Persoalan yang amat penting diungkap guna memahami bagaimana an-Na’im mengkonstruksi hubungan Islam dan negara adalah menelaah kerangka paradigma kajiannya mengenai hubungan Islam, negara, dan politik. Ia dalam hal ini sebenarnya telah menegaskan bahwa dalam menegosiasi masa depan shari’ah menggunakan kerangka kerja normatif dan institusional (the normative and institutional).12 Melalui kerangka kerja ini an-Na’im secara teoritis mengatur keseimbangan (balancing) antara relasi Islam dan politik di satu sisi dan relasi Islam dan negara di sisi lain sebagai tesis utama teorinya.13Fokus utamanya adalah bagaimana merancang suatu negara dan sistem pemerintahan yang dapat melayani
12Melalui upaya ini akan dapat dipahami alasan kenapa an-Na’im mengeksplorasi sejarah Islam klasik. Begitu juga kenapa an-Na’im membahas konsep-konsep seperti konstitusionalisme, hak asasi manusia dan kewarnegaraan sebagai inti dalam kajiannya.
13Meskipun menggunakan kedua pendekatan tersebut, an-Na’im menyadari bahwa tidak ada resolusi dan kategori permanen bagaimana menjaga netralitas agama dari negara dalam realitas keterhubungan Islam dan politik Abdullah Ahmed an-Na ‘im, Islam and Secular State..., 267.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta|125 kepentingan umat Islam sebagai individu dan masyarakat (How to devise a state and a system of government, which are inherently secular, that can best serve the purposes of Shari‘a for Muslims as individuals and communities).14
Kerangka normatif15 dan institusional dengan fokus pada negara secara kelembagaan seperti ditekankan oleh an-Na’im tersebut, dikenal sebagai pendekatan tradisional dalam tradisi ilmu politik (Political Science).16 Hal ini berdasarkan penjelasan Miriam Budihardjo bahwa normatif dan institusional disebut sebagai pendekatan tradisionalisme dalam tradisi ilmu politik.17 Fokus pendekatan ini adalah pada persoalan negara, terutama persoalan konstitusional dan yuridis. Negara dalam hal ini dipandang sebagai badan formal dari norma-norma konstitusional (a body of formal constitutional norms). Pembahasan-pembahasan tradisional menyangkut persoalan sifat undang-undang dasar, kedaulatan, kedudukan dan keuangan formal serta yuridis dari lembaga-lembaga negara. Pendekatan normatif dan institusional dengan demikian meliputi masalah legal dan institusional serta bersifat normatif dengan asumsi dasar norma-norma demokrasi Barat.18
Analisis Elien Grigsby, dosen ilmu politik di University of North Carolina, menyebutkan bahwa tradisionalisme merupakan pendekatan yang didefinisikan berdasarkan fokus kajiannya pada institusi politik, hukum, atau kombinasi dari keduanya. Karena itu, tradisionalisme disebut sebagai suatu pendekatan dalam ilmu politik yang mempelajari fenomena
14Abdullah Ahmed an-Na’im, Islam and Secular State..., 267.
15Umumnya normatif mendasarkan pada moral dalam melihat relasi-relasi dalam praktek politik. Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam teori normative meliputi utilitarianisme yakni kebahagiaan yang lebih besar untuk jumlah orang yang lebih banyak. Liberalis yakni peran individu untuk menentukan persoalan atau kesejahteraan sosial. Komunitarianist yaitu komunitas adalah yang berhak menentukan apa yang disebut sebagai kebaikan bersama.
16James Farr, ‚The History of Political Science.‛ American Journal of Political Science, vol. 32, no. 4, 1988, pp. 1175– 1195. www.jstor.org/stable/2111205. Robert A. Dahl ‚The Behavioral Approach in Political Science: Epitaph for a Monument to a Successful Protest.‛ The American Political Science Review, vol. 55, no. 4, 1961, pp. 763–772., www.jstor.org/stable/1952525. B. Guy Peters, Institutional Theory in Political Science: The New Institutionalism (USA: Bloomsbury Publishing, 2011). Budi Winarno, Teori dan Proses Kebijakan Publik (Yogyakarta: Media Pressindo, 2007).
17Miriam Budiarjdo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008). 96.
18Sejarah pendekatan tradisional menurut Meriam Budiarjo mulai berkembangn sebelum perang dunia ke 2. Miriam Budiarjdo, Dasar-Dasar ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008). 72-73.
