BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA
DAFTAR PUSTAKA
A. Sejarah Al-Qur’an
2. Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an
Sejarah mencatat bahwa pengumpulan al-Qur’an telah melalui proses panjang hingga bisa terkumpul menjadi satu mushaf al-Qur’an.4 Untuk sampai ke tahap ini kaum Muslimin dari masa Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam masa sahabat, sampai saat ini telah banyak melakukan
3 Al-Suyuthi, Al- Itqān Fī ‘Ulūm Al-Qur’an (Kairo: Dārul Hadits,2006), 106.
4 M. Quraish Shihab, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an (Ciputat: PT. Pustaka Alfabet, 2013), 162.
kodifikasi/pembaharuan terhadap teks al-Qur’an. Seperti, pada masa Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam dan sahabat al-Qur’an belum memiliki tanda baca, tanda waqaf, harakat, dll. Akan tetapi saat ini al-Qur’an sudah sangat lengkap tanda baca, tanda wakaf dan harakatnya, sehingga kita semua bisa menikmati dan bisa mempelajari al-Qur’an dengan lebih mudah. Kemudahan ini dirasakan berdasarkan dari perkembangan al-Qur’an yang terus mengalami kemajuan dalam pengkodifikasian teks al-Qur’an, seperti penambahan tanda baca, tanda titik, tanda waqaf, makhārij al-ḥuruf dan sebagainya.5 Hal ini tidak lain tujuannya adalah untuk mempermudah kaum Muslim dalam mempelajari al-Qur’an.
Dalam literatur Ulūm al-Qur’an, pengumpulan al-Qur’an sering kali disebut dengan kata Jam‘u al-Qur’an. Jam‘u menurut bahasa berarti pengumpulan atau penghimpunan. Sedangkan lafaz al-Qur’an merupakan bentuk masdar dari Qara’a yang berarti bacaan. Sehingga Jam‘u al-Qur’an dapat diartikan upaya mengumpulkan atau menghimpun al-Qur’an yang berserakan untuk diteliti dan dikaji. Mannā‘ Khalīl al-Qaṭṭan dalam kitabnya Mannā‘ al-Qaṭān Mabāhis fi Ulūm al-Qur’an megartikan Jam‘u al-Qur’an dengan dua makna, pertama: Jam‘u al-Qur’an dalam arti Hifẓuhu (menghafal al-Qur’an).6 Kedua: Jam‘u al-Qur’an dalam arti Kitābatuhu Kulluhu (menuliskan al-Qur’an seluruhnya).7
Proses Jam‘u al-Qur’an dalam literatur yang membahas tentang ilmu-ilmu al-Qur’an mencakup proses penyampaian, penulisan, pengumpulan
catatan, kodifikasi sampai ke pemeliharaan mushaf hingga saat ini.
5 Ahmad Izzan, Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas al-Qur’an (Bandung: Humaniora, 2011), 77.
6 Lihat Qs. al-Qiyāmah/75:16-19.
7 Maksudnya, menuliskan al-Qur’an baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surat-suratnya, atau menertibkan ayat-ayat semata, baik setiap surat ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, atau menertibkan ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul, yang menghimpun semua surat.
Al-Hakim dalam al-Mustadrak, mengklasifikasikan pengumpulan al-Qur’an menjadi tiga periode yaitu periode Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa
sallam, periode Abū Bakr Ra. dan periode Uṡman Ra.8
a. Pengumpulan Al-Qur’an Masa Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam (w. 11 H)
Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam telah mencurahkan segala upaya yang dapat dilakukan untuk memelihara al-Qur’an agar senantiasa di ingat dan tidak sirna sampai masa berikutnya. Upaya-upaya pemeliharaan al-Qur’an yang Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam lakukan terbagi menjadi dua fase, yaitu :
1) Pemeliharaan al-Qur’an dalam Dada
Pada masa Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam dan sahabat upaya yang sering dilakukan untuk menjaga al-Qur’an adalah dengan hafalan (al-Jam‘u fī al-Ṣudūr). Upaya ini dilakukan dengan cara sederhana yaitu Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam menghafal ayat-ayat al-Qur’an kemudian menyampaikannya kepada para sahabat untuk dihafalkan juga sesuai yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam. Para sahabat yang terkenal kuat hafalannya yaitu diantaranya: keempat Khulafā’ al-Rāsyidīn, Ṭalhah, Sa‘id, Ibn Mas‘ud, Huẓaifa, Abū Huraiah, Ibn ‘Umar, ‘Amr bin ‘Aṣ, ‘Abdullāh bin Sa’id, ‘Aisyah, Ibn Abbas, Hafṣah, Ummu Salamah, Mu‘awiyyah bin Abū Ṣafyan.9
2) Pemeliharaan Al-Qur’an Dalam Tulisan
Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam tidak merangkum semua surah ke dalam satu jilid al-Qur’an seperti yang ada sekarang,
8 Al-Suyuthī, al- Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’an, 106.
9 Muhammad Abdul Adzim al-Zarqany, Manāhil al-‘Irfan Fī ‘Ulūm al-Qur’an, Jilid I (Beirut: Dār al-Kitab al- ‘Araby, 1995), 199.
