Bidang III Pengembangan Area Transis
WAKIL KETUA BADAN KOORDINASI:
3.3.4 Relasi Kekuasaan Antar Aktor dalam Pemanfaatan Lahan Cagar Biosfer GSKBB
3.3.4.4 Relasi Kekuasaan Antar Aktor
Relasi kekuasaan dan mekanisme akses yang dijalankan oleh masing- masing aktor dalam menggunakan sumber daya lahan Cagar Biosfer GSKBB penting untuk dikaji. Banyak kasus di Indonesia, hak kepemilikan atas sumber daya tidak dapat ditegakkan oleh pemiliknya, sementara pihak yang tidak mempunyai hak justru dapat mengakses untuk menggunakan sumber daya tersebut, termasuk di Cagar Biosfer GSKBB. Menurut Ribot dan Peluso (2003), penguasaan suatu sumber daya oleh aktor ditentukan oleh akses yaitu kemampuan dalam konteks politik ekonomi untuk memperoleh manfaat atau keuntungan dari sesuatu, termasuk obyek material, orang, kelembagaan dan simbol.
Menurut Ribot dan Peluso (2003), mekanisme akses meliputi akses berbasis hak (rights-based access) yang dapat digunakan secara langsung untuk memperoleh manfaat dari sumber daya dan mekanisme akses struktural dan relasional (structural and relational acces mechanism) berdasarkan seperangkat kekuasaan (bundle of power) yang dimiliki, meliputi: teknologi, modal, pasar, tenaga kerja dan peluang tenaga kerja, pengetahuan, kewenangan, identitas sosial dan relasi sosial. Aktor yang memiliki kekuasaan yang lebih besar mampu mengendalikan aktor-aktor lainnya dalam memperoleh manfaat dari sumber daya. Menurut pendekatan Actor-Centred Power (ACP) (Krott et al. 2014), ada tiga sumber/elemen utama kekuasaan, yaitu pemaksaan (coercion), insentif atau
52
disinsentif, dan informasi yang dominan, dimana pemilikan salah satu elemen dapat sangat menentukan kekuasaan aktor dan sebaliknya aktor yang memiliki banyak sumber kekuasaan tidak berarti paling berkuasa.
Secara formal, pengaturan area inti dan sebagian besar zona penyangga Cagar Biosfer GSKBB berada di bawah rejim kepemilikan negara (state property) sebagai kawasan hutan, yang mana sumber daya di dalamnya dimiliki dan dikelola oleh organisasi pemerintah atau lembaga publik yang diberi kuasa oleh negara (Ellsworth 2004). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau merupakan aktor yang paling berkuasa di area inti Cagar Biosfer GSKBB, khususnya yang merupakan kawasan suaka margasatwa. Dengan menggunakan mekanisme akses berbasis hak (rights-based access), BBKSDA Riau mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya di wilayah ini. Lembaga ini mempunyai kekuasaan yang besar karena legalitas penggunaan kekuatan hukum (legal juridical power) yang berwenang membatasi pihak lain untuk memasuki dan memanfaatkan sumber daya di dalam kawasan suaka margasatwa, serta memaksa pihak lain untuk mengikuti aturan terkait pengelolaan suaka margasatwa. Namun, kekuasaan ini sering kurang berperan ketika menghadapi oknum aparat tentara dan polisi yang terlibat dalam pemanfaatan lahan atau perambahan kawasan di area inti Cagar Biosfer GSKBB. Hal ini karena keduanya mempunyai sumber kekuasaan berupa modal identititas sosial sebagai aparat penegak hukum dan aparat bersenjata yang ditakuti pihak lain. Selain itu, mereka juga mempunyai jejaring, komunikasi, hirarki kepemimpinan, dan saling kepercayaan di antara pelaku perambahan kawasan, sehingga dapat dipandang sebagai suatu bentuk modal sosial yang negatif (perverse social capital) sebagaimana terjadi pada pelaku penebangan liar (Nurrochmat et al. 2012) karena kegiatan perambahan kawasan pada umumnya merupakan tindak lanjut dari kegiatan penebangan liar.
