PENDAHULUAN A. Latar Belakang
B. Permasalahan Studi
a. Pengadaan Perumahan di Surakarta
Keterbatasan lahan untuk perumahan di kota besar pada umumnya, menjadikan fenomena pengalihfungsian lahan terbuka menjadi kapling-kapling perumahan. Kelestarian lingkungan menjadi terganggu. Dampak biologis yang sangat terasa bagi masyarakat kota
adalah ketidaknyamanan termal terutama terhambatnya aliran udara dalam lingkup iklim mikro, karena tidak ada lagi ruang terbuka. Hilangnya ruang terbuka hijau di perkotaan, sejalan dengan fenomena hilangnya ruang terbuka di persil perumahan, sebagai dampak kebutuhan akan perluasan rumah.
Gambar 1. Beberapa Contoh Rumah di Perumnas Mojosongo
Bangunan terlihat memadati tanah persil. Vegetasi sebagai peneduh ditempatkan di luar persil, karena keterbatasan ruang terbuka. (sumber : dokumen penulis, 2007)
Gambar 2.
Kiri atas menunjukkan rumah asli. Searah jarum jam memperliharkan perubahan yang terjadi sebagai respon penghunian. Pada umumnya perubahan ke arah pengoptimalan
pemanfaatan tanah persil ke bagian depan (ke arah jalan) (sumber : dokumen penulis, 2007)
Perumnas Mojosongo Surakarta adalah salah satu perumahan di Surakarta yang menjadi objek dalam pembahasan ini. Fenomena yang terlihat adalah kecenderungan pemanfaatan persil secara optimal ke bagian depan rumah, sehingga tidak terlihat lagi batas yang
jelas adanya garis sempadan bangunan. Kehadiran perumahan semestinya dapat menjadi medium pelestarian kualitas udara, yang ditunjang dengan termanfaatkannya openspace di perumahan sebagai zona hijau (vegetasi), sehingga fungsi perumahan identik dengan fungsi vegetasi, yaitu
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN sebagai climate regulator
(Winaktoe,2006). Namun tidak demikian yang terjadi. Tuntutan ekonomi, sosial budaya penghuni telah mengalahkan kebutuhan akan lingkungan yang nyaman dari aspek termal atau dengan kata lain tidak menghiraukan lagi aspek ekologis lingkungan.
Perumnas Mojosongo dibangun pemerintah tahun 1980. Type perumahan yang ada adalah D.15, D.18, D.21, D.36, D.45, D.54 dan D.70, sedangkan unit yang diteliti adalah D.18 dan D.21. Perumahan ini sudah dihuni lebih dari 15 tahun sehingga kondisi sosial budaya dapat dikategorikan stabil/mapan, dan akan membawa pengaruh terhadap lingkungan fisik yang terbentuk. Sedangkan alasan kriteria rumah menengah dan sederhana adalah karena kondisi pada umumnya mengalami perubahan rumah yang signifikan, berupa pemanfaatan persil yang membawa pengaruh negatif terhadap kenyamanan termal lingkungan. Hal ini sangat jarang ditemukan di perumahan mewah.
Oleh sebab itu rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimanakah karakteristik termal yang terbentuk melalui pengukuran besar suhu udara (°C), kelembaban udara (%) dan kecepatan angin (m/s), yang dapat memberikan pengaruh terhadap kenyamanan termal lingkungan ?
2. Bagaimanakah konsep penataan ruang luar lingkungan perumahan, agar memberikan kenyamanan penghunian, khususnya dari aspek kenyamanan termal ?
Perumnas Mojosongo Surakarta adalah salah satu perumahan di Surakarta yang menjadi objek dalam pembahasan ini. Fenomena yang terlihat adalah kecenderungan pemanfaatan persil secara optimal ke bagian depan rumah, sehingga tidak terlihat lagi batas yang jelas adanya garis sempadan bangunan. Kehadiran perumahan semestinya dapat menjadi medium pelestarian kualitas udara, yang ditunjang dengan termanfaatkannya openspace di perumahan sebagai zona hijau (vegetasi), sehingga fungsi perumahan
identik dengan fungsi vegetasi, yaitu sebagai climate regulator (Winaktoe,2006). Namun tidak demikian yang terjadi. Tuntutan ekonomi, sosial budaya penghuni telah mengalahkan kebutuhan akan lingkungan yang nyaman dari aspek termal atau dengan kata lain tidak menghiraukan lagi aspek ekologis lingkungan.