126|UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
politik dengan menyelidiki hukum, sejarah, dan atau institusi seperti pemerintah secara keseluruhan, atau institusi yang lebih terbatas seperti lembaga legislatif, eksekutif, atau yudikatif. Grigsby juga menyabutkan bahwa tradisionalisme menempatkan realibilitas ilmiah secara hati-hati pada landasan historis atau penyelidikan hukum guna menghasilkan deskripsi mengenai subjek dalam konteksnya. Dengan demikian, kecenderungan tradisionalisme berdasarkan penjelasan Grigsby tersebut seperti juga dijelaskan Budiharjo di atas adalah pada aspek-aspek formal dan kelembagaan politik seperti konstitusi hukum, parlemen, yudikatif, dan eksekutif. 19
Sebagaimana penjelasan Budihardjo dan Elien Grigsby di atas, Abd Muin Salim dalam karyanya Konsepsi Kekuasaan Politik juga menegaskan bahwa pendekatan paradigma tradisional meliputi beberapa pendekatan seperti historis, legal, dan institusional. Pendekatan historis misalnya menekankan pembahasan pada perkembangan partai-partai politik, perkembangan hubungan-hubungan politik luar negeri, dan perkembangan ide-ide politik yang besar. Sementara pendekatan legalistik menekankan pembahasan pada konstitusi dan perundang-undangan negara. Adapun pendekatan institusional menekankan pembahasan pada masalah-masalah institusi politik seperti lembaga legislative, eksekutif, dan yudikatif.20
Secara spesifik pendekatan normatif sebagaimana dijelaskan oleh Dorota Pietrzyk-Reeves, berkaitan dengan norma atau prinsip normatif. Prinsip normatif dapat didefinisikan sebagai 'perintah umum yang memberitahu agen apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan.
19Kendati demikian, pendekatan tradisionalis tidak menuntut spesialisasi disiplin yang sempit atau eksklusif. Sebaliknya, pendekatan ini perlu akrab dengan bidang-bidang seperti sejarah atau hukum. Elien Grigsby, ‚Sejarah Disiplin‛ dalam John T. Ishiyama dan Marijke Breuning (ed.), Ilmu Politik Dalam Paradigma Abad Kedua Puluh Satu terjemahan Ahmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Kencana, 2013), 2-15. EllenGrigsby, ‚History of the Discipline‛, in 21st century political science: A reference handbook. John T. Ishiyama, and Marijke Breuning, eds. Sage, 2010. Lihat juga Ellen Grigsby, Analyzing Politics: An Introduktion to Political Science (Cengage Learning, 2008). Kecenderungan ini disebabkan tradisionalisme sangat dipengaruhi oleh tradisi filsafat politik dan
bersifat etika.
http://www.academia.edu/24916638/Paradigma_Tradisional_Pendekatan_Normat if_dan_Institusional
20Berbeda dengan tradisionalisme, pendekatan behavioralisme menekankan pada perilaku aktor politik. Pendekatan ini menerima institusi politik sebagai aspek penting dalam politik tetapi bukan sebagai hakikat politik. Hakikat politik adalah kegiatan yang terdapat pada dan sekitar institusi politik yang dimanifestasikan oleh aktor-aktor politik seperti tokoh-tokoh pemerintahan dan wakil-wakil rakyat. Abd. Muin Salim, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Perspektif Al-Qur’ān (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta|127 Dalam konteks sosial dan politik, norma dapat dipahami secara deskriptif sebagai standar perilaku tindakan sosial dan politik, atau secara preskriptif21 sebagai alasan yang menentukan pilihan tindakan tertentu. Teori normatif mencoba menentukan standar apa yang harus diikuti dalam komunitas politik domestik atau internasional. Pernyataan normatif mengacu pada standar atau model yang ideal dan referensi ini mungkin melibatkan konsep apriori yang menetapkan standar dimana penilaian dapat dibuat.22 Tegasnya seperti yang digambarkan oleh Andrew Hurrel, norma adalah pernyataan-pernyataan preskriptif berupa aturan, standar, dan prinsip baik prosedural maupun subtantif.23
Aspek penting dari teori politik normatif menurut Dorota Pietrzyk-Reeves adalah fungsinya. Teori sosial dan politik normatif mempertahankan maksud filosofi praktis untuk secara rasional mengartikulasikan bentuk eksistensi manusia yang lebih memadai dan untuk mencerahkan mereka dalam pencapaiannya. Salah satu institusi dalam hubungan internasional saat ini adalah institusi hak asasi manusia. Pembenarannya hampir tidak dapat dipresentasikan tanpa teori politik normatif yang menentukan nilai-nilai yang harus dicapai oleh komunitas politik.24 Teori politik deskriptif atau empiris hanya bisa memberi tahu seberapa baik dasar hak asasi manusia dihormati dalam konteks politik tertentu, namun tidak dapat memberi tahu mengapa harus dilindungi terlebih dahulu.25 Karena itu, seperti disebutkan oleh John Gerring dan
21Preskriptif artinya bersifat memberi petunjuk atau ketentuan, atau bergantung pada atau menurut ketentuan resmi yang berlaku.