mushaf sebelumnya telah mengalami proses yang panjang pengkodifikasiannya dari bagian-bagian yang terpisah-pisah dari kulit binatang, pelepah kurma, batu dan lain-lain. Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam menerima ayat-ayat yang diturunkan kepadanya kemudian membacanya di hadapan sahabat, serta menyuruh para kuttāb (penulis wahyu) menulisnya. Setelah satu surat penuh turun, Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam memberi nama kepada surat itu sebagai tanda membedakan surat ini dengan surat yang lainnya. Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam menyuruh meletakkan lafaz basmallah di permulaan surat yang baru atau di akhir surat yang terdahulu letaknya.
Demikian pula di tiap-tiap turun ayat, Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam menerangkan tempat meletakkan ayat-ayat itu. Umpamanya Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam mengatakan: “Letakkan ayat ini sesudah itu, di surat al-Baqarah.” Demikianlah Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam perbuat sehingga sempurnalah al-Qur’an 30 juz ini. Dengan demikian banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an dan ada juga yang menulis al-Qur’an sekaligus menghafalnya.10 Menurut penulis secara umum begitulah cara Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam memelihara dan mengumpulkan al-Qur’an.
b. Pengumpulan Al-Qur’an Masa Abū Bakar (w.11-13 H)
Setelah Rasulullah Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam wafat, Abū Bakar menjabat sebagai khalifah pertama dalam Islam. Sebagian besar al-Qur’an terkumpul di dalam dada para sahabat berupa hafalan dan masih tertulis pada lembaran-lembaran yang masih tercecer atau tersebar ditangan sahabat. Sehingga pada saat itu al-Qur’an belum sepenuhnya terbukukan
10 Hasbi Ash-Shidieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu al-Qur’an & Tafsir (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), 59.
menjadi sebuah mushaf al-Qur’an. Ketika terjadi perang Yamamah, yaitu perang antara Abū Bakar dengan Musailamah al-Każżab, sebanyak 70 Huffāz (penghafal al-Qur’an) gugur di medan perang.11 Melihat banyak para sahabat Huffāz yang gugur, timbullah hasrat Umar Ibn al-Khaṭṭab untuk meminta kepada Abū Bakar agar al-Qur’an itu dikumpulkan dan dibukukan. Umar khawatir al-Qur’an akan berangsur-angsur hilang, jika hanya di hafal saja, karena para penghafalnya semakin berkurang.
Merespons kekhawatiran Umar, awalnya Abū Bakar menolak dengan alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam namun Umar tetap meyakinkannya dengan argumen bahwa pembukuan tersebut merupakan hal yang baik dan sangat penting. Usaha Umar pun tidak sia-sia, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Abū Bakar menyetujui usulan Umar tersebut, maka di utuslah Zaid bin Ṡābit untuk mengumpulkan al-Qur’an.12
Dalam melaksanakan tugas pengumpulan al-Qur’an itu, Zaid Ibn Ṡābit dibantu oleh sahabat yang juga menghafal al-Qur’an yaitu Ubay Ibn Ka‘ab, Alī Ibn Abī Ṭālib dan Uṡman Ibn ‘Affan. Mereka berulang kali mengadakan pertemuan dan mereka mengumpulkan tulisan-tulisan yang mereka tuliskan di masa Nabi Muhammad Ṣalla Allāh ʻalaihi wa sallam sehingga fase pengumpulan ini dalam buku-buku kajian al-Qur’an dinamakan dengan al-Jam‘u al-‘Ūla (pengumpulan al-Qur’an pertama).
Ketika pengumpulan al-Qur’an sedang berlangsung pada periode Abū Bakar ini, setidaknya terdapat beberapa bentuk kodifikasi yang telah
dilakukan. Di antaranya adalah semua ayat dan surah telah berurutan, khat yang digunakan adalah khat kuno, ayat al-Qur’an ditulis pada benda yang
11 Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Qur’an (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015), 158.