Perumnas Mojosongo dibangun pemerintah tahun 1980. Type perumahan yang ada adalah D.15, D.18, D.21, D.36, D.45, D.54 dan D.70, sedangkan unit yang diteliti adalah D.18 dan D.21. Perumahan ini sudah dihuni lebih dari 15 tahun sehingga kondisi sosial budaya dapat dikategorikan stabil/mapan, dan akan membawa pengaruh terhadap lingkungan fisik yang terbentuk. Sedangkan alasan kriteria rumah menengah dan sederhana adalah karena kondisi pada umumnya mengalami perubahan rumah yang signifikan, berupa pemanfaatan persil yang membawa pengaruh negatif terhadap kenyamanan termal lingkungan. Hal ini sangat jarang ditemukan di perumahan mewah.
Oleh sebab itu rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimanakah karakteristik termal yang terbentuk melalui pengukuran besar suhu udara (°C), kelembaban udara (%) dan kecepatan angin (m/s), yang dapat memberikan pengaruh terhadap kenyamanan termal lingkungan ?
2. Bagaimanakah konsep penataan ruang luar lingkungan perumahan, agar memberikan kenyamanan penghunian, khususnya dari aspek kenyamanan termal ?
b. Rancang Bangun Rumah
Rancang bangun rumah merupakan proses perubahan dalam tatanan perumahan. Proses ini memiliki tingkat kompleksitas yang sangat besar, sehingga bisa membentuk keberagaman karakter perubahan. Perubahan hunian menurut Lang (1987) didasari 3 aspek kemungkinan, yaitu pertimbangan fisiologis, fungsional dan psikologis, yang dilatarbelakangi oleh aspek sosial budaya pelakunya. Namun pada
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI NUR RAHMAWATI SYAMSIAH DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
hakekatnya perubahan bentuk hunian tidak akan terlepas dari bidang sosial, ekonomi dan politis. Kekuatan yang paling dominan dalam menentukan pertumbuhan lingkungan atau dalam hal ini perubahan hunian atau perumahan adalah kekuatan ekonomi (Trijono,2002).
Bianpoen (2005) memberikan pertimbangan dalam rancang bangun rumah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, berdasarkan fenomena permasalahan yang umumnya muncul di perumahan, yaitu:
1. Aspek Rumah
Rumah bagi masyarakat menengah ke bawah (terutama strata bawah) merupakan tempat tinggal sekaligus sebagai tempat mencari nafkah. Perencanaan rumah harus memungkinkan untuk fungsi tersebut. 2. Aspek Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah merupakan perluasan dari rumah tinggal/rumah inti, dan dipakai untuk kegiatan yang tidak dapat dilakukan di dalam rumah. Perencanaan rumah harus memungkinkan untuk fungsi tersebut.
c. Kenyamanan Termal
Secara umum kota-kota besar di Indonesia berada pada ketinggian lebih dari 500 dpl dan suhu udara maksimum antara 31°C-33°C, minimum 22°C-24°C dan kelembaban udara 60%-80% (Whitten dalam Doni,2001). Sedangkan kenyamanan memiliki standar suhu 25,6°C -27,1°C (Bianpoen dalam Doni, 2001) dan kelembaban antara 40%-70% (Lippsmeier, 1994).