22Dorota Pietrzyk-Reeves, ‚Normative Political Theory‛ Teoria Polityki1 2017. 173–185. www.ejournals.eu/teoria_polityki (akses 07 Maret 2018).
23Menurut Andrew Hurrel normatif berkisar pada dua makna klasik.
Pertama, norma diidentifikasi oleh keteraturan perilaku dikalangan aktor yang mencerminkan perilaku aktual dan menimbulkan harapan seperti apa yang akan dilakukan dalam kondisi dan situasi tertentu. Kedua, norma mencermikan jenis perilaku pola tertentu yang menimbulkan harapan normatif apa yang seharusnya dilakukan. Andrew Hurrel, ‚Norma dan Etika dalam Hubungan Internasional‛ dalam Walter Carlsnaes, Thomas Risse dan Beth A. Simmons, Handbook Hubungan Internasional terjemahan Imam Baehaqie (Bandung: Nusa Media, 2013), 294.
24Standar atau tujuan minimal ini sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua telah didefinisikan sebagai perlindungan hak asasi manusia dasar sehubungan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB 1948. Bahasa hak asasi manusia pertama kali digunakan oleh para filsuf politik pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas dan sangat mempengaruhi dua dokumen pertama yang meminta hak sebagai prinsip konstitusional mendasar, Deklarasi Kemerdekaan Amerika dan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara.
25Dorota Pietrzyk-Reeves, ‚Normative Political Theory‛ Teoria Polityki1 | 2017 s. 173–185. www.ejournals.eu/teoria_polityki (akses 07 Maret 2018).
128|UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Joshua Yesnowitz, normatif (teori politik) berbicara tentang nilai-nilai, sementara empiris adalah tentang fakta.26
Adapun institusionalisme seperti yang diungkapkan oleh Nazaruddin Sjamsuddin menganalisis bagaimana lembaga-lembaga mengatur kehidupan masyarakat melalui (alat) politik dan secara otomatis memengaruhi tujuan politik.27 Dalam penjelasan David E. Apter, institusionalisme menekankan sejarah dan hukum dan menjelaskan bagaimana perangkat pemerintahan berkembang. Karena itu, subjeknya adalah konstitusi, birokrasi, partai-partai, aturan, prosedur dan organisasi formal dalam pemerintahan.28 Selain itu, paradigma institusionalisme juga fokus pada cita-cita politik yang berkembang dalam sejarah politik Barat yang dijelmakan dalam hubungan-hubungan khusus antara penguasa dan rakyat.29 Begitu pula institusionalisme memusatkan perhatian bagaimana menjaga masyarakat yang seimbang tidak berubah menjadi masyarakat kaku, atau bagaimana masyarakat yang kaku dapat diubah menjadi masyarakat yang seimbang. Persoalan partisipasi karenanya menjadi satu hal yang penting terutama dalam menentukan sejauh mana masyarakat dapat terlibat dalam proses pemerintahan.30
Secara subtantif beberapa poin penting perspektif institusionalisme dapat dicatat misalnya kekuasaan, pemerintahan demokratis, konstitusi dan kedaulatan. Kekuasaan merupakan basis politik dan kekuatan yang dapat digunakan dan dikendalikan. Oleh sebab itu masalahnya adalah bagaimana mengubah kekuasaan yang mutlak menjadi lebih demokratis. Hal ini karena kekuasaan dalam demokrasi harus sesuai dengan prinsip persamaan dan keadilan guna melindungi kebebasan.31 Keadilan dapat diwujudkan melalui hukum, karena hukum menciptakan wewenang dan
26John Gerring dan Joshua Yesnowitz, ‚A Normative Turn in Political Science?‛ www.palgrave-journals.com/polity lihat juga John Gerring, Social Science Methodology: A Criterial Framework, (Cambridge:Cambridge University Press, 2001). Gerring, John, and Joshua Yesnowitz. ‚A Normative Turn in Political Science?‛ Polity, vol. 38, no. 1, 2006, pp. 101–133. JSTOR, JSTOR, www.jstor.org/stable/3877092. Akses 10 Maret 2018.