Keterlibatan oknum tentara dalam pemanfaatan lahan di zona penyangga dan area inti Cagar Biosfer GSKBB baru terungkap setelah Presiden RI mengerahkan kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk bekerja keras mengendalikan kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau pada awal tahun 2014. Dampak asap yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan dan hutan tersebut sudah meluas hingga mengganggu hubungan pemerintah Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Pada 12 Maret 2014, Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan bersama aparat penegak hukum berhasil menangkap Serma S, oknum anggota TNI Angkatan Darat, yang melakukan penebangan liar dan perambahan kawasan SM Giam Siak Kecil dan daerah penyangganya karena dinilai telah memicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan7. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat Desa Bukit Kerikil, oknum aparat tentara tersebut tidak hanya berperan sebagai backing, tetapi sekaligus sebagai pelaku yang mengkoordinir penebangan dan perambahan di lapangan, serta bekerja sesuai pesanan pihak pemodal lain. Pelaku memanfaatkan kanal Go Tek sepanjang 25 km yang melintasi areal eks HPH PT Multi Eka Jaya untuk mengangkut kayu dari area inti Cagar Biosfer GSKBB menuju Desa Bukit Kerikil (Gambar 3.12a). Go Tek adalah nama perusahaan yang melakukan penebangan liar (illegal logging) pada tahun 1999-2005 di wilayah ini yang akhirnya kabur pasca keluarnya INPRES
7“Komandan Detasmen Polisi Militer (Dandenpom) TNI AD, …….
mengatakan oknum TNI AD Serma S sudah resmi ditahan sejak Rabu (12/3/2014) lalu” (pekanbaru.tribunnews.com 2014)
53 No. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia.
Perambahan kawasan hutan di SM Giam Siak Kecil dan wilayah di sekitarnya juga dilakukan oleh masyarakat pendatang dan melibatkan kepala desa setempat. Berdasarkan wawancara mendalam dengan aparatur pemerintahan desa dan warga masyarakat, Kepala Desa Bukit Kerikil89 dan Kepala Desa Tasik Serai10 telah ditahan karena didakwa memperjualbelikan lahan dan mengeluarkan surat keterangan tanah di kawasan hutan di dalam Cagar Biosfer GSKBB. Akibat kegiatan perambahan kawasan untuk perkebunan kelapa sawit tersebut, telah memicu kebakaran lahan dan hutan seluas ±1.800 ha di SM Giam Siak Kecil dan ±1.200 ha di daerah penyangganya di sekitar Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis pada bulan Februari - Maret 2014 (Gambar 3.12b)11.
a) b)
Gambar 3.12 Jalur penebangan liar dan perambahan kawasan di areal eks HPH PT Multi Eka Jaya di zona penyangga Cagar Biosfer GSKBB: a) Kanal Go Tek untuk transportasi kayu hasil tebangan liar, b) kebun kelapa sawit yang terbakar
Salah satu bukti keterlibatan oknum aparat polisi terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Siak terhadap pelaku perambahan kawasan hutan di zona penyangga dan area inti Cagar Biosfer GSKBB yang dilakukan oleh Kompol S, mantan Kapolsek Siak. PT Balai Kayang Mandiri yang mempunyai IUPHHK-HT di kawasan Hutan Produksi di zona penyangga Cagar Biosfer GSKBB melaporkan kasus penguasaan lahan perusahaan secara illegal tersebut ke
8 “
Disampaikan oleh Kapolres Bengkalis AKBP AW kepada Tribun kemarin, Kamis (14/11). Bahwa Kades Bukit Kerikil S ditetapkan sebagai tersangka setelah terbukti terkait dengan penandatanganan kepemilikan lahan di atas GSK” (Pekanbaru.tribunnews.com. 2013).
9 “
Kepolisian Daerah Riau menangkap Kepala Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, berinisial SI. Tersangka diduga menjual dan merambah lahan di Cagar Biosfer Giam
Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis”(m.tempo.co 2014).
10“
Usai sudah perjalanan aksi jual beli lahan yang masuk dalam Cagar Biosfer oleh Kepala Desa (Kades) Tasik Serai, U setelah Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kabut Asap
menangkapnya pada Jum'at (21/3/14)” (riauterkini.com 2014).
11 “Data lebih konkret dipaparkan Kepala Bidang 2 BBKSDA Riau, Supartono. Dia menyebut,
seluas 1.800 hektare zona inti Cagar Biosfer GSKBB telah terbakar dalam dua bulan ini. Jika termasuk zona penyangga dan transisi, maka totalnya mencapai 3.000 hektare” (m.riaupos.co 2014).