Kenyamanan termal terkait suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin. Ketiganya dapat terbentuk karena kondisi lingkungan buatan. Aspek lingkungan yang langsung berhubungan dengan kelancaran dan distribusi udara segar yang merata adalah tata bangunan dan tata lansekap. Tata bangunan itu sendiri memberi pengaruh terhadap kelancaran dan kemerataan aliran udara di lingkungan dalam bangunan. Sementara itu tata lansekap (atau ruang terbuka hijau) berperan sangat vital dalam menurunkan suhu udara kawasan
dan berperan sebagai koridor alami (Boutet,1987).
Kehadiran bangunan atau perumahan di alam kadang menciptakan berbagai permasalahan lingkungan. Di antara permasalahan lingkungan yang paling banyak dirasakan adalah kualitas udara yang rendah serta suhu udara (°C) yang panas. Berpedoman atau berorientasi pada disain yang berkelanjutan (sustainable design), maka beberapa hal positif dapat diciptakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Di sinilah dibutuhkan peran dunia arsitektur. Arsitektur berperan dalam visualisasi interaksi manusia dengan lingkungan, melalui pertimbangan pemakaian teknologi, bahan bangunan, dan pertimbangan iklim dalam pengolahan lahan, sehingga tercipta suatu lingkungan yang nyaman. Kenyamanan yang diupayakan adalah kenyamanan ruang luar dan ruang dalam.
d. Material Bangunan
Kenyamanan termal ruang dan lingkungan dipengaruhi pula oleh penggunaan material bangunan yang melingkupinya (tabel 2 dan 3). Radiasi matahari akan memberi pengaruh terhadap daya serap, daya simpan dan daya pantul panas material bangunan. Dan hal ini sangat tergantung dari jenis material.
Tabel 2. Time lag (selang waktu) Antara dua sisi dinding yang berbeda suhu
menjadi bersuhu sama
Material Dinding Ketebalan (cm) Time lag (selang waktu) Batu
bata 23 7 jam 30 menit 12 3 jam 45 menit Beton 15 4 jam 20 menit 10 2 jam 55 menit 5 1 jam 30 menit
Kayu 5 3 jam
2,5 1 jam 30 menit Sumber : Mangunwijaya, 1988, hal 128
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
HASILSTUDI
Tabel 3. Suhu udara material pada sekitar Bulan Juni
a. Metode Penelitian
Teknik pencarian data adalah dengan
metode kuantitatif, yaitu melalui pengukuran suhu udara (°C), kelembaban udara (%), kecepatan angin (m/s) di lapangan, dengan alat ukur termometer, hygrometer dan anemometer, dengan reading time 5 menit. Pengukuran menggunakan metode pemetaan grid, dengan titik amatan berjarak 2,0 meter arah memanjang dan 1,4 meter arah melebar.
Metoda analisis adalah kuantitatif, yaitu mencari rata-rata suhu, kelembaban dan kecepatan angin dengan matematis, serta visualisasi atau simulasi hasil pemetaan/pengukuran dengan Program Surface Mapping
System (Surfer Version8.00) dari
Golden Software, Inc. Simulasi berupa iso-thermal 2 dimensi dan 3 dimensi. Pola iso-thermal dianalisis dan diinterpretasikan untuk mengetahui keterkaitan antara eksisting pemanfaatan persil dengan kenyamanan termal lingkungan yang terbentuk.
Material Bangunan Suhu Udara (°C) Aspal 32,6 Pasir 25,9 Tanah 25 Krikil 21,1 Tanah berumput 16 Tanah lempung 11,5 Sumber : Mangunwijaya, 1988, hal 141
Karakter permukaan lahan perumahan pada umumnya cenderung memantulkan sinar matahari, yang memunculkan area panas dan dapat meningkatkan suhu
kawasan. Bangunan tinggi, perkerasan lahan dan jalan aspal akan meningkatkan suhu kota 4 derajat celcius lebih tinggi dari suhu sekitar pinggiran kota atau pedesaan (Whitten dalam Doni,2001).
Seng adalah material penutup atap yang banyak digunakan pada perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, sebagai atap perluasan bangunan (atap tambahan). Seng memiliki sifat penyerap panas dan menyimpan panas yang baik. Perubahan warna seng dengan dicat putih, akan memperbesar daya pantul kalor/panas, sehingga daya simpan kalornya menjadi berkurang (tabel 4).