27Nazaruddin Syamsuddin, Kata Pengantar Edisi Indoensia‛ dalam David E. Apter, Pengantara Analisa Politik terjemahan Tim Yosagama (Jakarta: Rajawali Press, 1985). Xi.
28Meskipun demikian, Apter mengungkapkan bahwa kaum institusionalis menyadari bahwa meskipun lembaga-lembaga politik penting, namun tidak dengan sendirinya sistem politik berjalan.David E. Apter, Pengantara Analisa Politik terjemahan Tim Yosagama (Jakarta: Rajawali Press, 1985), 16.
29David E. Apter, Pengantara Analisa Politik terjemahan Tim Yosagama (Jakarta: Rajawali Press, 1985), 215.
30David E. Apter, Pengantara Analisa Politik..., 215.
31Apter mengungkapkan ada dua cara untuk hal ini yaitu evolusi dan revolusi. David E. Apter, Pengantara Analisa Politik..., 216- 219.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta|129 memungkinkan perwakilan menjadi sarana pembuatan hukum. Perwakilan didasarkan pada persamaan sehingga mendorong kebebasan dan demokrasi. Demokrasi dapat menjamin kebebasan yang kemudian terwujud dalam terjaminnya hak-hak yang diungkapkan secara politik melalui perwakilan. Terjaminnya hak berarti pengakuan akan kedaulatan rakyat dengan melahirkan wewenang yang dijamin oleh hukum. Hasil akhirnya adalah sistem ketertiban yang menjadi landasan pelaksanaan kekuasaan serta ditetapkannya asas-asas keadilan
Institusionalisme melihat bahwa pemerintah harus dibatasi oleh konstitusi agar efisien, namun tetap memungkinkan untuk bertindak. Perlu ada pengawasan dari badan legislatif yang dipilih melalui pemungutan suara. Agar efektif, pemungutan suara harus diorganisir oleh partai-partai politik melalui persaingan damai. Untuk itu, diperlukan suatu sistem pemilu dimana rakyat dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang seberapa besar kemampuan parpol dalam menjawab persoalan yang mereka hadapi. Jadi, unsur-unsur utama paham ini adalah memaksimalkan konsep kebebasan dan ketertiban, dan karena itulah diperlukan konstitusi. Dalam konstitusi diatur mengenai sejumlah prinsip pemerintahan demokratis dan pembagian kekuasaan yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Dengan kata lain, konstitusi berfungsi sebagai hukum dasar bagi suatu rezim pemerintahan yang merupakan perwujudan legitimasi.32
Ciri terpenting konstitusi adalah distribusi kekuasaan33 dan sekaligus pula merupakan kontrak sosial yang menentukan kondisi-kondisi dimana kedaulatan rakyat diperluas hingga mencapai wakil mereka. Ada dua asas dalam konstitusi yang harus ada agar dapat melahirkan pemerintahan yang akan membuat undang-undang dan kebijakan yang sesuai dengan keinginan mayoritas; pertama, asas persaingan, agar persaingan tidak menjurus ke arah yang tidak sehat, ditetapkan suatu lingkungan ekonomi dan politik dimana kepentingan swasta melayani kepentingan publik yaitu melalui pemilihan. Kedua, pengawasan dan penyeimbangan: melalui pemisahan kekuasaan antara badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif; atau melalui pengawasan parlemen terhadap eksekutif. Dengan kata lain doktrin persaingan menerjemahkan politik ke dalam pemilihan, persaingan antara partai, dan pengawasan dan penyeimbangan yang diselenggarakan melalui pemisahan kekuasaan oleh
32David E. Apter, Pengantara Analisa Politik..., 216- 219.
33Dalam konstitusi Amerika dan Prancis, pembagian kekuasaan diuraikan secara rinci. Namun di Inggris, tidak ada satu piagam seperti halnya di Amerika dan Prancis. Meski demikian, di Inggris ada beberapa perangkat konstitusional seperti Magna Carta. David E. Apter, Pengantara Analisa Politik..., 223.
