke hati dapat menimbulkan nyeri perut, ikterus, dan hipertensi portal.[4]

2.3. Permasalahan Terapi Kanker Pemahaman tentang proses karsinogenesis merupakan

123

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

pengembangan strategi dalam pengobatan penyakit kanker. Berbagai usaha pengobatan terhadap kanker, meliputi pembedahan, kemoterapi dan radioterapi, telah dilakukan secara intensif. Namun, dikatakan belum mampu secara efektif menanggulangi kanker. Mahalnya biaya terapi juga menjadi kendala yang berarti. Obat sitostatika bersifat tidak selektif, sehingga bersifat toksik baik pada sel normal maupun sel kanker. Hal tersebut menyebabkan timbulnya berbagai efek samping. Selain itu, penggunaannya dalam dosis besar justru akan meningkatkan jumlah sel normal yang terserang dan mati. Belum lagi kemungkinan kejadian resisten obat dapat terjadi.[8]

2.4. Jahe Untuk Mengobati Kanker Ekstrak jahe dan komponennya, seperti 6-gingerol dan 6-shogaol, juga dikenal menunjukkan banyak efek biologis termasuk antiinflamasi, antioksidan, dan antikanker. [9,10] Sehubungan dengan aktivitas antikanker, jahe dan konstituennya telah terbukti menghambat proliferasi dan menginduksi apoptosis dari berbagai jenis sel kanker pada percobaan in vitro.[11] Selain itu, penggunaan jahe untuk kemoprevensi kanker kolorektal telah menarik perhatian.

Jahe merupakan salah satu tanaman obat keluarga yang sering digunakan sebagai bahan bumbu masakan atau sebagai bahan untuk minuman. Jahe mengandung banyak unsur yang bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya adalah kandungan antikanker. Kandungan dalam jahe mampu membunuh sel kanker sehingga dapat digunakan sebagai obat kanker.

Para peneliti di Universitas Michigan Comprehensive Cancer Center, AS yang melakukan tes terhadap bubuk jahe yang dilarutkan dan diberikan pada kultur sel kanker ovarium telah membuktikan bahwa jahe adalah tanaman berkhasiat obat atau biasa kita sebut obat herbal yang dapat digunakan untuk membunuh sel kanker ovarium sementara komponen yang terdapat pada cabai diduga dapat mengecilkan atau menyusutkan tumor pankreas.

Hasil studi itu menyebutkan bahwa terdapat bukti berbagai makanan pedas atau panas bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kanker. Studi itu meneliti efektivitas jahe terhadap sel penderita kanker. Meskipun demikian, studi ini masih merupakan langkah pertama. Dikatakan, jahe dapat membunuh sel kanker dengan dua jalan, yaitu proses penghancuran yang dinamakan apoptosis dan autophagy, proses pemakanan sel. Hal ini diuraikan para ahli dalam pertemuan American Association for Cancer Research(ref?). 2.5. Jahe dan Beberapa Komponen didalamnya

Gambar 1. Jahe dan Beberapa Komponen Aktif di dalamnya

Jahe (Zingiber officinale), anggota dari keluarga Zingiberaceae, adalah rempah-rempah yang populer digunakan secara global terutama di sebagian besar negara-negara Asia.[12] Analisis kimia menunjukkan bahwa jahe mengandung lebih dari 400 senyawa yang berbeda. Konstituen utama dalam rimpang jahe adalah karbohidrat (50-70%), lipid (3-8%), terpene, dan senyawa fenolik. Komponen terpena jahe termasuk zingiberene, β-bisabolene, α-farnesene, β-sesquiphellandrene, dan α-curcumene, sedangkan senyawa fenolik termasuk gingerol, paradols, dan shogaol (Gambar 1). Gingerol ini (23-25%) dan shogaol (18-25%) ditemukan dalam jumlah yang lebih tinggi daripada yang lain. Selain ini, asam amino, serat kasar, abu, protein, pitosterol, vitamin (misalnya, asam

124

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

nikotinat dan vitamin A), dan mineral juga hadir.[13]