Tabel 4. Pengurangan Serapan Kalor/Panas Radiasi Matahari, Bila Permukaan Bercat Putih
pada Material Seng
Waktu
pengukuran seng Plat Biasa (°C) Plat seng dicat putih (°C) Selisih Suhu (°C) 14.20 52,7 41,1 11,6 14.45 56,6 42,5 14,1 15.50 53,3 41,3 12,0 16.30 45,5 37,2 8,3 17.25 39,1 34,1 5,0 Sumber : Mangunwijaya, 1988, hal 118
b. Objek Penelitian
Perumahan menengah dan sederhana, yaitu Perumnas Mojosongo yang telah dihuni lebih dari 15 tahun. Terdapat 2 zona pengukuran (lihat gambar 3, 4 dan 5), yaitu Jalan Dempo Selatan II RT 03 RW 12 (20 unit rumah) yang mewakili kelompok rumah dengan kriteria persil dipadati bangunan (lebar jalan 2,6m dan panjang jalan 72,6 m) dan Jalan Malabar Selatan I RT 02 RW 17 (16 unit rumah) yang mewakili rumah dengan kriteria persil tidak dipadati bangunan (lebar jalan 2,6 m dan lebar jalan 59,2 m).
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI NUR RAHMAWATI SYAMSIAH DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
Lokasi Penelitian I
Lokasi Penelitian II
Gambar 3. Peta surakarta dan 2 lokasi pengukuran di Tapak Perumnas Mojosongo Surakarta (sumber : www.surakarta.go.id diolah, tahun 2007, dan Soedibyo, Slamet, 1991)
Gambar 4. Lokasi I Jl. Dempo Selatan II, Denah (atas), tampak (bawah), foto bagian depan rumah (kanan atas) (sumber : dokumentasi penulis, 2007)
Gambar 5. Lokasi II Jl. Malabar Selatan I, Denah (atas), tampak (bawah), foto bagian depan rumah (kanan atas) (sumber : dokumentasi penulis, 2007)
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
a. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ada dua, yaitu: 1) variabel terikat yang berupa suhu udara (°C), kelembaban udara (%) dan kecepatan angin (m/s), dan 2) variabel bebas yang berupa setting lingkungan perumahan, yaitu blok rumah yang memaksimalkan pemanfaatan lahan untuk bangunan dan blok rumah yang masih menyediakan open space.
b. Hasil Penelitian
Pengukuran termal lingkungan dilakukan selama 1 hari, yaitu hari Jum’at tanggal 11 Mei 2007 pukul 13.00 sampai dengan 14.30 WIB. Pengambilan waktu pengukuran siang hari didasarkan pada pertimbangan waktu paling
maksimal radiasi sinar matahari, yaitu pada pukul 14.00 (Satwiko, 2004). 1. Hasil Pengukuran dan Analisis Lokasi
Penelitian I (kriteria persil dipadati bangunan)
Tabel 5. Suhu udara (C°), kelembaban udara (% RH) dan kecepatan angin (m/d) di Lokasi Penelitian I (Jl.Dempo Selatan II-kriteria persil dipadati bangunan)
