• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERUBAHAN POLA KONSUMSI PEMUDA DI ERA

B. Perubahan Pola Konsumsi Pemuda dengan E-wallet

3. Pergeseran Logika Dasar Konsumsi

Menurut Baudrillard, masyarakat konsumeris mengonsumsi citra dan pesan yang disampaikan dari suatu barang, bukan kegunaan barang tersebut. Seperti saat membeli mobil keluaran Jerman, BMW, ia membelinya bukan hanya sebagai sarana transportasi saja, namun BMW juga menawarkan citra tertentu pada konsumen yaitu kemewahan dan status sosial yang tinggi (Pawanti, 2013). Logika dasar konsumsi yang harusnya terpaut pada kebutuhan barang primer saja mulai bergeser pada pengonsumsian barang yang bersifat sekunder dan tersier. Menurut International Labour Organization (ILO), kebutuhan primer adalah kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh seseorang untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Sandang, pangan, dan papan adalah contoh

74

implikasi kebutuhan primer. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, kesehatan dan pendidikan juga termasuk dari kebutuhan primer yang wajib dipenuhi.

Selanjutnya kebutuhan sekunder, kebutuhan sekunder adalah urutan kebutuhan kedua setelah kebutuhan primer manusia tercukupi. Contoh dari kebutuhan sekunder bisa berbentuk hiburan, kendaraan pribadi, gawai, traveling, nonton konser, dan sebagainya. Terakhir ada kebutuhan tersier, kebutuhan tersier berkaitan dengan barang-barang mewah atau kebutuhan yang bersifat prestisius, seperti kepemilika n perhiasan mewah, vila, jet pribadi, dan sebagainya.

Hal menarik terjadi di masyarakat konsumeris saat ini. Kita menyaksikan bahwa terjadi diferensiasi makna di kalangan masyarakat saat mendefinisikan kebutuhan primer dan sekunder. Nilai barang primer dan sekunder memiliki banyak kaitan antara satu dengan yang lain, seperti jumlah pendapatan seseorang, identitas diri dan kelompok, pendidikan, pengalaman, serta adanya pertimbangan saat membeli barang atau menggunakan jasa. Seperti yang diungkapkan oleh informan Ang terkait kebutuhan primernya saat ini adalah skincare atau perawatan kulit yang mana Ang mengatakan akan berani mengeluarkan uang sebesar apapun itu demi terpenuhinya skincare, “contohnya kaya skincare, ya mau harganya gimana, ya beli beli aja.” Tidak hanya pada produk skincare, namun hal itu biasanya dilanjutkan dengan pembelian barang-barang yang

75

menurutnya meski tidak penting, namun memiliki visual yang menarik, akan menggodanya untuk membeli,

Kakak pasti ngerti deh sebagai perempuan, Shopee dan Tokopedia (marketplace online) itu kan 2 maut, kadang butuh ga butuh yaudah check out check out aja, kadang nyesel si, ‘duh ngapain beli ini ya’ tapi gimana ya, terus aja diulangin lagi dan lagi, karena kalau pun itu bukan yang penting-penting banget, pasti tetep dibeli juga si, haha (wawancara dengan Ang, 03 Juni 2020).

Informan Z juga mengamini hal tersebut dengan mengatakan konsums i yang diawali dengan adanya pertimbangan, biasanya ada pada barang-barang yang bernominal tinggi, sehingga pada konsumsi bernomina l rendah Z merasa tak perlu untuk mempertimbangkannya, padahal dia sendiri menyadari bahwa jika dihitung di akhir bulan, maka total pengeluarannya akan tetap tinggi,

Hm, sebenernya tergantung harganya juga si. Biasanya akan mikir banget kalau harganya tinggi banget, akan mikir dulu gitu. Tapi kalau harganya murah banget, ya yaudah beli beli aja. Padahal kalau beli banyak yang harganya murah kan sama aja ya padahal, sama-sama gede nominalnya nanti. Kadang suka mikir, padahal ga beli mahal-mahal, tapi uang kok habis? Ternyata ya karena belanjanya sering, haha. Tapi dari itu semua, sebenernya tetap mempertimbangkan si. Kaya pas lagi ngitung duit, ini uang segini bisa untuk beli apa aja ya. Meski ya sama aja si, kalau ada barang diskon ya beli-beli aja, haha (wawancara dengan Z, 03 Juni 2020). Konsumsi berlebih pada suatu barang juga tidak terlepas di kalangan pemuda perkotaan yang menjadi subjek dari penelitian ini. Dari 10 informan, 7 di antaranya mengaku mempunyai setidaknya 1 barang yang mereka berlebihan dalam mengonsumsi barang tersebut yang dibayar dengan transaksi e-wallet, informan Ad mengungkapkan dirinya suka berlebih pada sepatu dan gadget, “aku suka di sepatu dan gadget :D.”

