• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pilar Ketiga: Kejujuran

Dalam dokumen Tasawuf DALAM LINTASAN SEJARAH (Halaman 139-143)

IKHLAS DAN JUJUR

III. Pilar Ketiga: Kejujuran

kejujuran adalah kesempurnaan ikhlas. allah Swt. berfirman, ”ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada allah ...“ (Q.s. al-ahzab: 23).

nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang jujur dan membiasakan diri berlaku jujur, maka dicatat di sisi allah sebagai orang yang sangat jujur.” (H.R. Bukhari-Muslim).

kisah Ibrahim di dalam alkitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (sangat jujur) lagi seorang nabi.” (Q.s. Maryam:41).

ada enam tingkatan kejujuran. Orang yang mencapai derajat kejujuran yang sempurna layak disebut sebagai orang yang benar-benar jujur, antara lain:

Pertama, jujur dalam perkataan, di setiap situasi, baik yang berkaitan dengan masalalu, kini dan yang akan datang. kejujuran ucapan ini punya dua sisi kesempurnaan:

Waspada terhadap ucapan yang bersifat pamer. Walaupun ucapan itu sendiri benar adanya, tapi dipahami sebagai lawan kata dan kebenaran. kedustaan yang diwaspadai dipahami sebagai lawan kebenaran, sebab hati mendapatkan bentuk kedustaan yang berasal dari dusta lisan.

Dan bila arah hati telah bergeser dari kebenaran menuju arah yang menyimpang, maka kebenaran itu tidak dapat mengejawantah pada hati secara benar, sehingga penglihatan-penglihatan hati tidak benar/ jujur pula.

Penampakan amal itu tidak masuk dalam kategori ini sebab ia sendiri merupakan kejujuran, atau suatu hal yang benar adanya. namun, penampakan amal itu terjerumus dalam larangan.

Masa bodoh terhadap arti ucapan. Ini tidak seharusnya dilakukan, kecuali dengan tujuan yang benar.

Penyempurnaan sisi kedua ini adalah hendaknya memelihara kejujuran dalam seluruh pembicaraan bersama allah Swt. Jadi, ketika mengucapkan, ”aku hadapkan wajahku,” kemudian dalam hatinya terbetik sesuatu selain allah, maka dia itu adalah pendusta.

Selanjutnya, pada saat mengucapkan, “kepada-Mu aku menyembah,” padahal dirinya adalah budak dunia atau budak hawa nafsunya, atau budak orang lain, tentu sulit sekali pembenaran ucapan itu pada hari kiamat nanti.

karena itulah, nabi Isa as. berkata, “Wahai budak dunia!”

Dan nabi Saw. kita bersabda: “Celakalah hamba dirham dan hamba dinar!” (al-Hadis).

kedua, kejujuran dalam niat. Hal itu berupa pemurnian, yang menjurus pada kebaikan. Jika di dalamnya terdapat unsur campuran lainnya, berarti kejujuran kepada allah Swt. telah sirna. karenanya, orang semacam itu disebut, “Si jujur bermuka masam, dan si jujur bermuka manis”.

apabila murni, hal itu dikembalikan pada substansi keikhlasan itu sendiri.

ketiga, kejujuran dalam bertekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rezeki. Juga bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. namun adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tapi juga merupakan kemauan bulat yang tanpa keragu-raguan. Orang yang mempunyai tekad yang bulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.

keempat, memenuhi tekad. Seringkali jiwa dibanjiri dengan kemauan yang kuat pada mulanya, tapi ketika menginjak tahap pelaksanaan, bisa melemah. karenajanji tekad yang bulat itu mudah, namun menjadi berat ketika dalam pelaksanaan.