54
penegak hukum. Kasus yang sebenarnya sudah berlangsung lama tersebut baru dilaporkan oleh pihak swasta setelah melihat keseriusan Presiden RI dalam menanggulangi kebakaran lahan dan hutan hingga ke akar penyebabnya. Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Siak yang mengadili perkara tersebut menilai, bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perambahan kawasan hutan seluas 433,35 ha (meliputi 141,44 ha di SM Giam Siak Kecil, 52,60 ha di Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan 191,31 ha di Hutan Produksi (HP) yang bukan di peruntukan bagi perkebunan kelapa sawit12. Dalam sidang putusan 28 Mei 2015, Majelis Hakim menjerat terdakwa dengan Pasal 17 Ayat (2) huruf b jo Pasal 92 Ayat (1) huruf a UU Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan menjatuhkan vonis 3 tahun kurungan penjara dan denda Rp 1,5 miliar subsider 6 bulan kurungan penjara13. Di dalam persidangan perkara ini, ada beberapa nama anggota polisi lainnya yang disebut ikut membeli lahan di dalam kawasan cagar biosfer tersebut dari mantan Kepala Desa Buantan Besar, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak14. Selain diperoleh dari media massa, informasi keterlibatan oknum polisi tersebut juga dikumpulkan dari pewarta, saksi dari perusahaan pelapor, dan penasehat hukum terdakwa. Data dan informasi di atas menunjukkan bahwa keterlibatan oknum tentara dan polisi dalam perambahan kawasan hutan Cagar Biosfer GSKBB tidak hanya sebagai aktor di belakang layar (underlying actor), sebagaimana yang disebutkan oleh Nurrochmat et al. (2012) pada kasus penebangan liar, tetapi sekaligus sebagai pelaku langsung (direct actor) di lapangan.
Benturan kepentingan dalam pemanfaatan lahan antara masyarakat dengan pihak pemegang ijin konsesi juga terjadi, meskipun dengan latar belakang yang berbeda. Di dalam areal konsesi hutan tanaman PT Arara Abadi, terdapat permukiman dan lahan usaha masyarakat, yang tersebar di beberapa desa, yaitu: Bukit Kerikil, Tasik Serai, Tasik Serai Barat, Tasik Serai Timur. Tasik Tebing Serai, Melibur, Beringin, Lubuk Umbut, Tasik Betung, dan Bencah Umbai. Untuk mengurangi konflik di wilayah ini, Menteri Kehutanan telah mengeluarkan SK No. 703/Menhut-II/2013 tanggal 21 Oktober 2013 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 743/kpts-II/1996 mengenai addendum luas konsesi IUPHHK-HT PT Arara Abadi, sehingga mengeluarkan sebagian wilayah desa- desa tersebut dari areal kerja PT Arara Abadi. Namun, perubahan SK Menteri Kehutanan tersebut belum mengakomodir semua lahan-lahan yang telah diusahakan oleh masyarakat sehingga potensi konflik antara masyarakat dengan perusahaan masih cukup tinggi.
Konflik lahan antara masyarakat dengan PT Arara Abadi sudah terjadi sejak awal pembukaan lahan untuk HTI pada tahun 1994. Pada awalnya, konflik masih
12“Dari fakta persidangan yang diuraikan majelis, polisi mafia perkebunan itu menguasai lahan
seluar 433,35 Ha yang berada pada hutan suaka marga satwa Giam Siak Kecil seluas 141,44 Ha, di
Hutan Produksi Terbatas (HPT) sebesar 52,60 Ha dan di Hutan Produksi sebesar 191,31 Ha”
(kabarriau.com 2015).
13 “
Majelis hakim menilai, terdakwa Kompol S terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perambahan hutan yang bukan diperuntukkan perkebunan sawit. Karenanya, majelis hakim menjatuhkan vonis 3 tahun terhadap anggota Polri dan denda Rp 1,5 miliar subsider 6 bulan kurungan penjara” (oktimes.com 2015).