76

Informan G mengungkapkan suka pada baju dan benda-benda dekorasi kamar, “hm, baju dan benda-benda untuk dekorasi kamar.” Informan Ang mengungkapkan suka membeli berlebih untuk kebutuhan peliharaannya, “paling keperluan untuk peliharaan aku, aku kan punya peliharaan banyak, kucing aja ampe 3, haha plus belum lagi nanti kalau ada kucing lain main juga ke rumah.” Berbeda dengan informan V yang suka pada riasan mata,

Ada baru-baru ini yang aku collect lebih dari yang aku butuhkan sih wkwk yaitu make up! Suka banget soalnya sama make up mata, jadi beli beberapa hal terkait dengan make up mata gitu, haha (Wawancara dengan V, 14 Juni 2020).

Dilanjut dengan informan F yang suka beli peralatan game, “aku suka beli alat-alat di dalam game gitu (untuk kebutuhan main game).” Dilanjutka n dengan informan I, “makanan sih, soalnya banyak banget promo (di e-wallet).” Hal serupa juga dialami oleh informan terakhir, yakni Z, “dulu skincare, sekarang makanan.”

Pemenuhan kebutuhan sekunder yang dalam hal ini berkaitan dengan hobi adalah sah saja, namun, jika dilakukan secara terus menerus terlebih dalam jumlah yang besar, maka dipastikan akan menimbulka n dampak sosial yaitu gaya hidup. Gaya hidup pada tahapan selanjut nya tidak hanya akan berdampak bagi individu yang bersangkutan tapi juga pada sistem sosial yang terjadi di masyarakat. Pemenuhan kebutuhan yang dilakukan secara tidak rasional serta kompulsif secara ekonomis adalah definisi perilaku konsumtif. Menurut Neufeldt, perilaku konsumtif adalah tindakan yang bersifat tidak rasional serta kompulsif secara ekonomis yang

77

menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya (Dewi and Suyasa, 2017). Istilah konsumtif biasanya digunakan untuk menjelaskan keinginan untuk mengonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal (Dewi and Suyasa, 2017).

Dalam melakukan praktik konsumsi, baik primer maupun sekunder, masyarakat konsumeris tidak lagi melihat barang dan jasa dari sisi use value dan exchange value, akan tetapi pancaran citra yang dimilik i barang dan jasa tersebut yang disebut Baudrillard sebagai symbolic value dan sign value juga terpatri. Proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup dimana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktik telah mendapat penekanan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai- nilai kegunaan dan fungsional (Bakti et al., 2019).

Pergeseran logika konsumsi masyarakat konsumeris juga mulai melahirkan kebimbangan dan kebingungan untuk mendefinisikan antara kebutuhan dan keinginan hidup, seperti yang diungkapkan informan Ang, “jelas jadi bingung ngebedain kebutuhan dan keinginan sekarang, karena hal-hal yang ga penting-penting amat aja aku beli, haha.” Begitup un informan I dan S juga menuturkan terkadang bingung membedakan kebutuhan dan keinginan.

Hal menarik dituturkan informan Z, ia mengaku bahwa jika dirinya mengalami proses kebingungan antara mendefinisikan kebutuhan dan

78

keinginan, ia menyiasatinya dengan menahan diri selama beberapa waktu, jika masih memikirkannya, berarti itu adalah kebutuhannya dan jika ia lupa, maka itu hanyalah keinginannya semata,

Bisa dibilang iya (suka bingung), tapi aku biasanya nyiasatinnya dengan gini, kalau aku mau beli barang, aku tunggu dulu sampe beberapa lama, misal 2-4 minggu. Kalau tiap hari aku mikirin itu, berarti itu ya kebutuhan yang harus aku beli, tapi kalau aku ngga pikirin, berarti itu ya ucma laper mata aja (wawancara dengan Z, 03 Juni 2020).

Senada dengan siasat Z, informan V juga melakukan siasat saat dirinya bingung membedakan antara kebutuhan dan keinginan dengan cara meminta pandangan orang lain,

Kadang ingin, tapi ga begitu butuh. Kalau lagi kayak gini posisinya, aku pasti ngobrol sama orang terpercaya sih buat diajak ngobrol. Biar bisa bantu ngasih perspektif juga, haha. Biasanya kalau kaya gini-gini mungkin untuk barang-barang yang harganya lumayan, haha (wawancara dengan V, 14 Juni 2020).

Menurut penelitian, saat seseorang melihat sesuatu yang bagus dan menarik hati, otak dengan stimulusnya mengeluarkan hormon untuk kita bisa membayangkan diri jika kita menggunakannya, secara refleks otak akan memberikan sinyal bahagia di situ. Maka dari itu penyiasatan dengan mengatakan akan membeli barang itu nanti -bukan sekarang- adalah hal yang perlu dilakukan untuk ‘membohongi otak’ kita agar tidak terjebak pada pengonsumsian barang sekunder terus menerus.

Konsumerisme adalah “atribut masyarakat” (Bauman, 2007: 28), lebih dari sekedar tindakan mengonsumsi barang dan jasa, bahkan sering kali tindakan konsumsi yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan (Lodziak, 2002: 2) dikutip (Bakti et al., 2019). Hal

79

ini tercermin pada pengonsumsian barang dan jasa yang dibeli bukan karena use value dan exchange value, akan tetapi berlandaskan keingina n, status sosial, serta prestise.