• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikan sebagai Sumber Protein Hewani Memiliki Peran yang Sangat Penting bagi Ketahanan Pangan Nasional

PROTEIN DI MASA PANDEMI COVID Ifah Munifah

C. Ikan sebagai Sumber Protein Hewani Memiliki Peran yang Sangat Penting bagi Ketahanan Pangan Nasional

Salah satu masalah dunia saat ini adalah masalah penye-diaan bahan makanan bagi jumlah penduduk yang semakin bertambah terutama bagi Negara berkembang seperti Indonesia. Untuk menjaga imunitas tubuh diperlukan nutrisi dan gisi yang seimbang, selain juga diperlukan aktivitas olahraga. Nutrisi dapat dipenuhi dari olahan pangan yang mencakup karbohidrat, lemak, protein, buah-buahan dan sayuran. Kekurangan bahan makanan akan mengakibatkan kekurangan zat gizi tertentu seperti protein pada kasus kekurangan protein, ironisnya banyak sekali kasus yang diakibatkan oleh kurangnya konsumsi protein hewani.

Negara Indonesia adalah negara bahari memiliki sum-ber daya perikanan justru saat ini masih banyak mengalami malnutrisi salah satunya adalah KKP (Kekurangan Kalori Protein). Selain itu juga masih banyak mengalami keku-rangan vitamin A, dan unsur mineral seperti iodium. Peme-nuhan protein dapat berupa protein yang berasal dari tumbuhan (nabati) maupun berasal dari hewan. Protein dari tumbuhan, berupa kacang kacangan dan produk oalahannya seperti tempe, tahu, susu kedelai, keripik, tempe dan jamur.

Protein hewani umumnya diperoleh dari telur, susu sapi dan turunannya berupa keju, daging dan ikan. Indonesia meru-pakan negara bahari yang mempunyai potensi kelautan yang sangat besar dan produksi perikanan peringkat ke-13 terbesar di dunia. Sayangnya dengan jumlah penduduk Indonesia yang 237 juta jiwa jauh lebih banyak jika diban-dingkan Malaysia, angka tingkat konsumsi ikan Indonesia

saat ini masih sangat rendah bahkan berada di bawah Malaysia. Padahal laut kita menyediakan ikan yg merupakan sumber protein hewani, vitamin A, dan Iodium terutama jika dikonsumsi saat masih segar. Ikan merupakan sumber pangan yang mengandung omega 3 dan 6 dalam jumlah tiggi sehingga dianjurkan untuk banyak mengonsumsi ikan selain untuk mengatasi ancaman kekurangan protein.

Jenis ikan seperti tuna, tongkol, kembung, dan lemuru merupakan sumber asam lemak tak jenuh, taurin dan asam lemak omega-3. Komponen tersebut telah terbukti dapat mencegah penyumbatan pembuluh darah (arteriosclerosis), oleh karena itu banyak orang berpendapat untuk mening-katkan konsumsi protein harian (daily protein intake) terutama yang berasal dari ikan (Winarni et al., 2003).

Sumber protein hewani dari ikan dapat menjadi alternatif bahan pangan. Ikan memiliki keunggulan, yakni pertama relatif lebih murah daripada sumber protein hewani lainnya seperti daging sapi atau ayam kampung, kedua tersedia banyak pilihan yaitu ikan tawar, maupun ikan laut.

Ikan menjadi salah satu hewan yang dijamin keha-lalannya, sehingga memudahkan kita dalam mengkonsumsi.

Berbeda dengan jenis hewan darat seperti ayam, sapi, kambing dan lainnya yang perlu disembelih sehingga pada proses yang tidak diketahui dan tidak transparan tidak dapat dipastikan kehalalannya. Ini menjadi salah satu ma-salah pokok terutama bagi kaum muslimin. Komposisi protein hewani pada ikan sebenarnya tidak terlalu berbeda sumber lainnya. Namun, ikan lebih menyehatkan karena mengandung lemak tak jenuh. Selain itu, ikan juga mengan-dung omega, yodium, selenium, fluorida, zat besi, magne-sium, zat besi, taurin, serta coenzyme Q10. Kandungan omega-3 pada ikan jauh juga lebih tinggi dibanding sumber protein hewani. Diketahui hasil penangkapan ikan seluruh

dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton per tahun, belum termasuk ikan yang dibudidayakan. Ini meng-gambarkan stok ikan yang cukup melimpah dan dimung-kinkan menjadi penyokong kebutuhan protein hewani bagi umat manusia.