Titik Ukur (Berdasar Lajur Unit Rumah) Suhu Udara (°C) Kelembaba n Udara (% Rh) Kecepatan Angin (M/S) Titik Ukur (Berdasar Lajur Unit Suhu Udara (°C) Kelembab an Udara (% Rh) Kecepata n Angin (M/S) Unt A B A B A B A B Unt A B A B A B A B 1 1 35,0 34,4 50,3 51,9 0,5 0,6 18 18 34, 9 33,8 45,2 52,7 2,2 1,9 2 2 35,5 34,2 49,5 51,7 0,9 1,4 19 19 35, 9 33,7 45,3 53,3 0,9 1,1 3 3 36,0 34,8 50,5 51,8 1,4 1,4 A6/ B6 20 20 35, 9 33,1 45,3 52,5 0,8 1,4 A1/ B1 4 4 36,9 33,9 49,2 53,8 0,0 1,5 21 21 35, 5 33,7 50,0 52,4 0,8 1,4 5 5 37,0 33,9 46,7 52,7 0,0 0,0 22 22 35, 9 33,5 50,3 52,7 0,0 1,6 6 6 37,5 33,9 46,4 52,9 0,0 0,0 A7/ B7 23 23 36, 1 33,9 50,5 52,7 0,0 1,0 7 7 38,5 33,7 45,1 53,1 0,0 0,0 24 24 36, 3 33,1 50,0 52,8 1,5 1,7 A2/ B2 8 8 38,9 34,4 43,7 54,0 0,0 0,0 25 25 35, 8 33,4 50,0 53,1 1,0 1,0 9 9 38,9 34,7 41,7 53,7 0,0 0,0 A8/ B8 26 26 35, 3 33,2 50,0 53,4 1,3 1,3 10 10 39,5 34,0 42,0 53,6 0,0 0,0 27 27 35, 6 33,1 50,0 53,5 1,5 1,3 A3/B 3 11 11 39,6 34,0 42,3 53,5 0,0 0,0 28 28 35, 8 33,5 50,0 53,9 1,4 1,3 12 12 39,1 34,5 42,3 53,2 0,3 0,4 A9/ B9 29 29 35, 0 33,3 50,0 53,6 1,8 1,6 13 13 38,2 33,4 42,4 53,0 1,0 1,1 30 30 36, 0 33,6 50,0 53,7 1,0 1,1 A4/B 4 14 14 37,6 34,0 43,0 52,7 0,0 0,0 31 31 35, 9 33,9 50,0 52,8 1,3 1,5 15 15 38,1 34,3 43,0 52,7 2,2 1,3 32 32 36, 0 33,6 50,0 53,6 0,1 0,5 16 16 36,9 33,3 43,0 52,2 0,0 0,5 33 33 35, 6 33,9 50,0 52,4 0,5 1,3 A5/B 5 17 17 36,3 33,0 43,7 52,2 2,1 1,8 A1 0/B 10 34 34 36, 1 34,1 50,0 52,5 0,9 0,8 Sumber : hasil pengukuran, 2007
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI NUR RAHMAWATI SYAMSIAH DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
Titik pengukuran 10,11 dan 12 (tabel 5) memberikan nilai suhu udara paling fluktuatif, di mana suhu udara maksimal 39,6°C-lajur A dan 34,0°C-lajur B. Perbedaan suhu udara yang besar disebabkan arah hadap rumah lajur A ke Barat (ke arah radiasi matahari maksimal) dan rumah lajur B menghadap ke Timur, sedangkan eksisting lokasi pengukuran cenderung sama, yaitu adanya vegetasi minimal pada rumah unit A4 maupun B4. Ditunjang lagi oleh bahan penutup atap unit A4, berupa seng, yang mampu menaikkan suhu lingkungan dan vegetasi tidak mampu menurunkannya dan tidak mampu berfungsi sebagai climate regulator. Kelembaban tinggi terjadi pada titik ukur 25-30, dimana eksisting berupa bangunan memadati persil hingga batas pagar dan tanpa vegetasi,
sehingga angin tidak mampu bergerak lancar (gambar 6).
2. Hasil Pengukuran dan Analisis Lokasi Penelitian I (kriteria persil dipadati bangunan)
Titik pengukuran 13,14,15 dan 16 (tabel 6) memberikan nilai suhu udara paling fluktuatif, di mana suhu udara maksimal 39,9°C-lajur A dan 33,0°C-lajur B. Perbedaan suhu udara yang besar disebabkan arah hadap rumah lajur A ke Barat (ke arah radiasi matahari maksimal) dan rumah lajur B menghadap ke Timur. Ditambah lagi unit rumah pada titik ukur ini (unit B4) adalah rumah tingkat, sehingga membentuk daerah bayang matahari yang teduh. sedangkan unit A4 (pada titik ukur terpilih) merupakan rumah satu lantai, open space berupa teras dan cukup vegetasi, namun penutup atap teras menggunakan material yang dapat meningkatkan suhu (seng).
