VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2.2 Sejarah Konservasi Penyu
Kabupaten Berau sejak zaman dahulu telah menjadi icon penghasil telur penyu di Kalimantan Timur yang dimanfaatkan dari pulau-pulau penghasil telur yang berjumlah ± 17 pulau, namun demikian masyarakat tidak memiliki kebiasaan mengkonsumsi daging penyu.
Berdasarkan penuturan masyarakat di Kepulauan Derawan, serta sumber lain dari instansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, pemanfaatan dan pelestarian penyu hijau sudah dikenal sejak zaman kerajaan. Awalnya telur penyu dipergunakan sebagai upeti diantara keluarga kerajaan. Kebiasaan ini kemudian
berkembang menjadi pengambilan besar-besaran tanpa aturan yang mempertimbangkan pengetahuan ekologi untuk tujuan komersial.
Pada zaman kolonial Belanda, pulau-pulau tempat penyu bertelur tidak selamanya dibuka untuk dipanen telurnya, tapi sudah diatur sedemikian rupa untuk kurun waktu tertentu. Selebihnya dibiarkan berkembang secara alami (openclose conservation). Sistem pengaturan di Pulau Sangalaki ini (periode 1934-1945) zaman kolonial inilah yang kemungkinan berpengaruh pada peningkatan jumlah telur penyu yang bisa diambil di pulau ini sampai dekade 1980-an.
Setelah kemerdekaan, pengelolaan pulau tempat peneluran penyu ditangani oleh Pemerintah Daerah (Pemda) yang pada waktu itu dikenal dengan pemerintah swapraja/kewedanan. Akan tetapi, karena situasi Negara belum menentu, pengelolaannya belum terlaksana dengan baik. Masyarakat Derawan pada masa ini sering memanfaatkan telur penyu sebagai barang barter dengan bahan kebutuhan pokok dengan masyarakat di Samarinda atau bahkan dengan masyarakat Philipina dan Malaysia.
Tahun 1950-an pengelolaan diserahkan pada perorangan (pihak swasta) melalui proses pelelangan yang diatur melalui peraturan daerah (Perda) Istimewa Berau nomor 30 tahun 1953, yang dikeluarkan pasca berlakunya Undang-undang Darurat No.3 tahun 1953 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan.
Berdasarkan Perda Istimewa Berau No.30 Tahun 1953 tersebut, pihak perorangan/swasta yang diberikan hak pengelolaan penyu dan telurnya diberikan kewajiban untuk membayar retribusi dengan jumlah yang telah ditentukan serta kewajiban lainnya seperti : menjaga kelestarian, mengadakan pengawasan dan tidak memperdagangkan bagian-bagian penyu lainnya (daging dan karapas).
Perda ini berlaku hingga dikeluarkannya Perda nomor 15 tahun 1983 yang mengatur tentang penyu dan telurnya. Ringkasan sejarah pemanfaatan dan pengelolaan penyu di Berau seperti pada tabel 22 berikut ini :
98
Tabel 22. Sejarah Konservasi Penyu Kepulauan Derawan.
Periode Kegiatan Keterangan
Sebelum 1901 (Kerajaan)
Pemanfaatan terbuka. Ekploistasi untuk komersial sangat tinggi, juga dimanfaatkan sebagai hadiah dan alat tukar dengan daerah lain.
1901 – 1934 (Zaman Kolonial)
Pembatasan Pemanfaatan. Dilarang menangkap penyu dewasa; pengambilan telur penyu harus ada izin. Penerapannya hanya berjalan baik di Sangalaki dan Derawan.
1934 – 1945 (Zaman Kolonial)
Pelelangan. Diberlakukan periode pengambilan dan pelarangan berseling-seling setiap tahun, namun hanya efektif di Sangalaki.
1945 – 1950 (Perang Kemerdekaan)
Pemanfaatan terbuka. Eksploitasi diduga sangat tinggi, dimanfaatkan juga sebagai hadiah dan alat tukar dengan daerah lain.
1950 - 1997 Pelelangan. Berdasarkan Peraturan Daerah nomor 30/35 dan nomor 15/83. Kewajiban pembibitan 3000 ekor/tahun.
1998 Pemanfaatan terbuka 6 bulan & penunjukan oleh SK Bupati pada 6 bulan berikutnya.
Pemberlakuan Undang-undang tentang Pajak dan Retribusi sehingga Peraturan Daerah nomor 15/83 tidak berlaku. Adopsi sarang oleh pengusaha wisata di Derawan dan Sangalaki.
1999 - 2000 Pelelangan . Disisihkan 10% telur untuk dibiakkan dan ditebarkan ke laut (Surat Keputusan Bupati nomor 69/99). Adopsi sarang oleh pengusaha wisata Derawan dan Sangalaki 25 % telur untuk pasar Berau.