14“Selain itu, mantan Kepala Desa Buantan Besar yang dalam hal ini AR ju
ga harus diselidiki karena telah menjual lahan dan membuat Surat Keterangan Tanah yang tidak sesuai dengan
55 tertutup (laten) karena masyarakat takut terhadap tindakan represif perusahaan yang didukung oleh aparat negara. Konflik mulai mencuat (emerging) pasca reformasi pemerintahan Indonesia tahun 1998, masyarakat mulai berani mengambil kembali lahan-lahan yang diyakini sebagai bekas perladangan orang tua mereka. Konflik terbuka (manifest) antara masyarakat dengan PT Arara Abadi pernah terjadi pada tahun 2007 – 2008 (STR 2008). Pada kondisi konflik terbuka tersebut para pihak aktif dalam berkonflik (Malik et al. 2003). Masyarakat setempat dan pendatang didampingi oleh Serikat Tani Riau (STR) melakukan penebangan dan perambahan areal hutan tanaman seluas ±1.000 ha di Desa Melibur, Beringin, dan Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. STR merupakan LSM yang bergerak pada isu reforma agraria untuk mengembalikan tanah-tanah masyarakat yang dikuasai oleh perusahaan kehutanan, perkebunan, pertambangan, dll. Untuk menghentikan perusakan aset tanaman dan pendudukan kawasan hutan tersebut, SMF meminta bantuan Kepolisian Daerah Riau untuk melakukan penindakan dengan menurunkan personel lengkap pada 18-19 Desember 2008, sehingga akhirnya areal tersebut dapat kembali ditanami dengan hutan tanaman Eucalyptus pellita.
Relasi SMF dengan aparat keamanan terus dipertahankan untuk mengatasi konflik lahan dengan masyarakat. Pada tahun 2012 - 2013, masyarakat Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak secara berkelompok mengusahakan lahan seluas ±150 ha di lokasi yang mereka sebut sebagai Dusun Empahan (Gambar 3.13a). Masyarakat Desa Tasik Betung meyakini lokasi tersebut sebagai salah satu dusun yang sudah lama ditinggalkan oleh leluhurnya. Bukti berupa kuburan tua masih dapat ditemukan di sini (Gambar 3.13b), dan PT Arara Abadi pun tidak melakukan penanaman hutan tanaman di wilayah ini. Namun, pemegang ijin konsesi ini tidak rela terhadap kegiatan perkebunan karet dan kelapa sawit masyarakat tersebut karena dianggap illegal. Pada Februari 2014, bersama-sama dengan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan yang beranggotakan tentara, PT Arara Abadi melakukan tindakan pembasmian tanaman perkebunan masyarakat tersebut karena dianggap sebagai pemicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan di lokasi tersebut (Gambar 3.14).
a) b)
Gambar 3.13 Konflik pemanfaatan lahan di Dusun Empahan, Desa Tasik Betung, Kab. Siak di zona penyangga Cagar Biosfer GSKBB: a) Kebun kelapa sawit dan b) kuburan tua, di Dusun Empahan, Desa Tasik Betung, Kab. Siak di zona penyangga Cagar Biosfer GSKBB
56
a) b)
Gambar 3.14 Pembasmian tanaman perkebunan masyarakat di areal konflik: a) Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan melakukan persiapan di camp PT Arara Abadi Distrik Melibur (Duri 1), b) lahan konsesi PT Arara Abadi yang berbatasan dengan SM Giam Siak Kecil di Desa Tasik Betung dibakar oleh perambah (foto: BBKSDA Riau)
Gambaran di atas menunjukkan bahwa BBKSDA Riau dan pemegang ijin konsesi mempunyai kekuasaan yang besar untuk mempertahankan, dan mengendalikan akses terhadap penggunaan sumber daya lahan sebagian Cagar Biosfer GSKBB. Keduanya menjalankan mekanisme akses berbasis hak dan mekanisme akses struktural dan relasional berdasarkan seperangkat kekuasaan yang dimiliki, meliputi: teknologi, modal, tenaga kerja dan peluang tenaga kerja, pengetahuan, kewenangan, dan relasi sosial. Dengan relasi sosial yang dimiliki, mereka juga menggunakan sumber kekuatan dari luar untuk memperkuat legalitas penggunaan kekuatan hukum (legal juridical power) mereka, diantaranya dengan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Sementara itu, masyarakat petani hanya menjalankan mekanisme akses struktural dan relasional berdasarkan beberapa perangkat kekuasaan yang dimiliki, meliputi: modal, tenaga kerja, pengetahuan, dan identitas sosial. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat petani tidak kuasa untuk mempertahankan lahan yang sudah diusahakannya, jika BBKSDA Riau dan pemegang ijin konsesi mengambilnya kembali berdasarkan hak yang mereka miliki.