0 10 20 30 40 50 60 70
0
Suhu fluktuatif kelembaban
Gambar 6.Analisis Hasil Simulasi Program Surface Mapping System (sumber : analisis penulis, 2007)
0 10 20 30 40 50 60 70
0
Iso-Termal (Suhu Udara °C)
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN Tabel 6. Suhu udara (C°), kelembaban udara (% RH) dan kecepatan angin (m/d)
di Lokasi Penelitian II (Jl. Malabar Selatan I- kriteria persil masih memiliki open space)
Titik Ukur (Berdasar Lajur Unit Rumah) Suhu Udara (°C) Kelembaba n Udara (% Rh) Kecepatan Angin (M/S) Titik Ukur (Berdasar Lajur Unit Suhu Udara (°C) Kelembab an Udara (% Rh) Kecepata n Angin (M/S) Unt A B A B A B A B Unt A B A B A B A B 1 1 38,6 33,8 49,1 50,8 0,5 0,4 19 19 37, 8 34,2 50,9 53,0 0,2 0,4 2 2 39,2 35,3 49,1 51,3 0,1 0,2 20 20 37, 6 33,9 51,2 53,9 0,3 0,4 3 3 39,0 34,8 49,1 52,1 0,0 0,0 21 21 37, 2 33,5 51,4 55,1 0,2 0,1 4 4 38,7 34,8 49,1 53,1 0,1 0,8 A5/ B5 22 22 36, 7 34,2 51,5 55,7 0,0 0,0 5 5 38,2 33,0 49,1 52,3 0,1 0,4 23 23 36, 3 33,8 51,7 54,5 0,0 0,3 A1/B 1 6 6 37,2 33,0 49,1 51,9 0,6 0,8 24 24 36, 0 33,9 51,7 54,4 0,0 0,0 7 7 37,3 33,0 49,1 50,2 2,2 2,3 A6/ B6 25 25 36, 5 33,5 51,7 55,1 2,0 2,1 8 8 37,2 32,7 49,1 49,9 1,4 1,6 26 26 35, 1 34,1 51,7 52,5 0,1 0,1 9 9 37,9 33,6 49,1 49,5 0,8 1,1 27 27 36, 0 33,8 51,7 55,1 0,8 0,6 A2/B 2 10 10 37,5 34,7 49,1 49,4 0,2 0,1 28 28 36, 6 33,7 51,7 61,5 0,2 0,2 11 11 38,0 34,1 49,1 50,4 0,0 0,1 A7/ B7 29 29 36, 6 32,2 42,4 61,6 1,6 1,8 12 12 38,5 35,3 49,5 50,8 0,0 0,2 30 30 36, 3 32,9 52,4 61,9 0,0 0,0 13 13 38,2 35,3 50,5 51,7 0,1 0,2 31 31 36, 0 33,3 52,6 52,7 0,0 0,1 A3/B 3 14 14 39,9 35,1 50,6 53,5 0,1 0,2 32 32 35, 7 32,9 53,1 57,4 0,0 0,0 15 15 37,0 33,0 50,6 54,3 0,0 0,1 A8/ B8 33 33 35, 2 32,8 53,8 52,9 0,6 0,6 16 16 37,0 33,4 50,6 54,5 0,4 1,0 17 17 37,7 33,3 50,6 53,5 0,4 0,7 A4/B 4 18 18 37,6 33,7 50,7 53,2 0,3 0,4
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI NUR RAHMAWATI SYAMSIAH DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
Konfigurasi iso-termal (humidity) menunjukkan nilai rata-rata 51% RH, kecuali di titik ukur 27,28,29,30 dan 31 terjadi fluktuatif humidity, dengan nilai 42,4% - 61,9 % RH. Perubahan nilai humidity yang tiba-tiba (berfluktuatif) terutama terjadi pada unit rumah lajur B, yaitu B7 dan B8. Penyebab terjadinya adalah kondisi eksisting unit B7 dan B8, yang berbeda signifikan. Unit B7 berupa rumah tingkat, cukup vegetasi, cukup openspace, sehingga udara mengalir lancar. Sedangkan unit B8 berupa pagar tembok tinggi sebagai batas persil, yang tidak difinishing, sehingga sangat memungkinkan terjadinya
penguapan air cukup besar. Sedangkan unit A7, A8 memiliki kelembaban rendah, disebabkan radiasi matahari (arah rumah ke Barat), sehingga udara menjadi lebih cepat kering (lihat gambar 7).