130|UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
badan-badan pemerintahan atau melalui pengawasan kekuasaan eksekutif oleh parlemen.34
Pendekatan institusionalisme dalam sejarahnya berkembang menjadi yang disebut institusionalisme baru. Seperti dijelaskan Budihardjo, berbeda dengan institusionalisme awal yang mengulas lembaga-lembaga negara secara statis, institusionalisme baru memandang negara sebagai hal yang bisa diperbaiki ke arah tertentu seperti membangun masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.35 Perbedaan lain dengan institusional lama adalah model baru lebih tertuju pada analisis ekonomi, kebijakan fiskal dan moneter, pasar dan globalisasi ketimbang pada masalah konstitusi yuridis.36 Karena itu, institusionalisme baru merupakan visi yang meliputi beberapa pendekatan seperti sosiologi dan ekonomi. Bagi kaum institusional baru masalah pokok adalah bagaimana membentuk institusi yang dapat menghimpun secara efektif preferensi dari aktor untuk menentukan kepentingan kolektif.37 Mark C. Miller menyatakan banyak ahli hukum menganut pendekatan neo-institusionalisme karena tradisionalisme memiliki akar dalam pendekatan hukum dan filsafat.38
34David E. Apter, Pengantara Analisa Politik..., 216- 219. 35Miriam Budihardjo, Dasar-Dasar ilmu Politik..., 96.
36Inti dari institusional baru adalah aktor dan kelompok melaksanakan proyeknya dalam suatu konteks yang dibatasi secara kolektif. Pembatasan-pembatasan itu terdiri dari institusi-institusi yaitu (a) pola norma dan pola peran yang telah berkembang dalam kehidupan sosial, dan (b) perilaku dari mereka yang memegang peran itu yang telah ditentukan secara sosial dan mengalami perubahan terus menerus. Pembatasan-pembatasan itu dalam banyak hal memberi keuntungan bagi individu atau kelompok dalam mengejar proyek mereka masing-masing. Miriam budiarjdo, Dasar-Dasar ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), 100. Lihat juga Robert E. Goodin, ‚Institustions and Theory Design‛ dalam Theory of Institutional Design, Robert E. Goodin, ed. (Cambridge: Cambridge University Press,1996), 20.
37Rizki Febari menjelaskan bahwa institusionalisme menekankan bahwa institusi politik memiliki peran yang lebih otonom. Hal ini bertolak dari asumsi paradigma institusionalisme yang menekankan bahwa otonomi dalam politik merupakan hal yang penting, karena institusi-institusi bukan hanya cerminan kekuatan-kekuatan sosial, tetapi institusi politik juga memengaruhi distribusi sumber daya politik. Rizki Febari, Politik Pemberantasan Korupsi: Strategi ICAC Hong Kong dan KPK Indonesia (Jakarta:2015,Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), 18-19.
38Hall menyebut ada tiga cabang neo-institusionalisme yaitu pilihan rasional, sosiologis, dan neo-institusionalisme historis. Neo-institusionalisme pilihan rasional berakar dalam analisis ekonomi dan teori formal. Jenis institusionalisme ini memandang institusi sebagai suatu sistem aturan dan insentif. Dalam aliran pilihan rasional ini kemudian muncul pendekatan strategis yang populer dikalangan ahli yudisial. Sementera neo-institusionalisme sosiologis berakar dalam teori organisasi, antropologi, dan budaya. Jenis aliran sosiologis ini
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta|131 Secara historis, belakang institusionalisme baru menurut Budihardjo bertolak dari behavioralisme, dimana aliran terakhir ini melihat politik dan kebijkan publik sebagai hasil dari perilku massa, kelompok dan pemerintah sebagai institusi yang mencerminkan kegiatan masa.39 Meski demikian, menurut Mark C. Miller genealogi institusionalisme baru adalah tradisionalisme awal yang mendominasi ilmu politik terutama yang dipraktikkan oleh Amerika Serikat dekade 1930-1950.40 Disebutkan bahwa tatkala ilmu politik muncul sebagai bidang terpisah dari ilmu hukum, ilmu politik ini menekankan kajian mengenai tataran formal-legal sebagai materi subjek eksklusifnya. Kajian-kajian ini sering kali bersifat deskriptif dan sebagian besar menggunakan metode-metode kualitatif dan tidak menggunakan teori-teori besar. Selain itu lanjut Miller, tradisionalisme sering kali bersifat normatif dalam mengurai bagaimana institusi politik harus berfungsi, yang diposisikan berlawanan dengan kajian empiris mengenai bagaimana sesuatu itu sebenarnya bekarja dalam praktik.41
Akhirnya, terlepas dari perkembangan institusionalisme tersebut, pendekatan tradisionalisme yang meliputi normatif institusional memiliki kekurangan. Budi Winarno menyebut tradisionalisme kurang mencurahkan perhatian pada hubungan antar struktur antara lembaga-lembaga pemerintah dan subtansi kebijakan publik. Pendekatan ini lebih menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah secara khusus seperti struktur dan organisasi.42 Walaupun begitu, penjelasan-penjelasan tersebut menurut Miftah juga tidak diikuti secara sistematis meneliti pengaruh karakteristik lembaga-lembaga dengan hasil kebijakan publik. Begitu juga menurutnya menekankan gagasan budaya institusionalisme dan memandang aturan, norma, dan struktur institusi dikonstruksi oleh budaya. Mark C. Miller, ‚Neoinstitusionalisme‛ dalam John T. Ishiyama dan Marijke Breuning (ed.), Ilmu Politik Dalam Paradigma Abad Kedua Puluh Satu terjemahan Ahmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Kencana, 2013), 37. Lihat juga Peter A Hall, and Rosemary CR Taylor. "Political Science and the Three New Institutionalisms." Political studies 44.5 (1996): 936-957.