3.4 Simpulan
Aktor yang dominan menguasai dan memanfaatkan lahan di area inti Cagar Biosfer GSKBB adalah BBKSDA Riau, perusahaan pemegang ijin kehutanan mendominasi di zona penyangga, dan pemegang ijin perkebunan serta masyarakat petani mendominasi di area transisi. Sumber daya lahan Cagar Biosfer GSKBB, khususnya di area inti dan sebagian besar zona penyangga merupakan CPRs sehingga sulit mengatasi hadirnya penunggang bebas (free riders), yakni para petani pendatang dan pemilik modal. Akibatnya, luas tutupan hutan di area inti dan zona penyangga terus menurun dan sebaliknya lahan perkebunan rakyat semakin luas. Pada awalnya, pemanfaatan lahan untuk berkebun kelapa sawit
57 dilakukan di lahan mineral di area transisi dan zona penyangga cagar biosfer, kemudian merambah ke lahan gambut di zona penyangga dan area inti. Kondisi ini menyebabkan konflik antara masyarakat petani dengan perusahaan pemegang ijin konsesi hutan dan BBKSDA Riau terus meningkat. Dengan kekuatan penggunaan kekuatan legalitas hukum (legal juridical power) yang dimilikinya, BBKSDA Riau dan para pemegang ijin konsesi hutan berusaha mempertahankan kekuasaannya atas lahan dengan menjalankan mekanisme akses berbasis hak (rights-based access) dan mekanisme akses struktural dan relasional berdasarkan seperangkat kekuasaan yang dimilikinya. Namun, upaya ini tidak mampu menghadapi masyarakat dalam jumlah besar atau kelompok individu yang mempunyai identitas sosial kuat, seperti oknum tentara dan polisi. Untuk menambah kekuatan dalam mempertahankan akses terhadap sumber daya, BBKSDA Riau dan pemegang ijin konsesi hutan memanfaatkan relasi sosial dengan pihak yang lebih berkuasa.
59
4
SITUASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERAIRAN
CAGAR BIOSFER GIAM SIAK KECIL – BUKIT BATU
4.1 Pendahuluan
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu (GSKBB) di Provinsi Riau, Indonesia, ditetapkan oleh UNESCO pada 26 Mei 2009. Berdasarkan Proposal
Management Plan Cagar Biosfer GSKBB, luas kawasan Cagar Biosfer GSKBB ±705.271 ha, terletak di Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, dan Kota Dumai (Komite Nasional MAB Indonesia 2008). Area inti Cagar Biosfer GSKBB mempunyai keunikan berupa ekosistem lahan basah (wetland) dengan adanya dua komplek tasik (danau) yang saling terhubung oleh sungai utama, yaitu Sungai Siak Kecil dan Sungai Bukit Batu. Di wilayah perairan ini, terdapat sumber daya milik bersama (common pool resources - CPRs) dalam bentuk stock dan komoditas yang tersedia bagi banyak orang, antara lain: simpanan air, wisata alam, habitat satwa liar, ikan, dan keanekaragaman hayati lainnya, serta fungsi lainnya yang intangible tetapi menjadi kepentingan publik.
Sungai dan tasik tersebut merupakan habitat dan tempat berkembangbiaknya ikan sehingga wilayah perairan ini mempunyai potensi sumber daya perikanan yang besar. Secara turun temurun, masyarakat telah memanfaatkan sumber daya perikanan di wilayah perairan Cagar Biosfer GSKBB (LIPI 2008). Secara legal, pemanfaatan ikan di wilayah ini dibatasi oleh peraturan eksternal-formal, yakni peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan suaka margasatwa dan cagar biosfer, karena sejak tahun 1986 sungai dan tasik tersebut ditunjuk sebagai bagian dari kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil dan Suaka Margasatwa Bukit Batu, berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Riau. Sejak tahun 2009, kedua kawasan suaka margasatwa tersebut ditetapkan sebagai bagian dari area inti Cagar Biosfer GSKBB. Area inti cagar biosfer sebenarnya tidak harus selalu berasal dari kawasan yang dilindungi secara legal-formal, tetapi dapat berasal dari area yang dilindungi berdasarkan kearifan masyarakat adat/lokal (UNESCO 1996b; Soedjito 2004). Oleh karena itu, riwayat hidup masyarakat lokal dan hubungan mereka dengan sumber daya perikanan di Cagar Biosfer GSKBB perlu digali secara mendalam.