Berdasarkan analisis pada gambar 6 dan 7, terlihat perbedaan signifikan antara unit rumah yang persilnya dipadati bangunan dengan unit rumah yang masih memperhatikan ruang terbuka (walaupun hanya berupa teras rumah) apalagi ruang terbuka / open space diberi vegetasi rambat ataupun vegetasi di dalam pot. Karakteristik nilai termal diperoleh sebagai berikut : 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 -0.5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 -0.5 Suhu fluktuatif, namun rata-rata rendah, karena perbedaan lantai rumah Kelembaban tinggi, karena permukaan bidang dinding Iso-Termal (Suhu Udara °C) Iso-Humidity (Kelembaban Udara %RH) Gambar 7. Analisis Hasil Simulasi Program Surface Mapping System
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN Tabel 7. Karakteristik Termal di Lokasi Penelitian I (Jl. Dempo Selatan II)
No. Karakteristik
Eksisting (sampel rumah) Gambar Suhu Udara (deg C) Kelembaban Udara
(% RH)
Kecepatan Angin (m/s) 1. 1. Persil dipenuhi
bangunan 2. Garis atap sampai
batas persil 3. Dinding rumah
sekaligus sebagai batas/pagar persil 4. Persil pada kedua
sisi ruas jalan berupa tembok tinggi
5. Terdapat vegetasi dlm pot
34,8 49,3 1,2
Jumlah unit 6 (A6,A9,A10,B1, B7 dan B8) 1. Persil dipenuhi
bangunan 2. Garis atap sampai
batas persil 3. Persil berpagar
tembok ½ tinggi dinding
4. Vegetasi di dalam pot dan atau merambat
5. Terdapat openspace berupa teras rumah/ halaman kecil
35,5 49,6 1,0
Jumlah unit 10 (A1, A2, A3, A5, A7, B2, B3, B4, B5, dan B6) 1. Persil tidak
seluruhnya dipenuhi bangunan
2. Garis atap 1-2 m menjorok ke dalam dari batas persil 3. Persil berpagar
tembok ½ tinggi dinding
4. Vegetasi di dalam pot dan atau merambat
5. Terdapat openspace berupa teras rumah/ halaman kecil
34,2 52,4 1,5
Jumlah unit 3 (A8, B9 dan B10) 1. Persil dipenuhi
bangunan
2. Tidak ada vegetasi di depan rumah 3. Terdapat openspace
berupa teras rumah 4. Tanpa halaman kecil
38,3 42,6 0,65
Jumlah unit 1 (A4) Sumber : analisis penulis, 2007
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI NUR RAHMAWATI SYAMSIAH DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN
PEMBAHASANDANKESIMPULAN
Hasil penelitian ini mengarahkan kepada pertimbangan dalam membuat rancang bangun perumahan atau pemukiman. Hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan signifikan antara persil yang dikelola dengan baik, yaitu masih menyisakan openspace dan persil yang dipadati bangunan. Persil yang memiliki openspace membentuk kenyamanan termal lingkungan lebih baik, dengan suhu udara rata-rata 33,9-36,5°C, kelembaban udara rata-rata 51,1-52,8 % RH dan kecepatan angin maksimum mencapai 2,3 m/s. Sedangkan persil yang dipadati bangunan membentuk suhu lingkungan lebih tinggi rata-rata 34,2-38,3°C, kelembaban udara rata-rata-rata-rata 42,6-52,4 % RH dan kecepatan angin maksimum mencapai 1,9 m/s. Persil yang memiliki openspace dan ditunjang adanya soft material berupa vegetasi merupakan bentuk adanya konservasi energi serta pelestarian alam. Vegetasi sebagai medium pelestarian kualitas udara, yang ditunjang dengan termanfaatkannya openspace di perumahan sebagai zona hijau (vegetasi), sehingga fungsi perumahan identik dengan fungsi vegetasi, yaitu sebagai climate regulator, terutama untuk skala kawasan.