Konstituen aromatik meliputi zingiberene, sementara konstituen lain dikenal sebagai gingerol dan shogaols. Senyawa lain terkait gingerol atau shogaol (1-10%), yang telah dilaporkan dalam rimpang jahe, termasuk 6-paradol, 1-dehydrogingerdione, 6- gingerdione dan 10-gingerdione, 4- gingerdiol, 6-gingerdiol, 8- gingerdiol, dan 10-gingerdiol, dan diarylheptanoids.[14] Bau khas dan rasa jahe adalah karena campuran minyak atsiri seperti shogaols dan gingerol.[15] 2.6. Hasil Penelitian Efek Jahe terhadap Pencegahan dan Pengobatan Kanker Kolorektal

Bukti dari in vitro, hewan, dan studi epidemiologi menunjukkan bahwa jahe dan beberapa konstituen yang aktif menekan pertumbuhan dan menginduksi apoptosis dari berbagai jenis kanker termasuk kanker kulit, ovarium, usus besar, payudara, leher rahim, mulut, ginjal, prostat, lambung, pankreas, hati , dan kanker otak. Jahe dan konstituennya dapat dikaitkan dengan antioksidan, antiinflamasi, dan sifat antimutagenik serta kegiatan biologis lainnya.[16]

Tabel 1. Efek Jahe dan komponennya pada penelitian In Vivo terhadap kanker

kolorektal [16]

Kanker Efek

Kolon Menurunkan kejadian dan jumlah tumor di usus tikus Wistar

Kolon Menurunkan asam empedu tinja, sterol netral, kolesterol jaringan, HMG CoA

reduktase, asam lemak bebas, trigliserida, fosfolipase A, dan fosfolipase C di usus

Kolon Menurunkan kejadian dan jumlah tumor di usus serta aktivitas beta-glucuronidase dan mucinase

Kolon Memblokir karsinogenesis usus yang diinduksi oleh azoxymethane pada tikus

Tabel 2. Efek Jahe dan komponennya pada penelitian In vitro terhadap kanker

kolorektal [16] Kanker

Kolorektal Efek

Caco-2 Menghambat enzim sitokrom P450 (CYP1A2 dan CYP2C8)

HCT116 Bertindak sebagai agen antiproliferatif dan meningkatkan efek kemoterapi 5-FU COLO 205 Menginduksi apoptosis,

cytochrome c release,

aktivasi caspase, dan fragmentasi DNA Meningkatkan regulasi Bax, Fas, dan FasL serta menurunkan regulasi Bcl-2 dan protein.Bcl-XL

HCT116 Menekan ekspresi siklin D1 dan menginduksi NAG-1

Menghambat beta-catenin, PKC-epsilon, dan jalur beta GSK-3 HCT116 Mempotensiasi

apoptosis TRAIL-diinduksi dan

peningkatan regulasi reseptor TRAIL kematian (DR-4 / -5)

Menghambat ekstraseluler sinyal-diatur kinase 1/2 dan p38-MAPK

2.7. Mekanisme Jahe dan Komponennya dalam Menghambat Kanker Kolorektal

Efek antikanker jahe terhadap kanker kolorektal telah didokumentasikan

125

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

dengan baik. Sejumlah penelitian in vitro menunjukkan bahwa jahe dan beberapa komponen aktifnya menghambat pertumbuhan dan proliferasi sel-sel kanker kolorektal. Dalam sebuah penelitian, 6-gingerol menghambat pertumbuhan sel HCT116 kanker usus besar. Penghambatan pertumbuhan tumor ditemukan untuk dihubungkan dengan penghambatan leukotrien A4 aktivitas hidrolase, yang selanjutnya dikonfirmasikan oleh pendekatan silico.[17] Selain itu, berbagai mekanisme lainnya dilaporkan terlibat dalam 6-gingerol yang menginduksi penghambatan pertumbuhan sel dan apoptosis pada sel-sel kanker kolorektal. Ini termasuk degradasi protein serta penurunan regulasi dari cyclin D1, NAG-1 beta-catenin, PKCepsilon, dan jalur GSK-3β.[18] Radhakrishnan et al.[19] melaporkan bahwa aktivitas antikanker dari 6-gingerol dapat dikaitkan dengan penghambatan jalur ERK1 / 2 / JNK / AP-1. Seluruh ekstrak jahe juga dapat mencegah tahap utama karsinogenesis kolon. Pemberian ekstrak jahe untuk tikus pra-perawatan dengan karsinogen 1,2-dimethylhydrazine (DMH) menghambat kadar asam tinja empedu, sterol netral, kolesterol jaringan, HMG CoA reduktase, asam lemak bebas, trigliserida, fosfolipase A, dan fosfolipase C.[20]