12 Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasy, al-Burhān Fī Ulūm al-Qur’an (Cairo: Dār al-Turats, tt), 233.
sama yaitu lembaran-lembaran (Suhuf), jumlah mushafnya hanya satu dan lain sebagainya.13
Dalam beberapa riwayat disebutkan setelah Abū Bakar wafat, ṣuhuf-ṣuhuf itu dipegang oleh Umar Ibn Khaṭṭāb. Namun sebelum diserahkan ke Umar, Zaid Ibn Ṡābit terlebih dahulu menyempurnakan pentadwinan suhuf di masa Abū Bakar sendiri. Kemudian disimpan oleh Umar dan setelahnya oleh Hafsah (putri Umar). Abū Bakar dan ‘Umar tidak menyuruh menyalin banyak karena suhuf-suhuf yang telah di tulis itu akan menjadi suhuf orisinalnya, bukan untuk digunakan oleh orang-orang yang hendak menghafalnya.
c. Pengumpulan Al-Qur’an Masa Uṡman bin ‘Affan
Perjuangan para sahabat untuk mengumpulkan al-Qur’an terus dilakukan dari masa ke masa. Setelah beberapa tahun berlalu dari pemerintahan Uṡman, timbullah usaha dari para sahabat untuk meninjau kembali suhuf-suhuf yang telah di tulis oleh Zaid Ibn Ṡābit.14 Diriwayatkan oleh Imam Bukhāry dari Anas bahwa Hudzaifah Ibn al-Yaman datang kepada Uṡman yang saat itu menjabat sebagai khalifah. Ia mengatakan bahwa ia melihat sedang terjadi perselisihan hebat dalam soal qiraat diantara para sahabat. Hudzaifah meminta kepada Uṡman supaya memperbaiki keadaan itu, menghilangkan perselisihan bacaan agar umat Islam jangan berselisih mengenai kitab mereka, seperti keadaan orang-orang Yahudi dan Nasrani.15
Selanjutnya Uṡman meminta kepada Hafṣah supaya memberikan suhuf-suhuf yang ada padanya untuk disalin ke dalam beberapa mushaf.
13 Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an (Jakarta: PT. Qaf Media Kreativa, 2019), 87.
14 Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an (Ciputat: PT. Pustaka Alfabet, 2013), 168.
Setelah suhuf-suhuf itu diterima, beliau menyuruh Zaid Ibn Ṡābit, ‘Abdullāh Ibn Zubair, Zaid Ibn ‘Aṣ, ‘Abd al-Rahmān Ibn Ḥariṡ Ibn Ḥisyām untuk menyalin dari suhuf-suhuf itu menjadi beberapa mushaf. Pedoman yang diberikan kepada badan tersebut apabila terjadi perselisihan qiraah antara Zaid Ibn Ṡābit hendaklah ditulis menurut qira’ah orang Quraisy karena al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy. Setelah mereka selesai melaksanakan pekerjaan tersebut, suhuf-suhuf itu dikembalikan kepada Ḥafsah. Kemudian Uṡman mengirim ke tiap-tiap kota besar satu mushaf, disebutkan jumlah mushaf yang disebar adalah 8 buah mushaf.16 Kemudian Uṡman memerintahkan agar segera dibakar segala sahifah-sahifah atau mushaf-mushaf yang lain dari yang ditulis oleh badan yang terdiri dari empat orang ini.
Menurut riwayat Ibn Abī Daud 12 orang, dan disepakati Zaid Ibn ṡābit mengepalai badan tersebut. Tujuan badan ini dibentuk adalah untuk menentukan bahasa mana yang harus dipakai (lafaz dari bahasa mana yang harus dipakai) untuk menghilangkan perselisihan tentang pemakaian kalimat. Pada masa Abū Bakar dan Umar masing-masing penulis mushaf memegang tulisannya. Akan tetapi yang demikian membawa kecederaan dan telah menimbulkan perkelahian karena masing-masing fanatik kepada tulisan yang ada pada suhuf-Nya, untuk menghindari itu semua perlu untuk menghilangkan kecederaan, menentukan kalimat yang dimasukkan ke dalam mushaf, walaupun bunyi qiraah masih bisa berlainan. Badan ini hanya mengerjakan menyalin ke dalam mushaf saja.
Lebih tepatnya, badan tersebut berpegang erat kepada penyusunan yang telah sempurna dilakukan di masa Abū Bakar. Setelah sempurna persesuaian terhadap segala ayat-ayat al-Qur’an, Uṡman pun menaruh salin empat mushaf dari naskah pertama yang dinamai naskah al-Imām. Empat
mushaf yang telah tertulis disosialisasikan kepada beberapa negara, yakni Satu naskah itu dikirim ke Makkah, satu naskah ke Kuffah, satu naskah ke Basrah dan satu naskah lagi dikirim ke Syam (Syiria).17 Asal muasal salinan yang ditulis badan itu di pegang oleh Uṡman. Uṡman memerintahkan supaya menyita segala suhuf-suhuf yang terdapat pada masyarakat dan membakarnya. Dan Uṡman menyuruh kaum Muslimin agar membaca al-Qur’an dengan qiraah yang termateri dalam al-Imām itu.