• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Kepemimpinan (Behavioral Leadership)

B. Kajian Teori

4. Perilaku Kepemimpinan (Behavioral Leadership)

your organization and environment that influence leadership behaviors to be assessed88. Hal berarti bahwa ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap gaya atau perilaku yang diterapkan oleh pemimpin dalam organisasi. Dengan demikian, dikatakan sebagai pemimpin yang sukses.

yang lebih rendah. Pemimpin termotivasi karena hubungan yang cenderung memiliki kinerja yang baik dalam situasi di mana mereka memiliki kekuatan, kendali, dan pengaruh yang moderat “leader-member relation, task structure, dan leader position power-; yang dari hal itu disimpulkan bahwa task motivated leaders perform generally best in very ―favorableǁ situations, i.e. either under conditions in which their

power, control and influence are very high (or, conversely, where uncertainty is very low) or where the situation is unfavorable, where they have lower power, control and influence. Relationship motivated leaders tend to perform best in situations in which they have moderate power, control and influence)89.

Perilaku seorang pemimpin terkait erat dengan beberapa hal, yaitu kemampuan yang dimilikinya, karakter setiap bawahan yang dipimpinnya, jabatan atau posisi tertentu yang diembannya, dan budaya organisasi serta situasi kondisi yang menyertainya.

Kepemimpinan sukses pada kerangka ini dapat mengunakan konklusi dari Carlos Lopes dan Thomas Theisohn yang menggambarkan bahwa kepemimpinan yang sukses menghasilkan pemahaman yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, dan efektivitas kolektif yang lebih besar di antara tim kerja dan mitra mereka. Karena orang-orang dengan tujuan yang tumpang tindih memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana bagian-bagian dari sistem saling cocok, pemimpin yang baik

89E Mark Hanson “Educational Administration ………. 170

membangun hubungan dan kepercayaan, memobilisasi energi dengan cara yang berkelanjutan, mendorong kepemilikan, dan menghasilkan komitmen (a successful leadership style results in enhanced understanding, improved relationships, and greater collective effectiveness among working teams and their partners. Since people with overlapping goals have a better sense of how parts of the system fit together, good leaders build upon relationships and trust, mobilizing energy in a way that is sustainable, fosters ownership and generates commitment)90.

Teori tentang perilaku manusia perlu diungkap mengingat seorang pemimpin harus mengetahui tingkat kamatangan para pegawainya agar bisa memimpin mereka secara efektif. Banyak pemimpin yang gagal karena tidak mengetahui dengan baik karakter dan kebutuhan pegawainya dalam melakukan pekerjaan.

Perilaku kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai berikut:

a. Perilaku Kepemimpinan adalah “perilaku dari seeorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal)”.

b. Perilaku Kepemimpinan adalah “pengaruh antara pribadi yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui prospek komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu”.

90Carlos Lopes & Thomas Theisohn, “Ownership, Leadership and Transformation: Can We Do Better for Capasity Development?” (London: Earthscan Publications Ltd., 2003), 40

Sedangkan Perilaku kepemimpinan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam teori atau pendekatan sebagai berikut:

a. Teori sifat (The Trait Theory). Teori ini seringkali disebut The Great Man Theory. Teori ini menganggap bahwa pemimpin muncul karena dilahirkan, bukan dibuat atau dikondisikan. Teori ini mengajarkan bahwa pemimpin itu memerlukan serangkaian sifat-sifat, ciri-ciri atau perangai tertentu yang bisa digunakan sehingga menjalin keberhasilan pada setiap situasi.

b. Teori perilaku (Behaviour Theory). Teori ini dikembangkan melalui teori X dan Y dari Douglas Mc Gregor, Manajerial Grid dari Blake dan Houston, studi Ohio State dan studi Michigan yang dikembangkan oleh para ahli psikologi sosial, Rensis dan Likert. Teori ini memutuskan perhatian pada dua aspek perilaku kepemimpinan yaitu fungsi-fungsi dan gaya-gaya kepemimpinan.

c. Pendekatan situasional (Contingency Approach) yang bergantung pada situasi, tugas, anggota, organisasi dan variable-variabel lingkungan lainnya. Teori situasional yang terkenal di antaranya adalah teori kontingensi dari Fiedler, teori siklus kehidupan dari Hersey dan Blanchard, dan teori serangkaian kepemimpinan dari Sehmid dan Tanembaun.

