• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yudi Nurul Ihsan

B. Produksi Perikanan

Dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor perikanan an-tara lain menurunnya produksi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Salah satu penyebabnya adalah turun-nya permintaan dari luar negeri (± 30-40%), sehingga menyebabkan gudang penyimpanan penuh sehingga peru-sahaan mengurangi suplai bahan baku. Pembatasan trans-portasi dan pekerja di pabrik mengurangi kapasitas penye-rapan ikan dari nelayan dan juga pengurangan output produksi (±10%). Solusi terbaik dari pihak ahli adalah mengalihkan produksi ikan menjadi pengolahan. Diberita-kan bahwa permintaan ekspor iDiberita-kan berubah drastis dari ikan segar menjadi produk kalengan, namun di Indonesia masih sedikit perusahaan pengolahan ikan. Kesulitan dalam pengiriman bahan baku menjadi penyebab menumpuknya produk ikan di gudang. Masalah sistem, koordinasi, dan aturan juga menjadi penghambat distribusi pasar. Potensi mengolah bahan baku impor (dari luar negeri atau luar

wilayah) terhambat oleh lamanya proses tes Covid-19 dan juga proses karantina selama 14 hari, serta biaya yang tidak sedikit. Para nelayan juga mengurangi waktu melaut dikare-nakan adanya pembatasan gerak di pelabuhan (proses karantina sebelum bersandar).

Perusahaan BUMN dipercaya untuk mengendalikan dampak Covid-19 pada bidang perikanan. Salah satu peru-sahaan perikanan terbesar di Indonesia yaitu PT. Perindo telah menerima suntikan dana sebesar 13 Triliyun untuk mengendalikan pasar. Perusahaan ini gencar dalam menja-lankan program-program yang telah disusun sejak lama.

Namun dalam prosesnya, masih banyak produk perikanan di daerah-daerah terpencil yang belum terjamah. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan se-hingga kesulitan dalam proses pendataan 100% sese-hingga berpengaruh di tiap pelosok. Pendataan yang sulit akibat PSBB dan pengendalian transportasi di jalanan menyebab-kan distribusi pasar pun sangat terhambat. Berikut adalah upaya yang dilakukan oleh PT. Perindo dalam menghadapi pandemi Covid-19:

1. Meningkatkan Usaha Perdagangan; meningkatkan penju-alan secara online untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam berbelanja melalui blanja.com dan meningkatkan penjualan ritel di perumahan-perumahan.

2. Terlibat dalam Program Jaring Pengaman Sosial; mene-rima penugasan dari Kemenko Perekonomian menjadi offtaker hasil nelayan dan petambak sebanyak 3.000 ton/bulan.

3. Siap menjadi pelaku sistem resi gudang untuk menam-pung hasil tangkapan nelayan yang melimpah. Perum Perindo mengelola 15 cold storage dari Aceh sampai Papua dengan kapasita total 4.170 ton.

Gambar 1. Sebaran Cold Storage (CS) milik PT. Perindo yang Tersebar Di Indonesia

(Sumber: ISKINDO: Webinar Pelaksanaan Jaring Pengaman Sosial Bagi Nelayan dan Pekerja Perikanan, 22 April 2020)

4. Ikut dalam Program Warung Tetangga sebagai pemasok bahan pangan dengan sistem online yang dikoordinir PT.

BGR.

5. Mengupayakan penyediaan freezer agar UMKM yang ter-gabung dalam program Warung Tetangga dapat menjual ikan dan daging segar maupun beku.

6. Akan bekerja sama dengan Kementerian Desa untuk si-nergi dengan BUMDes.

7. Percepatan rencana kerja sama pengelolaan produksi benih udang, baik kerja sama dengan swasta maupun KKP.

Hampir semua sektor industri perikanan di Indonesia sudah tidak beroperasi secara optimal. Rata-rata industri di sektor perikanan dapat beroperasi hanya 20 - 30 %, paling tinggi dapat beroperasi dengan angka 50%. Pandemi saat ini membuat situasi menjadi pelik, para nelayan terpaksa tidak pergi melaut dan para karyawan industri di sektor perika-nan terpaksa di rumahkan bahkan di PHK (Pemutusan

Hubungan Kerja). Jika para nelayan melaut, harga jual ikan akan menurun sedangkan untuk bahan makanan dan harga bahan bakar kapal semakin membengkak. Akibatnya para nelayan akan mengalami kerugian jika tetap dipaksakan untuk melaut.

Dilihat dari segi perusahaan, banyak tanggungan yang dihadapi oleh pengusaha industri skala menengah ke atas seperti pembayaran pajak, tanggungan gaji karyawan yang di-PHK dan di rumahkan, serta untuk pembayaran listrik.

Kerugian paling nyata dirasakan oleh industri skala kecil dan menengah yang terdampak secara langsung oleh Covid-19.

Mereka kesulitan untuk mendistribusi ikan ke pasar-pasar atau penjual ikan bahkan untuk ekspor karena berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kabupaten dan kota hampir di seluruh kawasan Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, seluruh sektor perikanan di duniapun mengalami hal yang sama. Komisaris bidang perikanan Eropa, Sinkevičius, menyatakan bahwa pandemi Covid-19 menye-babkan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang sangat parah. Sektor perikanan dan akuakultur sangat terpukul oleh gangguan pasar, karena permintaan telah mengalami penurunan mendadak serta rantai pasok hasil tangkapan nelayan menghadapi tekanan seperti pengiriman ikan yang terhambat.