Komoditas ikan baik budidaya maupun alam, sebagai sumber protein hewani memiliki peran yang sangat penting bagi ketahanan pangan nasional. Peningkatan produksi per-ikanan setiap tahun turut serta mendukung penyediaan protein hewani untuk peningkatan gizi masyarakat. Komo-ditas ikan selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dapat juga sebagai bahan baku non pangan yakni mampu menghasilkan produk kesehatan, kosmetik, pakan ternak, pupuk, dan sebagainya. Pemanfaatan yang bervariasi terse-but sangatlah meungkinkan karena ikan memiliki struktur histologi dan komposisi kimia yang bervariasi. Namun, keunggulan komposisi tersebut mudah mengalami keru-sakan akibat perlakuan, fisik, sinar matahari, peningkatan suhu dan sebagainya. Oleh karenanya pengetahuan bahan baku hasil perikanan wajib dipelajari sehingga dapat diman-faatkan secara optimal.

1. Pengertian Ikan

Definisi ikan dalam arti luas menurut Undang-undang Perikanan no 45 tahun 2009 bahwasanya ikan merupakan semua jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam ling-kungan perairan (E learning pusdik kkp, 2018). Ikan atau hasil perikanan yang memiliki keragaman secara biologi, karakteristiknya fisik, kimia yang berbeda antara jenis yang satu dan yang lain.

Menurut penjelasan pasal 6 Undang-undang Per-ikanan no 45 tahun 2009, penggolongan jenis ikan terdiri dari ikan bersirip (pisces); udang, rajungan, dan kepiting

(crustacea); kerang, siput, tiram, gurita, dan cumi-cumi, (mollusca); ubur-ubur dan sejenisnya (coelenterata);

tripang, bulu babi, dan sebangsanya (echinodermata);

kodok dan sejenisnya (amphibia); buaya, biawak, ular air, penyu, kura-kura, dan sejenisnya (reptilia); paus, duyung, lumba-lumba, pesut, dan sebangsanya (mammalia); Rum-put laut dan tumbuhan yang hidupnya di dalam air (algae); dan biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut.

Penggolongan ikan berdasarkan tempat hidupnya dibagi menjadi 2 yaitu, pengelompokan jenis hasil per-ikanan hasil perper-ikanan laut dan hasil perper-ikanan darat.

Hasil perikanan darat terdiri dari perairan umum yang meliputi danau, sungai dan rawa; serta hasil perikanan budidaya meliputi kolam, tambak dan sawah. Sedangkan hasil perikanan laut dikelompokkan lagi berdasarkan tempat atau daerah kehidupannya, yaitu demersal, pelagic kecil, pelagis besar, andromus, katadromus, crustacea, berdaging lunak, dan micillaneous (E-learning pusdik kkp, 2018), dengan rincian sebagai berikut:

a. Golongan demersal. Ikan kod dan ikan haddock. Ikan ini adalah ikan yang berasal dari laut dalam.

b. Golongan pelagik kecil. Ikan parang-parang atau ikan herring, merupakan jenis ikan kecil yang hidupnya di daerah permukaan laut.

c. Golongan pelagik besar. Ikan tongkol, ikan sarden, ikan mackerel adalah termasuk golongan ini, merupa-kan jenis imerupa-kan besar yang hidupnya di permukaan laut.

Penyebarannya terutama di perairan dekat pantai, yaitu saat terjadi proses kenaikan massa air laut (up-welling) karena makanan utamanya berupa plankton.

Sumberdaya ini dapat membentuk biomassa yang sangat besar sehingga merupakan salah satu sumber

daya perikanan yang cukup melimpah di perairan Indonesia.

d. Golongan anadromus. Ikan anadromus ini adalah ikan bandeng dan ikan salem. Ikan ini adalah jenis ikan yang mula-mula hidupnya di laut lalu bermigrasi ke air tawar.

e. Golongan katadromus. Merupakan jenis ikan yang mula-mula hidupnya di air tawar kemudian migrasi ke laut lalu ke pertemuannya, misal: Belut laut.

f. Hasil perikanan berkulit keras(crustacean) adalah jenis hasil perikanan yang berkulit keras, misalnya, udang, lobster, kepiting, rajungan.

g. Hasil perikanan berdaging lunak. Golongan ini terdiri dari golongan Chepallopoda misalnya cumi-cumi, dan golongan Echinodermata misalnya: tiram dan golongan Anadonta misalnya: Kerang.

h. Hasil perikanan micillaneous, yang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas misalnya ubur-ubur.