Menurut Gary Yukl, proses kepemimpinan dapat dikonseptualisasi sebagai berikut:

a. Proses intra individu

Kepemimpinan dalam konsep ini melibatkan proses pengaruh antar individu, karena potensi kontribusinya dari pendekatan individu ini terhadap kepemimpinan sangat terbatas, karena tidak mencakup sebagian besar teori yang dianggap merupakan proses penting dari kepemimpinan yaitu dari pengaruh atas orang lain. Oleh karena itu sulit menentukan mengapa beberapa ciri atau keterampilan itu berhubungan dengan efektifitas atau pengakuan kepemimpinan.

b. Proses dyadic

Focus dari proses dyadic ini adalah hubungan antara seorang pemimpin dan individu lain yang biasanya merupakan seorang pengikut. Sebagian besar teori dyadic memandang kepemimpinan sebagai proses pengaruh timbal balik antara pemimpin dan orang lain. Pendekatan ini memiliki asumsi implisit bahwa efektifitas kepemimpinan tidak dapat dipahami tanpa menguji bagaimana pemimpin dan pengikut saling mempengarungi setiap waktu.

c. Proses kelompok

Pandangan lain tentang kepemimpinan, memandang kepemimpinan sebagai proses kelompok. Dua topik utamanya adalah sifat peran kepemimpinan dalam tugas kelompok dan bagaimana kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kelompok. Teori efektifitas kelompok memberikan pengetahuan yang penting mengenai proses

kepemimpinan dan kriteria dan relevan untuk mengevaluasi efektifitas kepemimpinan. Penentu utama dari efektifitas kelompok, seperti seberapa baik pekerjaan organisasi dalam rangka memanfaatkan personil dan sumber-sumber lainnya, apakah peran bagi para anggota telah jelas, apakah per-anggota mau melaksanakan peran tersebut dan hingga batas manakah para anggota saling mempercayai satu sama lain dan bekerja sama dalam mencapai tujuan tugas.

d. Proses organisasi

Untuk konsep proses organisasi ini bahwa kepemimpinan adalah membantu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, contoh kegiatan yang relevan adalah mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi mengenai lingkungan, menegosiasikan perjanjian menguntungkan bagi organisasi serta mengembangkan kerja sama dan mendapatkan dukungan dari luar.

Gary Yukl91 mengidentifikasi empat belas (14) perilaku kepemimpinan yang dikenal dengan taksonomi manajerial, yaitu:

a. Merencanakan dan mengorganisasi b. Pemecahan masalah

c. Menjelaskan peran dan sasaran d. Memberikan informasi

91 Gary Yulk “Leadership In Organizations” (University of Albany State University of New York: 2013) 36

e. Memantau

f. Memotivasi dan memberikan inspirasi g. Berkonsultasi

h. Mendelegasikan i. Memberikan dukungan

j. Mengembangkan dan membimbing

k. Mengelola konflik dan mengembangkan tim l. Mengembangkan jaringan kerja

m. memberikan pengakuan dan pujian serta memberikan penghargaan terhadap kontribusi dan upaya-upaya khusus seseorang

n. memberi imbalan, memberi atau merekomendasikan imbalan-imbalan yang nyata seperti penambahan gaji atau promosi bagi yang kinerjanya efektif.

Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya mengkaji perilaku pemimpin (kiai) dalam memberikan informasi (komunikasi), memotivasi dan memberikan inspirasi, serta mengembangkan dan membimbing anggota kelompok (santri) untuk meningkatkan kreativitas dalam wirausaha.