Dengan demikian, suplementasi jahe mengurangi risiko kanker usus besar nyata berdasarkan efek hipolipidemik dan antioksidannya. Ekstrak jahe tidak hanya menghambat karsinogenesis sel kanker kolorektal tetapi juga meningkatkan efek antikanker dari kemoterapi obat 5-fluorouracil.[17] Shogaols sistein-terkonjugasi juga telah dilaporkan menyebabkan kematian sel-sel kanker usus besar melalui aktivasi jalur apoptosis mitokondria.[22] Hexahydrocurcumin diekstraksi dari jahe juga ditemukan sitotoksik untuk sel-sel kanker kolorektal. Ia telah mengamati bahwa pengobatan sel kanker usus besar SW480 dengan hexahydrocurcumin mengakibatkan apoptosis,[23] menunjukkan potensinya sebagai agen antikanker. Selain rimpang jahe, paparan dari ekstrak daun jahe diperlihatkan dapat mengurangi viabilitas sel dan menginduksi apoptosis untuk sel

HCT116 kanker kolorektal manusia, sel SW480, dan Lovo. Aktivitas antikanker ini ekstrak daun jahe dikaitkan dengan peningkatan ekspresi ATF3 melalui ERK1/2 aktivasi pada sel kanker kolorektal manusia.[24]

3. PENUTUP

Meskipun sifat obat jahe telah dikenal selama ribuan tahun, sejumlah besar penelitrian in vitro dan in vivo memberikan bukti substansial bahwa jahe dan senyawa yang aktif di dalam jahe efektif terhadap berbagai macam penyakit manusia termasuk kanker Kolorektal. Jahe telah ditemukan efektif melawan kanker kolorektal. Namun, sebagian besar penelitian yang dilakukan pada komponen jahe didasarkan hanya pada in vitro dan in

vivo, kecuali untuk studi klinis beberapa di

subyek manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai studi klinis dari efek antikanker jahe terhadap kanker kolorektal, karena merupakan alternatif yang aman dan hemat biaya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Manajemen Rumah Sakit. Prevalensi

Kanker di Indonesia dan Dunia. 6

Januari 2014.

<http://manajemenrumahsakit.net/2014 /01/prevalensi-kanker-di-indonesia-dan-dunia/.>

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hilangkan Mitos Tentang

Kanker. 08 Mei 2014. 19 Jan 2015.

<http://www.depkes.go.id/article/print/2 01407070001/hilangkan-mitos-tentang-kanker.html.>

3. “Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya”. Alodokter. 19 Oktober 2016.http://www.alodokter.com/kanker-kolorektal.

4. Abdullah, Murdani. Tumor Kolorektal,

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid

ketiga. Edisi keempat. Jakarta : Interna Publishing, 2014.

5. Puig-La Calle J, Guillem JG. Genetic

Screening and Chemoprevention. In: Audisio RA, Gerahty JG, Longo WE Modern management of Cancer of the Rectum. Springer London, 2001

126

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

6. Asril, Zahari. “Deteksi Dini, Diagnosa, dan Penatalaksanaan Kanker Kolon dan Rektum.” Majalah Kedokteran

Andalas , Vol 26; S63-70, 2002.

7. Sjamsuhidajat R, et al. Panduan

Pengelolaan Adenokarsinoma Kolorektal, 2006.

8. Wahid, Abid Abdurrahman, et al.

Potensi Ekstrak Origanum Majorana Sebagai Terapi Agen Kemopreventif Dalam Mekanisme Apoptosis Melalui Jalur Penurunan Regulasi Dari Survivin Dan P53 Serta Peningkatan Regulasi Tnf-Alfa Pada Kanker Payudara. Karya Tulis Ilmiah: UMJ,

2016.