39Miriam budiHardjo, Dasar-Dasar ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008). 96.
40Mark C. Miller, ‚Neoinstitusionalisme‛ dalam John T. Ishiyama dan Marijke Breuning (ed.), Ilmu Politik Dalam Paradigma Abad Kedua Puluh Satu
terjemahan Ahmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Kencana, 2013), 35.
41Mark C. Miller, ‚Neoinstitusionalisme‛ dalam John T. Ishiyama dan Marijke Breuning (ed.), Ilmu Politik Dalam Paradigma Abad Kedua Puluh Satu
terjemahan Ahmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Kencana, 2013), 35.
42Lihat Budi Winarno, Teori dan Proses Kebijakan Publik (Yogyakarta: Media Pressindo, 2007), 53. Morton A. Kaplan, "The New Great Gebate: Traditionalism vs. Science in International Relations." World Politics 19.1 (1966): 1-20. http://www.jstor.org/stable/2009840 (Accessed: 22-03-2018 12: 49). Lihat juga Barry Buzan, Ole Wæver, and Jaap De Wilde, Security: A New Framework forAanalysis (Lynne Rienner Publishers, 1998).
132|UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pendekatan tradisional terlalu sempit dan tidak produktif.43 Kritik yang sama juga diungkapkan oleh Miriam dimana pendekatan tradisional menurutnya kurang memberi peluang bagi terbentuknya teori-teori baru. Sebab, pembahasan terbatas pada negara-negara demokrasi Barat seperti Inggris, Amerika, Belanda, dan Jerman. Begitu juga ia menyebut tradisional lebih bersifat statis dan deskriptif daripada analitis dan lebih banyak menggunakan pendekatan sejarah.44 Dalam penjelasan Apter, kaum institusionalis mengalami dilema karena kesepakatan akan sulit dicapai kalau unit dan peran serta terlalu banyak, apalagi dalam masyarakat yang lebih kompleks, dimana orang akan semakin kurang setuju dan kurang terlibat dengan masalah yang menyangkut pergeseran prinsip-prinsip.
Corak pendekatan tradisional sebagai suatu kerangka dalam disiplin ilmu politik seperti yang dideskripsikan di atas akan terlihat jelas dalam narasi-narasi an-Na’im ketika menjelaskan bagaimana mengatur hubungan organis antara Islam dan politik. Misalnya, fokus an-Na’im pada negara modern yang disebut negara sekular, begitu juga penekanan pembahasan an-Na’im tentang konstitusionalisme, hak asasi manusia, dan kewarnegaraan merupakan bukti penerapan pendekatan tradisionalisme, normatif dan institusional. Bahkan, secara spesifik dapat dikatakan penekanan an-Na’im pada persoalan legitimasi dan otonomi negara serta pengakuan dan penghargaannya terhadap peran warga negara dalam proses politik bukan hanya menunjukkan sifat pendekatan normatif dan institusional, tetapi sekaligus menunjukkan pula ia sekaligus bersinggungan dengan pendekatan institusionalisme baru dan pendekatan pluralisme. Dengan demikian, upaya an-Na’im mengonstruksi relasi Islam dan negara serta politik masih relevan karena tidak keluar dari kosentrasinya di bidang hukum, terutama bila dilihat dari titik tolaknya adalah persoalan hukum publik shari’ah.