2001 Pelelangan terbatas awal proteksi Pulau Derawan dan Sangalaki.
Dibentuk tim monitoring dan penelitian konservasi penyu (Surat Keputusan Bupati nomor 25/2001); kewajiban untuk menyisihkan (untuk konservasi) sejumlah 20 % dan penjualan pihak ketiga/LSM dalam upaya pelestarian (Surat Keputusan Bupati nomor 44/2001), instruksi Bupati penghentian pemanfaatan telur penyu di Pulau Derawan dan Sangalaki (660/2346-UM/XII/2001).
2002 - 2003 Penunjukan langsung pihak ke 3 selain Sangalaki, Semama dan Derawan.
Pembentukan Tim pengamanan untuk Sangalaki dan Derawan (Surat Keputusan Bupati nomor 36/2002). Penunjukan tim pengawasan dan pengamanan konservasi penyu (Surat Keputusan Bupati nomor 179/2003)
2004 SK Tim Pengarah Kelautan Kabupaten Berau
SK. Bupati. 225/Um/2004.
2005 Peraturan Bupati. Perbub No.31 Tahun 2005 tentang KKL Berau.
Sumber : Hutomo (2007) dan hasil wawancara serta studi literatur peneliti
Berdasarkan sejarah perkembangan tersebut pelelangan dimaksudkan untuk pertama, memudahkan kontrol pemanfaatan. Kedua, memberikan jaminan adanya upaya penetasan sebagian telur penyu 10 – 20%. Ketiga, memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mendapatkan APBD. Keempat,
menghindarkan adanya konflik di pulau karena pulau telur merupakan pulau kosong. Kelima, menyediakan biaya konservasi penyu yang ditanggung oleh pemerintah kabupaten.
Upaya pemerintah kabupaten dalam konservasi penyu juga pernah
dilakukan melalui program pembesaran tukik oleh masyarakat selanjutnya dilepas pada saat sudah cukup besar dan mendapat kompensasi dari pemerintah
kabupaten, akan tetapi strategi ini tidak dilakukan lagi.
Menghadapi kondisi kritis seperti ini harus ada perjuangan mengupayakan perlindungan spesies dan habitatnya. Perlindungan spesies penyu hijau telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dengan penetapan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999. Semakin menurunnya populasi penyu di sekitar Kepulauan Derawan menyebabkan pemerintah kabupaten berinisiatif mengeluarkan peraturan daerah sebagai upaya untuk melindungi penyu. Menurut teori konservasi, ada tiga strategi besar untuk melindungi satwa, yaitu dengan cara eksitu, insitu dan
penangkaran. Pemeliharaan alternatif ini berdasarkan kondisi populasi penyu yang ada di perairan. BKSDA setempat mencatat bahwa nilai minimum populasi penyu semakin menurun setiap tahunnya. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten mengeluarkan berbagai kebijakan dengan tujuan untuk melindungi penyu dan ekosistemnya. Berikut ini akan dikemukakan beberapa produk kebijakan yang diputuskan dan di implementasikan. Kebijakan yang mendukung inisiatif pengelolaan sumberdaya pesisir dan kelautan di Kabupaten Berau:
1) SK Bupati No. 69 Tahun 1999 tentang pengelolaan penyu dan telurnya dalam Kabupaten Berau.
2) SK Bupati No. 35 Tahun 2001 tentang pembentukan tim monitoring dan penelitian penyu di kawasan Kepulauan Derawan.
3) SK Bupati No. 44 Tahun 2001 tentang penunjukan pihak ketiga dalam upaya pelestarian penyu di Kabupaten Berau.
4) Intruksi Bupati No. 660/2346-UM/XII/tahun 2001 tentang pengelolaan penyu dan telurnya di Pulau Sangalaki dan Derawan untuk tidak dimanfaatkan secara langsung baik penyu maupun telurnya.
100
5) SK Bupati No. 36 Tahun 2002, kemudian direvisi dengan SK Bupati No 179 Tahun 2003 tentang tim pengawasan dan pengamanan penyu di Kabupaten Berau.
6) SK Bupati No. 02 Tahun 2002 tentang penunjukan CV Derawan Penyu Lestari sebagai pengelola pulau telur penyu di Kabupaten Berau Selain Pulau Sangalaki dan Derawan.
7) SK Bupati No. 70 Tahun 2004 tentang penetapan Pulau Kakaban sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).
8) SK Bupati No. 225 Tahun 2004 tentang Tim Pengarah Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut Kabupaten Berau
9) Peraturan Bupati tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau tahun 2005.
(a) (b) (c) (d)
Sumber : WWF (2007) Keterangan :
(a) Hatchery di stasiun monitoring penyu Pulau Sangalaki.
(b) Aktifitas relokasi yang dilakukan petugas monitoring. (c) Pos penjagaan di Karang Sentagi, Pulau Panjang.
(d) Masyarakat membantu pembuatan hatchery di Pulau Derawan.
Gambar 20. Berbagai Aktifitas Konservasi Penyu di Kepulauan Derawan.