9. B. Sung, S. Prasad, V. R. Yadav, A. Lavasanifar, and B. B. Aggarwal, “Cancer and diet: how are they related?” Free Radical Research. 45:8 (2011): 864–879.

10. B. B. Aggarwal, M. E. van Kuiken, L. H. Iyer, K. B. Harikumar, and B. Sung, “Molecular targets of nutraceuticals derived from dietary spices: potential role in suppression of inflammation and tumorigenesis,” Experimental Biology

nd Medicine. 234:8 (2009): 825–849.

11. R.Hu, P. Zhou, Y.-B. Peng et al., “6-shogaol induces apoptosis in human hepatocellular carcinoma cells and exhibits anti-tumor activity in vivo through endoplasmic reticulum stress,”

PLoS ONE. 7:6 (2012). Article ID

e39664.

12. G. Demin and Z. Yingying, “Comparative antibacterial activities of crude polysaccharides and flavonoids from Zingiber officinale and their extraction,” American Journal of

Tropical Medicine. 5 (2010): 235–238.

13. Y. Shukla and M. Singh, “Cancer preventive properties of ginger: a brief review,” Food and Chemical Toxicology. 45:5 (2007): 683–690.

14. B. H. Ali, G. Blunden, M. O. Tanira, and A. Nemmar, “Some phytochemical, pharmacological and toxicological properties of ginger (Zingiber officinale Roscoe): a review of recent research,” Food andChemical

Toxicology. 46:2 (2008): 409–420.

15. M. Harold. On Food and Cooking: The

Science and Lore of the Kitchen. Edisi

kedua. Scribner: New York, 2004. 16. Sahdeo Prasad and Amit K. Tyagi.

“Ginger and Its Constituents: Role in Prevention and Treatment of Gastrointestinal Cancer.”

Gastroenterology Research and Practice. Article ID 142979 11, 2015.

17. C.-H. Jeong, A. M. Bode, A. Pugliese et al., “[6]-Gingerol suppresses colon cancer growth by targeting leukotriene A4 hydrolase,” Cancer Research. 69: 13 (2009): 5584–5591.

18. S. H. Lee, M. Cekanova, and J. B. Seung, “Multiple mechanisms are involved in 6-gingerol-induced cell growth arrest and apoptosis in human colorectal cancer cells,” Molecular

Carcinogenesis. 47:3 (2008): 197–

208.

19. E. K. Radhakrishnan, S. V. Bava, S. S. Narayanan et al., “[6]-Gingerol induces caspase-dependent apoptosis and prevents PMA-induced proliferation in colon cancer cells by inhibiting MAPK/AP-1 signaling.” PLoS ONE. 9:8 (2014). Article ID e104401.

20. V. Manju, P. Viswanathan, and N. Nalini, “Hypolipidemic effect of ginger in 1,2-dimethyl hydrazine-induced experimental colon carcinogenesis,”

Toxicology Mechanisms and Methods.

16:8 (2006): 461–472.

21. P. K. Deol and I. P. Kaur, “Improving the therapeutic efficiency of ginger extract for treatment of colon cancer using a suitably designed multiparticulate system,” Journal of

Drug Targeting. 21:9 (2013): 855–865.

22. J.Fu, H. Chen,D.N. Soroka, R. F.Warin, and S. Sang, “Cysteineconjugated metabolites of ginger components, shogaols, induce apoptosis through oxidative stress-mediated p53 pathway in human colon cancer cells,” Journal of Agricultural

and Food Chemistry. 62:20 (2014):

4632–4642.

23. C.-Y. Chen, W.-L. Yang, and S.-Y. Kuo, “Cytotoxic activity and cell cycle analysis of hexahydrocurcumin on SW 480 human colorectal cancer cells,”

127

JIMKI Volume 5 No.1 | Januari – Agustus 2017

Natural Product Communications.

6:11, (2011) : 1671–1672.

24. G. Park, J. Park, H. Song et al., “Anti-cancer activity of Ginger (Zingiber officinale) leaf through the expression of activating transcription factor 3 in human colorectal cancer cells,” BMC

Complementary and Alternative Medicine. 14:1(2014): 408.

Dalam dokumen JIMKI 5.1 (Halaman 136-144)