Kebijakan pemerintah saat ini belum merata sampai ke daerah-daerah, sehingga mengakibatkan adanya penurunan produksi dan proses pemasaran yang tersendat. Para nela-yan belum bisa melakukan pemasaran produk secara daring karena terbatasnya pengetahuan mereka. Walaupun saat ini pemerintah Indonesia mempunyai kebijakan untuk harga ikan supaya stabil, namun manfaatnya belum dapat dirasa-kan secara maksimal bagi nelayan kecil. Terjadinya ketidak-stabilan harga di kota maupun di kabupaten disebabkan

karena diberlakukannya PSBB yang membuat distribusi terhambat. Komoditas perikanan yang paling besar meng-alami penurunan harga adalah cumi-cumi, ikan karang, kepiting, pelagis kecil dan beberapa jenis udang penaeid.

Penurunan harga dalam kurun waktu Januari-Maret 2020 terjadi pada sentra pelabuhan perikanan yang berada di Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Sedangkan sentra perikanan yang berada di wilayah Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku-Papua tidak menunjukkan perubahan harga yang berarti. Ini merupakan periode pertama untuk dapat mengukur sejauh mana dampak pandemi. Ini meru-pakan periode kritis dalam pemenuhan ketahanan pangan.

Gambar 2. Ketersediaan dan Stabilitas Harga Komoditas Perikanan di Pelabuhan Perikanan

Sumber: (ISKINDO: Webinar Pelaksanaan Jaring Pengaman Sosial Bagi Nelayan dan Pekerja Perikanan, 22 April 2020)

Pasokan ikan diperkirakan akan melambat dan tidak meningkat seperti triwulan sebelumnya. Penurunan produk-si serta permintaan konsumen terhadap harga haproduk-sil laut dan gangguan yang terjadi dalam rantai pasok makanan laut menimpa semua negara berkembang termasuk Indonesia.

Gambar 3. Impor Udang Negara Amerika

Sumber: (ISKINDO: Webinar Pelaksanaan Jaring Pengaman Sosial Bagi Nelayan dan Pekerja Perikanan, 22 April 2020)

Salah satu contohnya yaitu di Negara Amerika yang memiliki tren menurun saat pandemi menerpa negara ini.

Orlowski (2020) menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah mengguncang seluruh industri makanan laut, di mana per-mintaan akan makanan laut segar telah merosot dikarena-kan restoran, hotel, dan bisnis katering tutup. Perdagangan pun ikut goyah karena adanya pembatasan transportasi untuk memindahkan suatu produk. Dampak pandemi telah berevolusi ketika virus telah menyebar ke seluruh dunia dan tren berubah dari minggu ke minggu seiring semakin banyak negara yang terkunci. Tantangan transportasi dan logistik yang terkait dengan system lockdown meningkatkan biaya dan penundaan yang memengaruhi keberlangsungan industri perikanan.

Selain menimpa Indonesia, dampak dari Covid-19 juga di rasakan di Negara India yang menyebabkan Negara India tidak bisa melakukan produksi dikarenakan adanya sytem lockdown. Produksi perikanan di Equador pun menu-run 50 % karena banyak karyawan yang tidak masuk.

Negara Vietnam dan Thailand juga sudah mulai melaksana-kan panen dini dan tunda tebar konsumen. Ditambahmelaksana-kan lagi menurut Pitoyo, di Amerika Serikat banyak food service yang tidak beroperasi, grafik penurunan karyawan yang

besar dan harga menurun tajam karena over-supply. Negara China dan Afrika pun mengalami pengurangan kegiatan penangkapan sekitar 80%. Banyak nelayan kehilangan modal dimasa pandemi yang mungkin menyebabkan mereka tetap tidak dapat beroperasi setelah pandemi berakhir. Selain itu, banyak fenomena illegal fishing yang terjadi, karena tidak adanya patroli dan pengawasan. Contohnya seperti di Negara Kanada yang sudah membuat kebijakan per 3 April dengan mengumumkan tidak perlu ada observer di atas kapal 45 hari hingga akhir Mei, sehingga resiko pada ketertelusuran bisa dipantau.

Ikan dan makanan akuatik lainnya adalah bagian pen-ting dari sistem pangan global kita dan kelompok makanan bergizi tinggi. Gangguan dalam rantai pasokan untuk ikan dan makanan laut menyebabkan turunnya produksi karena berkurangnya upaya penangkapan ikan. Menurunnya per-mintaan konsumen dan meningkatnya biaya transaksi akan memiliki efek yang akan mendorong harga ikan dan makanan laut akan naik dan membuatnya tidak bisa ter-jangkau untuk konsumen miskin. Banyak orang yang dipe-kerjakan dalam rantai ini, seperti pedagang ikan, pengolah, pemasok atau pekerja transportasi akan kehilangan peker-jaan mereka. Mekanisme memperoleh ikan selama pandemi Covid-19 diarahkan ke aktivitas daring/online. Bila aktivitas ini berjalan baik hingga ke retail kecil yang menjangkau hingga masyarakat, diperkirakan aktifitas penangkapan ikan tidak akan terganggu.