Karakteristik sumber daya dan karakteristik kelompok pemanfaat, serta akses yang dimiliki oleh para aktor mempengaruhi situasi aksi pemanfaatan sumber daya perairan Cagar Biosfer GSKBB. Situasi aksi adalah ruang sosial dimana individu-individu berinteraksi, melakukan pertukaran barang dan jasa, aktivitas penyediaan dan pemanfaatan, serta penyelesaian masalah (Ostrom et al. 1994). Agar tidak terjadi pemanfaatan berlebihan terhadap sumber daya milik bersama (Common Pool Resources/CPRs), dan konflik di antara pemanfaat dapat dikendalikan, perlu kelembagaan (aturan) yang dapat melindungi sumber daya dan mengatur alokasi pemanfaatan hasilnya secara efisien dan lestari. Kelembagaan adalah aturan main (rules of the game) dalam masyarakat, batasan- batasan yang dirancang untuk membentuk interaksi manusia baik dalam bidang politik, ekonomi dan sosial (North 1990). Kelembagaan merupakan seperangkat aturan kerja yang digunakan untuk menentukan siapa yang berhak membuat keputusan tentang apa, tindakan apa yang diperbolehkan atau dibatasi, aturan apa
60
yang akan digunakan, prosedur apa yang harus diikuti, informasi apa yang harus atau tidak harus disediakan, dan sanksi apa yang akan diberikan kepada seseorang yang melanggar (Ostrom 1990). Kelembagaan adalah uraian tentang tindakan- tindakan yang perlu dilakukan, larangan, izin, dan sanksi bila aturan tidak dipatuhi (Ostrom et al. 1994).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sumber daya, karakteristik komunitas nelayan, dan relasi kekuasaan antar aktor dalam memanfaatkan sumber daya perairan, serta menggali kelembagaan lokal (aturan informal) yang berkembang di masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya perairan Cagar Biosfer GSKBB. Penelitian ini untuk menjawab sebagian dari tujuan penelitian disertasi yang ke dua. Pengetahuan tersebut penting untuk mengetahui apakah kelembagaan lokal yang ada dapat mendukung kelestarian pemanfaatan sumber daya perairan Cagar Biosfer GSKBB secara berkelanjutan. Hal ini mengingat sumber daya perairan tersebut berada di dalam kawasan suaka margasatwa yang seharusnya dilindungi menurut Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).
4.2 Metode
Penelitian dilakukan pada September 2014 - November 2015 di perairan umum yang berada di dalam area inti Cagar Biosfer GSKBB. Data dikumpulkan dan divalidasi melalui tiga teknik, yaitu pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Pengamatan terlibat dilakukan dalam penangkapan ikan di Sungai Siak Kecil, Sungai Bukit Batu, Tasik Betung, dan Tasik Serai, serta mengamati kehidupan sehari-hari nelayan dengan cara tinggal di permukiman nelayan yang mewakili, yaitu di Bagan Benio dan Kuala Tasik Pesingin. Wawancara mendalam dilakukan dengan 17 orang nelayan dan 8 orang tokoh masyarakat (Lampiran 1) terkait dengan kegiatan dan intensitas penangkapan ikan, hasil tangkapan, dan kelembagaan lokal dalam pemanfaatan sumber daya perairan. Nelayan diminta mengelompokkan intensitas penangkapan suatu jenis ikan ke dalam tiga kategori, yaitu sedikit, sedang, dan banyak. Pengamatan dan verifikasi melalui wawancara mendalam dilakukan untuk mendata jumlah dan sebaran nelayan. Informan berdomisili di Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak; Desa Tasik Serai, Tasik Serai Timur, dan Tasik Tebing Serai di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis; serta Desa Temiang di Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis. Studi dokumen dilakukan dengan menelusuri laporan hasil penelitian sebelumnya di Cagar Biosfer GSKBB dan dokumen lain yang relevan.
Data dan informasi dianalisis secara deskriptif kualitatif yang dilakukan secara simultan dan siklikal dengan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Pemetaan wilayah perairan dilakukan menggunakan sumber Peta Rupa Bumi Indonesia tahun 1984 untuk menggambarkan sebaran tasik (danau) dan sungai di Cagar Biosfer GSKBB. Tabulasi data dilakukan untuk menggambarkan jumlah dan sebaran nelayan, jenis ikan dan intensitas penangkapan, serta sebaran hambat
61 kelembagaan lokal menggunakan delapan prinsip desain kelembagaan yang berkelanjutan dari Ostrom (1990).