Rancang bangun perumahan dan pemukiman, baik oleh perencana, pengembang dan masyarakat secara luas, perlu mempertimbangkan alternatif disain untuk perluasan rumah inti. Optimalisasi pemanfaatan persil masih memungkinkan dilakukan, sebagai bentuk tuntutan kebutuhan ekonomi dan sosial penghuninya, namun perlu pertimbangan aspek fisiologis, fungsional dan psikologisnya.
Optimalisasi pemanfaatan persil perlu memperhatikan :
1. Teknis pemberian batas persil (melalui peraturan bangunan), di mana masih memungkinkan udara mengalir dengan leluasa. Batas persil upayakan berbentuk soft material atau vegetasi, yang berfungsi menurunkan suhu kawasan.
2. Penggunaan material yang tidak menyimpan panas dan memungkinkan alternatif penggunaan bahanp-bahan alami (diatur dalam SNI) sebagai penutup permukaan tanah persil.
PENUTUP
Berdasarkan temuan penelitian dan melihat kenyataan yang ada di beberapa lokasi perumahan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah, maka perlu dikoreksi kembali tentang aturan Garis Sempadan Bangunan (GSB), apakah memungkinkan tidak perlu GSB selama ada penyelesaian bentuk ruang terbuka dengan alternatif lain.
DAFTARPUSTAKA
Boutet,Terry,1987, Controlling Air Movement, Mc Graw Hill Book Company, New York.
Doni Fireza, 2001, Penggunaan Potensi Sumberdaya yang Terbaharukan dalam Merancang Lingkungan Perkotaan, Makalah Seminar “Sustainable Architecture III”, Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik UNDIP Semarang.
Lang, John, 1987, Creating Architectural Theory, Van Nostrand Reinhold Com.Inc., New York.
Lippsmeier, 1994, Bangunan Tropis (terjemahan), Penerbit Erlangga, Jakarta.
Mangunwijaya, 1988, Pasal-pasal Pengantar Fisika Bangunan, Djambatan, Jakarta Satwiko,Prasasto, 2004, Fisika Bangunan I,
Penerbit Andi, Yogyakarta.
Sumadyo, Amin, 2004, Peranan Bahan dan Jarak Bangunan Terhadap Kondisi Termal pada Rumah Tradisional Dukuh Pancot Tawangmangu, Jurnal Arsitektur “Komposisi” ISSN 1411-6618, Volume 2 Nomor 2, Oktober 2004, Prodi Arsitektur FT Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Trijono, 2002, Pengaruh Keberadaan Kampus Perguruan Tinggi Terhadap Kualitas Lingkungan Fisik Permukiman di Sekitarnya (Studi Kasus Kampus UNS), Jurnal Arsitektur “Sinektika” ISSN 1411-8912, Volume 2 Nomor 1, Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik UMS, Surakarta.
Winaktoe dan Harimurti, 2006, Pelestarian Kualitas Udara Melalui Medium Pemukiman Urban, Jurnal Arsitektur
NUR RAHMAWATI SYAMSIAH KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA DAN PEMANFAATAN BAHAN ALAMI
M.SIYAM PRIYONO NUGROHO DALAM MEMBENTUK KARAKTERISITK TERMAL DI LINGKUNGAN KAWASAN PERUMAHAN “Nalars” ISSN 1412-3266, Volume 5
Nomor 2 Juli 2006, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UMJ, Jakarta.