Oleh karena itu, allah Swt. berfIrman: ”ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada allah.” (Q.s. al-ahzab: 23).

allah swt. juga berfirman: “Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada allah, ‘Sesungguhnya jika allah memberikan sebagian karunia-nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah ... dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui allah, karena mereka telah memungkiri terhadap allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-nya dan (juga,) karena mereka selalu berdusta.” (Q.s. at-Taubah: 75-77).

kelima, kejujuran dalam beramal. Tidak mengekspresikan hal-hal batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. artinya, perlu adanya keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Orang yang berjalan tenang misalnya, menunjukkan bahwa batinnya penuh dengan ketentraman. Bila ternyata tidak demikian, dimana kalbunya berupaya untuk menoleh kepada manusia, seakan-akan batinnya penuh dengan ketentraman, maka hal itu adalah riya’. Sebaliknya, bila hatinya tidak berpaling kepada manusia, tapi tiba-tiba lalai,

itu bukanlah riya’. namun dengan demikian, kejujuran menjadi sirna, karenanya Rasulullah Saw. pun berdoa: “ya allah, jadikanlah batinku lebih baik daripada lahirku, dan jadikanlah untukku ekspresi lahir yang baik.”

abdul Wahid berkata, “Hasan Bashri adalah orang yang paling tekun melakukan amal yang diperintahkan, dan paling keras meninggalkan sesuatu yang dilarang. aku belum pernah menyaksikan orang yang batinnya sama dengan lahirnya.”

keenam, kejujuran dalam maqam-maqam agama. Ini adalah peringkat kejujuran tertinggi. Seperti maqam takut (khauf), harapan (raja’), cinta (hubb), ridha, tawakal dan lain-lain.

Seluruh maqam tersebut memiliki titik tolak, hakikat dan puncak akhir (klimaks). Sebab dinyatakan pula, “Ini adalah rasa takut yang benar (al-khaufus-shadiq)”, dan, ”ini ada!ah kesenangan yang jujur/ benar (as-syahwah as-shadiq)”. Itu!ah sebabnya allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada allah dan Rasul-nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. al-Hujurat: 15).

Firman-nya pula: ”akan tetapi, sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan

salat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); ....“ (Q.s. al-Baqarah: 177).

Inilah tingkatan-tingkatan kejujuran. Orang yang mampu mewujudkannya secara keseluruhan, dialah orang yang benar-benar jujur. Orang yang belum mampu mencapai sebagian peringkat kejujuran, tingkatan dirinya sesuai dengan kadar peringkat kejujuran yang telah digapainya.

Di antara sejumlah kejujuran adalah, pembenaran kalbu bahwa allah Swt. adalah Maha Pemberi rezeki, dan bertawakal kepada-nya. Inilah yang perlu kita ingat!

allah Swt. berfirman,

“Dan hanya kepada allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. al-Maidah: 23).

“Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-nya.” (Q.S. ali Imran: 159).

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada allah, niscaya allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.S. ath-Thalaq: 3).

Firman-nya pula: “Bukankah allah cukup untuk melindungi hamba-hambanya?” (Q.S. az-Zumar: 36).

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain allah itu tidak mampu memberi rezeki kepadamu; maka

mintalah rezeki itu di sisi allah.” (Q.S. al-‘ankabut: 17). Rasulullah Saw. bersabda, “andaikata kamu sekalian bertawakal kepada allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: Pergi waktu pagi dalam keadaan lapar dan datang (pulang) waktu sore dalam keadaan kenyang.”

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa mempergunakan seluruh waktunya untuk allah, niscaya allah mencukupkan seluruh kebutuhan makan minumnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkasangka. Dan barangsiapa mempergunakan waktunya untuk (urusan/kepentingan) duniawi, niscaya allah menjadikan ia patuh pada dunia (urusan duniawi).”

Jika keluarga Rasulullah Saw. ditimpa kesengsaraan (kemiskinan), beliau bersabda, “Dirikanlah salat!” seraya menambahkan, “Beginilah Tuhanku memperintahkan aku. Dia berfirman, ‘Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezeki kepadamu. kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa’.” (Q.S. Thaha: 132).

Dalam dokumen Tasawuf DALAM LINTASAN SEJARAH (Halaman 139-143)